Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
203. S2 - Reuni


__ADS_3

Ketukan ringan di pintu ruangan poli penyakit dalam membuat Ella menghentikan kegiatannya berkutat dengan layar dan keyboard komputernya. Mengetik tumpukan kartu status pasien rawat jalan ke sistem pencatatan rekam medis pasien RS. Hartanto medika. Ella mempersilahkan tamunya masuk.


"Halo, met siang." Roni menyapa memasuki ruangan sambil membawakan Thai Tea original kesukaan Ella. Menyodorkannya untuk gadis itu.


"Halo Ron. Makasih ya." Ella menerima Thai Tea-nya dan menyeruputnya beberapa teguk.


"Gimana kabarnya?" tanya Roni mengambil duduk di hadapan Ella. Sudah lebih dari dua minggu mereka sama sekali tidak pernah berjumpa atau bertegur sapa. Sejak malam berakhirnya hubungan mereka.


"Baik, kamu gimana? Sibuk banget kayaknya ya?"


"Sok sibuk lebih tepatnya hehe."


"Intan sama Ivan udah hampir sampai katanya. Gimana kita langsung ke rumah Sari atau nunggu disini?" Ella bertanya memastikan rencana mereka.


Hari ini rencananya ada reuni kecil-kecilan member interenship RSUD. G di kediaman Hartanto. Intan dan Ivan mumpung pulang ke Surabaya ingin mengunjungi Sari sebagai bentuk simpati dan bela sungkawa atas kematian Jun.


Memang sedikit telat si karena sudah seminggu lebih sejak hari meninggalnya Jun. Tapi memang kesibukan masing-masing dan jarak yang membuat susahnya untuk menentukan waktu dan mengepaskan jadwal mereka semua.


Ditambah lagi Sari akhirnya bisa menemui banyak orang baru beberapa hari ini saja. Sebelumnya dia lebih sering mengurung diri di kamarnya atau bengong dan melamun saja. Emosinya belum stabil untuk menemui orang apalagi kalau ditanyai tentang Jun.


Ella beberapa kali sudah mengunjungi Sari sendirian. Sesuai permintaan Roni dan Mahes waktu itu. Hanya untuk menemaninya, mengajak ngobrol, nonton film bareng, karaokean bareng. Kegiatan ringan yang sekiranya bisa membuat Sari sedikit terhibur dan melupakan kesedihannya. Sesuatu yang agak susah dan bikin serba salah untuk dilakukan karena jelas tak akan semudah itu bagi Sari melupakan Jun.


"Iya kita tungguin mereka di rumah Hartanto saja. Sari gimana keadaanya?" jawab Roni.


"Kamu gak pernah nengokin dia?" Ella balik nanya.


"Aku...aku bingung kalau ketemu dia."


"Bingung? Bingung gimana?"


"Aku yang ngelihat saat-saat terakhir Sari sama Jun, melihat bagaimana tak berdayanya mereka. Melihat bagaimana mereka harus terpaksa berpisah karena takdir yang begitu kejam...Aku juga melihat bagaimana hancurnya Sari saat Jun tiba-tiba menghilang ... Rasanya aku tak berdaya dan tak tahu harus bagaimana kalau bertemu Sari lagi."


"Iya pasti sangat menyedihkan..." Ella membenarkan.


"Sedih banget melihatnya. Gak tega rasanya."


"Tapi sekarang Sari sudah mendingan kok. Sudah bisa berinteraksi juga dengan orang lain. Mungkin beberapa hari kedepan dia juga sudah bisa kerja."


"Makasih ya, El. Kamu mau nemenin dan menghibur dia." Roni berterima kasih pada Ella.


"Apaan si, sudah sewajarnya kan kita saling membantu. Apalagi Sari itu teman kita, dan saudara sepupu dari mas Ardi juga." Ella menjawab dengan perasaan sedikit tergelitik.


Mungkin cuma perasaan Ella saja. Kok rasanya si Roni ini perhatian banget ya sama Sari? Apa karena pertemanan mereka atau ada perasaan lebih lainnya? Tapi memang aslinya baik banget Roni ini.


"Oiya ya ampir lupa...mereka kan saudaraan semua." Roni jadi ingat kalau Mahes adalah sepupu Ardi, otomatis Sari yang adiknya Mahes juga sepupunya kan. Duh sempit sekali rasanya dunia ini, bagaikan daun kelor saja rasanya.


"Kamu sudah selesai jaganya?" tanya Roni.


"Sudah aman kayaknya." Ella melepaskan jas putihnya dan menyampirkannya di sandaran kursi.


"Yuk langsung berangkat aja." Ella beranjak untuk keluar dari ruangannya.


Tapi langkahnya terhenti saat melihat ponselnya bergetar, panggilan dari Ardi. Duh ini orang kok kuat banget si radar deteksinya, bisa-bisanya tahu kalau Ella mau jalan sama pria lainnya. Tapi aman kayaknya karena kemarin udah ijin.


"Ya, halo mas Ardi?" tanya Ella mengangkat panggilan telpon dari Ardi.


"Halo honey, kamu sudah pulang dari rumah sakit?"


"Belum. Ini baru mau jalan. Langsung ke rumah Sari acara hari ini. Kan aku udah cerita kemarin?"


"Oiya..." Ardi menjawab sedikit mengambang, kayaknya lupa dia apa yang dikatakan Ella kemarin. "Kamu naik apa ke sananya?"


"Kan kemarin aku bilang juga mau bareng Roni. Ini Roni udah jemput, kita mau berangkat bareng."


"Roni?" Nada suara Ardi sedikit naik.


"Iya Roni. Ini ada anaknya, mau ngomong sama dia?" Masa mas Ardi ini masih cemburu saja sama Roni? Bahkan setelah penyelesaian masalah mereka bertiga yang berakhir damai?

__ADS_1


"Ogah males banget... Kamu ke parkiran depan lobi deh. Aku sudah nungguin kamu disana."


"Haaaah?" Ella yang kali ini kaget mendengarnya.


Ngapain coba Ardi datang kesini siang ini untuk menjemputnya? Bukannya kemarin Ella sudah menjelaskan kalau dirinya akan dijemput Roni untuk barengan ke rumah Sari? Gak rela dirinya dianterin Roni? Yang bener saja? Waduh makin parah ini sakitnya si sultan sepertinya. Bucin super kronis.


"Ayo cepetan. Gak pakek lama." Ardi memutuskan sambungannya begitu saja dan seenaknya.


"Kenapa, El?" Roni bertanya khawatir melihat raut wajah Ella yang tidak biasanya.


"Ehm...Mas Ardi ada di parkiran..."


"Astagaaa.... Itu orang masih gak percaya aja sama aku kayaknya?" Roni mendengus kesal. "Yaudah kamu berangkat sama dia aja, nanti aku nyusul."


"Sorry ya Ron. Kayaknya aku gak jadi bareng kamu... Kamu tahu kan kayak apa mas Ardi." Ella jadi merasa tidak enak sama Roni yang sudah menjemputnya dari kampus ke RS.Hartanto medika.


"Hahaha iya si sultan bucin." Roni tertawa garing. Tahu benar bagaimana bucinnya Ardi pada Ella.


Ella dan Roni pun akhirnya berjalan beriringan sampai ke parkiran. Mendatangi mobil Porsche Caiman Ardi yang terlihat sangat mencolok disana.


Ardi langsung keluar dari mobilnya begitu Ella dan Roni mendekat. Langsung menarik tangan Ella juga untuk menjauh dari Roni dan menggandeng lengan Ella rapat ke tubuhnya. Roni langsung tertawa garing melihat tingkah Ardi sementara Ella hanya bisa membuang napas pasrah.


"Ngapain kamu mau anterin pacarku? Ella wanitaku sekarang!" Ardi berkata pada Roni.


"Duh mas Ardi apaan si? Kayak anak kecil saja." Ella memprotes tindakan Ardi. Kemana coba perginya CEO yang dingin dan penuh wibawa grup Pradana?


"Iya iya aku tahu. Udah dulu ya, kita ketemu di rumah Sari saja." Roni malas meladeni Ardi. Sedikit lega juga mengetahui Ardi masih sama dengan Ardi yang dulu, Ardi yang begitu mencintai Ella.


Ella masuk ke mobil mendahului Ardi begitu Roni berlalu. Memasang muka tak senang di wajahnya.


"Kenapa? Kok manyun?" tanya Ardi tanpa rasa berdosa saat memasuki mobil. Menjalankan mesinnya dan melajukan keluar pelataran parkiran rumah sakit.


"Mas Ardi si keterlaluan. Kan kasihan Roni udah baik jemput malah jadi kecewa gitu."


"Kasihan Roni? Kamu gak kasihan aku? Udah jauh-jauh dari kantor jemput kamu malah diomelin gini. Gak dapat terima kasih lagi."


"Biar bisa berduaan sama Roni di mobil?"


"Yaampun mas, cuma bareng ke rumah Sari aja."


"Gak boleh. Mau itu Roni atau cowok lain tetep gak boleh. Bilang sama aku kalau butuh jemputan. Aku jemput kamu atau suruh supirku jemput kamu."


"Iya...iya deh." Ella akhirnya pasrah saja.


"Aku gak mau ada masalah lagi sampai kita sah menikah. Ini mama juga aneh banget mau ngelamar ke rumah kamu aja pakek nyari tanggal bagus."


"Tanggal bagus?"


"Iya katanya bulan ini gak ada yang cocok tanggalnya. Bulan depan baru ada."


"Haaah? Masih percaya begituan?"


Kaget juga si mendengar Ardi sudah seniat itu sampai sudah mencari tanggal segala. Bulan depan lamaran? Harus seneng apa susah ya? Bingung.


"Percaya aja lah sama mama. Daripada ditentang lagi?" Ardi menceritakan alasannya belum melamar Ella sampai sekarang.


"Bener juga si..." Ella membenarkan. Tak bisa membayangkan harus berhadapan dan berdebat lagi dengan nyonya Kartika Pradana.


"Yaudah, aku balik ke kantor dulu. Nanti kalau udah waktunya pulang kabarin aja, aku jemput." Pamit Ardi setelah mereka sampai di halaman kediaman Hartanto.


"Gak usah. Nanti aku pulang bareng Intan aja. Masa gak boleh juga bareng intan?"


"Hmmm...kan ada suaminya..."


"Mas...please deh."


"Iya deh boleh. Nanti sampai rumah langsung kasih kabar ya." Ardi menepuk halus puncak kepala Ella.

__ADS_1


"Makasih ya udah dianterin. Hati-hati di jalan." Ella pamit keluar dari mobil Ardi.


Sesampai di rumah Sari ternyata Roni, Intan dan Ivan sudah hadir disana. Mereka duduk-duduk santai di ruang keluarga super luas dengan sofa-sofa besar yang memenuhi ruangan.


"Ella! Akhirnya kamu datang juga!" Intan dengan hebohnya menyambut Ella dengan pelukan erat dan ciuman cupika cupikinya. "Duuuuh kangennya, kamu kok makin cantik aja sih?"


"Lamaaa banget ya kita gak ketemuan kayak gini. Ayo donk lain kali diagendakan pertemuan rutin. Reuni kecil kecilan kayak gini hehe."


"Ah bisa aja kamu. Kamu juga...tetep heboh hehe." ujar Ella berlanjut ke Sari dan menyapanya dengan pelukan dan cupika cupiki juga. Selanjutnya juga menyapa Ivan dengan salaman saja.


"Lho Roni gak disapa?" Intan bertanya curiga.


"Tadi udah sempet ketemu di RS. Hartanto Medika sebelum kesini." Roni yang menjawab.


"Lho kalau ketemu kok gak barengan aja kesininya?" Intan semakin kepo, kebiasaan memang dia.


"Kamu kayak gak tahu aja herdernya Ella." Roni kembali menjawab sambil mendengus pasrah.


"Mas Ardi ya? Emang bucin parah dia." Sari ikutan tersenyum geli membayangkan kakak sepupunya.


"Ardi? Ardi Pradana yang itu?" Intan terdengar sangat kaget mendengarnya. "Sebentar-sebentar kayaknya aku ketinggalan berita ini. Gimana ceritanya coba? Terakhir aku denger kan Ella jadian sama Roni?" Intan mulai menginterogasi.


"Ya begitu deh..." Ella mencoba mengalihkan pembicaraan mereka. "Eh mana ini si kecil? Kok gak dibawa kesini sekalian?"


"Duh ngapain bawa-bawa buntut? Gak bisa kencan donk? Mumpung kakek neneknya lagi kangen-kangennya jadi bisa dititipin ke mereka dan aku sama Ivan bisa kencan sepuasnya. Iya gak beb?" Intan menjelaskan dan Ivan hanya mengangguk saja menyetujui ucapan istrinya.


"Dasar kalian orang tua durhaka. Gak kasian sama anak-anaknya ya?" Celetuk Roni sambil tertawa geli.


"Duh kamu belum tahu aja rasanya jadi emak dan bapak dari dua anak balita. Yang gede aja usianya baru 2 tahunan dan yang kecil baru 7 bulan." Intan beralibi mencari alasan.


"Salah siapa kamu gak atur jarak kehamilan." Ella ikutan gemes melihat ceriwisnya Intan, asli ngangenin banget cerewet dan celetukannya itu.


"Salahkan Ivan!" jawab Intan memvonis suaminya.


"Lho kok aku? Kan yang hamil kamu?" Ivan menjawab tanpa rasa berdosa.


"Yang menanam benihnya kan kamu, beb! Benih kamu juga itu!" Intan menjawab sewot.


"Iya juga ya..." Sekali lagi Ivan menjawab pasrah. Membuat semua yang hadir ikutan tertawa melihat kedua pasangan yang terlihat sangat harmonis ini.


"Terus ya, bayangkan coba. Aku yang sudah mengandung sembilang bulan buat kedua anak itu. Aku yang mual muntah, aku yang morning sicknes, aku yang merasakan sakitnya persalinan. Eh lahir-lahir kedua anakku gak ada yang mirip sama aku. Fix dua-duanya mirip Ivan semua! Bete banget kan!" Intan meneruskan keluh kesahnya.


"Ya takut gak diakuin anak kali sama bapaknya." Roni ikutan menyeletuk.


"Hahahahaha." Makin ngakak saja semua yang hadir.


"Duh parah banget kalian becandanya, gokil." Sari ikuatan tertawa lepas. Membuat keempat temannya ikut tersenyum, lega dan bahagia melihatnya. Akhirnya gadis itu bisa tersenyum dan tertawa selepas itu lagi. Tawa yang seolah menghilang dari wajahnya sejak kematian Jun.


"Berarti kita bikin satu lagi, beb. Kali aja mirip kamu yang ketiga nanti." Ivan kembali berkata dengan nada lempengnya.


"Ogaaaah. Cukup sudah cukup." Intan menolak mentah-mentah permintaan suaminya.


"Keren banget kamu, Van. Bisa menjinakkan macan betina macam Intan." Roni kembali menyeletuk dan membuat semuanya kembali tertawa.


"Menikah itu komitmen seumur hidup. Bagaimana pun fisik pasangan kita, seperti apa pun sifatnya, kebiasaan bahkan segala keanehannya. Kita harus bisa menerimanya apa adanya. Anggap aja gak ada yang lainnya. Jadi ya harus disyukuri yang sudah ada disamping kita." Ivan memberikan petuahnya.


"Tresno jalaran ra ono liyane." Intan menambahkan.


"Kalau mencari pasangan yang sempurna tak akan pernah ada habisnya. Maka lebih baik saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing," tambah Ivan.


"Intinya ya gaes...Buruan nikah deh kalian. Enak lho dan dijamin halal hahaha." Intan mengakhiri petuah.


"Asyem hahaha," Roni merasa tersindir.


"Hahahahaha." Mereka kembali tertawa lepas bersama menikmati kebersamaan.


~∆∆∆~

__ADS_1


🌼Yuuuuks say jangan lupa LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN yaaaa 🌼


__ADS_2