Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
236. S2 - Bridal Shower


__ADS_3

Sabtu sore ini akan diadakan acara spesial yang sengaja dipersiapkan oleh teman-teman terdekat Ella untuk untuknya. Bridal shower, yaitu sebuah selebrasi untuk merayakan lepasnya masa lajang seorang perempuan sebelum hari pernikahannya.


Bridal Shower, bukan acara penyiraman secara harfiah. Tapi lebih bermaksud untuk menyirami calon mempelai wanita dengan berbagai macam hadiah dari sahabat-sahabat terdekatnya. Bukan hanya hadiah fisik tapi juga hadiah berupa nasehat dan cinta kasih serta perhatian mereka. Di Indonesia acara ini masih jarang dilakukan. Biasanya hanya dilakukan oleh golongan tertentu, terutama para sultan.


Laras dan Sari yang menggagas acara untuk Ella ini. Totalitas tentu saja. Sari sudah berpengalaman untuk mengadakan acara semacam ini. Karena dia lah yang menyiapkan acara untuk Laras sebelum menikah dengan Mahes, kakaknya. Sementara Laras sendiri, tentu sangat bersemangat kalau harus mengurusi sebuah pesta atau acara sejenisnya.


Laras dan Sari menjemput Ella di rumahnya dan mengatakan kepada orang tua Ella bahwa Ella akan menginap bersama mereka malam ini. Para orang tua tentu tak mengerti acara macam apa ini bridal shower tapi percaya saja dan mengijinkan Ella pergi saat Laras dan Sari mengatakan acara hanya akan dihadiri oleh wanita saja.


"Sebenernya kita mau ngapain?" Tanya Ella saat sudah duduk di jok belakang mobil Lamborgini Aventador milik Mahes. Sementara Laras yang mengemudi dan Sari duduk di sebelahnya.


"Bridal Shower," Jawab Laras.


"Iya, tapi itu acara kayak gimana?" Ella yang seumur hidup tak pernah menghadiri acara beginian tentu tidak mengerti maksudnya.


"Anggap aja sebagai girl party. Acara khusus untuk wanita sebelum melepas masa lajangnya." Sari berusaha menjelaskan pada Ella.


"Ngapain aja?"


"Udahlah mbak, yang pasti kita having fun sore dan malam ini." Laras kembali menjawab dengan nada ketusnya. Ella jadi merasa Laras mirip banget sama Ardi kalau gak mau melanjutkan pembicaraan.


Kemudian Laras membelokkan dan memarkirkan mobilnya di parkiran VIP J.W Melati hotel. Ketiganya lanjut manaiki lift ke lantai paling atas, menuju ke penthouse suite room dari J.W Melati hotel yang sudah dipesan khusus oleh Laras.


"Here she comes...Calon mempelai wanita yang cantik sudah datang..." Sari memberikan pengumuman saat mereka bertiga tiba dan memasuki ruangan.


""Selamat datang...""


Berbagai sambutan, tepuk tangan, tiupan terompet dan tembakan convety langsung menghujani dan menyambut Ella. Meriah dan heboh sekali. Satu persatu tamu yang hadir langsung menyerbu dan memeluk tubuh Ella bergantian.


Ella sangat kaget dan terharu mendapatkan sambutan tak terduga ini. Ella mengedarkan pandangannya berkeliling untuk bisa mengenali tamunya satu persatu. Dari keluarga sultan hadirlah Laras, Sari, Ditha dan Cindy.


Awalnya Ella mengira hanya mereka berempat yang hadir. Namun ternyata disana juga telah hadir para sahabat terdekat Ella lainnya. Entah bagaimana Laras dan Sari dapat mengundang mereka satu persatu. Teman-teman kuliah Ella pendidikan dokter dan pendidikan spesialis.


Ada Intan, Shanti, Yuli, dan Putri turut hadir juga disana. Ella benar-benar terharu dengan kehadiran para sahabat terdekatnya itu.


"Nah langsung kita mulai ya acaranya." Laras memberikan pengumuman bahwa acara sore ini akan segera dimulai.


Laras menelpon seseorang dan tak lama kemudian terdengar bel di pintu ruangan. Begitu pintu dibuka, masuklah beberapa pegawai room service yang membawa berbagai macam makanan dan minuman. Mereka langsung menata makanan itu di meja makan, meja ruang tamu, meja ruang tengah bahkan di mini bar dan kulkas. Banyak banget, siapa yang mau ngabisin sebanyak itu?


Setelah persiapan makanan dan minuman selesai giliran lima orang pegawai klinik kecantikan ganti memasuki ruangan. Karyawan dari klinik kecantikan kenamaan yang telah di booking oleh Laras.


"Nah disini ada empat kamar. Kamar pertama buat khusus mbak Ella perawatan prewedding ya. Kamar kedua untuk Facial treatment, kamar ketiga untuk hair treatment, kamar terakhir untuk body treatment." Laras menjelaskan.


"Intinya acara pertama kita berjudul salon party. Silahkan memanjakan diri sepuasnya hari ini gaes. Gantian ya jangan berebut. Yang belum dapat giliran nungguin di ruang tengah sambil ngemil." Sari kembali menjelaskan dan langsung disambut dengan sukacita oleh para hadirin. Kapan lagi bisa nyalon gratis kayak gini?


"Udah mbak Ella sekarang waktunya bertapa di kamar pertama ya. Jangan keluar sampai selesai semua proses perawatan tubuh." Laras memberikan perintah pada Ella yang masih kebingungan.


"Mau ngapain?" tanya Ella.


"Macem-macem. Intinya bikin mbak Ella cantik, mulus dan wangi. Dijamin mas Ardi bakalan klepek-klepek deh." Jawab Sari cekikikan.


"Ya sebut aja waxing, many and pedy cure, lulur, body massage, body spa, v spa, creambath, facial treatment dan masker wajah. Full set paketan perawatan calon pengantin." Laras menjelaskan apa saja yang akan dijalani Ella di kamar perawatan itu. Mau cantik itu gak gampang gaes, kadang harus bersakit-sakit dahulu.


"Banyak bener. Gak bisa kurang?" Ella ngeri membayangkan apa saja yang akan dialaminya nanti. Dirinya yang tak terbiasa ke salon tentu merasa tak nyaman kalau tubuhnya harus dipegang-pegang oleh orang lain meski sesama wanita. Sangat memalukan rasanya...


"Gak bisa Bu Ella. Ini sudah standart minimal untuk calon mempelai keluarga Pradana. Standart minimal untuk menjadi istri Lazuardi Pradana." Cindy yang kali ini berkata dengan wajah perfectionisnya.


"Apaan coba?" Ella tak habis pikir sama Cindy ini, kenapa bisa seloyal itu pada Ardi. Sampai-sampai ingin mempersembahkan istri yang sesuai standart minimal segala untuk bosnya.


"Udah deh mbak Ella nurut aja. Kurang seminggu lagi lho kalian nikah. Mbak Ella mau memberikan yang terbaik untuk mas Ardi juga kan?" Laras yang kali ini langsung bertindak, menarik tubuh Ella ke kamar dan menutup pintunya dari luar.

__ADS_1


Semua teman Ella lainnya hanya bisa cekikikan melihat tingkah para sultanwati itu. Gak nutut sebenernya membayangkan perawatan apa saja yang akan didapatkan Ella di dalam dengan dua orang pegawai salon yang melayaninya.


"Sultan mah bebas," celetuk Intan yang langsung disambut tawaan teman yang lainnya.


"Ayo yang mau body treatment silahkan masuk kamar lainnya." Sari mempersilahkan kepada teman-teman Ella yang lainnya.


Yuli, Putri dan Santi yang mendapat giliran duluan perawatan. Sementara Cindy, Ditha, Sari dan Laras berbincang sambil ngemil dan nonton film.


"Aaaahhhh...Aduuuh duh duh...sakit..." terdengar suara teriakan-teriakan Ella dari dalam kamarnya.


"Kenapa tu?" Intan bertanya ngeri mendengarnya.


"Hahaha palingan lagi waxing, dicabutin bulu-bulunya." Laras tertawa ngakak.


"Bisa juga lagi di massage, si Ella kan gak suka dipijet," Sari ikut tertawa membayangkan.


"Ada usaha ada hasil. Jadi kalau mau cantik ya harus sakit dahulu." Cindy menjelaskan analogi kecantikan dengan usaha, dasar teoritis.


"Kalau aku mending gak usah cantik deh daripada kesakitan kayak gitu." Ditha ikut ngeri bayangin apa yang sedang dialami Ella di dalam kamar perawatan.


"Lho nanti kalau kamu mau nikah sama Linggar juga gak bisa nolak lhoo." Laras mengingatkan Ditha.


"Duh masih lama kali!" Ditha langsung memprotes dan semuanya tertawa mendengarnya. Lucu saja membayangkan pasangan Linggar dan Ditha yang masih terlalu muda ini untuk menikah.


Dan sesuai prediksi, sesi perawatan tubuh Ella secara menyeluruh membutuhkan waktu yang sangat lama. Berjam-jam lamanya sampai Ella tidak dapat menghitung waktunya terkurung di bilik derita. Sampai lemas saja rasanya badan Ella karena kelaparan dan kehausan, ditambah dengan siksaan kesakitan yang nyata. Kapok dah, bener-bener proses bikin cantik yang menyiksa.


"Awas-awas minggir calon mempelai wanita sudah tiba." Intan memberitahukan kedatangan Ella dengan dramatis. Cekikian melihat temannya itu berjalan dengan langkah gontai keluar dari kamar perawatannya, entah apa saja yang sudah dialaminya di dalam sana.


"Aku lapar..." Ella langsung menghempaskan tubuhnya di salah satu sofa ruang tengah.


"Hahahaha kirain kenapa ternyata kelaparan." Celetuk Shanti ngakak.


"Gak denger apa teriakan-teriakan Ella tadi? Kayaknya menikmati banget hahaha." Putri ikut cekikikan, merasa beruntung menjadi rakyat jelata. Gak perlu menderita demi cantik layaknya sultanwati.


"Kirain butuh napas buatan, nanti tinggal panggil mas Ardi." Laras ikutan menggoda Ella.


"Udah-udah jangan digodain melulu kasian, ini makan dulu mbak Ella." Sari memberikan sepiring spageti pada Ella yang langsung disantapnya dengan sangat lahap.


"Sesi selanjutnya adalah sesi pemotretan. Kita bisa berpose gila-gilaan sepuasnya." Ditha bersemangat memanggil fotografer beserta segala perlengkapan outfit dan make up-nya.


Kedelapan wanita itu langsung bersemangat berdandan dan berfoto dengan berbagai pose. Mulai pose cantik sampai pose absurd. Pose sendirian sampai pose bersama teman lainnya.


Dan yang paling bersemangat dalam sesi pemotretan ini ternyata adalah Laras dan Ditha. Jadilah mereka meminta sesi pemotretan khusus untuk sisters photo sesion. Pemotretan khusus wanita keluarga Pradana setelah Bridesmaids photo sesion selesai.


Diawali dengan Ella dan Laras yang berpose dengan working suit dan party suit. Ditambah lagi dengan pose gaun serba merah. Menunjukkan keakraban Ella, Laras dan Ditha yang nantinya akan menjadi saudara ipar. Laras dan Ditha dalam balutan working suit juga tak mau kalah ikut berpose.


Setelah sesi pemotretan gila-gilaan selesai, acara terakhir malam ini adalah pijama party. Acara yang paling dinanti, sesi ngobrol ngalor ngidul yang bakal berlangsung semalaman. Kedelapan wanita itu berkumpul di ruang tengah, duduk melingkar di karpet tebal dengan memakai piyama.


"Sebenarnya akomodasi hotel dan semua fasilitas serta makanan kita malam ini adalah kado dariku untuk mbak Ella." Sari memulai membuka pembicaraan dengan sesi pemberian kado.


"Kalau kado dariku jelas body treatment tadi." Laras ikut mengatakan kadonya untuk Ella.


"Kalau aku sesi pemotretan tadi." Ditha gak mau ketinggalan mengatakan kadonya.


"Dari kami bertiga ini ada sprei dari bahan sutra. Lembut banget, silahkan dipake pas malam pertama." Putri mewakili ketiga teman PPDS Ella menyerahkan kado mereka dari hasil patungan. Sprei sutra mahal bok, tapi kalau ngasih kado gak bagus takut si sultan, suami Ella gatel-gatel lagi tidur diatasnya.


"Dari aku untuk Bu Ella," Cindy menyerahkan sebuah buku yang sepertinya bikinan pribadi. Berjudul 'How to tame Lazuardi Pradana'


(*Cara menjinakkan Lazuardi Pradana).

__ADS_1


"Makasih, ya." Ella menerima buku dari Cindy dengan dahi berkerut. Dibacanya sekilas, penjelasan yang ditulis dengan sangat detail tentang Ardi.


Lazuardi Pradana menyukai warna putih dan hitam. Hampir semua barang dan outfit yang dimiliki Ardi berwarna hitam atau putih.


Ardi bangun tidur setiap hari pukul 05.15. Karena mempunyai penyakit hypotensi, Ardi membutuhkan waktu 7 menit setelah bangun untuk duduk bengong di kasur. Sebelum akhirnya bangkit dari ranjang.


Bahkan lebih jauh Cindy juga dapat menuliskan berapa menit ritual kamar mandi Ardi. Ritual sarapan paginya lengkap dengan menu favorit-nya. Bahkan merk kopi, jumlah gula dan berapa kali adukan untuk kopi Ardi juga ditulis dengan detail. Gila!


Ella sampai keheranan bagaimana bisa Cindy mengetahui semua details tentang Ardi yang bahkan dirinya sebagai calon istri tidak tahu? Mau tak mau ada rasa tak nyaman juga di hati Ella.


"Hehehe sorry El, aku gak bawa kado soalnya aku yang didapuk untuk memberikan kado berupa siraman nasehat buat kamu." Intan yang paling terakhir berkata-kata.


"Agak gila si, ngapain nyuruh aku? Emang ga ada yang lebih wise apa? Sesat semua lho ntar."


"Gak pa-pa, kamu kan yang paling senior soal rumah tangga. Jumlah anak juga paling banyak." Celetuk Yuli yang juga teman Intan sejak jaman kuliah.


"Baiklah mari kita coba..." Intan menarik napas dalam sebelum memulai kalimatnya dengan dramatis.


"Dalam berumah tangga, masalah itu kadang awalnya hanya karena hal-hal sepele. Lalu diperparah dengan salah paham. Mungkin juga dengan keadaan masing-masing yang sedang letih. Makin bertambah besar karena ego dan hawa nafsu yang dibesar-besarkan."


"Tapi kamu harus Ingat, bahwa ujian pernikahan itu bukan bersabar saat semuanya menyenangkan.


Tapi bersabar saat keadaan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan." Intan memberikan wejangan yang diluar dugaan sangat bagus dan mengena. Bahkan mampu membuat Ella dan semua yang hadir ikut terharu mendengarnya.


"Terus ya, suami itu harus dipuaskan mulai dari mata, perut sampai ke kepala bagian bawahnya. Biar gak mencari makan di sembarang tempat, kayak kucing kelaparan." Intan menambahkan.


"Itulah perlunya merawat diri biar cantik. Menyenangkan suami." Laras ikut mendukung.


"Lalu selanjutnya ya, karena keluarga Pradana ini menganut sistem patriarki. Jadi kamu harus berusaha mendapatkan anak laki-laki dari Ardi." Intan melanjutkan nasehatnya.


"Nah ini si Intan kan anaknya dua laki-laki semua. Ada resepnya ternyata." Celetuk Putri penasaran karena dia baru memiliki satu anak perempuan.


"Intinya si suamimu harus bisa bikin istri sampai puas hahaha." Jawab Intan ambigu.


"Haaah? Puas gimana maksudnya?" Putri bertanya kebingungan. Apalagi para gadis lain yang belum menikah, bingung untuk membayangkan.


"Berarti kita ini hasil dari hubungan yang tidak memuaskan?" Celetuk Yuli, semua yang mendengar langsung tertawa miris.


"Laki-laki itu terbentuk dari kromosom X dan Y. sedangkan wanita X dan X. Nah kromosom Y ini hanya bisa hidup dalam suasana basah. Dia akan mati jika berada dalam suasana asam." Laras membantu menjelaskan dengan lebih ilmiah.


"Sementara 'aset kita' memiliki PH normal asam kan. Pasti mati itu kromosom Y kalau masuk dalam keadaan biasa, maka jadilah anak perempuan. Nah jika seorang wanita sampai mencapai klimaks, maka suasana 'aset kita' akan berubah jadi PH basah. Maka kalau dibuahi akan jadilah anak laki-laki."


Semua yang mendengar langsung melongo. Memang ada teori ini dalam pelajaran s*xologi. Sepertinya dulu mereka tidak terlalu memperhatikan. Dan ternyata bisa diterapkan juga dalam praktek kehidupan sehari-hari.


"Pantesan Bu Laras bisa bikin Rangga ya?" Cindy menyeletuk kagum karena Laras melakukan sesuatu yang berdasarkan teori.


"Iya donk, pokoknya aku puas dulu baru mas Mahes tembakin hahhaha."


"Aduuuuh pembicaraan apa ini?" Ella sudah panik mendengar pembicaraan absurd ini.


"Lho kamu harus praktekkan mbak. Bilang sama mas Ardi bikin kamu puas dulu sebelum dia nembakin." Laras lanjut meyakinkan Ella.


"Benar El, foreplay dulu. Pokoknya kamu sampai udah basah baru boleh ditanami. Kayak sawah hahaha." Intan menambahkan.


"Aaaahhh sudah cukup! Hentikan pembicaraan ini!" Wajah Ella sudah merah padam.


"Hahahaha," semua yang hadir tertawa ngakak melihatnya reaksi Ella.


~∆∆∆~

__ADS_1


🌼Yuuuuks say PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼


__ADS_2