Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
52. Ujian tahap II


__ADS_3

Seperti biasa, kebiasaan sarapan pagi di rumah Ella adalah jam 06.00 pagi. Sebelum itu tentu saja mama dan papa Ella sudah siap dengan seragam dinasnya. Karena jam 07.00 mereka sudah harus sampai di tempat kerja mereka. Sementara Ella dan Ardi masih ada di kamar masing-masing.


Ella yang baru tidur jam tiga pagi tentu saja belum puas tidur di kasurnya. Sementara Ardi sebenarnya sudah bangun dan bahkan sudah mandi dan bersiap-siap. Cuma dia bingung dan canggung saja harus bagaimana. Ella sama sekali gak ngabarin atau ngasih clue harus ngapain. Keluar kamar gak ya?


Pucuk dicinta ulam pun tiba, tepat pukul enam, Ardi mendengar teriakan mama Ella untuk membangunkan mereka berdua. "Ella, Ardi ayo bangun! Sarapan dulu! Sarapan sudah siap!" Teriakan Lilik terdengar menggelegar di segala menjuru rumah.


Ardi tersenyum sendiri mendengarnya. Keluarga Ella terasa begitu hangat, tidak seperti di rumahnya palingan butler yang memanggil saat makanan sudah siap tersaji. Ardi keluar dari kamar tamu dan segera menuju ke ruang makan. Mama dan papa Ella sudah siap disana, duduk di kursi makan. "Ayo sini, nak Ardi. Wah udah mandi ya? Udah ganteng. Gak kayak Ella pasti masih bau iler." Sapa Lilik menyambut kedatangan Ardi.


Dan benar saja tak lama kemudian Ella juga keluar dark kamarnya menuju ke meja makan dengan wajah bangun tidurnya. Wajah persis bantal dan bau iler seperti kata mama Ella tadi. Mau tak mau Ardi jadi tersenyum ngelihatin Ella yang kayak gitu.


"Aduh ini anak perawan mama, gak malu apa sama Ardi? Ardi udah ganteng gini sedangkan kamu masih bermuka bantal gitu?" Mama Ella ngomel-ngomel sambil menata piring untuk mereka berempat. "El, cuci muka dulu sana!"


"Abis sarapan aja ma sekalian mandi dan siap-siap." Ella tetep cuek menyeruput teh hangat yang sudah disiapkan di gelas di hadapannya. Mulai mengisi piringnya dengan berbagai menu sarapan yang tersedia.


"Tidur jam berapa kemaren, El?" Tanya Ardi.


"Jam tiga." Jawab Ella sambil terus mengunyah makanannya.


Mama dan papa Ella hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah anak gadisnya itu. Mana ada anak gadis yang sama sekali gak jaim kayak gitu di depan pacaranya? "Sorry lo nak Ardi, kayaknya tante salah didik ini anak."


"Gak apa-apa kok, te. Saya sudah gak kaget kok sama wajah bangun tidurnya Ella hehe." Ardi menyesali ucapannya kali ini. Duh mati aku! gimana kalau orang tuanya Ella salah paham? gimana kalau mereka mengira bahwa dirinya dan Ella sudah tidur bersama?


"Maksudnya apa ni?" Papa Ella langsung sigap menginterogasi. Takut anaknya sudah melewati batas dengan pacarnya ini.


"Duh papa mikir apa sih? Ella sama mas Ardi itu gak pernah ngapa-ngapain. Kalau wajah bangun tidur itu taunya pas camping bareng, sama temen yang lain juga waktu itu. Terus kan kalau di mobil Ella juga sering ketiduran. Jadi Mas Ardi udah kebal liat Ella tidur sampai ngiler-ngiler hehe."


"Iya papa ini jangan curigaan. Wong anak udah dewasa gitu, pasti udah bisa jaga diri sendiri." Mama Ella menimpali, membela anaknya.


Acara sarapan selesai berakhir dengan aman. Kedua orang tua Ella pun berangkat kerja setelahnya. Ella membereskan piring dan gelas bekas sarapan mereka dan mencucinya. Menata dan membersihkan meja makan serta menyimpan lauk pauk yang tersisa ke kulkas. Sementara Ardi kembali berkutat dengan ponselnya, memeriksa email-email pribadinya dan email perusahaan.


Selanjutnya Ella mandi membersihkan diri dan bersiap-siap. Berdandan dengan dandanan Flawless minimalisnya. Ella sengaja memakai pakaian berwarna cerah untuk meningkatkan kepercayaan dirinya dan mencerahkan suasana hatinya juga. "How do i look?" Tanya Ella menghampiri Ardi yang masih berkutat dengan ponselnya di sofa ruang tengah.


(*Gimana penampilanku?)


"Beatifull as always," jawab Ardi menoleh sebentar pada Ella lalu melanjutkan melihat ponselnya lagi dengan serius.


(*Cantik seperti biasanya yang selalu cantik)


"serius amat si mas?"


"Iya ni lagi ngurusin tiket konser ntar malem."

__ADS_1


"Gak dapet ya?"


"Dapet. Si Jo sialan tarik ulur ni. Tapi itu tandanya bisa dapet dia, aman."


"Aku udah siap. Berangkat yuk." Ella mengajak Ardi berangkat. Jaga-jaga kalau jalanan macet, lebih baik datang lebih awal kan dari pada terlambat. Mereka pun segera berangkat menuju kampus A Uner, tepatnya di Fakultas Kedokteran.


Sesampainya disana Ella dan Ardi langsung menuju ke ruangan ujian. Ruangan yang sama dengan tempat dilaksanakannya ujian tahap pertama kemarin. Begitu sampai disana sudah banyak sekali orang berkerumun. Baik itu peserta ujian maupun para pengantar mereka. Ella mengedarkan pandandangannya berkeliling, mencari-cari sosok yang mungkin dikenalnya.


Agak jauh berdiri di bawah pepohonan Ella melihat Roni yang sedang bersama Mahes. Mereka berdua terlihat berdiskusi dengan sangat serius. Pastilah sedang membahas soal per-jantungan. Ella pun tanpa pikir panjang segera melangkahkan kakinya ke arah mereka berdua.


Ardi yang dapat menebak arah Ella berjalan segera mensejajari gadis itu. Diraihnya sebelah tangan Ella dan digenggamnya erat-erat jemari tangan Ella. Seakan ingin menegaskan kepada siapapun yang melihat bahwa gadis itu miliknya. Baik Roni atau Mahes sebaiknya menjaga jarak dari gadisnya itu. Hampir mirip tulisan di pintu, 'Awas anjing galak, jangan mendekat'.


"Hai, Ron...Dok Mahes," sapa Ella kepada Roni dan Mahes sekaligus.


"Ella! Sini-sini," Roni melambaikan tangannya memanggil Ella. Dahinya sedikit berkerut begitu menyadari Ardi berjalan di sebelah Ella. Menggenggam erat jemari gadis itu. Buset dah ni herdernya ngikut aja, batin Roni.


"Tu herdernya Ella mas, awas digigit hehe." Ujar Roni memperingatkan Mahes dengan sedikit bercanda.


"Hai Ardi, bro. Whats' up?" Diluar dugaan Roni, Mahes malah menyambut Ardi dengan akrab dan memberikan bro-hug padanya.


"Yo Mahes. Long time no see." Jawab Ardi.


"Halo Ella, gimana kabarnya? kayaknya cerah banget hari ini?" Sapa Mahes selanjutnya pada Ella, terkesan sok kenal dan sok dekat. Kayaknya sengaja ni buat manasin mas Ardi, batin Ella curiga akan sikap Mahes.


Ardi maju beberapa langkah seakan menutupi tubuh Ella dari pandangan kedua pria di depan mereka. Kayaknya dia beneran gak rela kedua mata Roni atau Mahes memperhatikan Ella dengan lekat-lekat.


Duh jadi gak bebas ngapa-ngapain ini kalau ada mas Ardi. Bisa-bisa banyak larangan gak boleh begini begitu, batin Ella menjerit.


"Waduh gak usah gitu juga kita gak bakalan nikung cewek cantikmu kok bro." Ujar Mahes ketawa ringan melihat sifat Ardi yang terkesan melindungi banget pada Ella. Kayaknya beneran cinta mati deh ini si Ardi pada Ella.


"Cuma ingin menegaskan, Ella udah ada yang punya. Jangan deket-deket!" Ujar Ardi dengan cueknya tanpa memikirkan pandangan orang lain. Dasar sultan bucin tingkat dewa. Mahes dan Roni yang dibilangin kayak gitu tentu saja mundur teratur gak bakal berani mendekat dan macem-macem lagi pada Ella.


"Lho kalian udah saling kenal toh?" Roni keheranan melihat Ardi dan Mahes yang sepertinya sudah saling kenal.


"Jadi kamu belum tahu? Ardi itu sepupuku." Jawaban Mahes mampu membuat Roni melongo. Duh mampoos aku malah ngatain sepupunya kayak herder galak, batin Roni.


"Masa kamu gak tahu, Ron? Dok Mahes ini kakaknya Sari temen iship kita yang sekarang jaga di UGD." Ella menjelaskan dan sukses membuat Roni semakin melongo. Dunia terasa begitu sempit seperti daun kelor.


Tak beberapa lama kemudian panitia ujian memerintahkan semua peserta untuk memasuki ruangan. Ella dan Roni pun segera pamit untuk masuk ruangan ujian.


"Wish me luck ya" Ujar Roni pamit kepada mereka yang hadir disana.

__ADS_1


"Aku pergi dulu. Doain ya." Pamit Ella pada Ardi dan Mahes sekaligus.


"You can do it, honey. Good luck." Ardi mengangguk dan menepuk kepala Ella dengan lembut. Kemudian gadis itu mengikuti Roni memasuki ruangan ujian.


"Gila! Gak nyangka bisa liat kamu kayak gitu, bro!" ujar Mahes begitu Ella sudah pergi. Dia benar-benar tidak menyangka Ardi bisa bucin separah itu pada Ella. "Biasanya kamu kan cuek dan cenderung dingin sama cewek. Gak nyangka aja bisa se-bucin itu sama Ella. Yah emang harus kuakui cewekmu cantik banget, smart lagi," Mahes menambahkan.


"Kamu belum tahu aja rasanya. Nanti kalau udah ketemu cewek yang kamu cintai kamu bakal tahu. Aku juga heran kok sama diriku sendiri bisa-bisanya kayak gini..." Ardi menceritakan sambil sedikit menerawang.


Ujian tahap kedua hari ini akan diadakan jam 09.00 untuk ujian Tes Ilmu bidang yang akan dilaksanakan dengan cara CAT juga (Computer Assisted Test). Hanya ada satu sesi karena peserta yang ikut ujian tahap kedua ini lebih sedikit jumlahnya dibandingkan tahap pertama. Hanya peserta yang berhasil lolos ujian tahap pertama yang bisa memgikuti ujian tahap kedua ini.


Sedangkan ujian wawancara akan dilaksanakan mulai jam 11.00. Sesuai dengan yang sudah dijelaskan peserta akan diminta untuk menperkenalkan diri. Kemudian peserta diberi sebuah kasus pasien untuk dijelaskan dan dideskripsikikan tentang diagnosa, diagnosa pembanding, perjalanan penyakit, terapi serta pengobatannya. Selanjutnya para penguji akan menanyai tentang apa saja yang sudah dijelaskan peserta tersebut. Bisa disebut sebagai sesi tanya jawab.


Dan semuanya itu dilaksanakan in english. Bayangkan saja bagaimana nervousnya. Untuk berpresentasi dengan bahasa indonesia saja di hadapan para profesor penguji bisa bikin keringat dingin. Apalagi pake bahasa inggris? Bisa-bisa ambyar semua kosakata di dalam otak saking groginya. Terpaksanya ya make bahasa campuran indo-english. Tapi semakin bagus speaking english-nya akan dapat memberikan penilaian lebih pada tahap wawancara ini.


Tepat tengah hari akhirnya Ella dan Roni menyelesaikan seluruh ujiannya. Mereka keluar ruangan dan menghampiri Ardi dan Mahes yang masih setia menanti mereka di depan ruangan ujian.


"Gimana?" tanya Mahes pada Ella dan Roni yang menghampiri mereka.


"Yah yang penting udah usaha. Tinggal tunggu hasilnya." Ujar Roni pasrah.


"Iya betul. Pokoknya kita udah melalukan yang terbaik. Perkara hasil serahkan pada yang diatas." Ella ikut menimpali ucapan Roni.


"Susah banget ya?" Ardi bertanya pada Ella dengan nada prihatin.


"Banyak yang lupa-lupa ingat. Jadi agak ragu pas jawabnya. Terus wawancaranya saking nervousnya sampai belibet ngomongnya. Agak susah dicerna mungkin omoganku jadinya." Ella menjelaskan kesulitannya.


"Aku malah parah wawancaranya, banyak yang lupa kosakata englishnya. tak campur aja deh sama bahasa indonesia. Yah paling nggak bisa jelasin apa yang dimaksud dari soalnya." Roni ikutan curhat juga.


"Lunch bareng yuk, aku yang traktir deh." Mahes menawarkan diri. Ingin sedikit menghibur kedua temannya yang telah berjuang keras dalam ujian tadi.


"Boleh. Dimana mas?" Roni kegirangan karena akan mendapat makanan gratis.


Sementara Ella tentu saja tak berani untuk menjawab. Dia menunggu persetujuan Ardi. Bisa gawat kan kalau si sultan gak setuju dan ngambek. "Hanam*sa ya atau minimal sushi th*i" Ardi menyeletuk memberi syarat.


"Duh tega bener kamu. Aku kan mahasiswa PPDS kere yang gak boleh kerja dan gak punya gaji." Ujar Mahes dengan wajah memelas.


"Gak usah kerja juga duitmu udah banyak," tukas Ardi ketus tak perduli.


"Ok deh kalau gitu, terpaksa ngeluarin kartu sakti." Mahes akhirnya menyetujui. "Hanam*sa depan Stasiun Gubang ya. Kita ketemuan disana."


Akhirnya mereka semua sepakat dan berangkat ke tempat yang ditentukan dengan mengendarai mobil masing-masing.

__ADS_1


~∆∆∆~


🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼


__ADS_2