Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
Extra ~ Honeymoon (2)


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makan malam mereka, Ella dan Ardi kembali ke kamar mereka di sayap kiri hotel. Karena masih merasa kekenyangan keduanya memutuskan untuk duduk-duduk di sofa ruang tengah sambil menonton televisi. Pintu balkon sengaja dibiarkan terbuka, membiarkan angin laut dimalam hari masuk dan memainkan gorden jendela.


Ella meletakkan kepalanya pangkuan Ardi dan menselonjorkan kakinya di sofa. Ingin bermanja-manja kepada suaminya itu. Mumpung suasana sedang romantis dan anget-angetnya begini, pengantin baru.


Ardi senang dengan tingkah manja Ella. Jarang-jarang sih Ella begini, udah mulai gak malu-malu lagi sepertinya. Sudah mulai menghayati peran sebagai istri yang baik. Makin menggemaskan saja.


Ardi membelai rambut Ella yang mulai memanjang dan kembali model lurus kali ini. Tidak lagi Curly.


"Jangan dipendekin lagi ya rambutnya, honey." pinta Ardi pada istrinya itu.


"Emang kenapa? Ribet tau ngurusnya," jawab Ella.


"Gak boleh. Pokoknya harus panjang, biar enak dielus kayak gini. Dicium-cium baunya yang wangi juga." Ardi mengambil beberapa jumput rambut Ella dan menciumnya, menikmati aroma wanginya.


Jelas masih wangi banget gara-gara perawatan Timung sebelum acara pernikahan kemarin. Wanginya masih awet bahkan untuk seminggu kata salonnya. Bahkan aroma wangi itu belum pudar setelah beberapa kali dikeramasin.


"Aku malah kepikiran mau dipotong pendek lagi."


"Kenapa? Gak boleh pokoknya," protes Ardi.


"Karena siapa coba?...Jadi sering keramas soalnya. Jadi rontok kalau kepanjangan rambutnya." Ella mengemukakan alasan logisnya.


Ella sedikit memalingkan wajahnya dari pandangan Ardi, malu rasanya untuk membahas soal 'keramas'.


"Gak boleh! Gak ada alasan. Nanti kamu minta Laras panggil hair salon kenamaan ke rumah. Buat rawat rambut kamu setiap hari juga bisa. Tapi gak boleh dipotong." Ardi bersikeras. Buat bikin rambut Ella panjang dan wangi tiap hari, keluar duit dikit sama sekali gak masalah baginya.


"Lho ini kan rambutku sendiri, suka-suka aku donk," protes Ella.


"Enak aja! Rambutku ini..." jawab Ardi tak mau kalah sambil menciumi rambut Ella lebih banyak lagi.


"Dasar..." Ella hanya bisa menghela napas panjang menghadapi tingkah suaminya itu.


Apa-apaan coba Ardi ini? Rambut Ella dibilang miliknya? Aset juga miliknya? Suluruh tubuh Ella dianggap miliknya semua donk?


"Oiya aku belum punya panggilan sayang dari kamu lho." Ardi mengatakan sesuatu yang mengganjal hatinya. Dia ingin punya panggilan khusus dari Ella.


"Kan udah aku panggil mas Ardi? Sayang juga sering."


"Gak mau. Aku mau yang lain, kalau mas atau sayang udah pasaran. Banyak yang nyamain."


"Terus mas Ardi panggil aku apa?"


"Honey!" jawab Ardi mantap.


"Itu juga sama aja kali, kaya sebelumnya."


"Gak pa-pa, udah nyaman panggil kamu honey."


"Yaudah, kalau gitu temennya honey apa? Bunny? Sweetie? Little monkey?" tanya Ella cekikikan.


"Masa suami sendiri dibilang monkey si, tega kamu."


"Habisnya mas Ardi juga seenaknya panggil honey."

__ADS_1


"Kan bagus honey, karena kamu manis banget kayak madu." Sekali lagi Ardi mengatakannya dengan nada dan wajah coolnya. Sementara Ella yang dikatai begitu saja sudah memanas wajahnya.


"Hubby...kamu panggil aku hubby aja." Ardi memutuskan akhirnya.


"Suamiku...hubby...Geli ah," tolak Ella.


Bayangkan saja gimana malunya harus panggil kayak gitu di depan banyak orang. Ella tidak seperti Ardi yang bisa memasang muka tebal dan bodoh amat setelah memanggil dirinya honey di depan banyak orang.


"Udah nurut aja...Ayo coba latihan!" keputusan Ardi tak bisa diganggu gugat lagi. Sultan sudah berkehendak.


"Hu...hubby...hahahha geli asli..." Ella tertawa tak tertahankan.


"Belum kebiasaan aja. Nanti juga biasa saja. Ayo panggil aku tiga kali"


"Hubby...hubby...hubby...Udah, aku dapat apa?"


"Good job, honey... Dapat ini," Ardi mencondongkan badannya dan mencium bibir Ella yang masih ada di pangkuannya. Sebuah kecupan ringan saja namun manis rasanya.


"Dasar, untung di kamu..."


"Hahaha nggak lah sama-sama untung kalau udah halal gini. Sama-sama dapat pahala." ujar Ardi sok bijak. Ella hanya membalas dengan cibiran manyun.


Pembicaraan mereka berhenti saat Ardi menyadari ponselnya bergetar dan berkedip-kedip. Sepertinya sebuah panggilan masuk. Memang ponsel Ardi sedang dalam mode silent, biar gak berisik dan gangguin suasana mesranya dengan Ella.


Tapi saat Ardi hendak mengambil ponsel itu panggilan sudah berakhir. Ardi mengambil ponselnya dan baru disadarinya ada banyak sekali missed calls disana. Memang sejak tadi Ardi meninggalkan ponselnya di kamar, agar tidak mengganggu suasana candle light dinner mereka.


Missed calls dari Bambang, Irza, Tyo, Mahes dan Linggar sekaligus. Ada apa? Apa sedang ada sesuatu yang gawat? Mau tak mau Ardi jadi kepikiran juga.


"Kenapa hubby?" Ella bertanya khawatir.


"Kenapa ya?" Ella bangkit dari rebahanya di paha Ardi. Sadar benar Ardi sedang dalam mode serius saat ini.


"Halo pak Ardi, syukurlah bapak akhirnya menjawab." Bambang menerima panggilan Ardi.


"Kenapa Mbang?" tanya Ardi. Pria itu bangkit dari duduknya di sofa. Berjalan sedikit menjauh dari Ella, ke arah balkon. Sekalian cari udara segar.


"Gawat pak, nilai saham kita hari ini anjlok parah. Kemarin memang sempat turun karena kasus dengan pak Gengen. Tapi kali lebih parah lagi..."


"Kok bisa?" Ardi kebingungan, masa baru ditinggal sehari aja perusahaan sudah sekacau ini?


"Wismail group goncang pak," jawab Bambang.


"Wismail? Bagaimana bisa? Irza gimana sekarang?"


"Saya kurang tahu, pak. Tapi sebentar lagi ada zoom meeting para pemegang saham Pradana bisnis park. Pak Ardi join ya, saya bingung kalau harus mewakili."


"Zoom meeting? Jam berapa?" desak Ardi.


"Lima menit lagi."


"Ok, kirim link nya."


Ardi langsung masuk kembali ke dalam ruangan. Mengambil tab-nya di meja sofa di hadapan Ella. Ardi seolah tidak melihat ada Ella disana, pikirannya saat ini sepenuhnya teralihkan oleh keadaan perusahaan yang sedang kritis.

__ADS_1


Ardi langsung membuka link zoom yang di-share Bambang padanya lewat tab. Mengambil duduk di salah satu kursi meja makan, meletakkan tab-nya di meja dan mengikuti zoom meeting yang segera dimulai dengan wajah sangat serius.


Ella diam saja tanpa berani berbicara, bertanya atau berkomentar. Hanya bisa memperhatikan gelagat suaminya itu dengan penasaran. Sepertinya Ardi sedang sangat serius saat ini. Pasti sedang ada sesuatu yang gawat dan mendesak dengan perusahaan mereka. Tapi apa? Bukannya Pradana adalah perusahaan besar yang stabil?


Ella melanjutkan kegiatan rebahan di sofa saja sambil terus mengamati Ardi di meja makan. Ella sudah sangat gelisah, serong kanan, serong kiri, duduk bersila, mendongakkan kepala dan akhirnya rebahan lagi di sofa menunggu Ardi menyelesaikan urusannya.


Urusan mereka sendiri gimana terus jadinya? Urusan yang tadi dibicarain waktu makan malam? Urusan bikin baby boy? Gak jadi donk?


'Aaarrrhhhh mikir apaan si? Kok malah dirinya jadi ikutan mesum begini,' Ella panik sendiri jadinya.


Setelah menunggu selama setengah jam mau tak mau Ella menguap juga jadinya. Ngantuk.


"Mas? Mas Ardi?" Sapa Ella memunculkan kepalanya dari sandaran sofa. Ardi diam saja tak menjawab, kelihatannya masih belum selesai urusannya.


"Hubby..." Ella bangkit dari sofa, menghampiri Ardi.


"Eh, iya honey?" Ardi mengalihkan pandangan dari layar tab-nya sejenak. Menekan tombol mute pada layarnya.


"Masih lama ya, hubby?" tanya Ella dengan nada yang sedikit manja dan merayu suaminya itu.


"Sorry honey, sedang ada rapat pemegang saham dadakan. Masih belum selesai." Ardi berdiri dari duduknya, menghampiri Ella dan mencium ringan kening istrinya itu sebagai permintaan maaf.


"Kamu ke kamar duluan deh, nanti aku nyusul."


"Aku tungguin mas Ardi di sofa saja." Ella akhirnya mengalah untuk tidak menggangu Ardi dan kembali rebahan di sofa. Bermain dengan ponselnya sambil menonton televisi. Sampai akhirnya ngantuk sendiri dan ketiduran di sofa itu.


Begitu menyelesaikan zoom meeting-nya, Ardi menyadari waktu sudah lewat tengah malam. Pembicaraan cukup alot tadi karena menyangkut kepercayaan dan jumlah uang yang tidak sedikit. Ardi mematikan tab-nya dan beranjak ke sofa untuk mendatangai Ella.


Ardi hanya bisa mendengus dan tersenyum pasrah saat mendapati Ella yang sudah ketiduran disana. Merasa bersalah karena lagi-lagi malam romantis mereka gagal karena dirinya.


"Maaf honey. Kamu kelamaan nungguin aku ya?" Ujarnya sambil memandangi wajah tidur Ella yang sangat menggemaskan. Bikin tambah cinta saja.


Ardi perlahan mengangkat tubuh Ella dari sofa itu dan memindahkannya ke ranjang di kamar. Kemudian menyelimuti tubuh istrinya itu dengan bed cover.


"Good nite honey," ujarnya sambil mengecup lembut kening istrinya dan mengelus kepalanya perlahan. Kemudian Ardi meninggalkan Ella dan keluar ke balkon kamar, untuk menelpon seseorang.


Ella sebenarnya sudah terbangun sejak Ardi mengangkat tubuhnya dari sofa tadi. Goncangan tiba-tiba di tubuhnya tentu saja mengusik dan membangunkan Ella dari tidurnya. Tapi dia sengaja tidak membuka matanya, berpura-pura tidur.


Maksud hati, Ella akan bangun kalau Ardi sudah naik ke ranjang di sebelahnya. Lalu kemudian Ella akan memeluk tubuh suaminya itu... kemudian ngapain? kemudian mereka akan...


Duh mikir kemana aja sih...


Dan ternyata segala dugaan Ella salah, Ardi tidak naik ke atas ranjang dan menemaninya tidur. Suaminya itu malah memilih menelpon seseorang, ke balkon biar tidak menggangu tidur Ella. Nelpon siapa coba?


Ella menanti Ardi menyelesaikan panggilannya dalam kegalauan tingkat dewa. Jadi gak si? Lama, lama sekali Ardi diluar sana dan terus menelpon.


Sampai akhirnya Ella sudah tak kuat lagi menanti, ketiduran beneran dengan nyenyaknya. Gagal lagi deh rencana mereka. Apes.


Ella baru terbangun keesokan harinya. Dengan Ardi sudah tidur disisinya di atas ranjang.


"Good morning, hubby." bisik Ella sambil memberi kecupan ringan di pipi Ardi. Kemudian beranjak dari ranjang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


~∆∆∆~

__ADS_1


🌹Malam romantis gagal lagi. Sabar bang🌹


Like, Komen dan vote-nya jangan lupa (malak🤭)


__ADS_2