
Dalam hubungan yang terpenting
adalah saling tahu,
Saling sayang dan saling mendukung
Lalu saling melengkapi.
Status hanyalah bumbu.
Jikalau bisa bertahan karena rasa,
Mengapa harus pergi?
___________________________
Roni menghampiri bagian UGD RS. Hartanto Medika sore itu. Sepulang dari tugas jaganya di RSUD dr. Sutomi sebagai residen karena Roni tahu gadisnya sedang bertugas disana. Roni ingin sekedar menghampiri Ella dan menghabiskan waktu bersama gadis itu sebelum jadwal jaganya di poli jantung. Mencuri-curi waktu ditengah kesibukan mereka berdua yang sulit bertemu.
"Halo cantik met sore," Roni menyodorkan segelas Thai Tea Original kesukaan Ella. Roni mengambil duduk di depan meja dokter jaga UGD.
"Sore semuanya," sapa Roni juga pada yang lainnya.
Roni duduk dengan cueknya tanpa memperdulikan perawat-perawat staff UGD yang sedang duduk-duduk berjaga di samping Ella. Tampaknya para perawat itu juga tidak keberatan dengan kehadiran Roni yang memang sudah mereka kenal sebagai salah satu dokter di rumah sakit ini sekaligus pacar Ella.
"Eh kok udah datang, Ron?" Ella sedikit heran melihat Roni yang sudah hadir dua jam sebelum jadwal jaganya nanti jam lima. "Makasih ya," Ella langsung mengambil dan menyeruput Thai tea-nya.
"Kangen sama kamu, El. Sejak kamu lulus kan jatah ketemuan kita berkurang jauh." Roni beralibi.
"Yah gimana lagi jadwal kita agak susah sekarang. Kamu super sibuk banget gitu." jawab Ella.
"Aku yang sibuk? Bukan kamu yang sok sibuk?"
"Ron...kok gitu si?" Ella mau tak mau merasa bersalah juga pada Roni. Karena memiliki hubungan rahasia dengan Ardi di belakang Roni.
"Kamu kemarin kemana? Aku hubungin seharian gak ada jawaban? Aku telpon Shanti juga katanya kamu sudah pulang dan kalian berpisah sejak siang hari di mall?" Roni mengutarakan kecurigaannya.
Nah lhooo. Ini orang peka banget kan kalau masalah beginian? Ella Mau jawab apa coba? Ketemu sama mas Ardi, Ciuman sama mas Ardi, Kencan rakyat jelata yang menyenangkan sama mas Ardi? Bisa gila dan meledak seperti bom atom si Roni kalau Ella menjawabnya begitu...
"Kamu udah makan siang?" Ella mencoba mengalihkan pembicaraan mereka. Tak ingin terlihat bertengkar di tempat umum begini. Tak ingin digosipkan bahwa hubungan mereka sedang tidak harmonis. Masa iya bertengkar di UGD dengan disaksikan para perawat crew UGD dan para pasien? Nggak banget kan?
"Belum, tadi abis dari kampus langsung kesini." Roni sepertinya juga dapat menangkap maksud Ella. Tak meneruskan lagi perdebatan mereka. "Temenin makan ke kantin bentar, yuk!" Roni menawarkan alternatif tempat lain untuk melanjutkan pembicaraan mereka berdua.
"Iya boleh," Ella menyetujui.
"Mbak aku tinggal ke kantin dulu ya. Kalau ada pasien gawat telpon aja." Ella meminta ijin pada kedua perawat yang mendampinginya jaga UGD.
"Baik dok, " jawab kedua perawat itu kompak.
Ella dan Roni segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan beriringan meninggalkan UGD di lantai satu. Menyusuri lorong-lorong rumah sakit, menaiki lift ke lantai empat dimana kantin berada. Keduanya pun langsung memesan makanan dan minuman, membawanya ke salah satu meja yang sedikit mojok. Biar enak kalau mau lanjut ngobrol.
__ADS_1
"Kamu nerus jaga UGD hari ini?" Roni bertanya sambil mulai menyantap menu makanannya.
"Iya. Aslinya si cuma sift pagi. Tapi dokter Rossa berhalangan jaga jadi aku gantiin jaga sekalian nerus." Ella menjawab, ikutan menyendok soto ayam di hadapannya.
"Gimana pasien hari ini?" Roni mencoba basa-basi.
"Aman. Gak begitu banyak cuman ada lima pasien aja tadi seharian. Sama satu pasien VVIP..." Ella menghentikan ucapannya. Aduh kelepasan... Ngapain coba bahas pasien VVIP, kayak menabur minyak diatas api aja ini.
"Pasien VVIP?" Roni ikut penasaran.
"Iya tadi ada sultan muda yang kecelakaan. Fraktur tulang rusuk." Ella menjelaskan sekenanya.
"Kamu yang nanganin? Gak ribet?" Roni semakin penasaran dan entah kenapa jadi ada perasaan gak enak juga yang menghampirinya. Kenapa ya?
"Iya. Fraktur saja gak sampai patah tulang. Gak ada komplikasi tulang yang menusuk organ dalam. Cuma pleuritis saja. Jadi gak perlu konsul dokter bedah." Ella menjelaskan.
"Oh syukur deh. Terus dioper dr. Dhio, Sp. BTKV (spesialis bedah thorax dan kardio vaskular) sebagai penanggung jawabnya?" Roni memastikan kembali mengingat Dhio adalah spesialis bedah thorax di Rs. Hartanto medika ini. Dhio yang seangkatan dengan Mahes dan mereka sering bekerjasama untuk menangani pasien dengan masalah jantung. Roni pun sering mengkonsulkan pasiennya yang butuh pembedahan pada Dhio.
"Nggak. Keluarga pasien minta aku saja yang jadi penanggung jawabnya." Ella menjelaskan.
"Lho kok kamu?" Roni makin curiga jadinya demi mendengarnya. Masa iya sultan yang dibicarakan ini mereka-mereka juga? Masa iya sultan keluarga Pradana? Kenapa rasanya dunia sempit sekali sih? Tapi wajar juga sebenarnya kalau mengingat pemilik RS. Hartanto medika ini masih kerabat mereka.
Belum sempat Ella menjawab pertanyaan Roni, seorang gadis dengan pakaian formalnya menghampiri mereka. Gadis yang tadi ada di kamar Linggar. Kalau gak salah, Ardi pernah menyebutkan pada Ella nama gadis itu adalah Praditha Sampoerna, Ditha.
"Permisi dokter, Ella. Kebetulan kita ketemu disini, saya mau nanya. Linggar barusan sadar dari pingsannya. Dan katanya dia kelaparan. Dia boleh makan apa saja? Apa ada larangan makanan yang gak boleh dimakan?" Ditha bertanya.
"Iya dia boleh makan apa saja kok. Tapi hati-hati jangan buru-buru makannya, pelan-pelan saja. Takutnya tersedak, soalnya bakalan sakit banget dia kalau batuk." Ella memberi advise.
"Baik dok, makasih banyak. Saya permisi dulu sekarang," Ditha minta undur diri dan berlalu ke bagian kantin untuk memesan makanan.
Dalam hati Ditha bertanya-tanya siapa pria ganteng yang sedang duduk dan makan bersama dengan dokter Ella? Sepertinya hubungan mereka cukup dekat? Jangan-jangan pacarnya yang sekarang? Pantesan aja dokter Ella selalu kabur dan menghindar saat melihat mas Ardi. Kayaknya masih ada kesempatan ni hehe.
"Jadi beneran sultan Pradana ya?" Roni mendengus kesal. Bener ternyata kecurigaannya tadi. Jelas aja kalau mereka sultannya bakal milih Ella untuk jadi dokter penanggung jawabnya. Pemanfaat koneksi dan kedudukan ini, dasar sultan sialan.
"Iya Linggar yang sakit. Fraktur dan pleuritis. Tapi dia sakit beneran lho, Ron. Murni kecelakaan, bukan dibuat-buat. Siapa coba yang pengen celaka." Ella berusaha menjelaskan.
"Tapi kenapa harus mereka...kenapa harus kamu juga? Kenapa gak mati aja sekalian dia?" Saking kesalnya Roni mengumpat.
"Astaga Ron! Omongan kamu udah keterlaluan! Sebagai dokter bagaimana bisa kamu mengharap pasienmu mati?" Ella benar-benar tak menyangka Roni dapat berkata sekejam itu.
Roni diam sejenak, merasa bersalah juga dengan ucapannya yang keterlaluan. "Iya, sorry aku kelepasan...Sebagai permintaan maaf apa aku harus jenguk dia?" Roni mengakui kesalahannya.
"Gak usah deh. Kalau kamu jenguk dia, pasti Linggar juga bawaannya emosi. Kasian dia masih sakit kalau harus berdebat sama kamu."
"Yaudah aku nurut aja..." Roni kembali berkutat dengan menu makan siangnya. Menghabiskan semua isi piringnya dan meneguk habis minuman dingin di hadapannya juga. Roni juga menunggu Ella menyelesaikan proses makan siangnya sebelum melanjutkan pembicaraannya.
"Terus kamu belum jawab tadi. Kemarin kamu kemana aja seharian gak bisa dihubungi? Pergi sama siapa?"
"Ron please...Aku juga butuh me time sekali-kali. Aku udah biasa sendirian sebelumnya. Ngapa-ngapain juga selalu sendiri. Jujur aja aku merasa gak nyaman kalau ngapa-ngapain harus lapor. Rasanya kayak gak punya kebebasan. I'm feeling uneasy."
__ADS_1
(*Aku merasa tidak nyaman)
Untuk kejadian kemarin memang murni kesalahan Ella yang sengaja menerapkan mode silent di ponselnya. Tak ingin acara kencan seharinya dengan Ardi mendapat gangguan dari siapa pun juga. Ditambah lagi lagi Ella yang sudah seolah Mengkhianati Roni dengan berkencan dengan pria lain seperti itu.
Tapi bahkan sebelum sebelum kejadian ini, sejak mereka resmi berpacaran. Roni memang terlalu posesif padanya, terlalu kepo dan ingin tahu segala sesuatu yang dilakukan Ella dalam kesehariannya. Membuat Ella semakin merasa tidak nyaman. Padahal dulu Roni tidak begitu waktu status hubungan mereka masih tidak jelas. Kenapa sekarang rasanya jadi begitu menyebalkan?
Membuat Ella mau tidak mau jadi membandingkan dengan perlakuan Ardi dulu padanya. Ardi meskipun bucin parah, tapi masih menghormati privasi Ella. Ardi juga tak pernah memaksanya mengatakan atau bertanya tentang sesuatu jika Ella tak ingin berbicara. Ardi yang begitu pengertian, begitu dewasa dalam menghadapinya.
"Aku gak pernah ngelarang-larang kamu, El. Aku cuma ingin tahu kamu dimana dan dengan siapa. Cukup kasih kabar aja, jangan ngilang tiba-tiba."
"Ok deh next time aku kabarin kalau mau ngilang lagi." Ella masih sedikit kesal pada Roni.
"Sorry...Sorry banget, El. Aku jadi begini karena aku takut. Aku takut kehilangan kamu..." Roni mengatakan ketakutannya.
Memang ketakutan yang tak beralasan, tapi entah mengapa dirinya menjadi tidak tenang setelah pertemuan Ella dan Ardi beberapa hari yang lalu. Roni takut Ella akan berpaling darinya, memutuskan hubungan mereka dan memilih untuk kembali ke sisi Ardi.
Ella diam kali ini. Paham betul dengan ketakutan Roni. Paham benar bahwa Roni sangat cemburu pada Ardi. Dan Ella pun tentu tak tega untuk begitu saja memutuskan hubungan mereka. Tidak dengan tanpa alasan yang jelas atau terlalu mengada-ada. Kalau pun mereka harus berpisah harus dengan cara yang baik-baik.
"El...week end nanti kamu dan keluarga ada acara?" Roni tiba-tiba bertanya.
"Kok pakai nanya keluarga?" Ella sedikit heran juga tumben Roni menanyakan jadwal keluarganya.
"Mas Wildan dan mbak Reni rencananya mau silaturahmi ke rumahmu."
Whaaat??!! Ella beneran kaget mendengarnya. Mas Wildan beneran mau main ke rumahnya sesuai dengan perkataannya waktu itu? Mau ngapain? Gak mungkin kan cuma sekedar silaturahmi? Pasti ujung-ujungnya bakal nanyain kelanjutan hubungan Ella dan Roni kan?
Jujur saja Ella masih belum siap. Belum siap untuk memilih antara dua hati. Belum bisa memutuskan untuk melabuhkan cintanya kemana. Apakah kepada pelabuhan cinta Roni yang kadang berombak ataukah pelabuhan Ardi yang tenang tapi menghanyutkan.
"Nanti aku tanyain dulu sama mama dan papa ya. Kalau aku si kayaknya lagi gak ada acara," Ella menjawab tak berani memutuskan. Karena hal ini herhubungan dengan jadwal kedua orang tuanya juga.
"Iya nanti kabari lagi aja," Roni senang mendengar jawaban Ella yang sepertinya tidak menolak. Kali ini Roni jadi sependapat dengan Wildan bahwa hubungan ini harus secepatnya diputuskan mau dibawa kemana. Itikad baik harus disegerakan. Sebelum ada gangguan dari orang ketiga.
Tadinya, kupikir status kurang begitu penting.
Selagi kita sama sama nyaman menjalani,
kenapa harus ada status.
Karena itulah aku rela bersabar menjalani hubungan tanpa status denganmu.
Tetapi ketika menjalani hari hari bersamamu, dengan status yang lebih jelas.
Aku menarik kembali apa yg kupikir selama ini.
Aku mau kamu, iya, kamu.
Aku mau kamu menjadi milikku.
Bahkan mengikatmu sebagai pendamping hidupku.
__ADS_1
~∆∆∆~
🌼Gak pernah bosen ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. ðŸ¤ðŸŒ¼