
"Bagaimana jika aku tetap belum bisa menerima kamu sebagai pendamping Ardi?" Kartika bertanya. Dirinya ingin mengetahui bagaimana keseriusan Ella, gadis di depannya itu pada Ardi, putranya. Apa yang sekiranya akan dilakukan gadis itu? Apakah gadis ini akan berubah pikiran? Apa Ella akan memilih Ardi atau profesinya?
"Saya akan menyerah..." ujar Ella. Ucapan gadis itu terdengar begitu sedih, pilu dan merana. Gadis yang sejak tadi menatapnya dengan berani itu perlahan menundukkan kepalanya lagi, menggigit bibirnya erat-erat. Seperti berusaha keras untuk menahan tangisannya yang akan meledak dan mengalir deras dari kedua matanya.
"Katanya kamu mencintai Ardi? Tapi kenapa kok bisa-bisanya kamu melepaskan Ardi semudah itu?" Kartika semakin penasaran dengan jawaban Ella. Kenapa gadis ini malah memilih mundur dan menyerah? Padahal dia sudah memenangkan hati putranya. Dan Ardi yang sudah mencintai gadis ini pun pasti tak akan mau semudah itu untuk melepaskan Ella pergi begitu saja. Apalagi Ardi tak pernah berhubungan seserius ini dengan wanita manapun sebelumnya.
"Saya memang mencitai mas Ardi. Sangat mencintainya. Karena itu saya tidak akan sanggup menjadi alasan bagi mas Ardi menentang orang tuanya, menentang seluruh keluarganya, terutama ibunya sendiri. Saya tidak bisa merebut seorang putra dari ibunya sendiri. Dan saya juga tidak sanggup untuk menjadikan mas Ardi sebagai anak yang durhaka kepada ibunya...Lebih baik saya yang mundur saja."
Ella terdengar cukup tegar dan tenang untuk mengucapkan kalimat-kalimat itu padahal aslinya hatinya terasa sudah hancur lebur, dan remuk berkeping-keping. Tapi mau bagaimana lagi? Memang sejak awal hubungan mereka sudah mengalami titik buntu saat dihadapkan dengan restu orang tua Ardi. Hubungannya dengan Ardi memang sudah mentok dan tidak dapat menemukan jalan tengah. Satu-satunya jalan adalah dengan mendapatkan restu dari mama Ardi. Dan jika restu itu tidak bisa mereka dapatkan, sama saja artinya dengan game over.
Kalau sudah begitu, apa yang bisa dilakukan Ella? Segala pikiran rasional dan akal sehat pasti akan mengarah kepada keputusan itu. Semua tak bisa dihindari lagi. Jika memaksa meneruskan pun hanya akan mendapatkan ketidak pastian dan rasa sakit yang lebih dalam lagi tentunya.
Kartika terdiam demi mendengar jawaban Ella. Sedikit tersentuh juga akan begitu besarnya cinta gadis itu pada putranya. Sampai-sampai Ella rela untuk melepaskan Ardi, melepaskan cintanya. Agar putranya itu tidak lagi menentang orang tuanya dan keluarganya. Agar putranya tidak menjadi anak durhaka dan tidak berbakti pada orang tua hanya karena dibutakan oleh cinta.
"Saya cuma minta tolong satu hal, Nyonya. Setelah perpisahan kami mungkin nyonya dapat menjodohkan mas Ardi. Tolong carikan dia wanita yang baik. Sehingga dia dapat berbahagia bersamanya membentuk keluarga dan memberikan keturunan untuk keluarga Pradana." Ella mengajukan sebuah permintaan. Jika memang dirinya tak bisa bersama Ardi, paling tidak Ardi harus dapat hidup berbahagia bersama wanita lain yang mungkin lebih baik darinya.
"Baiklah. Tapi kurasa Ardi tak akan semudah itu mundur dan menyerah akan hubunganya denganmu, meskipun aku yang memintanya ...Harus kamu sendiri yang mengatakan padanya untuk mengakhiri hubungan kalian." Kartika juga meminta satu hal kepada Ella. Dia berharap Ardi, putranya itu akan mau menyerah kalau Ella sendiri yang membuangnya, mencampakkannya. Hingga selanjutnya putranya itu dapat bangkit kembali dan menerima gadis lain yang lebih layak untuk menjadi pendamping hidupnya.
"Akan saya lakukan. Sepulang Mas Ardi dari Singapore saya akan menemuinya." Ella memberikan kesanggupannya pada Kartika. "Akan saya pastikan kami tidak akan berhubungan lagi setelah itu."
"Baiklah aku rasa pembicaraan kita sudah cukup. Semoga kamu juga dapat berbahagia nantinya dengan cinta yang baru." Kartika mengakhiri pembicaraannya dengan Ella.
"Terima kasih nyonya Kartika Pradana." Ella mengangguk memberikan pernghormatan sopan kepada wanita itu.
Kartika kemudian berlalu dari duduknya, menghampiri chair set tempat Linggar dan Mahes duduk. Dia mengajak Linggar, putranya bungsunya itu untuk pergi dari restoran. Tidak jadi makan siang, mungkin selera makannya sudah hilang karena pembicaraannya dengan Ella tadi.
Sementara itu Ella masih saja duduk lemas di kurisnya. Dengan air matanya yang tiba-tiba saja mengalir deras tanpa bisa tertahakan lagi. Dadanya terasa begitu sesak. Kepalanya tersa begitu penuh dengan berbagai pikiran. Pertahanan yang sejak tadi dilancarkannya agar terlihat tegar dan berani di hadapan Kartika Pradana pun akhirnya jebol juga. Seiring dengan kepergian wanita paruh baya itu, air mata Ella meleleh dan mengalir deras begitu saja tak terbendung lagi.
Mahes menghampiri Ella dengan khawatir. Sejak tadi dirinya sudah memperhatikan Ella saat berbicara dengan Kartika Pradana. Ella tampak begitu tegar dan kuat dihadapan ibu dari kekasihnya itu tadi. Rupanya sejak tadi Ella sudah menahan seluruh emosinya. Gadis itu sebenarnya tak sekuat dan setegar itu.
Mahes mengambil duduk di kursi sebelah Ella, disodorkannya sekotak tisue kepada gadis itu. Kemudian Mahes diam saja, tidak berbicara ataupun bertanya apapun pada Ella. Dia hanya bisa memandangi gadis itu, menunggu sampai Ella puas menangis dan sedikit lega perasaannya.
Entah mengapa Mahes menjadi tak tega juga melihat Ella seperti itu. Melihat gadis itu diperlukukan begitu oleh keluarganya sendiri. Ada sedikit rasa tidak nyaman pula yang ngusik hatinya. Salah apa sebenarnya Ella? Apakah salah kalau dia berasal dari keluarga biasa saja? Apakah salah kalau Ella menerima cinta Ardi? Apakah salah kalau keduanya saling mencintai?
Mahes benar-benar kesal dan tak berdaya melihat kejadian di depannya ini. Kesal pada dirinya sendiri yang tak bisa membantu Ella. Kesal pada Ardi, kesal juga pada Budhe Kartika. Dia tahu Ardi tak sepenuhnya bersalah dalam kejadian ini. Tapi tetap saja, seharusnya Ardi bisa melindungi gadisnya ini. Bukan membiarkannya menangis kayak gini.
Diambilnya poselnya dan dihubunginya Ardi melalui pesan singkat di ponselnya.
Maheswara
__ADS_1
Hei brengsek. Cepet pulang atau kurebut Ella, gadismu ini dengan paksa.
Lazuardi
Hah? Kamu sudah gila?
Maheswara
Kamu yang gila, ninggalin dia sendirian terlalu lama. Budhe Kartika barusan nemuin Ella.
Lazuardi
Apa? Mama?... Ok, Besok aku pulang. Ambil 1st flight.
Bro, tolong bantu aku jagain Ella dulu sekarang.
Maheswara
Ok. Tapi Jangan salahkan kalau aku khilaf.
Lazuardi
Maheswara
Damn you!
She's too precious to cry.
Lazuardi
She's cry?
Fvck Off!!
Mahes sedikit lega melihat jawaban Ardi. Paling tidak sepupunya itu harus tahu dan bertindak. Sudah tak bisa ditunda lagi, mereka berdua harus menyelesaikan segera pembicaraan tentang hubungan mereka. Harus dilanjutkan ataukah diakhiri saja sampai disini. Jangan lagi menunda dan menyebabkan luka yang lebih parah lagi.
"El? Aku anterin kamu pulang ya?" Mahes menawarkan diri saat Ella sudah sedikit lebih tenang dan tangisnya sedikit mereda.
"Gak usah, mas. Aku bisa pulang sendiri. Lagian aku bawa mobil tadi," tolak Ella masih berusaha untuk menyeka air matanya yang terus mengalir tanpa henti.
__ADS_1
"Gampang. Nanti aku bisa suruh orang buat anter mobilmu ke rumahmu." Mahes tetap memaksa karena menurutnya Ella sedang dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk menyetir sendiri. Terlalu labil dan emosional, terlalu berbahaya dan beresiko baginya. "Yuk aku anterin pulang. Aku janji nanti mobilmu akan diantarkan ke rumahmu dengan selamat."
Mahes membantu Ella beranjak dari kursinya, membawanya berjalan ke parkiran dan memasuki mobil fortuner putihnya. Didudukkannya Ella di kursi sebelah driver sebelum dirinya sendiri masuk dan melajukan mobilnya meninggalkan restoran sushi toi itu.
"Rumahmu daerah mana, El?"
"Ketintung Wiyata."
"Ok, Aku tahu daerah itu. Berarti putar balik di Giant dan masuk jalan sebelum Royel Plaza kan ya?" Mahes memastikan tujuan mereka.
"Iya, benar sekali."
"El, Boleh tahu apa yang kalian bicarakan tadi?" Mahes bertanya, dia tak dapat menyembunyikan rasa penasarannya. Pembicaraan apa yang telah mereka lakukan sampai bisa membuat Ella sesedih itu. Sampai bisa membuatnya menangis seperti itu, dan Kartika Pradana pun sepertinya juga sedikit terpukul sampai nafsu makan siangnya pun hilang.
"Nyonya Kartika, beliau bilang bahwa masih belum bisa merestui hubungan kami." Ella menjawab dan seketika air matanya kembali mengalir dengan deras. Mahes segera memberikan tisue mobilnya untuk gadis itu.
"Kenapa begitu?"
"Bisa ditebak kan, mas. Karena aku bukan dari kalangan kalian. Dan aku tak bisa memenuhi permintaan mereka..."
"Permintaan? Permintaan macam apa?"
"Mereka ingin aku melepaskan profesiku. Mereka memintaku untuk menjadi ibu rumah tangga murni yang mensuport suami." Ella menceritakan permintaan orang tua Ardi yang tak dapat dipenuhinya.
"What? Gila aja! Dikira jadi dokter itu gampang apa? Enak aja main suruh lepas." Mahes juga merasa kesal mendengar permintaan orang tua Ardi yang terdengan konyol baginya. Kenapa harus melepas profesi coba? Kan bisa aja bikinkan Ella praktekan pribadi di rumahnya nanti setelah Ardi dan Ella menikah. Dengan begitu Ella akan bisa tetap bekerja sekaligus menjaga rumah. Mengurusi suami dan anak-anaknya serta rumah tanganya kelak.
Jangan ijinkan dia untuk kerja diluar rumah, di klinik atau di rumah sakit. It's Ok, tapi jangan suruh seorang dokter untuk tidak melakukan praktek sama sekali atau membuang profesinya. Itu sama saja dengan mematahkan sayap dari seekor burung. Bagaimana burung itu bisa menjalani kehidupannya selanjutnya?
Pekerjaan sebagai dokter itu sebenarnya sangat fleksible dan bisa dilakukan di mana saja. Jangan hanya dianalogikan dengan pekerjaan di Rumah sakit yang memang padat sift jaganya. Jaman sekarang banyak pekerjaan yang bisa dilakukan sambil di rumah dan menjalankan fungsi dan kodratnya sebagai isteri.
"Aku tentu saja tidak bisa melepaskan profesi ini, mas. Sebagai teman sejawat pasti mas Mahes mengerti alasanku kan."
"Tentu, tentu saja aku tahu betul. Lalu bagaimana selanjutnya?"
"Aku memilih untuk menyerah saja...Aku akan melepaskan Mas Ardi. Mungkin itu jalan yang terbaik bagi kami berdua." Ella mengakhiri ceritanya, sibuk menyeka air matanya dan seperti tidak berniat untuk melanjutkan pembicaraan lagi.
Mahes hanya bisa melirik Ella dari kaca spion dengan rasa iba dan prihatin. Apa benar kalian akan bahagia setelah ini? Dia tahu benar sebesar apa cinta Ardi dan Ella, keduanya benar-benar tulus. Nothing wrong dengan hubungan mereka, tak ada masalah berarti diantara mereka. Hanya kondisi runyam tentang latar belakang keluarga dan status kesultanan semata yang membuat mereka terjebak. Keadaan yang memaksa mereka untuk berpisah, membuat mereka tak dapat hidup bersama.
~∆∆∆~
__ADS_1
🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼