Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
103. S2 - Teman sejawat


__ADS_3

Mahes menolehkan wajahnya ke arah Roni dan Ella begitu mendengar namanya dipanggil, wanita yang bersanding bersamanya juga ikut menoleh. Seketika Ella terbelalak kaget demi melihat wajah wanita yang bersanding bersama Mahes.


Wajah cantik itu, wajah judes yang terlihat sedikit angkuh itu. Wajah blasteran perpaduan antara jawa dan bule khasnya. Senyuman simpulnya yang terkesan tidak ramah dan sombong. Wajah yang tidak asing dan sangat dikenal Ella.


Larasati? Masa iya si? Ternyata isteri mas Mahes adalah Laras? Larasati Pradana? Ella benar-benar tidak menyangka kalau kedua sepupu itu ternyata ada hubungan asmara. Bahkan sampai berlanjut ke jenjang yang serius, jenjang pernikahan.


Pasti Nyonya Kartika Pradana sangat senang dengan hubungan mereka berdua. Beliau pasti langsung merestui hubungan keduanya tanpa pikir panjang. Perkawinan antara sultan dan sultanwati yang sepadan dalam segala aspek dan bidang kehidupan. Kekayaan, harta, gengsi, gelar, derajat, garis keturunan bahkan prestiges semuanya ada pada diri Laras dan Mahes. Tak akan ada alasan untuk menolak satu sama lainya.


Hal ini tentunya berkebalikan seratus delapan puluh derajat dengan nasib kisah cinta Ella. Dimana hubungan Ella sang gadis dari keluarga biasa yang memaksakan hubungan imposible dengan Ardi Pradana sang pewaris utama Pradana group. Group raksasa dengan berbagai anak perusahaan multy dimensi.


Memang sangat wajar kalau hubungan mereka akhirnya ditentang habis-habisan oleh berbagai pihak. Dan tidak mengherankan pula kalau akhirnya hubungan mereka akhirnya kandas dan berakhir mengenaskan.


Mau tidak mau Ella jadi teringat juga dengan kisah kelamnya yang berhubungan erat dengan keluarga Pradana di masa lalu. Kisah cintanya yang berakhir dengan sangat menyedihkan dan meninggalkan duka dan luka yang mendalam bahkan sampai saat ini. Bahkan sampai waktu berjalan tiga tahun ini, Ella masih saja tak bisa melupakannya.


Mahes menyempatkan diri untuk berjalan menghampiri meja stand konsumsi. Mengajak wanita yang bersamanya untuk menyapa Ella dan Roni.


"Selamat ya, mas Mahes!" Roni segera menyambut Mahes, menyalaminya dan mereka berdua melakukan bro-hug.


"Iya, makasih-makasih. Buruan nyusul jangan lama-lama, Ron." Mahes menjawab santai. Roni yang dinasehati hanya bisa tertawa garing, ya gimana lagi masih dua tahunan lagi dirinya baru bisa lulus kalau lancar.


"Selamat ya, mas. Semoga ilmunya berokah dan bisa bermanfaat." Ella ikut menyalami Mahes, memberikan ucapan selamat.


"Makasih, El. Nah kalau Ella bentar lagi juga nyusul kan? Ayo genjot terus jangan kasih kendor. Gas pool dah!" Mahes membalas ucapan Ella sekaligus memberi semangat.


"Hehe pastinya mas," Ella menyanggupi.


"Ehm...Mbak Ella?" Wanita yang sejak tadi disamping Mahes ikut menyapa Ella. Sejak tadi dirinya juga sudah memperhatikan Ella, mencari-cari momen yang tepat untuk dapat menyapa Ella dengan wajar.


"Laras? Aku pangling banget," Ella sedikit beralasan untuk tidak menyapa duluan. Karena memang dia terlalu bingung dan kikuk bagaimana harus menyapa Laras kali ini. Apakah mereka masih bisa seakrab dulu? Sedekat dan seakrab tiga tahun lalu?


Laras tersenyum simpul melihat kekikukan yang terlihat jelas di wajah Ella. Yah setelah apa yang telah terjadi padanya selama ini, memang wajar kalau Ella menjadi menjaga jarak dengan dirinya dan seluruh keluarganya, keluarga Pradana.


"Gimana kabarnya, mbak?" Laras tersenyum lebar. Terlihat sekali berusaha beramah tamah pada Ella dengan menyodorkan sebelah tangannya untuk bersalaman.

__ADS_1


"Baik, alhamdulillah. Kamu gimana?" Ella menjawab sambil membalas uluran tangan Laras. Dia juga menambahkan dengan pelukan ringan yang hangat serta cupika cupiki. Yah meskipun Laras adalah adik dari pria itu, paling tidak Ella harus menghargai seorang Laras secara pribadi. Sebagai teman sejawatnya, sebagai sesama dokter. Bahkan lebih jauh sebagai isteri Mahes.


"Aku? Liat deh apa yang udah dilakukan mas Mahes sama aku? Dia bikin aku tambah gendut kayak gini." Jawab Laras setelah prosesi cupika cupiki mereka. Dalam hatinya Laras senang sekali ternyata Ella masih mau berakrab ria dan ramah kepadanya. Ternyata Ella yang sekarang sudah jauh lebih dewasa dalam berpikir dan bertindak.


"Hahahaha ya mau bagaimana lagi, kamunya sendiri yang doyan makan selama hamil dan nyusuin," Mahes membela dirinya. "Gak pa-pa kok, sayang. Kamu tetep yang paling cantik dan seksi buat aku," lanjut Mahes untuk menyenangkan hati isterinya. Sementara Laras hanya menanggapi godaan Mahes dengan muka cemberutnya.


"Gendut? Bagian mananya?" Ella ikut keheranan mengamati penampilan Laras dari atas kebawah. Sangat cantik dan sexy dengan tubuh ideal. Bahkan Body Mass Index-nya mungkin masih kategori normal rata-rata bawah. Sekilas siapapun yang melihatnya tak akan menyangka kalau dia adalah ibu satu anak, bahkan sedang menyusui bayinya.


"Ih mbak Ella ngejek ya? Aku iri banget deh sama mbak Ella yang tetep langsing bahkan makin cantik aja." Laras melanjutkan keluhannya dengan nada manja khasnya.


"Yaampun nggak kok, Ras. Asli kamu lho masih sexy bahkan cantik banget." Ella jadi kebingungan harus bagaimana lagi dirinya meyakinkan Laras akan penampilannya yang menurut Ella sangat mengagumkan hari ini. Memang si Laras terlihat lebih berisi daripada saat Ella terakhir bertemu dengannya tiga tahun yang lalu. Tapi palingan gak sampai lima kilo naiknya dibanding sekarang ini.


"Udah deh, El. Gak usah dibilangin lagi. Aku juga udah capek bilang dia cantik dan sexy. Tapi sama sekali dianya gak mau percaya sama aku." Mahes mendengus pasrah akan sifat isterinya yang keras kepala ini.


"Ih jelas aja, Kalau mas Mahes yang bilang jadinya kayak gombalan murahan kan nyebelin dengerinnya."


"Emang nasib lelaki kayak gitu mas. Gak pernah bener. Dan wanita apalagi isteri yang selalu bener... Sabar aja ya mas, banyakin istighfar hehe." Roni ikutan berkomentar. Komentar so true yang mampu membuat mereka berempat tertawa mendengarnya.


Bahkan dari segi fisik, tubuhnya juga sangat bagus untuk ukuran wanita yang baru saja melahirkan beberapa bulan yang lalu. Tetapi Roni juga tak mengira kalau isteri Mahes adalah wanita dengan sifat dan peragai yang sangat manja dan sedikit kekanakan kayak gini. Ternyata tipe wanita idaman Mahes yang kayak gini toh.


Yah selera orang memang berbeda-beda, dan Roni semakin percaya adanya teori saling melengkapi sebagai pasangan. Mungkin untuk mengimbangi sifat dewasa Mahes dibutuhkan sifat kekanakan Laras sebagai menyeimbang hubungan mereka.


"Kamu siapanya mbak Ella?" Laras bertanya pada Roni. Terlihat sekali kalau dia tidak suka dengan kedekatan Ella dengan Roni.


"Oiya aku sampai lupa ngenalin kalian. Ron, ini istriku Larasati. Dan ini Roni adik kelasku satu prodi Jantung dan pembuluh darah." Mahes memperkenalkan Roni pada isterinya. Kedua orang yang diperkenalkan pun langsung menyodorkan tangan dan saling berjabat tangan untuk berkenalan.


"Laras ini juga seorang dokter lho, Ron." Ella ikut menambahkan informasi tambahan pada Roni tentang Laras.


"Wah senang berkenalan dengan anda, dokter Larasati Hartanto." Roni menambahkan sapaannya. "Saya sama Ella bisa dibilang teman dekat lah." Roni juga kebingungan harus mendeskripsikan hubungannya dengan Ella yang sangat rumit.


"Tidak usah sungkan dokter Roni, kita kan sama saja teman sejawat." Laras memaksakan senyumannya untuk membalas sapaan Roni.


Pembicaraan mereka terhenti saat salah satu rekan Mahes memanggilnya untuk melanjutkan sesi pemotretan outdoor.

__ADS_1


"Kami duluan ya, Ron ,El." Pamit Mahes pada kedua temannya itu. "Oiya pastikan untuk datang ke acara graduation party besok lusa di rumah kami, Ron. Ajakin Ella juga."


"Ok, mas. Pasti aku bakalan datang nanti. Kapan lagi coba bisa menikmati jamuan mewah keluarga Hartanto? Kamu bisa datang juga kan, El?" Roni memastikan kesanggupannya untuk hadir, sekaligus menanyakan kesanggupan Ella.


"Insyaallah bisa," Ella juga menyanggupi.


Mahes tersenyum puas mendengar jawaban kedua temannya itu. Kemudian dia berbalik dengan mengandeng sebelah tangan Laras untuk menghampiri rekan-rekannya. Bergabung dengan para dokter lainnya untuk melanjutkan sesi pemotretan outdoor.


"Kamu kok kayaknya udah kenal sama isterinya mas Mahes?" Roni menanyakan pertanyaan yang dari tadi mengganjal di dalam hatinya.


"Iya aku udah kenal Laras sejak tiga tahun yang lalu," jawab Ella singkat.


"Tiga tahun yang lalu? Dimana? Di Genting?" Roni semakin menyelidik.


"Larasati Hartanto itu sebelum menikah dengan mas Mahes, nama aslinya adalah Larasati Pradana." Ella menjelaskan.


"Pradana? Pradana yang itu?" Roni sangat kaget mendengarnya. Bukankah keluarga Hartanto dan keluarga Pradana memiliki kekerabatan yang dekat? Berarti mereka, Laras dan Mahes ini menikah dengan sesama sepupu?..."Jadi Laras ini apanya si brengsek itu?" Roni mau tidak mau sampai pada kesimpulan memgenai pria itu.


Ella tertawa tertahan mendengan julukan Roni pada pria itu. Lazuardi Pradana, siapa lagi pria brengsek yang disebutkan Roni kalau bukan dia?


"Larasati itu adiknya. Adik keduanya."


"Oh...Ternyata beneran dunia ini sesempit daun kelor ya. Rasanya mbulet aja orangnya kemana-mana ketemunya ya orang-orang itu aja." Roni mendengus, membuang napasnya keras-keras. Pantas saja daritadi dirinya merasakan tatapan yang tidak ramah dari Laras. Padahal Roni sama sekali tidak kenal dan tidak pernah bertemu dengan Laras.


Jika memang benar Laras ini adalah adik si brengseng itu maka semuanya menjadi jelas. Tatapan tidak ramah dan permusuhan Laras pada Roni tadi memang mirip sekali dengan tatapannya. Dengan tatapan yang dulu sering diberikan oleh Ardi Pradana kepadanya saat berada di dekat Ella.


"Ini acaranya udah selesai kan? Kita udah bisa menyelesaikan tugas?" Ella mengingatkan Roni akan pekerjaan mereka menjaga stan konsumsi.


"Oiya. Yuk tinggal bawa dan bagikan sisa kuenya ke poli dan ruangan di RSUD." Roni kemudian mengajak Ella mengemasi kotak-kotak kue yang tersisa. Kemudian mereka berdua membawanya ke poli jantung dan ruangan rawat inap jantung untuk dibagikan kepada rekan-rekan mereka sesama residen.


~∆∆∆~


🌼Tolong luangkan waktu klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin, bagi TIP dan IKUTI author ya. Makasih 😘🌼

__ADS_1


__ADS_2