
Ardi sudah memarkirkan mobilnya di car port Pradana mansion sore itu, pulang dari kantornya. Betapa herannya saat mendapati car port kosong, tak ada satupun mobil disana. Mobil BMW-nya dibawa Bambang, Linggar juga belum pulang sepertinya dan yang paling mengherankan mobil Alphard orang tuanya juga tidak ada disana.
Pada kemana semua? Kemudian Ardi ingat tadi pagi mamanya mengatakan akan mengajak Ella berbelanja untuk keperluan seserahan lamaran. Jam berapa ini? Kok masih belum pulang saja? Apa masih dalam perjalanan dan kejebak macet?
Karena penasaran Ardi segera menelpon Ella, ingin tahu gimana kabar gadisnya itu. Sekalian melepas rindu juga, kangen banget seharian gak dengerin suara Ella. Ardi langsung saja menghubungi nomer ponsel Ella, dan gadis itu pun menjawab.
Ada yang tidak beres. Kenapa Ella seperti tidak antusias untuk menjawab setiap pertanyaannya? Kayaknya lagi lemes banget, sakit kah?
Dan betapa geramnya Ardi saat mengetahui bahwa kegiatan shopping mereka belum selesai bahkan sampai semalam ini. Semakin geram pula mengetahui Ella belum makan siang bahkan sampai jam segini, pantesan lemes dan pusing katanya. Aduh Laras dan mama ini ngapain aja sih?
Karena saking cemasnya akan keadaan Ella, Ardi tak jadi masuk ke dalam rumahnya. Malah kembali melajukan mobilnya ke arah Galaxy mall, tempat dimana butik Iwan Gunadi berada. Mall yang untungnya tak terlalu jauh dari rumahnya yang berada di kawasan ITS ini.
Ardi buru-buru memarkir mobilnya di parkiran vip begitu sampai di mall. Tak mau membuang waktu untuk mencari tempat parkir yang kosong. Kemudian segera berjalan secepat mungkin ke arah lift yang membawanya ke lantai 3 dan terus saja berjalan ke butik Iwan Gunadi.
Sesampai di butik, Iwan, Laras, mama Kartika dan para pegawai butik lainnya sudah keheranan melihat Ardi yang datang dengan terburu-buru. Tapi Ardi tak perduli dan langsung menanyakan dimana Ella berada. Kartika yang melihat anaknya yang tak sabaran langsung memberitahukan bahwa Ella sedang berganti baju di fitting room.
Ardi pun langsung keruangan itu dan menunggu di luar ruangan sampai Ella keluar. Dan tak lama kemudian akhirnya Ella keluar juga dari ruangan itu. Betapa kagetnya Ardi saat mendapati wajah Ella yang terlihat pucat dengan tubuh yang gontai dan sempoyongan. Gadis itu sepertinya sudah nyaris pingsan saja.
Ardi bergegas meraih tubuh Ella dan mendekapnya dengan sebelah lengannya. Menahan tubuh Ella agar tidak jatuh. Sedih sekali rasanya melihat Ella selemah itu, geram dan marah juga pada semua orang yang sampai membuat Ella kayak gitu.
"Mas Ardi?..." Ella bertanya lemah.
"Iya honey, ini aku." ujar Ardi lembut sambil mengusap rambut Ella dan menyandarkan kepala gadis itu di dadanya.
"Apa-apaan si kalian ini? Belanja sampai gak tahu waktu kayak gini? Liat Ella sampai lemes kayak begini! Kalian bahkan gak ngasih dia makan dari siang sampai malam begini!" Ardi memarahi semua orang yang ada disana saking geramnya.
Semuanya yang hadir hanya bisa membisu tak ada yang berani menjawab. Ardi kalau sudah marah tak akan dapat dibantah lagi. Sadar akan kesalahan bahwa memang mereka kebablasan berbelanja. Mulai jam 2 siang tadi mereka berangkat sampai sekarang sudah jam 7 malam lewat.
Baik Kartika, Laras dan Cindy sampai lupa juga untuk menanyakan Ella sudah makan siang atau belum. Karena mereka bertiga jelas sudah makan tadi di Pradana Mansion. Jadi mereka otomatis mengira Ella juga sudah makan siang.
"Udah kalian lanjutin aja belanjanya. Ella biar ikut aku." Ardi beranjak membawa Ella berjalan perlahan.
"Tapi pemilihan bajunya belum selesai, mas." Laras yang memberanikan diri bertanya pada Ardi.
Ardi melihat sekilas pada deretan dress yang berjajar di hadapannya. Ada sekitar tujuh belasan baju yang ditawarkan. Jadi mereka bermaksud menyuruh Ella mencoba semua? Dasar gila!
"Singkirkan semua baju yang tak berlengan. Baju dengan panjang diatas lutut dan baju yang terlalu menonjolkan lekuk tubuh. Buang juga baju yang terlalu tinggi belahan pahanya. Yang menunjukkan belahan dada dan terbuka bagian punggungnya." Ardi menjawab dengan detail kriteria dress yang diinginkannya untuk dipakai Ella.
Semua yang mendengarnya kontan mengerutkan dahi. Ini mau cari baju pesta apa cari baju Syar'i? Hanya Iwan yang cekatan bereaksi mendekati baju-baju itu dan memilihnya.
"Mas jangan terlalu kolot lah. Model baju jaman sekarang mana ada yang kayak gitu." Laras berusaha meminta keringanan. Parah ini mas Ardi, mas Mahes aja tak pernah sampai sebegitunya melarang Laras dalam memilih pakaian.
"Iya, Di. Ella itu masih muda dan cantik. Masa kamu mau dia pakai dress yang terlalu tertutup dan old fashion." Kartika ikut menambahkan.
"Justru karena itu. Aku gak mau ada pria lain yang melihat tubuh Ella selain aku." Jawab Ardi santai.
Dan semua yang ada disana kompak melongo mendengarnya. Waduh sudah sakit parah sepertinya sang pewaris Pradana Grup ini. Bucin parah gak ketulungan pada calon istrinya.
"Ada lima baju yang sesuai sama kriteria kamu, bos ganteng." Iwan dengan cekatan memerintahkan pegawainya untuk memamerkan kelima dress yang telah berhasil disortirnya sesuai kriteria Ardi.
"Mau ambil yang mana bos? Kayaknya semua model dan ukuran pas banget sama badan si nona cantik." Iwan menanyai keputusan Ardi.
Ardi mengamati kelima dress yang ditawarkan Iwan. Simple elegan dan tidak terlalu mencolok, sangat cocok untuk Ella. Dan yang paling penting adalah tidak terlalu memamerkan tubuh gadisnya itu.
"Bungkus semua!" Ardi memutuskan.
Iwan langsung sumringah dan menyuruh pegawainya untuk segera membungkusnya.
__ADS_1
"Aku duluan," Ardi melanjutkan berjalan membawa Ella pergi dari butik.
"Beneran gak dicobain dulu?" Laras masih tidak puas. Dirinya pribadi tidak akan sreg kalau tidak mencoba langsung baju-baju yang akan dibelinya.
Ardi tidak menjawab pertanyaan Laras, terlalu kesal rasanya untuk menjawab pertanyaan yang sudah jelas ini. Dia terus saja berlalu meninggalkan mereka. Ingin membawa Ella secepatnya ke restoran untuk makan dan mengembalikan staminanya. Biar gak selemah itu badannya.
"Sudahlah, Ella hampir pingsan gitu masa kamu masih nyuruh nyobain baju si?" Kartika ikut memarahi Laras yang keras kepala.
Ardi mengajak Ella ke sebuah restoran pertama yang mereka lewati. Sebuah western restoran yang tidak begitu ramai pengunjung. Mendudukkan Ella di salah satu kursi yang berbentuk sofa agar mereka bisa duduk berdekatan. Agar Ella masih bisa bersandar di dadanya dan Ardi masih bisa menggenggam tangan gadis itu yang terasa dingin.
Ardi bergegas memesan menu makanan saat seorang waiters menghampiri. Sengaja Ardi memilihkan Cream Soup with Croutton yang hangat untuk Ella. Makanan yang sekiranya mudah dicerna untuk lambung Ella yang telah terlalu lama kosong.
Ardi juga memesan Sirloin Steak untuk dirinya sendiri, Serta BBQ Mix jaga-jaga kalau Ella masih ingin makan sesuatu yang agak berat setelah supnya. Untuk minuman Ardi hanya memesan coklat hangat untuk Ella dan Capucino Ice untuk dirinya.
"Kamu kenapa gak bilang sama mereka kalau lapar? Kenapa gak bilang kalau capek? Kalau pusing? Mau nunggu sampai kamu pingsan?" Ardi menanyai Ella sambil mengusap lembut sebelah kepala Ella.
"Sungkan..." jawab Ella jujur.
"Kamu selalu begitu..." Ardi menghela napas kesal. Kenapa si kamu terlalu baik jadi orang El? "Masa kamu lupa, mama itu juga nantinya akan jadi mamamu. Laras juga akan jadi adikmu, sementara Cindy juga anak buahmu. Kenapa harus sungkan?"
"Suasananya gak enak tadi..."
"Gak enak gimana?"
"Aku bikin Laras dan mama kesal."
"Haaaah?"
Pembicaraan berhenti karena pesanan mereka dintarakan oleh seorang waiters.
"Sudah makan dulu deh, ini ada yang anget-anget biar enakan badanmu. Makan yang banyak ya," Ardi mendekatkan coklat hangat dan sup hangat Ella.
Ardi mengamati Ella makan dengan seksama, bahkan sama sekali tak menyentuh makanannya. Cukup lega setelah Ella menghabiskan hampir separuh mangkuk sup dan wajah gadis itu sudah kembali merona lagi. Tak sepucat sebelumnya.
"Jangan kayak gini lagi ya, aku khawatir banget kamu kenapa-napa." Ardi mulai memakan steaknya setelah yakin Ella sudah mulai baikan. Dan Ella hanya mengangguk menjawabnya.
"Terus gimana tadi ceritanya? Kamu bikin mama dan Laras kesal?" Ardi kembali bertanya.
"Aku...aku menolak untuk dibeli-belikan terlalu banyak barang."
"Kenapa begitu? Kan aku semua yang beliin kamu buat seserahan lamaran nanti. Kenapa harus ditolak?" Ardi bertanya heran.
"Karena mereka terlalu boros! Buang-buang duit!"
"Hahahhaha," Ardi ngakak tak tertahankan mendengar jawaban Ella. Aduh ini anak, kenapa sih masih saja mikirin hal-hal gak penting kayak gitu?
"Kamu masih takut aku bakalan bangkrut gara-gara beli-beliin kamu?" Ardi menghentikan tawanya karena melihat wajah Ella yang dimanyun-manyunkan. Makin gemesin.
"El, kamu percaya gak kalau nyenengin hati istri itu bisa bikin rejeki suami makin lancar. Kalau aku ngabisin uang buat kamu pasti nanti bakal dapat rejeki gantinya berkali-kali lipat." Ujar Ardi sok bijak.
"Masalahnya kita belum suami istri."
"Hampir, almost there honey."
"Kemudian Laras dan mama kembali mengingatkan tentang perubahan statusku, tentang kewajibanku nanti setelah menjadi Nyonya Ardi Pradana..."
"Aku tahu apa yang mereka katakan benar tentang perubahan status ini. Murni tak ada maksud apa-apa hanya sekedar mengingatkan. Tapi ada satu sisi dari diriku yang menjeritkan ketidak setujuan... Batinku rasanya menolak semua pemborosan dan kesia-siaan ini." Ella menceritakan kegundahannya.
__ADS_1
"Kamu terlalu keras sama dirimu sendiri. Coba deh sekali-kali ijinkan dirimu untuk menikmati hidup. Nikmati apa yang bisa kamu dapatkan, nikmati apa yang ingin aku berikan sama kamu. Jangan ditolak."
"Kamu mungkin benar..."
"Kalau cuma kayak gitu sih bukan marah namanya si Laras dan mama. Memang mereka berdua hobinya ngomel kalau ada yang gak cocok. Tapi setelah itu ya udah selesai. Gak usah kamu pikirkan lagi."
"Beneran gak pa-pa?"
"Iya gak pa-pa. Aku sudah hafal benar sifat mama dan Laras." Ardi tersenyum melihat Ella sudah menghabiskan seluruh isi mangkuknya. Bahkan lebih jauh celingukan, sepertinya masih belum kenyang dia.
"Masih laper?" tanya Ardi cekikikan.
"Iya, mana kenyang sup doank buat jatah makan siang dan makan malam." Ella mengakui malu-malu.
"Makan aja Mix BBQ-nya. Aku sengaja pesenin buat kamu kok. Tahu betapa rakusnya kamu hehe."
"Iiiiiiihhh nyebeli." Ella kesal dibilang rakus tapi tidak menolak untuk mengambil dan menyantap sepiring campuran daging panggang di hadapannya.
"Jadi tadi beli apa saja?" tanya Ardi.
"Perhiasan, sepatu, tas sama baju." Ella menjawab sambil mengunyah dagingnya. "Oiya tadi dapat salam dari Jillia, aku dikasih tas sama sandal sama dia. Baik banget ya."
"Wah kalian belanja di butiknya Jillia? Wajar si kalau dia ngasih kamu. Kalau gak ngasih itu yang terlalu pelit hehe." Ardi menjawab santai saja. Perhatiannya teralihkan sejenak ke layar ponsel untuk membaca pesan dari Laras.
"Kenapa?" tanya Ella penasaran.
"Laras bilang dia sama mama masih lanjut beli make up set dan praying set buat kamu. Cuma tinggal sesuatu yang kayaknya mereka gak sempet belikan. Mereka minta kita untuk beli sendiri..."
"Sesuatu? Apaan lagi?"
"Under garment..." jawab Ardi sedikit ragu.
"Uhuuuk...uhuuuk..." Ella langsung tersedak demi mendengar jawaban Ardi. Daleman? Gila aja masak mereka ingin Ella belanja daleman bareng Ardi?
"Duh hati-hati donk makannya." Ardi menyodorkan air mineral yang sudah tersedia di atas meja.
"Gak usah yang itu skip aja gak usah dikasih juga gak apa-apa." Ella menjawab setelah cukup tenang.
"Lho gak boleh donk. Kurang afdol jadinya. Gak lengkap." Ardi tahu benar Ella bakalan malu kalau menyangkut barang-barang pribadi begini.
"Kata Laras Galaxy mall ini ada toko victoria secret. Disuruh beli disana aja katanya." Ardi kembali membacakan pesan Laras.
"Gak mauuuu!"
"Tapi aku mau beliin kamu. Biar sekalian tahu ukurannya." Ardi bersikeras.
Asli penasaran dan kepikiran juga dengan ukuran yang biasa dipakai Ella. Biar kapan-kapan bisa beliin kalau lagi kepengen hahahaha. Duh mikir apa coba kok sudah kesana sana, bikin panas dingin aja.
"Ogah!" Ella menolak dengan wajah sudah sangat memerah. Maluuuu.
"Abis ini kita kesana." Ardi makin bersemangat.
"Aaaaarrgggh!" Ella berteriak frustasi menyadari keinginan Ardi sudah tak dapat ditolak lagi.
Dan benar saja ketakutan Ella terjadi setelah mereka menghabiskan makan malam. Ardi menyeret Ella untuk ke toko yang dimaksudkan oleh Laras dengan bersemangat 45.
~∆∆∆~
__ADS_1
🌼Yuuuuks say jangan lupa LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN yaaaa 🌼