
Terkadang cinta memang harus berlebihan
Karena tidak ada logika di dalamnya
Mencintai dengan sewajarnya
Bisa merupakan perkara yang sulit.
Ada kalanya aku bahagia
Mengenalmu dan membagi cinta bersamamu
Namun tak jarang aku menyesal
Karena terlalu berlebihan mencintaimu.
_____________________________
"Maaf...maafkan aku, mas Ardi." tanpa Ella sadari butiran air mata mengalir di sudut matanya. Butiran bening jatuh tak tertahankan. Terlalu sedih dan hancur juga hati Ella rasanya.
"It's Ok..." Ardi mendekati Ella yang terduduk di lantai. Mengambil duduk bersila juga tepat di hadapan gadis itu. Dipandanginya lagi gadis itu yang kini terlihat sangat menyedihkan. Mau tak mau dirinya tak tega juga melihat Ella seperti itu.
"Semua sudah terjadi dan tidak bisa diulangi lagi." Ardi kembali meneruskan ucapannya. Dielusnya perlahan puncak kepala Ella sebagai penyemangat agar gadis itu tidak bersedih lagi.
Ella berusaha mengusap air mata yang jatuh di pipinya, berusaha terlihat tegar. Berusaha menata segala perasaanya juga yang serasa campur aduk dan nano nano, sebelum akhirnya ikut berbicara menumpahkan keluh kesahnya.
"Kamu menghilang kemana, mas Ardi? Menghilang tanpa adanya kabar sama sekali... Tiga tahun, bukanlah waktu yang singkat, mas. Aku bahkan tidak tahu kamu masih hidup atau tidak. Aku tidak tahu kabarmu, aku tak tahu kamu sudah menikah atau belum, kamu sudah punya pacar atau belum..."
"Hidupku penuh keragu-raguan, ketidak jelasan dan terombang-ambing selama tiga tahun itu..." Ella juga mengutarakan jeritan hatinya. Alasannya akan semua kegalauan, keraguannya pada hubungan mereka yang seolah tanpa harapan yang pasti.
"Kenapa tidak sekalipun kamu mencoba untuk menghubungiku? Paling tidak kamu bisa memberi tahukan kabarmu. Memberi tahukan bahwa kamu masih hidup dan baik-baik saja."
"Kamu juga seharusnya memberiku kepastian akan kelanjutan hubungan kita. Bahwa kamu akan kembali setelah tiga tahun. Maka pasti aku tak akan ragu dan tetap untuk setia menunggumu kembali... Semua wanita itu butuh kepastian, mas. Mana ada yang mau digantungkan dengan ketidak jelasan? Mana ada yang mau menanti bayangan semu?"
"Sementara jelas saja di lain pihak kamu bisa tenang disana sambil menungguku. Karena kamu pasti sudah tahu apa saja yang terjadi padaku. Kamu mungkin bisa merasa aman karena tahu segalanya tentang diriku. Tentang aku yang belum menjalin hubungan resmi dengan pria manapun. Aku yang belum menikah atau bertunangan...."
"Aku tahu, kamu pasti telah menyewa seseorang untuk memata-matai diriku kan? Mengawasi segala keseharianku? Hal gila yang cuma bisa dilakukan oleh seorang sultan seperti dirimu." Ella mengutarakan kecurigaannya bahwa Ardi pasti menyewa seseorang untuk stalking segala kegiatan sehari-harinya.
"Kamu sangat egois, mas..." Ella mengakhiri sesi curahan hatinya dengan sangat dramatis.
"I know, and I should make an apologize for that...I'm so Sorry, El. Please forgive me..." Ardi kali ini mencoba meminta maaf atas segala kesalahannya selama tiga tahun ini pada Ella.
(* Aku tahu dan aku seharusnya membuat permintaan maaf untuk hal itu...Aku benar-benar minta maaf padamu, El. Tolong maafkan aku.)
"Kuakui aku memang salah karena menghilang begitu saja tanpa memberimu kabar selama tiga tahun ini. Aku juga salah karena tidak mencoba untuk menemui kamu dan memberimu kepastian tentang hubungan kita. Siapapun juga pasti akan bersedih jika diperlakukan seperti itu. And I have some reasons for that."
(*Dan aku punya beberapa alasan untuk itu.)
"Tapi aku melakukan semua hal itu karena aku sangat percaya padamu, El... Aku percaya cintamu padaku sama besarnya dengan cintaku padamu. Aku percaya kamu akan selalu setia dan cinta padaku. Aku percaya bahwa tak akan ada yang lainnya di hatimu selain aku..."
"Tapi ternyata aku salah. Kamu pada akhirnya lelah juga untuk menungguku. Kamu akhirnya memilih pria lain untuk mengisi kekosongan, mengisi relung hatimu." Ekspresi wajah Ardi yang sebelumnya tenang dan lempeng berubah menjadi sedih.
"Aku sebenarnya kecewa dengan keputusan kamu, benar-benar kecewa padamu yang tidak setia padaku..." Ardi berhenti sebentar dan menarik napasnya dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya.
"Tapi rasa kecewa itu tak ada apa-apanya dibandingkan betapa besarnya cintaku kepadamu yang tak pernah berubah sampai saat kapan pun. Rasa cinta yang membuatku dapat menerimamu bagaimana pun keadaanmu. Bahkan tak perduli kesalahan yang kamu lakukan atau bahkan separah apa kamu menyakitiku... Aku tetap mencintaimu"
"My love for you is bigger than any other things in this world."
__ADS_1
(*cintaku padamu lebih besar daripada apapun yang ada di dunia ini).
Aku lupa cara mencintaimu dengan benar.
Yang tidak berlebihan, juga tidak kekurangan.
Memang tidak baik jika sesuatu dilakukan secara berlebihan, begitupun dengan mencintai seseorang. Jika terlalu berlebihan maka akan terasa sangat sakit jika dikecewakan.
"Mas..." Ella mengangkat wajahnya yang dari tadi hanya memandang lurus kedepan dengan tatapan kosong. Ella mendapati wajah Ardi yang tepat di depan wajahnya sendiri. Sangat dekat.
Baru Ella sadari bahwa pria itu sudah duduk di hadapannya. Dengan jarak yang cukup dekat. Membuat wajah Ella semakin memanas dan detak jantungnya kembali berpacu cepat. Ella tak sanggup melanjutkan kata-katanya untuk memprotes atau menyanggah ucapan Ardi lagi.
"Sekarang aku cuma mau memastikan satu hal sama kamu, El...Apa kamu masih cinta sama aku? Apa masih ada sedikit saja rasa cinta dihatimu untukku?" Ardi langsung bertanya to the point.
"Do you love me?"
(*Apa kamu mencintaiku?)
Pertanyaan apa ini? Dan mengapa Ardi menanyakan ini padanya? Apa maksudnya coba? Apakan Ardi ingin kepastian darinya? Kepastian tentang apa yang Ella rasakan padanya?
Bagaimana Ella harus menjawab pertanyaan ini coba? Apakah dia harus jujur atau tidak pada perasaanya sendiri? Bolehkan dirinya menyatakan cintanya pada seorang pria sementara dirinya masih berstatus sebagai kekasih dari pria yang lainnya? Bolehkan dia dicintai oleh dua orang pria sekaligus? Sungguh tamak rasanya...
"Aku cuma pengen tahu perasaanmu. Persetan dengan status hubunganmu saat ini. Persetan dengan kamu sudah punya pacar atau belum." Ujar Ardi seakan tahu keraguan Ella.
"Aku ingin kamu mengatakannya, hanya sebagai batasan bagiku. Aku anggap jika kamu mengatakan perasaanmu padaku, berarti masih ada harapan bagiku. Masih ada yang bisa kuperjuangkan untukmu...Dan aku tak akan ragu lagi untuk merebutmu kembali ke sisiku."
"Kenapa harus ditanyakan lagi? Bukannya mas Ardi sudah tahu jawabannya? Sudah dapat melihat dengan jelas?" Ella semakin tak berdaya menjawab.
"Aku ingin dengar langsung dari mulutmu..."
"Hmmmm..." Ella masih ragu untuk menjawab.
Tapi bagi kedua insan itu, bagi Ardi dan Ella seolah-olah merasa bahwa mereka sedang ada di surga dunia. Perasaan bahagia di dada mereka seakan dapat menciptakan ilusi dan bayang-bayang bunga mawar bermekaran disekeliling mereka. Menciptakan suasana indah yang semakin menambah debaran di dada mereka masing-masing.
Suasana dramatis itu langsung bubar seketika saat keduanya dikagetkan oleh sebuah lagu yang cukup keras yang tiba-tiba terdengar.
Under my umbrella, ella, ella, eh, eh, eh
Under my umbrella, ella, ella, eh, eh, eh
Under my umbrella, ella, ella, eh, eh, eh, eh, eh-eh
Dan Seolah disadarkan dari mimpi indahnya Ella segera mengambil ponsel dari sling bag-nya yang sedang berbunyi. Panggilan telpon dari Shanti.
"El kamu dimana? Aku nyariin kamu dimana-mana gak ketemu!" Shanti langsung nyerocos khawatir.
"Ehmmm Sorry Shan, aku pergi duluan tadi. Baru inget kalau ada urusan penting." Ella mencari-cari alasan sekenanya.
"Ada apa, El? Kamu gak pa-pa? Kok ndadak gitu?" Shanti masih curiga.
"Iya, I'm fine. Aku pulang duluan kamu gak usah khawatir lagi." Ella berusaha meyakinkan temannya itu. "Eh udahan dulu ya. Selamat berbelanja," Ella buru-buru mengakhiri pangilan telponnya.
Ella Mengumpat dalam hati karena Shanti yang merusak dan membuyarkan suasana romantis mereka. Langsung saja diaktifkannya mode silent untuk ponselnya agar tidak ada gangguan lagi.
Ardi juga misuh-misuh dalam hati karena adanya gangguan tidak terduga barusan. Gangguan yang seketika membubarkan suasana romantis dan mengharu biru biru dengan bunga-bunga berwarna merah muda di sekitar mereka. Dibubarkan oleh lagu Umbrella dari Rihanna yang dipakai Ella sebagai ring tone-nya.
Tapi Ardi jadi gemas juga demi mendengar lagu yang dipakai Ella sebagai ring tone-nya. Apaan coba? Pasti gadis itu memilih lagu hanya karena ada kata-kata di lagu itu yang mirip namanya sendiri. Umbrella, ella, ella. Sesimple itu alasan Ella. Lucu dan gemesin banget kan tingkah cewek ini?
__ADS_1
"Maaf mas ada gangguan, sampai mana tadi kita ngomongnya?..." Ella bertanya canggung.
"Sampai do you love me..."
"Apa masih perlu untuk dijawab, mas?"
"Iya aku ingin denger jawabanmu."
Belum sempat Ella membuka mulutnya untuk menjawab sebuah nyanyian lagu kembali terdengar. Kali ini berasal dari ponsel Ardi yang berbunyi. Lagu Paradise dari ColdPlay yang memang lagu favorit Ardi sejak dulu sampai sekarang.
And dream of para-para-paradise
Para-para-paradise
Para-para-paradise
She'd dream of para-para-paradise
Para-para-paradise
Para-para-paradise
Aaaaaarrrgghhh!! Ardi langsung berteriak frustasi dan mengumpat terang-terangan karena gangguan kedua ini. Apalagi saat dilihatnya Bambang yang sedang menelponnya. Doh minta dipecat ya ini anak? Ganggu aja disaat genting begini!
"Halo, apaan Mbang?" Ardi menerima panggilan itu dengan nada bersungut-sungut.
"Maaf pak, jasnya udah fix kan? Itu yang bapak bawa kabur. Ini mau saya bayar." Jawab Bambang terdengar sedikit ketakutan. Mengingatkan Ardi yang kabur begitu saja dari butik dengan membawa jas yang belum dibayar.
"Iya bayar aja susah amat."
"Ok. Terus bapak nanti pulangnya gimana? saya jemput atau bagaimana?"
"Fvck you! Kamu ganggu aja! Nanti aku pulang sendiri gampang!" Ardi semakin ngamuk karena ditanyai sesuatu yang tidak penting.
"Tapi pak..." Bambang memprotes tapi Ardi sudah tidak mau mendengarkan. Ardi menutup panggilan telponnya bahkan mematikan ponselnya agar tidak ada gangguan lagi.
Padahal Bambang cuma ingin mengingatkan bahwa dompet, uang, identitas dan semua kartu sakti Ardi saat ini sedang dia bawa semua. Ardi gak bawa apa-apa sekarang. Bahkan mungkin gak bawa uang sepeserpun. Gimana bisa pulang sendiri bosnya itu?
Ella tertawa geli melihat reaksi Ardi yang sangat kesal karena adanya dua gangguan berturut-turut. Melihat wajah manyun pria itu yang menggemaskan dan lucu untuk dilihat.
Wajah Ardi terlihat sangat kesal karena gangguan yang membuyarkan total suasana romantis mereka. Tapi memang tidak dapat dihindari panggilan-panggilan itu karena baik Ella maupun Ardi lah yang telah kabur seenaknya dan memisahkan diri dari rombongan mereka masing-masing. Jadi cepat atau lambat mereka pasti akan dicariin.
"Jadi masih mau dilanjutin omongannya?" Ella tertawa ringan ikut menggoda Ardi.
"Jadi lah...Bentar bangun feelsnya dulu..." Ardi tetap bersikeras melanjutkan pembicaraan mereka.
Dihirupnya udara dalam-dalam beberapa kali. Untuk memasukkan oksigen ke dalam otaknya. Untuk menjernihkan pikirannya dan menghilangkan kekesalannya. Diraihnya kedua jemari Ella yang ada di hadapannya. Dipandanginya wajah cantik Ella yang begitu dekat dengan wajahnya sendiri.
Tak perlu waktu terlalu lama untuk menghadirkan kembali getar-getar cinta di dalam dadanya. Mengaktifkan kembali detakan jantung yang berpacu cepat dan bersemangat dengan irama yang tidak beraturan.
"Just tell me what do you feel... Do you love me?" Ardi mengulangi pertanyaannya lagi. Dengan sedikit penekanan seakan tak menginginkan penolakan.
(*Katakan padaku apa yang kamu rasakan... Apakah kamu mencintaiku?)
~∆∆∆~
Stop! Stop! Jangan tegang dulu ya nungguin jawaban dari Ella
__ADS_1
Duh beneran proses katakan cinta yang penuh perjuangan ya. Banyak gangguan dan halang rintang menghadang tanpa tahu situasi 🤣
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. ðŸ¤ðŸŒ¼