
Flash back is over. Sekarang kita kembali ke pagi yang sama saat Roni ke jogja dan beli gudek untuk Sari. Meanwhile in Surabaya...
Pagi-pagi sekali Linggar sudah menerobos masuk ke kamar Ardi dengan seenaknya. Saat Ardi masih dalam proses berpakaian, memakai kemejanya.
"Ngapain?" tanya Ardi curiga pada Linggar.
Linggar memperhatikan kakaknya itu berpakaian dengan sedikit keheranan. Jam berapa ini? Gak salah waktu? Ngapain coba seorang CEO sudah bersiap-siap berangkat jam tujuh pagi? Sementara Linggar aja baru bangun tidur dan belum mandi.
"Nggak, mama cuma nyuruh aku manggil mas Ardi aja, sarapan keluarga...Mau kemana pagi-pagi?"
"Ih kepo aja."
"Alah, bilang aja mau nganterin mbak Ella kerja."
"Nah udah tahu gitu, masih nanya."
"Emang mbak Ella jaga sift pagi ya?"
"Pagi terus sekarang. Udah jaga poli penyakit dalam dia. STR-nya udah terbit katanya."
"Jadi enak ni jadwal kencannya?" Linggar keasikan menginterogasi kakaknya. Penasaran udah sejauh mana perkembangan hubungan mereka.
"Gitu deh..." ujar Ardi memasang dasinya kali ini.
"Eh mas udah tahu belum mbak Rena pulang ke Indo lho." Linggar memberikan informasi pada Ardi.
"Udah tahu." Ardi mengambil jasnya, tidak memakainya, menentengnya saja di lengannya. Mendahului Linggar keluar kamarnya, berjalan ke arah ruang makan di lantai satu.
"Terus gimana donk? Kalau mbak Ella tahu gimana?" Linggar mengekor berjalan di belakang Ardi.
"Ella udah tahu kok." Ardi menjawab santai.
"Haaah? Mas Ardi udah cerita sama mbak Ella?"
"Iya aku udah cerita soal Renata. Yah tapi aku masih harus ketemu sama Rena sekali lagi untuk menyelesaikan sesuatu."
Ardi sadar bahwa urusannya dengan Rena masih belum selesai. Mereka berdua berpisah tanpa ada kesepakatan. Hanya tiba-tiba saling tidak menghubungi satu sama lainnya. Jika dirinya ingin menjalin hubungan serius dengan Ella, maka semua hubungan di masa lalu harus diakhiri.
"Iya, selesaikan aja. Tapi ingat jangan sampai mbak Ella salah paham." Linggar menyetujui sekaligus mengingatkan Ardi. Tak ingin ada halangan lagi bagi hubungan Ardi dan Ella. Tidak juga dari Renata. Karena Linggar lebih suka Ardi bersama Ella daripada Rena. Lebih adem saja dilihatnya.
"Tentu saja," Ardi menjawab mantab.
Linggar tahu benar, hanya ada dua wanita yang mampu benar-benar membuat Ardi jatuh cinta. Membuat kakaknya itu menjalin hubungan serius yang bahkan sampai memikirkan pernikahan. Renata dan Amellia, Rena dan Ella. Dan kedua wanita itu sangat mirip sifatnya. Benar-benar tipe kesukaan Ardi, wanita yang cantik alami, minim make up, cerdas, dan mandiri.
Renata yang seorang model internasional, putri seorang konglomerat. Tapi memilih untuk hidup mandiri di luar negeri demi menekuni dunia modeling. Rena yang cerdas bahkan menyelesaikan pendidikan S2 nya di Prancis. Entah apa alasannya dulu Ardi dan Rena harus berpisah.
Sementara Ella, seorang dokter yang bahkan sudah lulus sebagai dokter spesialis penyakit dalam. Tak diragukan lagi kecerdasannya. Sifatnya yang unik dan sangat sederhana mampu membuat Ardi tergila-gila. Bahkan walau terhalang restu pun Ardi masih ngotot untuk memilih gadis itu. Menunggu sampai tiga tahun sampai akhirnya mamanya menyerah dan memberikan restu juga.
"Wah udah ganteng aja anak mama pagi-pagi." Kartika menyapa Ardi yang menghampiri mama dan papanya di meja makan. Ardi hanya tersenyum menjawabnya, mengambil duduk di salah satu kursi meja makan.
"Eh tapi anak mama yang satunya kok masih bau iler gitu?" tambah Kartika manyun saat melihat muka bangun tidur Linggar.
"Bukan aku yang salah jadwal ma, mas Ardi yang kepagian." Linggar membela diri. Mengambil duduk di salah satu kursi meja makan.
Disana sudah ada papa, mama, bambang dan mas Ardi yang barusan turun bersamanya. Di atas meja makan juga sudah terhidang berbagai menu sarapan pagi untuk mereka. Mulai makanan berat nasi jagung, sampai roti panggang dan bubur madura. Berbagai macam lauk pauk pun tersedia di atas meja.
Kegiatan sarapan keluarga berlangsung khikmat dan hangat. Tanpa kata-kata sesuai table manner. Baru setelah mereka menyelesaikan prosesi mengisi perut mereka pembicaraan ringan dimulai.
"Kata Bambang kamu mau keluar kota, Di?" Kartika bertanya pada Ardi.
"Iya mau promosi sekalian MOU dengan beberapa investor di Jakarta." Ardi menjawab.
"Berapa hari?" Erwin ikutan bertanya.
"Kalau sesuai jadwal dua hari, pak." Bambang bantu menjawab, mengingat jadwal mereka nantinya.
"Sabtu sore ada acaranya Linggar. Kamu udah harus pulang lho ya." Kartika tiba-tiba memberi mandat.
__ADS_1
"Acaraku?" Linggar kebingungan namanya disebut.
"Lho mama belum bilang ya?" Kartika bertanya tanpa rasa bersalah.
"Tunggu-tunggu, acaraku ngapain? Ulang tahunku juga masih lama." Linggar merasa tidak tenang.
"Nggak, cuma acara kecil-kecilan makan malam berama di J.W. Melati Restouran. Mbang udah clear kan masalah booking restorannya?"
"Sudah, bu Kartika." Bambang menjawab sigap.
"Nggak, gak mungkin cuma makan malam pakek booking restoran mewah segala." Linggar semakin curiga dengan rencana mamanya. Sementara Ardi mulai tertarik juga dengan pembicaraan ini. Diam saja menyimak sambil menikmati kopinya.
"Ya kan sekalian nyambut tamu, keluarga Sampoerna dari Kedori." Erwin yang menjawab kali ini.
"Intinya kemarin lalu Tuan dan Nyonya besar Sampoerna datang ke rumah di Banyu Harum. Mengajukan proposal perjodohan untuk kamu." Kartika menjelaskan lebih detail.
"Whaaaatt?" Linggar benar-benar kaget kali ini.
Gila aja, masih musim ya perjodohan jaman sekarang? Lagian dirinya juga baru berusia 21 tahun, masih terlalu muda untuk menikah. Dan lagi mas Ardi aja belum nikah, masak mau dilangkahin lagi. Aduh mikir apa si mama ini?
Tapi tunggu dulu... Keluarga Sampoerna? Jangan-jangan Praditha Sampoerna? Wah kalau dia calonnya si bisa dicoba, pasti bakalan seru hehehe.
"Putri keluarga Sampoerna yang mana?" Ardi ikut bertanya penasaran.
"Praditha Sampoerna." Erwin menjawab.
'YES!! Beneran Ditha!' Linggar kegirangan dan jingkrak-jingkrak dalam hati. Pasti seru abis ini kalau sama Ditha. Tapi apa gak salah orang? Bukannya yang disukai Ditha itu mas Ardi?
"Kok aku? Bukannya mas Ardi ya?" Linggar pura-pura cool bertanya. Padahal udah penasaran banget...
"Awalnya si bingung juga mau kamu atau Ardi, mereka cuma bilang tuan muda Pradana. Mama pikir Ardi kan udah ada Ella. Lagian Ditha itu seumuran sama kamu, ketuaan Ardi buat Ditha." Kartika menjelaskan logika mereka waktu itu.
"Noh mas kamu udah ketuaan hahahaha. Makanya buruan nikah." Linggar balik menggoda Ardi.
Linggar makin cekikikan dalam hati, penasaran gimana reaksi Ditha kalau tahu yang dijodohkan dengannya bukan mas Ardi melainkan Linggar. Hahaha pasti lucu dan seru banget.
"Ya, on the way ini. Tenang aja." Jawab Ardi santai.
"Iya, jangankan anak muda jaman sekarang. Papa aja dulu juga nikahnya usia 30 tahun." Erwin mengenang masa lalu.
"Waktu itu papa emang ketuaan nikahnya. Untung aja ada mama yang mau nerima." celetuk Kartika.
"Bukannya mama ya yang beruntung bisa dapetin papa? Jarang-jarang ada yang tahan sama tipe cerewet begini." Ucapan Linggar bagaikan skak mat yang membuat Kartika tidak bisa menjawab dan semua yang hadir tertawa lepas. Membayangkan betapa sabarnya papa Erwin menghadapi mama Kartika yang bahkan lebih cerewet dari Laras.
"Udah ah aku berangkat duluan," Ardi beranjak dari kursinya, pamit pergi.
"Sabtu kamu harus bawa Ella lho ya, mama udah pengen ketemu sama dia." Kartika mengingatkan.
"Iya, nanti aku ajakin dia. Aku pamit dulu, nanti langsung berangkat ke Jakarta." Ardi mencium tangan Kartika dan Erwin bergantian.
"Yaudah ati-ati disana, jangan lupa pulang sebelum acaranya Linggar." Kartika mengingatkan.
Ardi hanya mengangguk menanggapi ucapan mamanya. "Mbang, kamu atur deh jadwalnya. Sekalian nanti siapin dan bawain koperku ya." Ardi memerintahkan Bambang sebelum pergi.
"Baik, pak." Bambang menurut saja. Bisa apa lagi coba? Memang sudah tugasnya sie serba bisa yang mengurusi segala keperluan Ardi. Tapi gak pa-pa si selama reward-nya sebanding hehehe.
Ardi kemudian mengambil mobil porsche-nya di garasi dan melajukannya ke arah rumah Ella. Sesampai disana ternyata Ella udah menungguinya dengan gelisah di teras, gadis itu langsung saja masuk ke dalam mobil tanpa sungkan lagi.
"Kok kayaknya buru-buru amat?" tanya Ardi sambil melajukan mobilnya kembali.
"Jam berapa ini? Udah hampir jam 8 lho. Kan jadwal jaga poliku jam 8."
"Telat-telat dikit kan gak masalah."
"Itu namanya gak profesional." Ella memprotes.
"Iya, maaf aku yang telat jemputnya. Tadi ada sarapan keluarga yang rempong si."
__ADS_1
"Sarapan keluarga?" Ella keheranan juga, bukannya Ardi cuma tinggal sama Linggar dan Bambang?
"Mama sama Papa datang. Jadi ritual sarapan keluarga bersama diadakan lagi. Bukan seenaknya sarapan sendiri-sendiri kayak biasanya."
"Oh I see...Lagian kenapa si maksain jemput pagi? Wasting time banget, kan rumah mas Ardi jauh dari rumahku." Lumayan jauh memang daerah ITS untuk ke Ketintung Wiyata, dan hanya untuk nganterin berangkat kerja. Gak penting banget kan? Ella kan bisa berangkat sendiri atau naik taxi.
"Karena aku mau keluar kota beberapa hari."
"Oh..." Ella jadi mengerti maksud Ardi yang tumben-tumbennya nganterin kerja pagi-pagi gini. "Tapi kan masih bisa telponan atau vidio call."
"Gak mau, aku maunya ketemu kamu buat minta sangu, bekal selama disana." Ardi bersikeras.
"Haaah? bekal apaan?"
"Ya apa gitu kek. Bekal penawar rindu untuk beberapa hari gak ketemu nanti."
"Iiiiiih apaan coba..."
"Peluk-peluk atau cium-cium dikit juga boleh hehe." Ardi menawarkan pilihan bekalnya.
"Emang mau pergi kemana dan berapa lama?"
"Ke Jakarta, dua sampai tiga harian lah."
"Duh kirain selama apa." Ella menjawab lempeng saja. Apaan coba masa mau pergi dua tiga hari aja mau minta sangu perpisahan segala?
"Tiga hari gak ketemu kamu itu rasanya kayak tiga tahun buatku, El." Ardi coba merayu Ella.
"Lebai. Siapa coba yang sebelumnya kuat tiga tahun ngilang tanpa kabar?" Ella tertawa ringan menanggapi rayuan maut Ardi. Udah mulai kebal dengan kebucinan kronis pria itu.
"Siapa ya? Gak kenal tu. Kayaknya orang jauh deh."
"Hahahaha dasar. Malah berlagak amnesia." Ella tertawa ngakak menanggapi tingkah Ardi, dan Ardi pun ikut tertawa bersamanya. Tapi dalam hati Ella juga membenarkan perkataan Ardi, pasti bakalan kangen kalau gak bisa ketemu tiga hari mendatang. Ella kelabakan juga menyadari dirinya sudah ikutan gila.
"Oiya hari sabtu sore nanti ada acara keluarga. Kamu aku jemput, sekalian anouncement kalau kita resmi jadian." Ujar Ardi saat memberhentikan mobilnya di depan lobi RS. Hartanto Medika.
"Acara apa? Gak bisa ditunda lagi ya?" Ella sedikit ngeri untuk membayangkan harus hadir di acara para sultan. Apalagi sebagai pengumuman hubungannya resminya dengan Ardi. Gak pa-pa si mau pengumuman tapi jangan pas acara gini donk. Kan Ella belum siap mental.
"Terlalu lamban," ujar Ardi tiba-tiba.
"Terlalu lamban gimana?" Ella kebingungan. Apa Ardi beneran tidak mau menunda lagi pengumuman ini?
"Yang aku maksud adalah diriku yang terlalu lamban sebelumnya untuk mendekatimu. Tapi sekarang aku sadar, aku tak dapat menunggu lagi untuk segera menikahimu." Ardi berbicara dengan nada sangat seriusnya sambil menatap tajam tepat ke mata Ella. Seolah mengatakan pernyataan yang tak terbantahkan dan tak ingin penolakan.
Ella bingung harus bagaimana menanggapinya. Tahu benar Ardi sangat serius mengatakannya. Tak mungkin untuk dibercandai lagi. Ella seneng banget si mendengarnya tapi panik juga untuk membayangkan apa yang akan dihadapinya nanti.
"Kamu ikutin aja ritmeku. Kamu tinggal percayain semua sama aku. I will marry you for sure."
"Ok..." Ella hanya bisa mengangguk pasrah. Dan Ardi tersenyum puas melihat jawaban Ella.
"Udah ya, aku kerja dulu. Mas Ardi nanti ati-ati dan jaga diri disana." Ella pamit.
"Mana bekal penawar rinduku?" Ardi menagih jatah.
"Apaan coba?" Ella mengelak, membuka pintu mobil. Tapi gak bisa...dikunci.
"Kalau gak dikasih, kuncinya gak aku bukain."
"Mas Ardiiiii!"
"Mana, mana..."
Ella mendengus kesal menanggapi si sultan yang sedang kumat. Tapi jam tangannya sudah menunjukkan jam 8 lebih banyak. Udah telat banget, gimana kalau ada pasien menunggunya di poli?
Akhirnya Ella mengalah saja, mendekat ke arah Ardi dan mendaratkan ciuman ringan di sebelah pipi Ardi. "Udah, jangan banyak-banyak."
"Makasih, honey." Ardi tersenyum kegirangan.
__ADS_1
~∆∆∆~
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼