Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
104. S2 - Ranggawuni


__ADS_3

Pagi itu Ardi sudah siap siaga bersama Bambang, Cindy dan seorang pengacara perusahaan di meeting room kantornya di Surabaya. Rencananya hari ini dia akan mengadakan rapat internal kecil-kecilan dengan keluarga inti. Untuk membahas tentang harta dan pembagian kekuasaan, kekayaan, serta aset perusahaan Pradana.


"Apa tidak sebaiknya dibicarakan dulu dengan tuan Erwin dan nyonya Kartika mengenai hal ini, Pak?" Bambang bertanya pada Ardi. Memastikan keputusan bosnya sudah bulat walau tanpa pertimbangan orang tuanya.


"Gak usah," jawab Ardi singkat.


"Bagaimana kalau Tuan atau Nyonya besar tidak setuju?" Bambang masih ragu-ragu.


Ardi diam saja saja tak menjawab kali ini. Terlalu malas untuk memberikan penjelasan detail pada Bambang.


"Semua aset yang akan kita bicarakan hari ini adalah milik pak Ardi. Jadi siapapun tak akan bisa mengganggu gugat." Cindy yang kali ini membantu Ardi menjelaskan.


Sedikit gemes juga sama Bambang yang masih saja kurang bisa memahami maksud dari tindakan dan perkataan Ardi sebagai bosnya. Padahal sudah tiga tahunan Bambang bekerja sebagai sekeretaris pribadi Ardi. Atau memang dari dasarnya si Bambang ini terlalu lugu dan lempeng anaknya sehingga takut mengambil segala resiko.


Sangat berbeda dengan sifat Ardi yang suka mengambil keputusan atau gebrakan tiba-tiba tanpa memperdulikan dampaknya bagi perusahaan. Selama Ardi merasa tindakannya benar, bisa menguntungkan dan tidak merugikan perusahaan, maka dia tak akan ragu untuk melakukannya.


"Semua yang akan kita bahas hari ini adalah aset yang atas nama Pak Lazuardi semua. Akta dan sertifikat kepemilikan semuanya juga sudah lengkap atas nama pak Ardi." Gery, pengacara sekaligus penasehat hukum perusahaan ikut menambahkan.


Kali ini Bambang terdiam karena tidak mendapatkan dukungan. Sudahlah, apa kata Pak Ardi aja. Yang penting dirinya sudah mengingatkan dan menjalankan tugasnya sebagai sekretaris Ardi.


Tak lama kemudian masuklah Mahes dan Laras ke dalam ruangan rapat. Keduanya langsung menyapa dan menyalami semua yang hadir di ruangan. Laras bahkan tak lupa memberikan pelukan hangat untuk Ardi, kakaknya itu.


"Mas Ardi udah lama banget gak main ke rumah. Padahal sama-sama di Surabaya, Rangga kangen sama pakdhe-nya lho." Laras mengeluhkan Ardi yang jarang mampir ke kediaman mereka di Surabaya.


"Oiya mana si Ranggawuni ponakan kesayanganku? Udah bisa ngapain aja dia?" Ardi menanggapi keluhan Laras. Memang sejak keponakannya itu lahir dan acara aqiqoh Ardi tak pernah lagi mengunjunginya.


Tapi tetap saja dia selalu tahu perkembangan keponakannya itu, terutama dari Mahes yang sering memamerkan foto anaknya kalau kebetulan bertemu Ardi di komplek perkantoran mereka.


Mahes sering mengiming-imingi Ardi tentang betapa lucunya anknya, memotivasi Ardi agar cepetan nikah dan bikin anak juga. Asem banget kan si Mahes pamer keharmonisan keluarga saat dirinya masih saja jomblo tanpa pasangan. Saat dirinya masih galau dan gagal move on hanya karena seorang gadis, Ella.


"Rangga lagi di depan sama Nany-nya, dia udah pinter macem-macem lho, lucu banget." Laras membanggakan anaknya. "Ini kita mau rapat resmi apa gak resmi si? Si rangga boleh ikutan join?" lanjutnya menanyakan maksud Ardi memanggilnya kesini.


"Gak resmi kok, santai aja. Isinya juga cuma kita-kita aja. Tinggal tungguin si Linggar, adekmu yang hobi molor itu," jawab Ardi.


"Yaudah aku suruh Nany bawa Rangga masuk ya," Laras beranjak keluar lagi dari ruangan.

__ADS_1


"Si Rangga itu ya udah bisa panggil aku papa." Mahes memamerkan kemampuan anaknya.


"Ih bohong banget hahaha. Mana mungkin bayi lima bulan bisa ngomong, palingan cuma ngoceh gak jelas. Kupingmu kayaknya yang bermasalah, Hes." Ardi tidak percaya.


"Kok gak percaya si? Nanti liat aja sendiri. Dia juga udah bisa tengkurap, udah bisa senyum-senyum dan ketawa kalau digodain. Giginya juga udah mulai tumbuh, tapi ya itu jadi ngiler banyak banget dia hahaha. Duh asli gemesin banget, buruan bikin temen main buat Rangga donk, Di." Mahes terus nyerocos. Membuat semua yang hadir diruangan mengerutkan dahi. Sangat heran melihat Mahes yang bisanya kalem dan cool bisa sekonyol itu demi membicarakan putranya.


"Bikin-bikin, emangnya segampang bikin mie instan?" jawab Ardi sewot dan langsung disambut dengan tawaan seisi ruangan.


"Buruan bikin pak, sama kucing tetangga hahaha." Cindy ikutan menggoda Ardi.


"Atau ayam tetangga juga ada." Bambang ikutan nyeletuk menambahi.


"Benar sekali, Pak. Anda sudah seharusnya memikirkan penerus seluruh aset ini. Nanti saya yang akan mengurus peralihan semuanya." Gery seakan menambahkan minyak di percikan api saja.


"Heh brengsek kalian semua! Sebagai sesama jomblo bisa-bisanya kalian sekongkol menjatuhkan aku!" Ujar Ardi marah dan bersungut-sungut. "Minta dilengserin jabatan ya?" ancamnya pada ketiga anak buahnya itu.


"Waduh, ampun pak. Saya gak berani" Bambang langsung meminta maaf sementara Cindy dan Gery hanya tertawa semakin lebar. Mau tak mau Ardi dan Mahes juga ikutan tertawa juga, menyadari pembicaraan mereka yang sama sekali tak berfaedah.


"Oiya besok ada jamuan kecil-kecilan perayaan kelulusanku. Kalian boleh datang juga makan-makan sampai puas. Daripada tinggal di kompeks kantor mulu, gak bosen apa?" Mahes mengundang Ardi, Bambang, Cindy dan Gery sekaligus ke acara di rumahnya.


"Sorean aja pulang dari kantor kalian datangnya. Para undanganku si maleman abis magrib datengnya."


"Pak Ardi, kita datang ya pak?" Bambang bertanya dengan sedikit memohon pada Ardi. Sudah berminggu-minggu dirinya dan tim managemen bentukan Ardi terkurung di kompleks perkantoran baru di Surabaya ini. Mengurusi segala keruwetan perpindahan kantor utama mereka dari Banyu Harum ke kantor Surabaya yang baru jadi. Dan selama itu pula mereka terpaksa tinggal di mess yang ada di kompleks perkantoran.


"Boleh aja," Ardi mengalah. Kasihan juga melihat Bambang dan anak buahnya yang lain yang sudah merindukan liburan dan hiburan. Daripada mereka stress dan menjadi gila kan juga merepotkan dirinya nanti.


"Horeee, asyiiik," Bambang kegirangan. Cindy dan Gery juga tampak sumringah akhirnya bisa pergi jalan-jalan keluar perkantoran.


Tak lama kemudian Laras masuk lagi dengan menggendong bayi laki-laki, manghampiri mereka semua di ruangan. "Halo Pakde Ardi, Halo om Gery dan Om Bambang, Halo juga tante Cindy." Laras menggerak gerakkan tangan bayinya, seolah bayi itu yang menyapa mereka secara langsung.


Mata Ardi langsung melebar demi melihat sosok kecil di hadapannya yang begitu lucu dan menggemaskan. Ranggawuni, putra Laras dan Mahes tentu saja memiliki wajah tampan dan sangat lucu mengingat kedua orang tua mereka merupakan bibit unggul. Ditambah lagi tubuh bayi itu terlihat begitu sintal, gendut dan sanggat menggemaskan. Membuat siapapun yang melihatnya ingin mencium bahkan mencubit pipinya.


Ardi sudah menghambur ingin memegang, mencubit bahkan mencium keponakannya itu saat Laras menghentikannya. "Eit, gak boleh. Tangan mas Ardi masih kotor. Pakai hand sanitiser dulu, tu minta Nany." Laras menjauhkan anaknya dari jangkauan tangan Ardi.


"Haaa?" Ardi kebingungan tapi toh menurut saja mengambil hand sanitizer yang disodorkan baby sitter Rangga padanya. Yah wajar saja kalau seorang Laras yang memang cerewet dan perfeksionis untuk bersikap begitu. Apalagi ini menyangkut anak kesayangannya, anak sultan pewaris dari Hartanto dan Pradana group sekaligus.

__ADS_1


Bambang, Cindy dan bahkan Mahes juga mengambil dan memakai hand sanitizer di tangan mereka, berharap dapat ikut menyentuh si sultan kecil yang lucu itu.


"Pegang aja lho ya. Jangan cium-cium, kalian kan belum cuci muka." Laras kembali mengingatkan dan yang diperingati hanya bisa menurut saja sambil mengerutu dalam hati hatinya masing-masing.


"Halo Rangga, Ini Pakdhe. Kamu kok lucu banget si." Sapa Ardi gemas sambil mencubit ringan pipi ponakannya yang tembem. Duh jadi ikutan kepengen punya anak yang lucu dan menggemaskan kayak gini.


"Aduh lucunyaaaa adek Rangga, sini ikut pulang sama tante." Cindy ikutan pegang-pegang si dedek bayi.


"Saya boleh pegang juga bu Laras?" ujar Bambang sedikit takut pada si mama galak.


"Boleh. Pegang aja lho ya, jangan cium-cium." Laras tetap bersihkeras melarang siapapun mencium anaknya. Dan si Rangga lucunya malah tidak merasa risih dipegang-pegang begitu. Dia malah ketawa dan ngoceh gak jelas kegirangan, lucu banget.


Cukup lama mereka menikmati kegiatan menggodai Rangga. Keasikan dan ketagihan pegang-pegang adek bayi yang menggemaskan itu. Sampai-sampai mereka lupa waktu dan tujuan awal untuk berkumpul hari ini di kantor Ardi.


Beberapa menit kemudian Linggar dan seorang pria lainnya memasuki ruangan. Sedikit heran mendapati semua yang hadir di ruangan berkumpul dengan Rangga menjadi pusat perhatian mereka.


"Lhooo ada dedek Rangga," Linggar langsung saja mendekat ke arah Laras dan bayinya. Dan tanpa dapat dicegah Linggar langsung mencium kedua pipi keponakannya itu dengan gemasnya, tanpa rasa bedosa.


"Linggaaaaaarrr!" ujar Laras geram sambil menjewer telinga linggar, menjauhkan wajah Linggar dari Rangga.


"Aduuhh apaan si mbak Laras?" Linggar mengeluh dan merintih kesakitan.


"Kamu kan gak steril, baru datang dari luar itu banyak kuman dan virus yang kamu bawa. Enak aja main pegang dan cium-cium anakku, gimana kalau Rangga sakit coba?" Laras ngomel-ngomel gak jelas.


"Yaelah mbak biar kebal si Rangga. Jangan takut kotor ya dek, gak usah nurutin mamamu yang bawel." Linggar menjawab dengan cueknya, malah menambahkan ciuman gemasnya pada Rangga yang semakin kegirangan diciumi om-nya.


"Gantian-gantian, aku juga mau cium keponakanku yang lucu." Ardi ikutan mendekat ke keponakannya, bersiap-siap memberikan ciuman gemasnya.


"Mas Mahes bantuin. Selamatkan anakmu dari om dan pakdhe nya yang kotor ini." Laras mengharapkan Mahes membantunya untuk menjauhkan Ardi dan Linggar dari anak mereka.


Mahes hanya tersenyum saja tanpa bereaksi. "Gak pa-pa lah biar kebentuk imunnya. Bener kata Linggar biar kuat dia kan anak laki." Mahes malah tidak keberatan dengan tindakan kedua sepupunya yang terlihat sangat menyayangi keponakannya itu.


Akhirnya Rangga menjadi korban penganiayaan dengan dipegang-pegang, dicubit-cubit dan diciumi dengan gemas oleh seluruh yang hadir di ruangan. Laras hanya bisa pasrah saja tak sanggup melawan serbuan ganas itu. Merelakan anaknya dianiaya masal begitu, sedikit menyesal juga karena membawa Rangga kesini hari ini. Sementara si dedek bayi alih-alih menangis malah semakin ngoceh kegirangan semakin menggemaskan.


~∆∆∆~

__ADS_1


🌼Tolong luangkan waktu klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin, bagi TIP dan IKUTI author ya. Makasih 😘🌼


__ADS_2