
Sore harinya betapa kagetnya Ella saat sebuah mobil hitam yang sudah sangat familiar parkir di depan kontrakanya, mobil Ardi. Lebih kaget lagi setelah mengetahui yang keluar dari mobil dan mengetuk pintu kontrakan bukanlah Ardi. Begitu Ella membukakan pintu, Bambang sang driver lah yang datang ke kontrakan Ella.
"Selamat sore non Ella. Saya datang untuk menjemput nona." Sapa Bambang pada Ella.
"Hah? Jemput? Kemana?" Tanya Ella keheranan. Ardi bahkan tidak menghubunginya seharian ini. Tidak ada telpon ataupun pesan singkat. Kenapa tiba-tiba sekarang mengirim drivernya untuk menjemput Ella?
"Ke rumah Pak Ardi," jawab Bambang singkat.
"Ok, kamu masuk dulu deh. Aku ganti baju sebentar." Ella mempersilahkan Bambang masuk dan duduk di ruang tamu. Sementara dirinya buru-buru ke kamarnya untuk berganti pakaian. Kenapa Ardi menyuruh supirnya untuk menjemputnya? Bukannya dia yang jemput sendiri? Dan lagi kenapa ke rumahnya? Apa Ardi masih sakit? Apa pria itu memerlukan bantuannya? Berbagai macam pikiran berkelebat di otak Ella.
"Tan, aku ke rumah mas Ardi duluan ya," pamit Ella ke kamar Intan tak lama kemudian.
"Lho ngapain malam-malam kesana?" Intan bertanya keheranan, diletakkan ponselnya yang dari tadi dipegangnya ke kasur.
"Gak tahu. Itu Mas Ardi nyuruh supirnya jemput aku. Apa mungkin dia sakit lagi ya? Seharian ini juga gak ada kabar itu orang. Aku khawatir banget ni, Tan." Ella kelihatan panik.
"Emang si sultan sakit apa? Bisa sakit juga dia?" Kali Intan yang keheranan melihat Ella sebegitu paniknya. Separah apa sih sakit si Ardi? Intan jadi penasaran.
"Ya cuma demam si, pusing-pusing gitu, mual, lemes, hypotensi," jawab Ella.
"Udah gitu doank?" jawab Intan sinis.
"I, iya sih. Tapi kan..." Ella mencoba membela diri, mencari alasan.
"Haduh. Bahkan kamu yang seorang dokter pun gak bisa mikir logis ya kalau udah berhadapan sama Ardi. Udah pergi sana, tapi jangan pulang malam-malam." Intan memberi nasehat seperti emak-emak. Dia masih ingat cerita Ella tentang betapa marahnya papanya karena Ella pulang kemalaman setelah nonton konser cold play minggu lalu. Intan ingin mengingatkan Ella untuk tidak lupa waktu lagi kali ini. Juga untuk tetap menjaga jarak dengan Ardi sesuai perintah papanya.
"Ok sip mak Intan. Kalau mau tidur kunci aja rumahnya. Aku bawa kunci sendiri." Ella pamit pada Intan. Lalu mengajak Bambang untuk segera keluar dari rumah kontrakan. Ella dan Bambang memasuki mobil dan segera melaju ke rumah Ardi.
Bambang driver pribadi Ardi kali ini masih cukup muda menurut Ella. Sepertinya masih berusia pertengahan dua puluhan tahun. Penampilannya rapi seperti pegawai kantoran. Masa si dia cuma sebagai driver? atau sekalian punya kerjaan lain? kayak sekeretaris pribadi atau tangan kanan misalnya? Karena sekilas Bambang terlihat terlalu pintar untuk sekedar menjadi supir.
Begitu sampai di rumah Ardi, Bambang dengan sopan membukakan pintu mobil untuk Ella. "Pak Ardi sudah menunggu di kamarnya. Nona Ella dipersilahkan langsung naik." Bambang memberi tahukan Ella.
Ella menekan tombol bel rumah dan tak lama kemudian Ijah membukakan pintu, mempersilahkan Ella masuk. "Tuan ada di kamarnya, non." Ijah juga memberi tahukan lokasi Ardi berada.
Jadi aku harus ke masuk ke kamarnya lagi? ngapain coba? Apa benar dia belum sembuh? atau mau ngapain lagi? Bahaya kan kalau berduaan di dalam kamar. Takut ada setan lewat kan bisa gawat.
__ADS_1
Ella segera menaiki tangga ke lantai dua, berhenti sebentar di depan pintu kamar Ardi. Ketuk nggak ya? Tapi udah sampai sejauh ini masa mundur? Akhirnya Ella pun memutuskan untuk mengetuk pintu kamar itu. Ya semoga saja masih aman.
"Iya, masuk..." terdengar suara Ardi mempersilahkan dan Ella langsung memasuki kamar itu.
"Hai Ella sayang. Akhirnya kamu datang juga." Sapa Ardi menyambut Ella. Ardi sedang duduk-duduk di sofanya dengan tab di tangan. Duh pasti udah ngurusin kerja lagi, batin Ella. Buru-buru Ardi meletakkan tab itu begitu menyadari pandangan tidak suka Ella.
"Gimana keadaannya mas? Udah sembuh?" Ella bertanya memastikan. Sepertinya udah mendingan kalau dilihatnya sekilas keadaan pria itu. Yah meskipun masih agak lemas dan pucat si. Tapi over all bisa dibilang lebih sehat dari pada keadaanya kemarin.
"Udah enakan. Kemarin aku sudah nurut sama kamu. No work sama sekali, hari ini yah baru coba buka-buka email dan googling di tab dikit." Ardi menjelaskan sebelum keduluhan diomelin sama bu dokter galak satu ini.
"Urgent banget emailnya?" Ella menyelidik.
"Enggak si. Biasa aja," jawab Ardi.
"Yaudah, gak usah diurusin." Entah mengapa nada bicara Ella jadi terdengar sangat kesal.
"Iya, cuma baca-baca doank. Skipping. Kalau gak dibaca kan gak tahu penting nggaknya."
Ella tidak menjawab, dia berjalan mendekati Ardi dan diambilnya tab dari sofa. Disingkirkannya menjauh dari Ardi, susah banget ya nyuruh ini cowok istirahat. Padahal Cindy saja sudah bilang dikasih waktu istirahat loong week end sebelum kembali padat jadwalnya hari senin. Gimana jadinya coba kalau sampai senin kondisinya belum 100% fit tapi sudah harus kerja rodi lagi?
Ella menurut saja duduk di sofa tepat di sebelah Ardi. Ardi meraih sebelah tangan Ella dan meletakkan telapak tangan gadis itu di dahinya sendiri. "Coba kamu rasain. Udah sembuh kan? Udah adem," ujar Ardi bangga.
"Iya, udah adem," Ella kembali menarik lengan Ardi kali ini untuk memeriksa denyut nadinya. "Tapi denyut nadinya masih lemah, tensinya belum naik ini. Pasti masih pusing kan kepalanya mas Ardi?" Ella menemukan alasan untuk memprotes dan kembali menyuruh Ardi untuk beristirahat.
"Duh emang ya, gak bisa bohongin bu dokter Ella kalau soal pemeriksaan beginian." Ardi mendengus kesal. "Iya ni kamu bener. Aku masih pusing...butuh pijitan lagi dari kamu." Detik berikutnya pria itu sudah meletakkan kepalanya di pundak Ella dengan tingkah sok bermanja-manjanya.
"Kalau bandel gini bukan butuh pijit namanya. Tapi butuh jewer." Ella menjewer ringan telinga Ardi tetapi tak keberatan pria itu menyandarkan kepalanya padanya. Diusapnya kepala dan rambut Ardi dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"El...Aku barusan buka tab itu buat liat website PPDS Uner...Selamat ya, sayang. Congratulation." Ardi berkata sambil tetap menikmati bermanja-manja di bahu Ella.
Ella sedikit kaget mendengarnya. Dirinya memang sengaja tidak memberi tahu Ardi tentang hasil ujian PPDS-nya hari ini. Masih ingin sedikit menunda waktu untuk mereka berdua membicarakannya. Paling tidak setelah Ardi benar-benar sembuh. Setelah dirinya berdiskusi dan mencapai kesepakatan dengan dirinya sendiri.
"Iya...makasih ya, mas Ardi," jawab Ella.
"Kamu hebat, El...Kamu keren banget..."
__ADS_1
"Baru sadar ya?"
"Enggak. Aku udah sadar dari dulu, sejak pertama kali ketemu kamu. Aku udah jatuh cinta pada kamu sejak itu." Ardi tiba-tiba saja mengakui perasaannya pada Ella yang sudah bersemi sejak saat pertama mereka bertemu di UGD RSUD G waktu itu.
"Emangnya kenapa mas Ardi suka sama aku? Bukannya mas Ardi sudah sering berhubungan dengan berbagai macam cewek? bahkan tipe import high quality serta para putri konglomerat juga ada. Kenapa gak milih salah satu dari mereka saja?" Ella menanyakan sesuatu yang sejak dulu tak dapat dimengerti olehnya.
Kenapa sultan satu ini lebih memilih dirinya daripada ribuan wanita diluar sana yang bersedia menjadi pendampingnya. Kenapa Ardi lebih memilih rakyat jelata seperti Ella dari pada para sultanwati yang ditawarkan mamanya. Atau Ardi juga dapat memilih teman bergaulnya di grup businessman.
"Karena kamu beda. At first aku gak munafik, kuakui kalau aku suka sama wajah kamu. Kamu begitu cantik, tapi cantik yang terlihat alami dan smart." Ardi menjelaskan, mengangkat kepalnya dari bahu Ella perlahan. Menolehkan wajah Ella untuk menghadap pada nya dan menggenggam erat kedua jemari gadis itu di pangkuannya.
"Selanjutnya semakin mengenal kamu, aku semakin kagum dan semakin cinta sama kamu. Kepribadian kamu yang unik, kebaikan, kedewasaan, kecerdasan, kemandirian kamu, dan yang paling penting adalah kamu yang menganggapku sebagai seorang Lazuardi saja, bukan lazuardi Pradana sang pewaris Pradana Group." Ardi melanjutkan.
"Kamu menilaiku terlalu tinggi, mas." Ella merasa malu mendapatkan pujian dan penghargaan setinggi itu dari Ardi. Tetapi tetap saja dia merasa sangat bahagia dan senang mengetahui Ardi begitu memandang tinggi dirinya. Tidak memperdulikan status sosialnya dan asal usul keluarganya yang bukan berasal dari golongan sultan.
"Bagiku kamu bahkan jauh lebih tinggi dan berharga daripada semua wanita lainnya, El. Gak perduli mereka dari keluarga kaya atau anak sultan sekalipun."
"Makin pinter ngerayu ini mas Ardi. Pinter gombalin aku lama-lama." Ella benar-benar malu dengan segala pujian Ardi. Apalagi dengan kedua wajah mereka saling berhadapan begitu. Entah bagaimana rupa wajahnya sekarang, pasti udah jelek banget. Pasti sudah semerah lobster rebus.
"Aku serius, El. Kamu bisa pegang ucapanku."
Pembicaraan mereka terhenti saat terdengar ketukan di pintu kamar Ardi. "Masuk, Mbang," ujar Ardi yang sepertinya sudah memperkirakan kalau Bambang yang bakal datang dan mengetuk pintu.
Sesuai dugaan Ardi, Bambang masuk kedalam kamar dengan tangannya membawa sebuah chocolate cake yang sangat indah. Bambang meletakkan kue itu di meja sofa di depan mereka. "Saya taroh sini ya, Pak Ardi." Bambang meminta persetujuan.
"Ok. Makasih ya Mbang, kamu boleh pergi sekarang." Ardi menjawab sekaligus mengusir Bambang pergi dari kamarnya.
"Baik, pak." Bambang pamit dan beranjak meninggalkan Ardi dan Ella berduaan di dalam kamar.
Tinggalah Ella dan Ardi berduaan di dalam kamar itu. Duduk berdampingan dan berhadapan memandangi kue coklat yang barusan dibawakan oleh Bambang. Cantik banget kuenya dengan hiasan dari coklat berbentuk kelopak-kelopak bunga mawar yang indah di bagian atasnya. Sebuah dekorasi berupa pinggiran berlekuk-lekuk melingkari kue itu di bagian atas dan bawahnya juga ikut menambah keanggunan dan keeleganan kue itu.
"Congratulation, honey. Itu kue buat kamu..." ujar Ardi sambil tersenyum lebar pada Ella.
~∆∆∆~
🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼
__ADS_1