Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
Extra ~ Honeymoon (3)


__ADS_3

Saat membuka mata keesokan harinya, Ardi mendapati suasana kamar sudah sangat terang benderang. Sang matahari sudah bersinar dan menunjukkan cahayanya yang menyinari kamar mereka dari dinding kaca.


Ardi bangkit dari tidurnya, duduk bengong sejenak di ranjang. Celingukan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Kosong gak ada siapapun disana.


Ella kemana? Ardi baru sadar Ella sudah tidak ada di ranjangnya. Sudah bangun ya?


Ardi beranjak perlahan dari ranjangnya, berjalan keluar kamar, mencari sosok Ella. Di ruang tengah gak ada, di dapur gak ada. Di ruang makan juga gak ada. Padahal sudah siap menu sarapan untuk mereka di atas meja.


Ardi mengambil segelas susu coklat yang tersedia di atas meja, meneguknya. Sudah mulai dingin, sepertinya sudah agak lama pihak hotel menyiapkan menu sarapan untuk mereka ini. Dan jelas Ella yang membukakan pintu kamar untuk mereka.


"Honey? Ella honey?" Ardi memanggil-manggil.


Tidak ada jawaban. Akhirnya Ardi ke balkon, mencari di sekitaran taman dan area kolam renang. Tetap tidak ada. Kemana Ella pergi sepagi ini?


"Kamu kemana honey? Aku kan belum dapat morning kiss." Ardi menggerutu kesal.


Ardi mengamati lift gondola yang menghubungkan hotel dengan pantai. Sepertinya seseorang sudah menaikinya. Pasti Ella. Karena tak ada orang lain yang bisa menaikinya selain mereka berdua saat ini.


Tanpa pikir panjang lagi, Ardi langsung menaiki lift itu. Berniat mencari Ella di sekitar pantai. Dan benar saja, saat Ardi sampai di pantai dan keluar dari lift didapatinya Ella berada disana.


Sesosok tubuh dengan pakaian serba putih yang sangat mempesona. Tak kalah menawan dengan pemandangan alam semesta bahari ini.


Ella duduk di salah satu kursi santai sambil melamun, memandangi lautan lepas. Istrinya itu memakai hot pant dan tank top putih yang dipadukan dengan outer dari bahan rajut transparan. Memang terlihat tertutup di bagian depan. Tapi bagian belakangnya? punggung Ella terpapar dengan sangat jelas dan indahnya. Pakaian yang cocok untuk daerah panas dan pantai begini. Cantik, sexy, dan sangat menggoda.


Ardi bersyukur telah membooking seluruh fasilitas pantai dan resort ini untuk mereka berdua saja. Tak ada orang lain yang bisa melihat Ella dengan penampilan terbuka begitu, kecuali dirinya. Dan beberapa pegawai hotel and resort tentunya. Tapi tenang saja, para pegawai itu pun sudah direquest oleh Ardi untuk semuanya bergender wanita. Aman.


"Honey," sapa Ardi sambil mendekat pada Ella.


Ella tak menjawab sapaan Ardi, bahkan tak mengalihkan pandangannya dari lautan biru yang terhampar di hadapannya.


Kenapa dia? Kok gitu si sambutan pada suami tercinta? Ardi sedikit bingung juga dengan tingkah istrinya itu. Ngambek?


"Selamat pagi, honey." Ardi tak kehabisan akal, langsung mendaratkan ciuman ringan di sebelah pipi Ella. "You look beautifull," pujinya kemudian.


Ella tetep diam tak bereaksi, bagaikan patung.


"Hey cantik, lagi ngambek ya?" goda Ardi.


Karena Ella tak juga merespon segala ucapannya, Ardi memutuskan untuk membiarkan saja istrinya itu. Diemin aja deh kalau ngambek, digodain juga tambah ngambek ntar.


Ardi berlarian di pasir pantai yang putih. Selanjutnya nyebur ke air laut yang dingin dan menyenangkan. Mainan air dan berenang-renang kecil disana.


"Airnya enak lho, honey. Ayo sini gabung." Ardi memanggil dan mengiming-imingi Ella dengan air laut yang terasa dingin menyejukkan.


Cukup lama Ella melihat suaminya itu bermain air, kayaknya menyenangkan banget. Seger gitu mainan air. Akhirnya seakan terhipnotis, Ella luluh juga untuk bangkit dari duduknya di kursi santai. Berjalan ke arah pantai, mencelupkan kedua kakinya ke riakan ombak kecil yang menyapu bibir pantai.


Ardi tersenyum melihat Ella yang akhirnya mau mendekat kepadanya. Seakan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Ardi langsung menarik tubuh istrinya itu. Membawanya semakin jauh nyebur ke dalam air laut yang lebih dalam.


"Eh? Mas...udah dalem ini." Ella panik juga saat kedalaman air laut sudah diatas pinggangnya. Dan hempasan ombak bahkan sanggup menyapu sampai ke bagian lehernya. Membuat air laut yang asin sesekali masuk ke mulutnya.


"Pegangan sama aku," Ardi meletakkan kedua tangan Ella di pundaknya. Membuat wajah mereka berdua berhadapan dengan cukup dekat sekarang. Keduanya berpandangan untuk sesaat, tak memperdulikan hantaman ombak yang menerjang mereka.


"Kemarin ada sedikit masalah, nilai saham bisnis park anjlok. Terpengaruh Wismail grup yang sedang goyah karena skandal besar." Ardi menjelaskan bahkan sebelum Ella bertanya. Tak ingin ada salah paham.


"Oh..." Ella memang tak begitu mengerti, tapi sepertinya terdengar sangat gawat.

__ADS_1


"Sudah aman. Semalaman Irza dan aku diskusi gimana cara mengatasinya." Ardi buru-buru menambahkan, biar Ella tidak khawatir.


"Syukurlah..." jawab Ella singkat. Oh jadi semalaman mas Ardi telponan dengan Irza? Ada rasa lega juga merasuki hati Ella mengetahui suaminya menelpon Irza yang seorang pria. Aman deh.


"Kamu ngambek?" tanya Ardi tidak puas dengan jawaban singkat dari Ella.


"Nggak." jawab Ella.


"Kenapa ngambek?"


"Dibilangin nggak kok."


"Gara-gara gak dapat jatah semalam ya?" Ardi menebak alasan ngambek istrinya itu dengan tebakan jahilnya.


"Enak aja." Ella mencoba ngeles.


"Nanti aku kasih Doble deh."


"Idiiiiih ogah."


"Bilangnya ogah, tapi wajah kamu itu udah merah banget...Malu tapi mau." Ardi sudah cekikikan melihat wajah Ella yang sudah memerah tapi sok tegar.


Ella memalingkan wajahnya dari pandangan Ardi. Mengalihkan wajahnya yang pasti sudah memerah dan memalukan dari Ardi.


Tetapi suaminya itu langsung meraihnya kembali. Sedikit mendongakkan wajah Ella dan menurunkan wajahnya sendiri secara bersamaan. Sampai pada satu titik dari wajah mereka yang akhirnya bertemu. Bibir mereka.


Ardi langsung bergerilya menjarah seluruh bagian bibir Ella. Membuat Ella yang awalnya diam dan pasif lama-lama tak dapat menahan diri untuk membalas juga. Ella bahkan semakin mengeratkan pegangannya pada Ardi, mengalungkan kedua lengannya ke leher suaminya. Memeluknya dengan sangat erat.


Keduanya berciuman dengan lahapnya, mencurahkan semua rasa cinta di dada pada satu sama lainya. Menciptakan kehangatan ditengah dinginnya air lautan. Bahkan terjangan ombak pun tak sanggup menghalangi keintiman mereka berdua.


"Jangan takut, ada aku." Ardi menyadari Ella ketakutan.


"Bahaya, ombaknya semakin besar," Ella masih merasa tak nyaman dengan keadaan di sekitarnya.


"Bahaya? Aku punya lisensi penyelam profesional lho."


"Haah? Masa?" Ella takjub mendengar pernyataan Ardi. Pantesan aja Ardi ini pinter banget renangnya. Dan sama sekali gak takut dengan ombak di lautan.


"Gara-gara keseringan main ke laut sama Rena dulu. Jadi kami ambil lisensi menyelam, biar bisa explore lebih jauh dan bebas."


"Oh...Rena," Entah mengapa Ella merasa tak senang untuk mengetahui kenyataan Ardi tak bisa lepas dari kecintaannya pada lautan. Lautan dengan segala kenangannya pada Rena.


"Kenapa?" Ardi menyadari wajah tidak senang Ella.


"Kalau ke laut mas Ardi jadi inget dia kan?"


"Lho sama kamu kan juga di laut? Kita jadian pertama di pantai Papumi masa kamu lupa? Kamu juga pernah hampir tenggelam kan waktu nekat nyebur terlalu jauh ke laut. Dan aku gendong kamu...kayak gini..."


"Kyaaaa..." Ella berteriak saat tubuhnya tiba-tiba naik diatas permukaan laut. Ardi menggendongnya ala bridal style di depan dadanya. Reflek Ella mengalungkan kedua tangannya ke leher Ardi, takut jatuh kalau gak pegangan.


"Kayak gini aku gendong kamu waktu itu."


"Kamu masih ingat mas?" Ella sedikit kaget juga, ternyata Ardi masih mengingat saat-saat di Papumi beach itu. Hari ketika mereka pertama jadian.


"Aku ingat semuanya tentang kita. Tentang aku, kamu dan lautan biru." Ardi membawa tubuh Ella beranjak menjauh dari lautan. Berjalan menyusuri pasir putih pantai.

__ADS_1


"Ayo kita bikin kenangan baru yang lain tentang kita dan lautan indah ini." Ujar Ardi sambil meneruskan langkahnya.


"Lepasin, aku bisa jalan sendiri. Kita mau kemana?" Ella merasa tak enak karena Ardi terus menggendong tubuhnya. Kan berat?


"Nanti kalau udah sampai."


"Kemana?"


"Kesini," Ardi membuka pintu sebuah beach house dari bahan kayu.


Rumah gubuk yang dari luar terlihat sangat sederhana, tapi di dalamnya sudah tertata rapi perabotan yang mewah layaknya kamar hotel berbintang. Ardi menurunkan Ella di ranjang berseprei putih.


"Ini? Kita mau ngapain?" Ella sedikit ketakutan.


Jangan bilang Ardi mau mereka melakukannya disini? Memang pantai ini sudah dibooking dan tak bakal ada yang datang si. Tapi ini kan tempat umum?


"Ngasih kamu jatah Doble," Ardi dengan cueknya melepas T-shirt putih yang dipakainya. Menampakkan dada bidangnya yang terbentuk dengan sempurna.


'Glek.'


Mau tak mau Ella menelan air ludah juga melihat pemandangan indah itu. Dada bidang yang terbentuk dengan indah bagaikan roti sobek. Udah gitu basah lagi, roti sobek kecelup air. Makin seksi jadinya.


"Mas Ardi gak lapar? Kita sarapan dulu yuk ke hotel. Nanti lanjut di hotel aja ya," Ella memberikan penawaran.


Masih tidak nyaman rasanya memikirkan akan bercinta di beach house.


"Nanti saja, setelah makan kamu." Ardi menyanggah tak tergoyahkan.


Melangkah semakin mendekat ke arah Ella di ranjang. Rasanya sudah panas saja sekujur tubuhnya demi melihat Ella dengan baju minimalisnya yang bahkan sudah basah kuyup. Jangan tanya lagi gimana lekukan tubuh indah itu terpapar dengan jelas di matanya.


Ella hanya bisa pasrah saja, tak tega juga melihat Ardi yang sepertinya sudah sangat 'tinggi'. Pasti pusing banget kalau gak sampai 'release' kan?


Agak ngeri juga si melihat sesuatu yang nampak terbangun di tengah paha Ardi. Semakin jelas terlihat karena celana yang dipakai suaminya sudah basah sepenuhnya.


'Ada sesuatu yang menonjol tapi bukan bakat,


Sesuatu yang tegak tapi bukan kebenaran,


Serta sesuatu yang keras tapi bukan ibu kota.'


"Boleh ya," Ardi mengusap lembut rambut Ella yang basah dan berantakan di wajahnya. Merapikannya ke belakang sebelah telinga Ella.


"As you wish," Ella memberikan senyuman indahnya.


"Here I come," Ardi langsung melepaskan outer rajut Ella dan membuang begitu saja ke lantai.


Kemudian Ardi meraih dan mendekap tubuh istrinya itu. Memeluk dan menciumnya sampai kedua tubuh mereka bergulingan dan saling tindih di atas ranjang. Saling menyalurkan hasrat dan meluapkan cinta kasih masing-masing untuk mendapatkan kepuasan dan kenikmatan duniawi bersama-sama.


Beach house tepi pantai Karma Kandara dan birunya samudra menjadi saksi bisu penyatuan dua insan yang saling mencinta.


~∆∆∆~


🌹Gimana gaes? akhirnya uye-uye kan?🌹


Like, Komen dan vote-nya dulu donk (malak🤭)

__ADS_1


__ADS_2