Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
65. Tumpengan


__ADS_3

Tepat satu minggu setelah ujian kedua PPDS dilaksanakan. Dan hari ini adalah hari yang dinanti-nantikan oleh semua peserta seleksi penerimaan Program Pendidikan Dokter Spesialis itu (PPDS). Hari yang menentukan nasib mereka selanjutnya, untuk dapat melanjutkan study spesialistic mereka atau harus mencoba ujian lagi di lain kesempatan.


Dan bagi Ella pribadi ujian ini mutlak bersifat now or never. Sekarang atau tidak sama sekali. Jika akhirnya dia tidak berhasil tembus ke program study pilihannya untuk kali ini maka Ella akan menyerah. Menyerah untuk melanjutkan study-nya. Bahkan mungkin dia akan memilih untuk menikah saja. Menikah dengan Ardi? Dengan segala syarat dan konsekuensinya?


Roni entah dapat firasat dari mana sudah sangat percaya diri bahwa dirinya dan Ella akan lulus ujian itu. Roni yakin bahwa mereka berdua pasti dapat diterima menjadi mahasiswa PPDS di Uner. Roni bahkan lebih jauh sudah mempersiapkan nasi tumpeng sebagai bentuk perayaan keberhasilan mereka. Nasi tumpeng yang akan dimakan seluruh crew puskesmas sebagai ungkapan rasa syukur kelulusan mereka.


Sementara Ella yang masih sedikit galau antara diterima atau tidak, nurut saja ikut patungan uang dengan Roni untuk membeli tumpeng sesuai saran Roni. Yah Jika ternyata mereka berdua tidak lulus ujian itu. Nasi tumpengnya bisa dipakai sebagai bentuk syukuran perpisahan mereka juga di puskesmas ini. Memang hanya tinggal seminggu lagi masa pengabdian mereka di sana. Masa interenship di Puskesmas Sobo ini akan berakhir.


Semalaman Roni begadang demi mencari informasi pengumuman kelulusan yang tak kunjung muncul juga di Website. Pagi hari pun sebelum pelayanan di poli umum rawat jalan, Roni menyempatkan untuk melihat kembali situs resmi PPDS uner. Tetapi tetap saja nihil, belum ada kabar atau pengumuman sama sekali di sana.


Akhirnya siang hari selepas pelayanan poli umum rawat jalan selesai, Roni seperti biasanya kembali nonglrong ke IGD. Menguasai dan membajak laptop poli untuk mengakses website PPDS Uner. Dan benar dugaannya, tepat jam dua belas siang ini pengumuman kelulusan itu akhirnya dimuat dan muncul juga disana.


"Udah muncul, El. Ayo sini liat. Mau buka punyaku dulu atau kamu dulu?" Roni bertanya pada Ella yang sepertinya sudah gugup.


"Kamu dulu deh," ujar Ella pasrah saja.


Roni langsung memencet beberapa tombol di laptopnya, mencari-cari informasi di bagian penerimaan PPDS bagian Jantung dan Pembuluh darah. "Roni Admaja Suherman... Ada, El! Ada namaku! Alhamdulillah! Tembus, El. Gak nyangka banget aku bisa lulus untuk melnjutkan study di bagian Jantung dan Pembuluh darah yang terkenal sangat susah itu." Roni jingkrak-jingkrak kegirangan.


"Wah selamat ya, Ron. Kamu keren banget deh bisa lolos." Ella ikut bangga dengan temannya itu, memuji Roni dengan sepenuh hati. Memang untuk bagian jantung dan pembuluh darah ini, persaingannya agak berat. Dari sekian banyak yang daftar hanya diambil tiga orang coba? Benar-benar harus menjadi one in a million people kalau mau lulus. (*orang terpilih).


"Makasih, El. Tapi sayangnya kamu telat banget menyadari kekerenanku hehe." Roni menjawab sambil sedikit menggoda Ella. Sementara Ella tidak menanggapi, sudah kebal dengan gombalan garing dari Roni.


"Bentar aku liatin bagian penyakit dalam." Roni kembali mengutak-atik tombol di laptopnya. "Nah ini, jelas lulus kan apa aku bilang, El? Amellia Rieka Safitri. Namamu jelas terpampang ni." Roni membalikkan layar laptopnya ke hadapan Ella.


"Alhamdulilah..." Ella mengucapkan puji syukurnya demi melihat namanya terpampang diantara tujuh nama lainnya disana. Ella cepat-cepat memfoto sebagai bukti untuk dikirimkan ke kedua orang tuanya nanti. Memang untuk bagian penyakit dalam lebih banyak kuota yang terbuka. Tapi persaingan untuk mendapatkan kursi disana tentu tetap saja berat, karena jumlah pesaing yang daftar juga semakin banyak yang mendaftar ke bagian ini.


"Jadi pesta makan-makan donk kita hari ini, dok?" Tatang, perawat yang kebetulan jaga hari ini bertanya dengan penuh harap.


"Jadi donk mas. Tumpengan kita siang ini. Buruan bantu umumkan pada teman-teman jangan pulang dulu nunggu tumpengnya datang." Roni menjawab dengan semangat.


"Waah asik! Mantap, dok. Saya kumpulkan semua ya personil puskesmas kita di aula pertemuan." Tatang langsung ngacir meninggalkan Roni dan Ella di IGD dengan bersemangat. Mungkin pria itu sekarang sedang berkeliling mendatangi setiap ruangan dan setiap unit pelayanan untuk menyampaikan kabar gembira ini. Kabar akan diselenggaran acara makan-makan dan tumpengan hari ini.

__ADS_1


"Emangnya kamu pesan tumpengnya untuk dikirim jam berapa?" tanya Ella penasaran. Sedikit khawatir akan banyak crew puskesmas yang sudah keburu pulang duluan sebelum tumpengnya datang. Mengingat hari ini adalah hari sabtu, banyak yang ingin cepet-cepet pulang untuk menikmati week end mereka.


"Harusnya si sekarang udah dikirim..." Roni melirik jam tangan yang melingkar di pergelagan kirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Hanya ada tiga puluh menit lagi sebelum berakhirnya jam kerja mereka di hari sabtu ini.


Untungnya tak lama kemudian kekhawatiran mereka terjawab. Sebuah mobil box dari sebuah perusahaan catering berhenti tepat di parkiran depan IGD puskesmas. "Nah itu datang," ujar Roni bersemangat menyambut sang kurir. Dia menunjukkan kemana harus membawa makan itu. Ke aula pertemuan puskesmas Sobo. Satu set tumpeng dan puluhan nasi kotak serta minuman dingin dalam beberapa termos besar, es manado. Makanan yang nampak menggiurkan untuk segera disantap dan dinikmati bersama-sama.


Ella juga tak mau ketinggalan ikut bergegas juga ke aula. Membantu menata makanan itu di ruangan aula. Aula serba guna puskesmas yang telah disulap menjadi lesehan super luas dengan beralaskan karpet. Siap untuk menampung seluruh crew puskesmas yang jumlahnya hampir lima puluh orang itu.


"Nah sudah kumpul semua kan?" ujar Tatang yang kali ini bertugas sebagai pembawa acara. Pria ini memang paling atraktif dan cocok untuk bertindak sebagai sie acara dadakan kayak gini. "Ayo duduk teman-teman. Semakin cepat berkumpul semakin cepat kenyang perut kita." Lanjutnya meminta perhatian kepada seluruh crew puskesmas.


"Langsung aja ya, mohon maaf sebelumnya untuk dokter-dokter sekalian. Acara hari ini dikemas dengan mode informal ya. Jadi jangan dianggap serius dan dimasukkan hati bila terasa kurang sopan." Tatang meminta ijin kepada pak Kepala Puskesmas yang duduk bersama deretan para dokter yang berjumlah lima orang termasuk Ella dan Roni.


"Lanjutkan," ujar kepala puskesmas dengan tidak berkeberatan. Memang Pak Kapus Sobo ini masih berusia awal empat puluh tahunan. Masih cukup muda dan santai dalam bergaul dengan anak buahnya.


"Kita berkumpul siang ini untuk acara tasyakuran merayakan kelulusan kedua dokter interenship kita dalam ujian PPDS-nya. Keren banget ini dok Roni dan dok Ella, dua-duanya berhasil tembus untuk melanjutkan study mereka di PPDS Uner."


Perkataan Tatang kali ini langsung disambut dengan tepuk tangan meriah dari seluruh penjuru ruangan. Ada juga yang berdecak kagum, serta berceletuk selamat, ya dok Ella, selamat ya dok Roni. Membuat Ella dan Roni malu dan salah tingkah saja.


Penjelasan terakhir Tatang juga menimbulkan berbagai reaksi dari para crew puskesmas. Banyak yang merasa waktu berlalu terlalu cepat berlalu. Kebersamaan mereka terlalu singkat. Sampai beberapa perawat jomblo yang tidak rela ditinggalkan dokter Roni yang ganteng dan dokter Ella yang cantik. Rupanya sebagian besar crew puskesmas ini menyukai kedua dokter muda itu. Dan mereka akan merasa kehilangan setelah kepergian Ella dan Roni dari puskesmas.


"Nah untuk mempersingkat acara marilah langsung saja kita mulai acara potong tumpengnya. Gak usah sambutan-sambutan ya gaes, udah pada laper kan?" Seluruh hadirin langsung tertawa dan bersorak menyetujui usulan Tatang kali ini.


"Baiklah dokter Wahyudi dimohon maju ketengah ruangan untuk prosesi pemotongan tumpeng yang akan diberikan kepada dokter Ella dan dokter Roni." Tatang mempersilahkan pak Kapus untuk ikut memeriahkan suasana.


"Dimas, jok lali difoto lho yo." Tatang tak lupa memberi komando pada Dimas, sang petugas IT puskesmas. Wahyudi bersama Ella dan Roni berkumpul di tengah ruangan mengelilingi tumpeng. Seorang bidan menyerahkan sebuah piring dan pisau kepada pak Kapus. Kemudian Wahyudi memotong puncak tumpeng dan meletakkan potongan nasi itu di piring. Selanjutnya piring itu beliau serahkan kepada Ella dan Roni sekaligus. Ella dan Roni menerima piring itu bersamaan, memegang salah satu ujung piring dengan tangannya masing-masing.


"Karena puncak tumpengnya cuma ada satu. Jadi separuhan ya biar tidak ada yang iri. Hal ini menandakan kalian berdua harus bersama-sama berjuang untuk mencapai puncak kesuksesan sesuai dengan bidang yang kalian tempuh masing-masing." Dokter Wahyudi menjelaskan maksud perbuatannya.


"Tanda biar sehidup semati juga, dok." Mirza salah satu perawat IGD menyeletuk dengan jahilnya. Menggoda kedua dokter muda itu.


"Iyaaa...dok Ella dan dok Roni semoga bisa terus bersama sampai pelaminan." Seorang pegawai puskesmaa lainnya menyeletuk.

__ADS_1


"Tetep langgeng ya dok." Tanggapan para crew puskesmas semakin heboh dan memanas saja.


"Apaan si? Saya sama Roni kan cuma berteman aja," Ella mencoba menjelaskan hubungannya dengan Roni yang sebenarnya.


"Lebih dari teman juga gak papa kok dok."


"Teman tapi mesra ya dok?"


"Iya padahal cocok banget, sama-sama pinter, ganteng dan cantik gitu. Cocok wes."


"Lanjutkan perjuanganmu di PPDS dok Roni. Jangan kasih kendor pepet terus dok Ellanya."


"Jangan lupa undangannya ya nanti."


Celotehan dan dukungan para crew puskesmas untuk hubungan Ella dan Roni semakin heboh dan ramai saja. Membuat Ella bingung, malu dan salah tingkah. Sementara Roni hanya mesam-mesem aja menanggapinya. Senang juga dia kayaknya dapat banyak dukungan.


"Yaudah sebagai penyemangat satu sama lain. Silahkan dok Ella dan dok Roni saling menyuapi nasi tumpeng-nya. Biar sama-sama bisa menggapai puncak cita-cita, nggih mboten dok Wahyudi?" Tatang dengan lihainya memperkeruh suasana yang sudah runyam. Membawa-bawa nama sang Kapus sebagai dekengan tindakan brutalnya ini.


"Ya, ide bagus. Ayo silahkan, dok Roni dan dok Ella." Wahyudi yang tidak tahu menahu soal trik dan muslihat Tatang menurut saja. Lagian Wahyudi juga senang dengan kedua dokter muda ini. Sama-sama cerdas dan berdedikasi tinggi dalam bidangnya. Cocok sekali untuk melanjutkan study-nya ke jenjang speaialis. Dan kalau toh nantinya mereka berdua berjodoh, anggap saja puskesmas ini punya andil dalam menyomblangi mereka.


"Gak usah, makan sendiri-sendiri aja." Ella berusaha menolak dengan malu-malu. Duh yang bener aja masa suap-suapan sama Roni dihadapan seluruh crew puskesmas?


"Ayo dok jangan malu-malu." Tatang makin semangat mengompori. Ella semakin bingung tak tahu harus bagaimana. Dirinya hanya bisa memaki-maki dalam hati karena tak bisa untuk menolak. Sementara Roni makin mesam-mesem dan cengengesan.


"Ayo, ayo, ayo, ayo..." Semakin heboh saja suara para hadirin untuk mendukung prosesi suap-suapan ini.


"Ayo, ayo, ayo, ayo ayo...."


~∆∆∆~


🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼

__ADS_1


__ADS_2