Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
93. S2 - Profesional


__ADS_3

Tepat dua puluh menit kemudian Ardi sudah kembali ke ruangan kerjanya dengan penampilan formalnya yang lebih rapi. Cindy sedikit kagum dengan time management Ardi yang tetap saja tidak berubah. Ardi memang selalu mengutamakan ketepatan waktu, bahkan sebagai bos besar pun Ardi selalu datang on time sesuai jadwalnya.


"Jadi...Kemana tujuan kita malam ini?" Cindy bertanya menegaskan tujuan mereka. Ardi memang selalu memintanya untuk menemani ke pesta resmi dengan suatu tujuan tertentu. Bussiness matter, Profesional things tentang bisnis dan perusahaan tentunya. Cindy akan bertindak sebagai sekretaris yang bertugas mengingatkan masalah kerjaan dan satu lagi sebagai tameng dan penghalau untuk Ardi.


Tak dapat dipungkiri lagi kalau seorang Ardi Pradana datang seorang diri ke sebuah pesta, bisa dibayangkan berapa banyak wanita yang akan mencoba mendekatinya. Untuk sekedar menyapa, berbasa-basi bahkan tak jarang terang-terangan menggodanya.


Beberapa wanita paruh baya-pun juga tak akan segan untuk menghampirinya dan menawarkan anak-anak gadis mereka kepada Ardi. Berharap pewaris Pradana Group itu mau untuk sekedar berkenalan dengan putri mereka. Yah sukur-sukur kalau akhirnya Ardi mau menikah dengan putri mereka.


Karena alasan menyebalkan itulah Ardi paling malas untuk datang ke pesta sendirian. Atau bahkan saat ditemani Bambang sebagai sekretarisnya keadaan tidak menjadi lebih baik. At lease dengan membawa Cindy disampingnya, Cindy yang notabene memiliki penampilan sangat menawan. Tak akan ada sembarang wanita yang berani untuk mendekati Ardi. Jumlah pengganggu dapat berkurang drastis tentunya.


"Cari duit. Cari investor," Jawab Ardi singkat.


"Cuma pesta ulang tahun pak Rajasa dari Raja Jaya Group...Gimana penampilanku?" Ardi lanjut bertanya pada Cindy.


"Ganteng banget pak, you look perfect as always." Cindy mengacungkan kedua jempolnya pada Ardi.


Tak lama kemudian mereka berdua berjalan beriringan keluar kantor, mengendarai mobil BMW Ardi menuju kediaman Rajasa yang menggelar pesta.


Sudah setahun ini Cindy menjalankan peran sebagai pacar pura-pura Ardi. Pacar kontrak lebih tepatnya, Cindy pun tak keberatan karena Ardi menjanjikan bayaran yang pantas dan fantastis untuknya. Ardi juga menunjuk Cindy untuk memegang kendali menjadi direktur di perusahaannya, Pradana Contruction di kota Genting.


Sebagai imbalan Ardi tak segan-segan untuk untuk memberikan mobil merah kesayangannya kepada Cindy sebagai hadiah serta beberapa persen saham perusahaannya diluar gaji bulanan Cindy yang besar. Ardi tahu benar bagaimana cara mendapatkan loyalitas dari seorang bawahannya.


Dan sebagai wanita carier, tentu saja Cindy tidak keberatan dengan pekerjaannya mengingat reward yang didapatkanya sangat menggiurkan. Hanya saja ada satu syaratnya, dirinya tidak boleh ada personal affair dengan bosnya itu. Hal yang cukup susah mengingat pesona Ardi yang sangat menggoda dan mampu menakhlukkan wanita manapun yang memandangnya.


Cindy hanya perlu untuk memasang tameng baja pada hatinya agar tidak jatuh cinta pada Ardi. Dan asli hal itu sangat sulit, bahkan beberapa tahun yang lalu tak dapat dipungkiri bahwa dirinya sempat kesemsem dan jatuh hati pada bosnya itu. Sampai akhirnya Ardi menemukan dan berpacaran dengan Ella.


Cindy harus membuang jauh-jauh harapan untuk menjadi pasangan Ardi. Karena selain derajat dan status sosial mereka yang tidak sama. Cindy juga sadar betul bahwa di hati Ardi hanyalah ada Ella seorang. Entah sihir apa yang telah dipakai Ella sampai bisa membuat Ardi segila itu dalam mencintainya.


"Cindy, gimana pembangunan perusahaan di Surabaya? Bisa clear gak dalam setahun dua tahun?"


"Agak berat, Pak. Tapi akan saya usahakan untuk kejar. Yah asal dananya lancar bisa lah untuk dikejar. Kenapa kok kayaknya buru-buru banget, Pak?"

__ADS_1


"Aku mau ngantor di Surabaya."


"Hah?" Cindy benar-benar kaget mendengar jawaban Ardi. Jadi semua kerja keras dan jerih payah yang mereka lakukan sebagai tim semata-mata untuk ini? Ngapain coba Ardi ingin ngantor di Surabaya kalau bukan demi dekat dengan dia? Demi gadis itu? Demi Ella.


"Ibu Kartika kapan hari nemuin saya, Pak. Nanyain hubungan kita. Saya harus jawab apa kalau ditanya?"


"Pacar. Bilang aja kita pacaran. Males aku dijodohin mulu sama cewek-cewek gak jelas."


"Tapi, Pak...Ketentraman jiwa dan raga saya bisa terganggu." Cindy memprotes.


"Lha kamu kan udah nerima kompensasi besar. Sekalian asuransi jiwa itu hahahaha." Ardi tertawa dengan entengnya, tak berperasaan.


"Sialan!" Cindy mengumpat terang-terangan. Untung aja bos gue ganteng dan loyal masalah reward. Kalau nggak mana betah coba disuruh pura-pura jadi pacarnya terus kayak gini?


"Pak, apa gak sebaiknya nurut aja sama bu Kartika? Lagian calon yang ditawarin juga bening-bening gitu? Tajir melintir semua lagi?" Cindy mencoba mengorek informasi.


"Aku maunya cuma sama Ella."


"Yaampun pak, ganteng-ganteng jangan bucin gitu. Harus bisa move on, palingan Ella nya udah punya cowok lain." Cindy mencoba memberi sedikit nasehat pada bossnya.


Cindy langsung mingkem demi mendengar jawaban kasar Ardi, diam tak berani berkata-kata lagi untuk waktu selanjutnya.


Setiba di kediaman keluarga Rajasa, Ardi langsung memarkirkan mobilnya. Kemudian Ardi dan Cindy memasuki rumah keluarga Rajasa yang sedang menggelar pesta ulang tahunnya. Tepat sebelum melangkah masuk mereka berdua sudah siap siaga, berjalan beriringan dengan tangan Cindy tertaut ke lengan Ardi dengan mesranya. Akting yang sudah biasa mereka lakukan, membuat mereka berdua sudah tidak canggung lagi satu sama lainnya.


Keduanya langsung menyapa si empunya pesta yang sedang berulang tahun. "Om Joko Rajasa selamat ulang tahun, semoga panjang umur, bahagia dan sukses selalu. Salam dari papa dan mama yang kebetulan tidak bisa hadir hari ini." Ardi berjabat tangan dengan sang tuan rumah.


"Hei, Ardi. Makasih udah datang. Salam juga ya buat papa dan mamamu." Joko menerima jabatan tangan Ardi.


"Papa dan mama sehat nak Ardi? Sibuk apa sekarang mereka?" Istri dari Joko Rajasa ikut berbasa-basi saat Ardi bergantian menyalami sang nyonya rumah.


"Papa dan mama sehat, Te. Lagi menikmati masa tua mereka dengan jalan-jalan terus."

__ADS_1


"Hahaha iya abisnya gak ada kerjaan lain kan? Perusahaan juga udah kamu pegang. Makanya cepetan bikinin cucu buat mereka. Biar ganti kesibukan jadi ngurus cucu." Nyonya Rajasa terus saja nyerocos.


"Udah ada cewek secantik ini lho padahal yang digandeng. Tinggal apa lagi coba, ya kan Pa?" Lanjut Nyonya Rajasa sambil mengamati Cindy dengan teliti dari atas kebawah. Cindy hanya mengangguk sopan dan tersenyum sebagai balasan.


"Ya anak muda jaman sekarang kan gak suka buru-buru nikah, Ma. Gak bisa dipaksakan, mereka punya pertimbangannya sendiri." Joko menengahi, sedikit tidak suka dengan ucapan isterinya yang tidak sopan pada tamunya.


Bagaimana jadinya coba kalau Ardi Pradana marah? Bisa kacau kan kerjasama perusahaan mereka. Apalagi Ardi Pradana yang baru setahun ini menjabat sebagai CEO Pradana Group sudah terkenal ketegasannya. Membuat Joko tak ingin bermasalah dengan anak muda ini. Ardi memang masih muda tapi tak diragukan lagi memiliki pengaruh yang sangat besar dalam dunia bisnis di indonesia bagian timur ini.


"Saya kesana dulu ya, Om. Mau menyapa yang lainnya." Ardi pamit dengan sopan. Sang tuan rumah pun lega mendengarnya, bersyukur Ardi tak mempermasalahkan sikap kurang ajar istrinya.


"Iya silahkan dinikmati ya hidangan kami yang tak seberapa ini." Joko Rajasa pun mempersilahkan saja tamunya itu dengan ramah dan sedikit merendah. Mempersilahkan Ardi dan Cindy untuk beranjak pergi dari pada berlama-lama dengan isterinya yang bisa menyebabkan suasana semakin runyam.


"Gak nyangka Pak Ardi bisa setenang itu nanggepin omongannya nyonya Rajasa." Cindy berkomentar setelah mereka berdua agak jauh dari sang tuan rumah.


"Alah omongan gak penting dari orang yang gak berpengaruh juga. Aku kan profesional, tahu yang mana omongan dan orang-orang yang layak mendapatkan attention-ku." Ardi menjawab dengan entengnya.


"Tapi tetep aja ngeselin pak dengerinnya. Emangnya bikin cucu itu segampang kaya bikin mie instan aja ya emang nya huuuuuh." Cindy mengerutu saat mereka mulai menjauh, terlihat masih sangat kesal.


"Iya heran sama emak-emak jaman sekarang. Mikirnya kesana mulu...Gak tahu apa kalau yang mau diajak bikin cucu malah kabur." Ardi menanggapi pasrah, sedikit curhat.


"Duh ngenes banget sih pak. Kayak bukan Lazuardi Pradana sang CEO Pradana Group yang ngomong." Cindy terkikik geli mendengar bosnya curhat dengan sedihnya.


"Asem banget emang ya," Ardi mendengus.


Cindy kali ini tak berani menggoda bosnya lagi. Bisa gawat ni kalau diterusin omongan gak menyenangkan kayak gini. Cindy mengarahkan Ardi ke bagian booth makanan ringan dan berbagai minuman di salah satu sudut ruangan.


Ingin sekedar mengalihkan perhatian serta mengembalikan mood Ardi menjadi lebih baik. Setelah lama menjadi sekretaris Ardi tentunya Cindy sudah hapal benar sifat dan peragai atasannya itu. Ardi memang bukan tipe emosian tetapi kalau sudah bad mood dia kadang bisa menjadi sedikit gila. Hal yang harus dihindari kalau mengingat tujuan mereka malam ini, cari duit.


Ardi dan Cindy mengambil beberapa makanan dan minuman sebelum akhirnya minggir ke dekat balkon untuk sedikit mencari angin segar dan menikmati hidangan mereka. Ardi dengan lontong kikil plus sate ayamnya sementara Cindy cuma mengambil bakso.


Setelah puas mengisi perut mereka Ardi mengajak Cindy untuk berbaur dan mencari para target operasi mereka. Para eksekutif-eksekutif muda serta para CEO perusahaan besar yang memiliki hubungan cukup dekat dengan Ardi. Entah mengapa Ardi lebih suka untuk berbisnis dan berinvestasi dengan para generasi muda. Menurutnya para generasi muda lebih terbuka pikirannya dan berani mengambil resiko daripada para generasi tua yang kebanyakan yang main aman.

__ADS_1


~∆∆∆~


🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼


__ADS_2