
Sore hari sebelum acara ulang tahun Cecilia Tang, Ardi sengaja menjemput Ella lebih awal dan membawanya ke kediaman Hartanto. Atas permintaan Laras tentunya yang menyarankan agar Ella di make over disana. Biar gak kalah cetar dan gak minder untuk bergaul dengan para sultan dan sultanwati di pesta nanti.
Lebih jauh Laras bahkan sudah sengaja mempersiapkan dress untuk dikenakan Ella di pesta nanti. Sekalian juga Laras memanggil MUA untuk mendandani wajah dirinya dan Ella serta menata hairdo mereka. Dan setelah beberapa lama kemudian akhirnya kedua wanita itu sudah siap untuk berangkat ke pesta. Menghampiri Mahes dan Ardi yang sudah terkantuk-kantuk menunggui mereka sambil duduk di sofa ruang tamu.
Kedua Pria itu sudah siap sejak tadi dengan setelan tuxedo hitam mereka. Mahes mengenakan dasi panjang warna hitam sementara Ardi lebih memilih dasi kupu-kupu warna hitam sebagai pelengkap penampilan.
Laras yang pertama datang dengan dress hitam tanpa lengan yang simple dan elegan dengan folding details. Dipadukan dengan satu set kalung dan earrings mutiara putih sebagai pemanis. Make up minimalis dipadukan dengan warna merah menyala untuk bibirnya. Rambut Laras ditata kesamping dengan aksen curly yang menambah keanggunannya.
Tak ketinggalan clutch bag putih dengan aksen mutiara serta high heelsnya yang juga dihiasi butiran-butiran mutiara ikut menyempurnakan penampilannya. Membuat siapapun yang melihat akan terpana.
Sementara itu penampilan Ella yang muncul tak lama kemudian juga mampu membuat Ardi terngaga demi melihatnya. Calon istrinya itu malam ini mengenakan simple little black and white dress dengan glittery belt sebagai fashion statement. Ella tampil percaya diri dengan make up minimalisnya yang terlihat flawless dengan warna-warna lembut. Tatanan rambut pun sederhana dengan Blow hair lurus.
Sebagai pelengkap penampilan Ella memakai tas dan high heels dari bahan kulit berwarna hitam yang menambahkan kesan simple but elegan-nya. Kecantikan Ella malam ini pasti tak akan kalah dengan para fashionista yang hadir di pesta Cecil nanti.
"Gimana cantik kan mbak Ella malam ini?" Laras menanyai Ardi dengan bangganya.
"Iya, cantik. Cantik banget." Ardi masih tak dapat mengalihkan pandangannya dari Ella.
"Makanya jangan terlalu kolot kalau milih baju buat mbak Ella. Kasian kan dia kalau jadi bahan gosip dan nyinyiran para sosialita gara-gara mas Ardi milihin bajunya terlalu tertutup." Laras mengomeli Ardi yang tadi sempat menolak dan memprotes dress Ella hanya karena dress itu tanpa lengan dan sedikit diatas lutut panjangnya.
"Kalau cuma segitu masih wajar kok. Masih sopan," Mahes ikut berpendapat.
"Iya...iya." Ardi mengaku salah. Memang penampilan Ella masih tergolong sopan, tapi tetap saja rasanya tak rela kecantikan wajah, tubuh dan kulit, gadisnya itu nantinya akan dinikmati oleh pria lainnya selain dirinya.
Sementara Ella hanya diam saja mendengarkan komentar-komentar ketiganya dengan wajah memerah, malu. Ella juga merasa dress yang dipakainya malam ini terlalu terbuka. Bagi Ella pribadi lebih suka untuk mengenakan dress pilihan Ardi yang lebih sopan dan tertutup.
Mereka berempat pun segera berangkat dengan pasangan dan mobilnya masing-masing. Mahes kali ini memakai Lamborghini Aventador putihnya. Sementara Ardi masih setia dengan Porsche Cayman biru metaliknya. Tak lupa mereka membawa driver agar tak perlu bingung memarkirkan mobil setelah sampai di tempat pesta. Hotel Balamb Garden.
"Nanti di acara pesta aku harus ngapain?" tak bisa dipungkiri bahwa Ella merasa sangat takut dan minder.
"Sebisa mungkin jangan sampai sendirian. Gandeng aja terus tanganku. Jangan pernah dilepaskan meskipun ke ladies room." Ardi menjawab dengan sedikit menggoda Ella. Berusaha membuat gadisnya itu sedikit rilex.
"Aku nanti berniat untuk sedikit berkeliling menyapa beberapa orang yang punya hubungan bisnis dengan kita. Kamu ikut juga ya sekalian dikenalin."
Tak lama kemudian driver memberitahukan bahwa mereka telah sampai setelah antrian drop off point di loby hotel yang cukup panjang. Berarti mobil sudah berada di posisi yang benar untuk mereka keluar kendaraan.
Ternyata lobby telah dipenuhi para wartawan yang sibuk dengan kamera mencari foto terbaik orang-orang yang diundang oleh putri keluarga Ciputra yang terkenal.
Ardi turun terlebih dahulu dari mobil, lalu layaknya seorang gentleman terbaik, dia menghampiri Ella, menggenggam tangan, membantunya turun dari kendaraan juga.
Ella menautkan lengannya ke lengan Ardi. Menggandeng pria itu erat-erat saat berjalan di sepanjang red carpet yang dibentangkan dari lobby menuju pintu masuk hotel. Lampu blitz kamera wartawan menyerang keduanya tanpa ampun. Bagaikan diserang oleh kawanan kunang-kunang tanpa fisik.
"Stay strong dan tetap tersenyum, honey." Bisik Ardi pada Ella yang sedikit gentar dengan serbuan para awak media ini.
Ella hanya mengangguk sebagai jawaban. Memaksakan senyuman terindahnya meski kedua matanya terasa sangat silau oleh lampu-lampu Blitz itu. Harus percaya diri dan tetap tersenyum, karena mereka tak tahu foto yang bagaimana yang akan digunakan para wartawan. Jangan sampai foto yang mencetak wajah calon Tuan dan Nyonya besar Pradana dalam keadaan tidak prima.
Ardi juga berkata bahwa serangan silau ini hanya sementara. Begitu mereka berhasil menggapai gerbang utama hotel semua serangan cahaya ini berhenti.
Benar saja. Ketika Ardi dan Ella memasuki pintu gedung, blitz kamera berubah arah. Fokus dari mereka menuju ke tamu undangan berikutnya yang baru akan turun dari mobil.
Di dalam gedung keduanya disambut dekorasi mewah yang tematik. Dominasi warna putih dan bunga membuat semuanya nampak indah, classy namun tidak berlebihan. Sangat mencerminkan image anggun Cecilia dari grup besar Ciputra.
Para tamu yang datang nampak elegan mengenakan dresscode black and white yang berkelas dari berbagai butik kenamaan. Mereka menikmati acara pesta yang diselenggarakan dari aula hotel hingga poolside dan inner graden hotel.
Di area yang paling ramai dan banyak manusia berkumpul berdirilah sang bintang acara, Cecilia Tang. Gadis itu nampak sangat cantik dan sophisticated dalam balutan dress putih beraksen manik-manik gold yang artistik karya desainer ternama. Penampilan berkelas selayaknya seorang ratu.
Cahaya yang berkilau dari earrings berlian hadiah dari Irza Wismail kemarin, membuat para perempuan di sekitarnya memandang dengan iri. Sementara para lelaki rela tersilaukan oleh pantulannya.
"Happy Birthday, Cecilia." ujar Ardi menyalami sang bintang acara malam ini.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun," Ella ikut menyapa dan memberikan ucapan selamatnya.
Perhatian Cecilia mengarah pada Ella, "Ella! You look so da*mn georgerous!" Cecil memberikan pelukannya setelah matanya scanning head to toe pada outfit yang dikenakan oleh Ella.
Ella tersenyum malu-malu mendengar pujian Cecil, maklum saja dirinya masih belum terbiasa menerima pujian. Kemudian sebagai formalitas Ella membalas pujiannya, "Cecil tetap saja yang tercantik malam ini."
Rasanya sangat membanggakan bagi Ella untuk bisa mendapatkan pujian dari Mega fashionista seperti Cecil. Dress, outfit dan hairdo pilihan Laras memang sangat cocok dikenakan Ella.
Apalagi saat melihat kalung dengan liontin padlock yang dikenakan Cecil di lehernya. Kalung yang sama dengan pemberian Ardi kemarin untuk Ella, yang dipakai sekarang. Pasti Irza yang membelikannya untuk Cecil, jangan-jangan Jo juga membelikan kalung yang sama untuk Kika?
Ella tersenyum geli membayangkan dirinya memakai kalung yang sama dengan kedua sultanwati grup raksasa itu. Seakan dirinya adalah wanita yang sederajat dengan mereka. Membuat perasaan malu dan minder Ella sedikit menghilang bahkan membuat gadis itu percaya diri.
"Kalau tuan muda Ardi Pradana si seperti biasanya. Rapi dan ganteng tak bercela." kini Cecil mengedipkan matanya menggoda Ardi.
"Dasar, jangan sengaja firlting aku di depan Ella ya." Ardi menegur kebiasaan temannya itu.
Mendapat teguran seperti itu Cecilia tertawa geli. "Eh aku masih harus menyapa tamu yang lain. Kalian duluan saja ke meja dekat pool. Nanti aku susul." ucapnya cepat-cepat pada Ardi dan Ella. "Yang lain udah disana duluan."
Setelah itu Cecil menghilang dalam lautan manusia yang mengerumuninya. Orang-orang yang hendak memberi ucapan selamat atau sekedar memuji penampilannya yang bagaikan dewi turun dari langit malam ini.
Ella menjadi semakin kagum dengan Cecilia Tang ini, sang kupu-kupu pergaulan kelas atas. Awal mengetahui namanya, Ella sedikit cemburu karena gosip kedekatannya dengan Ardi. Namun setelah benar-benar mengenal dan berinteraksi dengannya, ternyata Cecil adalah gadis cantik yang ramah dan supel. Kecantikan hatinya serupawan wajahnya.
Masih dengan bergandengan lengan, Ardi dan Ella melangkah menuju area pool yang juga dipenuhi tamu undangan. Cahaya lampu yang dipantulkan oleh air kolam membuat suasana lebih temaram nan romantis.
"Ardi, Ella, sini." terdengar suara bariton Tyo memanggil mereka berdua. Arahnya dari sisi terjauh pintu yang menghubungkan antara aula venue utama dan poolside.
Di sana sudah ada Tyo, Rena serta Mahes dan Laras yang duduk dalam satu meja. Meja yang tertata apik dan di atasnya terdapat beberapa minuman dan makanan yang telah tersedia diantara dekorasi bebungaanya.
Ardi membantu memundurkan kursi untuk Ella, mempersilahkan gadis itu duduk. Kemudian dirinya pun mengambil duduk tepat disebelah Ella dan Tyo. Mereka pun mengobrol santai sambil menikmati hidangan sampai tak lama kemudian Irza dan Kika hadir juga menghampiri meja mereka.
"Kita yang datang terakhir ya?" Irza bertanya sambil menyalami teman-temannya satu persatu secara bergantian.
Nah kan, Kika juga punya kalung yang sama sesuai dugaan Ella. Menjadikan mereka bertiga team Padlock. "Halo, Kika." Ella tersenyum riang menyapa nona muda Wismail yang baru dikenalnya itu.
"Aaaah... Aku juga mauuuu..." Laras menyeletuk sambil menatap kalung Ella dan Kika tanpa menyembunyikan rasa irinya.
"Mas Ardi kok nggak beliin buat aku juga sih?"
"Minta dong ama suamimu sendiri." balas Ardi santai menangapi sifat manja Laras.
Laras menyikut Mahes memberikan tatapan memohon manja, "Beliin ya, Sayang? Ya? Biar aku punya item kembaran juga kayak mereka."
"Tenang Sayang, Nanti aku beliin liontin kunci segembok-gemboknya sekalian." Mahes nampak ogah-ogahan menanggapi. Sudah kebal dengan rayuan maut istrinya itu.
Sebenarnya bukan masalah besar bagi Mahes untuk membelikan Laras kalung baru. Tapi jumlah kalung dan jewelry set Laras di wardrobe mereka sudah terlalu banyak. Sampai-sampai istrinya itu tak akan ingat lagi satu persatu dari perhiasannya.
Mendengar jawaban suaminya, Laras memasang aksi ngambek dengan wajah juteknya yang khas.
"Oiya, Kika kayaknya belum kenal deh sama beberapa yang di sini." Irza berusaha memperkenalkan adiknya.
"Kika, ini Laras istrinya Mahes sekaligus adiknya Ardi. Terus ini yang di ujung ada Tyo dan ceweknya, Rena."
Orang-orang yang disebut oleh Irza melambaikan tangan tersenyum ramah pada Kika Wismail yang manis.
"Selamat malam." Kika mengucapkan salam agak kaku.
"Halo juga." jawab mereka bebarengan.
"Johanh bisa datang nggak?" Ardi bertanya.
__ADS_1
"Katanya sih dia bakal sempetin dat-" sebelum Kika menyelesaikan kata-katanya, seseorang mengendap-endap dan menutup kedua matanya dari belakang.
"Siapa hayoooo..??" tanya pria itu.
"Kak Johanh!" Kika menertawakan cara muncul tunangannya yang cenderung cheesy.
Irza bahkan secara terang-terangan menunjukkan wajah nyinyir melihat kelakuan mereka. Sementara yang lain hanya tersenyum geli melihatnya.
Johanh langsung menempatkan diri untuk duduk di sebelah Kika yang kosong. Menyapa semua yang hadir juga dengan ramah.
"Kika, aku penggemar beratmu lho." Tyo mulai mengajak beramah tamah. "Setiap ada Wiphone keluaran terbaru aku pasti langsung ganti ponsel."
"Oiya ya, Wiphone ini punyanya Wismail ya?" Rena menyeletuk. "Keponakanku yang SD juga pake yang Wikidz." ujarnya informatif.
"Terima kasih." Kika terlihat girang produk perusahaannya digemari teman-temannya.
"Ehm.. Kalian pada mau makan apa nih?" Johanh menawarkan pada para wanita.
"Biar grup ganteng yang ambil, grup cantik duduk santai aja ngerumpi." usulnya disetujui para pria itu. Seakan mereka tak ingin para wanita mereka kerepotan dan berdesakan untuk mengambil makanan dan minuman.
"Kalo udah bahas-bahas kegantengan gini berarti aku kudu maju pertama." Tyo berdiri penuh percaya diri bergaya bagai tipatkay.
Johanh menimpali. "Kalo perkara ganteng-gantengan jelas aku nomer satu. Tanya aja Kika." ujarnya sok congkak.
"Eh enak aja, suamiku donk yang paling ganteng." Laras tak mau kalah sementara Mahes lempeng saja tanpa menanggapi.
"Paling ganteng jelas kakakku IRZA WISMAIL lah!" Kika membuat pernyataan tegas dengan wajah serius. Imut banget seperti anak kecil.
Johanh memandang Kika bagai terkhianati. Sebaliknya, Irza nampak tak menyangka tiba-tiba mendapatkan pujian tak terduga dari adiknya. Wajah sang pemimpin keluarga Wismail itu tak sanggup menutupi senyuman yang merekah.
"Coba tanya saja semua cewek-cewek lajang di pesta ini siapa yang paling ganteng di antara Kak Ardi, Kak Mahes, Kak Johanh, Kak Tyo dan Kak Irza. Pasti 99% bakal menjawab Kak Irza." Lanjut Kika.
"Instingku mengatakan kayaknya kamu lagi ngejek kejombloanku." raut wajah Irza berubah 180 derajat karena merasa kecele.
Semua tertawa mendengar komentar Irza.
"Good Kika! Logikamu TOP BGT" Johanh terlihat yang paling puas tertawanya.
"Apa Jo? Coba bilang lagi." Irza berkata dengan nada mengancam.
Mendengarnya Johanh menjadi ciut,
"Eheeheh.. Enggak kok kakak ipar. Aku setuju kakakku ini paling ganteng sedunia akherat."
"Enak juga ya punya adik ipar. Serasa punya kacung baru..." Ardi mengomentari dinamika relationship antara Johanh si adik ipar durhaka dan Irza si kakak ipar tsundere.
"Aduh...Mateng aku..." ujar Mahes panik karena merasakan hawa-hawa tak enak.
"Mohon belas kasihanmu padaku kakak ipar.."
Semua orang yang hadir pun tertawa. Bahkan Laras tertawa yang paling keras mendengar ucapan suaminya itu.
Setelahnya seperti yang sudah diusulkan Johanh, team ganteng pergi meninggalkan area berkumpul untuk mengambil makanan.
~∆∆∆~
Penasaran dengan tokoh Johanh, Kika dan Irza? Mereka ada di novelnya temenku ASTARI berjudul YOUNG MISS. Jangan lupa dikepoin juga ya dijamin gak kalah serunya 🥰
🌼Yuuuuks say jangan lupa LIKE, VOTE dan KOMEN yaaaa 🌼
__ADS_1