
"Masa mama dan papa tidak merasa aneh kenapa mas Ardi ingin memindahkan kantornya ke Surabaya?" Linggar kembali bertanya kepada kedua orang tuanya.
Pertanyaan Linggar sekali lagi membuat Kartika tersadar akan keinginan terpendam dari Ardi, putra sulungnya. Sementara Erwin yang memang tidak tahu apa-apa mengenai apa yang telah terjadi tiga tahun yang lalu semakin bingung untuk menebak arah pertanyaan Linggar.
"Aku heran, kenapa semakin dewasa dan menua seseorang maka semakin keras kepala juga jadinya. Kenapa kalian para orang dewasa susah sekali untuk duduk bersama, hanya untuk ngobrol dan mengutarakan isi hati? Membuang segala gengsi? Hanya untuk saling berbagi cerita?" Linggar mengutarakan kejengkelannya.
Linggar merasa sangat jengkel pada kedua orang tuanya. Pada segala kekakuan sifat mereka, kekerasan hati mereka, keegoisan dan segala kesaklekan mereka tentang segala tradisi.
Selain itu dirinya jengkel juga sebenarnya pada Ardi, kakaknya. Karena Ardi yang terlalu menurut pada kedua orang tuanya. Kakaknya itu terlalu baik, Ardi lebih memilih berkorban menanggung derita sendirian daripada melihat keluarganya hancur.
Mungkin jika Linggar yang berada di posisi Ardi waktu itu, dirinya akan mengambil tindakan yang lebih ekstrim untuk melakukan perlawanan. Dirinya dengan jiwa muda yang membara mungkin akan melakukan apapun untuk mendapatkan gadis yang dicintainya. Tanpa memperdulikan segala konsekuensi yang harus dihadapi di kemudian hari.
Bisa saja dia kabur dari rumah, mengajak sang gadis kawin lari tau mungkin lebih parahnya menghamili gadis itu untuk dapat menikah paksa dengannya. Tapi Ardi tetaplah good boy, terlalu baik sampai tidak sanggup untuk menyakiti dan merusak nama baik keluarganya. Ardi juga pasti tak akan sanggup untuk menyakiti atau menodai kehormatan gadis yang sangat dicintainya.
"Kurasa sebaiknya mama, papa dan mas Ardi bicarakan lagi baik-baik mengenai masalah ini. Kalian jangan malah saling menghindar untuk membahas masalah ini lagi. Tiga tahun sudah berlalu, sudah terlalu lama mas Ardi harus menderita..." Linggar menambahkan perkataannya karena mama papanya tetap tidak menjawab.
"Menderita?..." Erwin bertanya dengan kebingungan. Semakin merasa bersalah pada putra sulungnya itu. Mungkin beban kerja dan tanggung jawab yang ditanggung Ardi memang terlalu berat.
"Mas Ardi itu sejak putus dari Mbak Ella menjadi kacau. Dia melampiaskan segala kesedihannya dengan bekerja dan terus bekerja gila-gilaan seperti kesetanan." Linggar menjelaskan.
"Jadi Ardi putus dengan Ella bukan karena terlalu sibuk ngurusin kerjaan?" Erwin memperjelas pertanyaannya ingin memastikan penyebab sebenarnya perubahan sifat Ardi.
"Kebalik, Pa. Karena putus cinta dia jadi gila kerja..." Linggar memperjelas ucapannya.
Erwin membuang napas lega mendengar jawaban Linggar. Rasa bersalahnya sedikit berkurang pada Ardi. Putranya itu sangat tangguh dan berbakat sebagai bisnisman. Kayaknya kalau masalah pekerjaan saja memang tidak mungkin sampai membuat Ardi sekacau itu.
Untuk beberapa waktu selanjutnya ketiga anggota keluarga Pradana itu terdiam, sibuk bermain dengan pikirannya masing-masing.
Mereka semua kan satu keluarga? Keluarga Pradana yang isinya cuma beberapa orang saja. Kenapa susah sekali untuk disatukan? Untuk berkumpul dan duduk bersama, meluangkan waktu bersama. Semua terlalu egois, terlalu disibukkan dengan urusan pribadinya masing-masing tanpa mau perduli dengan susana di rumah.
Membuat kediaman mereka semakin lama semakin terasa dingin, kehilangan kehangatan. Kenapa keluarga mereka tidak bisa akrab dan hangat seperti keluarga normal lainnya? Malah terasa kaku dan menyesakkan saat harus berkumpul bersama karena banyaknya norma dan formalitas. Keluarga yang tidak bisa memberikan ketenangan batin pada semua anggotanya saat berkumpul bersama.
"...Terima kasih kepada teman-teman dari Wismail Grup, Hartanto Grup, MarcusCo Grup, Sampoerna Grup dan Ciputra Grup. Kami sangat bangga perusahaan raksasa seperti kalian bersedia memberikan kepercayaan untuk bekerja sama dalam proyek Pradana Bussinnes Park ini." Ardi mengarahkan pandangannya pada deretan tamu di meja VIP dan menganggukkan kepalanya sopan.
__ADS_1
"Semoga kerja sama kita kedepannya dapat memberikan kejayaan dan keuntungan bagi kemajuan kita bersama. Dan bagi perusahaan lain yang sekiranya tertarik untuk bergabung dengan rekanan Pradana Bussiness Park ini, kami juga membuka kesempatan kerja sama seluas-luasnya. Silahkan menghubungi bagian pemasaran kami untuk informasi lebih lanjutnya. Terima kasih atas waktu dan perhatiannya..."
Ardi mengakhiri pidatonya dari atas mimbar konferensi pers. Gemuruh tepuk tangan langsung membahana di segala penjuru ruangan. Ardi turun dari podium, berjalan santai menuju kursi kosong yang disediakan untuknya.
Kursi yang sejajar bersama dengan deretan kursi bos eksekutif perusahaan-perusahaan raksasa yang disebutkannya tadi. Deretan kursi VIP. Ardi menghampiri, bersalaman dengan para bos itu satu persatu dengan mantabnya sebelum duduk ke kursinya sendiri.
Prosesi selanjutnya para bos perusahaan besar itu melakukan penandatanganan kontrak kerja sama mereka secara simbolis yang disaksikan oleh seluruh hadirin dan diabadikan oleh awak media. Pasti besok akan menjadi headline news besar-besaran di koran, majalah bisnis, TV, radio dan media informasi lainnya tentang kerja sama bisnis skala besar ini.
Dari tempat duduknya Kartika terus saja memperhatikan sosok Ardi Pradana yang berdiri berdampingan bersama para bos dari beberapa perusahaan besar itu. Putranya terlihat begitu gagah, kokoh dan tak tergoyahkan sebagai seorang CEO, pimpinan tertinggi Pradana Grup.
Ada rasa haru dan bangga tersendiri yang membuncah memenuhi dada Kartika sebagai seorang ibu untuk melihat kesuksesan putra sulungnya itu. Bangga karena telah melahirkan dan berhasil mendidik Ardi sampai bisa menjadi seorang pria yang luar biasa hebat.
Tapi di lain sisi, entah mengapa sebagai seorang ibu yang mengenal putranya itu sejak kecil, Kartika juga dapat merasakan ada yang salah. Kartika dapat merasakan adanya kehampaan dan kekosongan dari ekspresi wajah Ardi. Seakan putranya itu hanyalah sebuah wadah kosong tanpa jiwa, tanpa kebahagiaan dan harapan. Ardi seolah telah kehilangan separuh semangat hidupnya.
Yah mungkin apa yang dikatakan Linggar benar, sekarang sudah saatnya mereka untuk saling berbicara bersama. Saling mengutarakan pendapat, uneg-uneg dan segala yang mengganjal di hati, meredam segala ego masing-masing untuk mencoba memahami satu sama lainnya.
Kartika memutuskan bahwa dirinya harus segera merangkul kembali Ardi, putra sulungnya itu sebagai seorang ibu, sebagai satu keluarga. Sebelum semuanya semakin terlambat, sebelum Ardi semakin menjauh dan terus menghindar darinya. Sebelum Ardi terbang semakin tinggi dan tak terjangkau lagi olehnya.
Konferensi pers, penanda tanganan kontrak kerja sama bisnis dan acara pembukaan Pradana Bussiness Park akhirnya telah selesai. Pembukaan yang ditandai secara simbolis dengan prosesi pemotongan pita merah oleh Ardi Pradana sang penguasa kerajaan bisnis baru ini.
Ardi merasa sangat lega acara yang digagas oleh dirinya dan tim bentukannya berjalan dengan lancar dan lumayan sukses. Tak ada kesalahan dan halangan yang berarti selama prosesi acara resmi. Sekarang hanya tinggal sesi ramah tamah. Dan disinilah dirinya sekarang, di bagian VIP untuk menemani dan menjamu tamu-tamu VIP nya pula.
"Hi Cecil long time no see darling, You look very beautifull tonight, more and more beautifull" Tyo menyapa Ceicilia yang memang sangat cantik malam ini. Mencoba menyapa wanita itu dengan gaya bak bangsawan playboy borjuis dari eropa.
(Hi Cecil, lama gak ketemu sayang, Kamu kelihatan sangat cantik malam ini. Cantik dan lebih cantik lantik lagi).
"Kalau yang memuji Irza atau Ardi mungkin aku bakal percaya, tapi kalau yang bilang kamu rasanya kok kayak s*xuall harashment ya?" Cecil menanggapi pujian Tyo dengan nada ketus. Bukannya tersanjung malah merasa tidak nyaman dengan pujian dari Tyo.
(*pelecehan s*xuall)
Memang si Tyo Sampoerna ini sudah terkenal sebagai playboy kelas wahid. Dengan modal tampang diatas rata-rata serta kekayaan Group Sampoerna yang tidak akan habis dipakai tujuh turunan, Tyo dapat gonta ganti wanita seperti pergantian musim. Di lain pihak Cecil juga tahu benar gentleman seperti Ardi dan Irza tidak akan menggoda dan gombalin cewek sembarangan.
"Udah mundur aja, Yo. Bisa gawat kalau Cecil ngambek." Irza tertawa geli melihat tingkah Tyo dan reaksi Cecil padanya. Gak ada kapok-kapoknya ini orang rupanya.
__ADS_1
"Bener, Yo. Kamu gak tahu aja gimana usaha si Ardi melakukan pendekatan romantis ke Cacil dua tahun lalu hehehe." Mahes ikut melerai, tahu Tyo hanya berniat bercanda pada Cecil. Tapi tetap saja dirinya takut kalau Cecil marah, tak ingin tamunya merasa terusik dan tidak nyaman. Dalamnya hati wanita siapa yang tahu coba?
"Heh brengsek, mau dipecat jadi adik ipar ya?" Ardi merengut, terlihat tidak senang dirinya dibawa-bawa sebagai topik pembicaraan. Duh apes banget Mahes sampai tahu kejadian memalukan yang pernah dilakukannya pada Cecil dua tahun yang lalu.
"Eh enak aja main pecat suamiku seenaknya," Laras ikutan membela suaminya.
"Duh sakit banget tu. Sabar ya, Di. Laras lebih membela suami daripada kakaknya sendiri hahaha." Irza terang-terangan ngakak melihat drama keluarga yang menggelikan itu.
"Hahaha You have been defeated, bro. Poor you." Nick si bule ikutan mengejek Ardi juga.
(hahaha kamu udah kalah bro. Kasian deh lu.)
"Abisnya aku juga jadi penasaran ... Gimana kejadiannya..." Laras ikut kepo juga dengan apa yang sebenarnya terjadi diantara Ardi dan Cecil. Masa iya kakaknya itu bisa berpaling ke lain hati dari Ella?
"Iya rayuan maut ni kayaknya. Jarang-jarang Ardi Pradana ngerayu cewek soalnya." Tyo malah semakin penasaran bagaimana Ardi dapat berhasil merayu Cecil. Padahal dirinya sudah melakukan berbagai upaya untuk pendekatan pada Cecil tapi selalu saja gagal. Diam-diam menghanyutkan juga si Ardi rupanya hehe.
"Gak ada apa-apa. Sudah lupakan saja..." Ardi ingin cepat-cepat mengakhiri pembicaraan absurd ini.
"Let me tell you all, guys..." Diluar dugaan semua orang, malah Cecil yang berniat membuka misteri besar tentang apa yang telah terjadi diantara dirinya dan Ardi dua tahun yang lalu.
(*Biarkan aku yang ngasih tahu kalian ya)
"Si Ardi parah banget waktu itu. Dia dateng ke kantorku sore-sore sebelum jam pulang kerja. Pakai tuxedo lengkap, asli ganteng banget bak pangeran. Ardi juga bawain buket bunga segar yang bagus dan gede banget ukurannya. Romantis banget pokoknya. Kontan satu kantorku heboh dan gempar waktu itu..." Cecil memulai ceritanya dengan nada yang dramatis sambil tersenyum malu-malu dan sesekali melirik Ardi yang sedikit salah tingkah.
"Wuoooow the real gentleman!" Tyo tak tahan untuk tidak berkomentar menanggapi cerita Cecil.
(*Wow benar-benar gentelman)
Sementara semua orang yang hadir dan mendengarkan cerita itu langsung menyuruhnya diam, agar Cecil segera melanjutkan ceritanya yang membuat semua orang penasaran. Apa benar terjadi sesuatu antara bos Pradana dan bos Ciputra? Bisa jadi berita besar yang menggoncangkan dunia persilatan ini.
~∆∆∆~
Buat yang penasaran sama Irza dan Kika wismail serta Johanh Astin bisa langsung mampir dan kepoin di novel berjudul YOUNG MISS karya author teman saya ASTARI ATELIER. Dijamin gak kalah serunya.
__ADS_1
Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. Komen apa aja, bisa kritik dan saran atau hujatan juga boleh. 😉