
Keduanya kembali terdiam tanpa kata. Tak ada keinginan untuk terus berkata-kata. Mereka lebih tertarik untuk terus memandangi sosok di hadapannya masing-masing. Mengobati rasa rindu yang mengharu biru dalam hati mereka.
Ella jadi ingat apa yang dikatakan ibunya kapan hari saat melihat Ardi di TV. Tentang Ella yang ingin menarik keluar tubuh Ardi dari dari TV untuk dipeluk saja tubuh pria itu...Mungkin waktu itu Ella tidak benar-benar merasakan dorongan itu.
Tapi sekarang saat Ella akhirnya berhadapan langsung dengan Ardi. Saat dirinya dapat melihat tubuh Ardi begitu nyata ada di depannya. Ardi dengan segala pesona dan kesempurnaan fisiknya.
Mau tak mau dorongan gila itu mampir juga di otak Ella. Dorongan untuk lari dan menghambur dan memeluk tubuh Ardi. Membenamkan wajahnya di dada bidang Ardi. Memeluknya erat-erat dan tak akan melepaskan pria itu lagi selamanya.
'Aku pasti sudah gila! Kenapa aku bisa mempunyai khayalan liar yang mengerikan seperti itu?' Ella panik menyadari apa yang ada dipikirannya sendiri.
Ardi menata napasnya yang tidak teratur, berusaha menenangkan jantungnya yang terasa terlalu bersemangat untuk berdetak. Bagaimana mungkin seorang Lazuardi Pradana bisa kehilangan kontrol ketenangan diri hanya karena memandangi wajah cantik di hadapannya. Seems like imposible.
But it's true. Ardi memang sudah terbiasa memasang poker face, menutup dan menekan segala emosi dan perasaannya. Ardi selalu memasang wajah tenang tanpa ekspresi, sedatar mungkin dalam kesehariannya. Agar orang lain tak dapat membaca dan menebak apa yang sedang dipikirkannya.
Tapi apa yang terjadi sekarang? He's lost controls. Ardi gagal untuk mengendalikan dirinya. Gagal untuk menjaga ketenangannya. Gagal untuk menekan rasa, getaran dan gairah yang seakan memenuhi seluruh dada. Hanya karena seorang wanita, Ella.
Melihat sosok Ella sedekat dan senyata itu, melihat wajah cantiknya, melihat bibir ranumnya yang merekah merah. Membuat bangkit hasrat untuk menarik tubuh Ella, mendekapnya dan memeluknya dengan erat. Lebih jauh Ardi bahkan ingin mencium bibir ranum gadis itu yang terlihat sangat menggoda dengan pulasan warna rose pink.
'Damn, I might be crazy.' Rupanya status jomblonya selama tiga tahun ini telah membuat otaknya rusak. Mungkin karena sudah terlalu lama sendiri membuatnya susah untuk menekan hasrat akan kenikmatan asmara. Atau semuanya karena Ella?
Yah, It's because of her. Karena dia adalah Ella gadis yang selalu diimpikan dan diidamkannya. Untuk gadis lainnya, bahkan untuk yang sesempurna Cicillia Tang saja Ardi tak pernah merasa begini.
Lantunan lagu dari Bruno Mars, When I was Your man masih terus mengalun merdu memeriahkan suasana di dalam private room mereka. Menghibur Ella dan Ardi yang masih duduk berdua saling berhadapan di dalam ruangan. Sibuk bermain dengan pikirannya dan menata hati masing-masing.
I hope he buys you flowers
I hope he holds your hand
Give you all his hours
When he has the chance
Take you to every party
Cause I remember how much you loved to dance
__ADS_1
Do all the things I should have done
When I was your man
(*Aku harap dia membelikanmu bunga
Aku berharap dia memegang tangamu
Memberi semua waktunya untukmu
Saat dia punya kesempatan
Membawamu ke setiap pesta
Karena aku ingat betapa kau sangat suka menari
Melakukan semua hal yang seharusnya aku lakukan
Ketika aku masih sebagai kekasihmu)
Ardi mengerutkan dahinya demi mendengar dan meresapi setiap lirik dari lagu yang sedang dilantunkan dengan merdu. Segala bayangan dan khayalan indah di otaknya tiba-tiba buyar seketika. Seakan terkalahkan oleh kesadaran akan kenyataan yang sedang terjadi. Reality.
Ella sudah memilih dan memutuskan untuk menjalin hubungan dengan pria lainnya. Ella sekarang sudah bahagia dengan kehidupan dan hubungan barunya. Bersama dengan pria yang lainnya, Roni.
Dengan tiba-tiba memori saat Ella bersanding dengan Roni di pesta Mahes pun kembali berkelebat di kepala Ardi. Dimana Ella dan Roni bergandengan tangan dan bersanding berdua dengan mesranya. Terasa sangat menyesakkan dada.
Yah sekarang Ardi hanya bisa berharap sama seperti yang dinyanyikan oleh Bruno Mars. Bahwa Roni akan dapat membahagiakan Ella, mewarnai hari-hari Ella dengan tawa dan canda.
Melakukan apa yang seharusnya Ardi lakukan saat dulu masih bersama dengan Ella, saat masih menjadi kekasihnya. Sesuatu yang seharusnya Ardi lakukan dulu, tapi tak bisa dia lakukan. Ardi tak bisa membahagiakan Ella, dirinya malah membuat Ella bersedih dan menangis.
"Selamat ya, kamu sudah sama Roni sekarang," ujar Ardi setelah dapat mengatasi segala gejolak di dadanya. Dengan nada yang dibuatnya sedatar mungkin dan memasang poker face di wajahnya untuk menutupi segala emosinya. Meskipun nyatanya hatinya terasa hancur demi mengatakan kalimat itu.
Ella kaget sekali mendengar perkataan Ardi kali ini. Segala khayalan indah dan gila yang sempat memabukkan dirinya tadi seakan hilang seketika. Tubuh Ella seakan dihempaskan begitu saja, keras-keras dari alam mimpi yang indah menuju alam kenyataan. Reality.
Bagaimana Ardi bisa tahu tentang hubungannya dengan Roni? Sudah sejauh apa yang Ardi ketahui? Ella kembali disadarkan akan status kesultanan Ardi. Tentu saja tidaklah sulit bagi Ardi untuk menyewa seseorang yang bisa mencari tahu tentang dirinya. Bahkan mungkin lebih jauh untuk membuntuti dirinya. Jadi Ardi sudah tahu segalanya?
__ADS_1
Satu hal yang membuat Ella terpukul bukanlah tentang Ardi yang melakukan stalking pada dirinya. Tapi lebih-lebih karena Ardi dapat mengatakan kalimat tadi dengan nada datar. Nada yang dingin seakan tidak perduli. Ardi seakan tak keberatan sama sekali bahwa Ella menjalin hubungan asmara dengan Roni.
Apa Ardi tidak marah? Apa Ardi tidak cemburu? Kemana perginya Ardi yang pencemburu? Ardi yang dulu selalu saja cemburuan pada Roni? Ardi yang selalu tidak terima kalau Ella berduaan dengan Roni.
Kenapa Ardi bahkan tidak terlihat sedih atau marah mengetahui dirinya telah menjalin hubungan dengan Roni, dengan pria yang lain? Apa Ardi sudah tidak mencintainya lagi? Mungkin memang sudah tak ada rasa yang tersisa untuknya di hati Ardi. Tak ada harapan lagi bagi mereka berdua untuk dapat bersama kembali.
'Kenapa? Kenapa kamu seakan merelakan aku pergi begitu saja? Kenapa kamu tak mau berjuang untuk membuat kita bersama lagi? Sudah cukup. Aku tak mau mendengar apapun lagi dari dari mulutmu.'
Apa karena Ardi juga sudah memiliki wanita lain disampingnya? Apa Ardi sudah memiliki seorang kekasih atau bahkan istri yang ada di sisinya? Seorang wanita yang kini telah bertahta di singgasana dalam hati Ardi. Sehingga pria itu dapat melupakan Ella begitu saja?
Yah memang tiga tahun telah berlalu. Waktu yang terlalu lama jika harus terus menunggu dalam ketidak pastian. Dan tentunya Ella juga tak berani untuk mengharapkan pria sekelas Ardi Pradana untuk dapat menunggu dirinya selama itu. Berharap pada hubungan mereka berdua yang belum pasti.
'Sudahlah jika itu memang apa yang mas Ardi inginkan. Aku bisa apa lagi? Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah menuruti saja apa maumu. Aku juga akan menjauh darimu, tak akan menanti dan mengharapkan dirimu lagi.' Ella akhirnya kembali memutuskan untuk menyerah pada hubungannya dengan Ardi.
"Iya..." Ella menjawab setelah cukup lama terdiam. Rasanya tak sanggup menjawab ucapan selamat dari Ardi dengan kata-kata yang lebih baik. Terlalu sakit hati rasanya untuk sekedar merangkai kata.
Keduanya kembali terdiam dan menciptakan suasana yang mencekam serta tidak nyaman. Sibuk bermain dan berspekulasi dengan pikirannya masing-masing. Memikirkan segala kemungkinan yang telah terjadi selama tiga tahun ini pada masing-masing dari mereka.
Sampai beberapa saat kemudian terdengar keributan di luar ruangan mereka. Suara-suara pria yang sepertinya ingin menerobos masuk berhadapan dengan suara lainnya yang berusaha menahannya, menghalanginya memasuki ruangan.
Tak beberapa lama kemudian pintu ruangan terbuka dengan sangat kasar dan berdebam dengan kerasnya. Dua sosok pria memasuki private room mereka dengan kedua tangan saling beradu. Terlihat seperti setengah berkelahi, dan bergumul saling dorong mendorong.
Linggar yang terlihat memegangi seorang pria lainnya. Berusaha mencegah dan menahan pria itu untuk tidak dapat masuk ke dalam ruangan. Sementara lawannya tak mau kalah untuk terus menerobos masuk kedalam ruangan itu.
Mata Ella terbelalak dan sangat kaget begitu dapat melihat dengan jelas sosok pria yang sedang bergulat dengan Linggar. Ella langsung mengenali wajah dan sosok pria itu, wajah yang sangat tidak asing lagi baginya, Roni?
~∆∆∆~
So sorry gaes, waktu buat berduaan dan ber uwu ria dengan babang Ardi semakin menipis. Sorry for menghancurkan harapan kalian.
Roni akhirnya datang juga untuk menjemput Ella.
Hayo, Tim Roni mana suaranya?
Atau Tim Ardi mau protes ke Author?
__ADS_1
(Author smirks with a devilish smile) 😈
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼