
Akhirnya tiba juga hari dimana kelulusan Ella sudah dapat dipastikan. Pihak akademik kampusnya sudah memastikan namanya masuk dalam daftar peserta penyumpahan untuk putaran berikutnya.
Semua nilai yang dibutuhkan untuk melengkapi ijazahnya sudah didapatkan semua. Sekarang hanya tinggal mengurusi segala persyaratan kelulusan berupa dokumen-dokumen dan administrasi sebelum akhirnya dirinya mengikuti prosesi yudisium dan penyumpahan jabatan sebagai seorang dokter spesialis penyakit dalam.
Dan tentu saja nantinya dirinya juga masih harus melewati ujian kompetensi dokter spesialis penyakit dalam untuk mendapatkan STR-nya. Surat yang berfungsi untuk membuktikan bahwa dirinya merupakan dokter yang kompeten dan mampu dalam melaksanakan semua kegiatan praktek kedokteran spesialistik penyakit dalam.
Maka disinilah Ella siang ini, mengantri ke bagian akademik di Rektorat kantor pusat UNER. Antrian lumayan panjang karena kebetulan berbarengan juga dengan waktu pendaftaran untuk wisudah sarjana. Jadilah Ella bergabung dengan antrian para generasi muda itu. Para calon wisudawan yang berusia di awal-awal dua puluh tahunan. Para generasi muda calon penerus bangsa.
Ella hari ini sengaja keliling-keliling sendirian untuk mengurusi segala keperluan dan keruwetannya. Mulai dari urusan di bagian akademik kampus kedokterannya di kampus A. Pengurusan bebas tanggungan di perpustakaan pusat Universitas. Dan terakhir pengurusan dan pendaftaran ijazah di rektorat ini.
Roni tentunya tidak dapat menemani dan mengantarnya karena masih harus bertugas sebagai residen. Tidak seperti Ella yang sudah habis jadwal jaganya.
Saat tiba diantrian paling depan Ella langsung menyerahkan semua persyaratan yang diminta untuk pembuatan ijazah. Memberikan foto serta pengisian segala macam formulir serta pembayaran biaya juga. Setelah memastikan semua lengkap petugas administrasi memberikan bukti tanda terima kepada Ella. Bukti itulah yang selanjutnya harus diserahkan ke kampusnya sebagai syarat agar dapat mengikuti penyumpahan.
Setelah segala urusannya selesai Ella beranjak dari tempat antrian panjang itu. Berjalan dengan sedikit ribet sambil memasukkan kembali lembaran dokumen-dokumen kembali ke mapnya. Berjalan sambil menunduk menata dokumen-dokumen itu agar tidak hilang. Sampai-sampai Ella tidak memperhatikan keadaan jalanan yang dilaluinya.
Sialnya saat sampai di sebuah tikungan, ada seseorang yang sedang berjalan dengan langkah cepat dengan arah berlawanan juga. Tak dapat dihindari akhirnya Ella bertabrakan dengan seseorang itu dengan cukup keras.
Untuk sesaat tubuh Ella terasa terpental karena benturan tabrakan itu. Karena tubuh Ella kalah besar dari si penabraknya yang sepertinya seorang pria.
Selama beberapa detik rasanya tubuh Ella melayang di udara, nyaris jatuh terhempas ke lantai. Sampai sebuah tangan kuat dan kekar meraih, menarik serta memegangi sebelah tangannya, menahannya agar tidak jatuh.
Ella selamat dan tidak jadi jatuh tersungkur ke lantai. Tapi map dan dokumen yang daritadi dipegangnya sudah jatuh berhamburan di lantai dengan indahnya.
"Aduh yaampun! Dokumenku!" Ella panik demi menyadari keadaan dokumennya yang mengenaskan. Dirinya buru-buru melepaskan diri dari pegangan sang pria, menunduk, dan membungkuk untuk memunguti map dan dokumen-dokumennya yang berserakan di lantai.
"Maaf ya, kamu gak papa?" ujar seseorang sambil membantu memunguti kertas-kertas dokumen Ella di lantai, mengumpulkannya di tangannya..
Suara itu, Ella merasa seperti pernah mendengarnya. Tapi dimana? Setelah semua kertas dan mapnya diamankan semua dari lantai Ella perlahan berdiri dan mengangkat wajahnya. Dapat dilihatnya seorang pria muda dengan wajah tampan yang tersenyum ramah sambil menyodorkan beberapa lembar kertas Ella yang dipungutnya dari lantai.
Mata Ella sampai melebar, terbelalak melihat wajah pria yang ada di hadapannya itu. Wajah yang begitu tidak asing bagi Ella beberapa tahun yang lalu...Linggar? Linggarjati Pradana? Masa iya?
"Mbak Ella?!" Linggar duluan menyapa gadis di hadapannya. Gadis yang sangat cantik dengan dandanan sederhana lengkap dengan outfit resmi layaknya mahasiswi. Sapuan make up flawless minimalis juga semakin membuat cerah wajahnya.
Ini gila!! Gadis itu beneran mbak Ella! Bukan mimpi! Linggar jingkrak-jingkrak kegirangan dalam hatinya. Sepertinya Tuhan memang sedang berpihak padaku, Linggar semakin sumringah kegirangan.
__ADS_1
Bayangkan saja bagaimana bisa dirinya tiba-tiba bertabrakan dengan seorang gadis cantik di gedung rektorat Universitas. Dan gadis cantik yang ditabraknya itu ternyata adalah mbak Ella. Wanita yang memang sangat ingin ditemuinya.
Hari ini serasa benar-benar hari keberuntungan bagi Linggar. Pertemuan tidak terduga dengan Ella ini. Seakan semua adalah Takdir! Seakan Tuhan merestui dirinya untuk segera bertindak agar segera mempersatukan Ardi dan Ella. Destiny.
Untuk sesaat Ella tertegun demi melihat wajah pria dihadapannya. Wajah si bocah nakal tapi ganteng, yang ada dalam ingatan Ella tiga tahun lalu kini telah jauh berubah. Linggar telah tumbuh menjadi pria dewasa yang sangat tampan.
Dengan senyuman khasnya yang kharismatik, dengan wajah keturunan bulenya yang berkulit bersih. Bahkan postur tubuhnya juga banyak mengalami perkembangan. Lebih tinggi dan berisi dibandingkan yang dulu. Membuatnya semakin gagah dan keren saja.
Mau tak mau Ella jadi kepikiran juga, apa si Linggar ini masih play boy seperti dulu? Dengan modal tampang dan postur tubuhnya, ditambah dengan status kesultanannya. Pasti tidak sulit untuk menjadikan Linggar sebagai Play boy kelas kakap atau bahkan most wanted boy di kampusnya.
"Linggar?" Ella bertanya sekedar untuk meyakinkan bahwa dirinya tidak salah orang. Bahwa yang dihadapannya saat ini adalah benar-benar Linggarjati Pradana.
"Mbak Ella, aku kangen banget!" Linggar tiba-tiba saja memeluk tubuh Ella dengan sangat erat. Pria itu dengan cueknya tidak memperdulikan semua mata yang hadir disana memandang mereka.
Memandang dengan berbagai macam ekspresi dan asumsi. Berbisik-bisik bahkan banyak yang terang-terangan mengomentari kalau mereka berdua dianggap mesum, tak tahu malu di depan publik.
"Nggar, lepasin! Malu ni dilihat banyak orang." Ella memprotes tindakan Linggar padanya. Mencoba mendorong tubuh Linggar untuk menjauh dari tubuhnya, melepaskan pelukannya. Tapi tubuh Linggar sama sekali tak bergeming, Ella kalah telak soal perawakan dan kekuatan melawan pria itu.
"Hmmm..." Linggar akhirnya mau melepaskan tubuh Ella setelah puas berpelukan dan melepas rindunya.
"Bentar ya mbak, tungguin aku disini sebentar. Jangan kemana-mana. Jangan ngilang atau kabur. Bakal aku kejar kamu walau sampai keujung dunia kalau berani kabur!" Linggar memperingati Ella.
Mungkin dirinya tadi sudah mengantri dan melakukan pencatatan tapi ada yang ketinggalan atau kurang. Pantas saja tadi dia berjalan dengan sedikit buru-buru sampai menabrak Ella.
Tak lama kemudian Linggar kembali menghampiri Ella yang masih setia menunggunya. Entah mengapa Ella menurut saja untuk menunggui pria itu. Ella merasa tidak ingin pergi atau kabur meninggalkan Linggar. Ada rasa kangen juga yang merasuk di dadanya pada pria itu, pada Linggar yang dulu dianggapnya sebagi adiknya sendiri.
"Thanx for wait me, beautiful lady," Linggar menyapa Ella saat kembali menghampirinya.
"Haduh rayuan gombal playboy kelas kakap keluar ni. Mungkin kalau aku masih seusia kamu pasti udah klepek-klepek dengernya, Nggar." Ella tertawa geli mendengar rayuan gombal dari Linggar.
"Hahaha baru mbak Ella ini yang bisa menolak pesona dan rayuanku," Linggar ikutan tertawa.
"Mbak sorry banget lho ya tadi aku tabrak. Aku buru-buru tadi jalannya." Linggar meminta maaf dan mengakui kesalahannya.
"Gak pa-pa, aku juga salah tadi gak lihat jalan." Ella juga mengakui kesalahannya yang berjalan dengan sembrono tanpa melihat ke depan tadi.
__ADS_1
"Sebagai permintaan maaf aku traktir makan siang deh," Linggar menawarkan ajakan makan siang.
"Halah bilang aja kamu mau ngajak aku kencan," Ella kembali terkikik melihat tingkah Linggar yang terkesan sangat spontan.
"Waduh ketahuan deh, kapan lagi coba ketemu cewek cantik kayak mbak Ella." Linggar tetap tidak mau menyerah, "Urusan mbak di sini udah selesai kan? Langsung aja kita kencan yuk hehe."
"Emang kamu punya duit mau ngajakin aku kencan?" Ella balik menggoda Linggar. Entah mengapa dirinya tak ingin menolak tawaran makan siang ini. Ada rasa kangen pada sosok Linggar yang cerah ceria ini. Ella juga mendapatkan rasa nyaman dan menyenangkan untuk berada di samping Linggar.
"Wah ngejek ya? Tapi mbak Ella bener banget kok. Aku memang gak punya duit cash. Cuma punya kartu sakti hahaha." Linggar terang-terangan mengakui kalau kere.
"Kartu sakti yang bahkan lebih dari cukup buat beli satu restoran kan?" Ella ingat betul sesakti apa kartu milik Linggar itu. Platinum card milik keluarga Pradana yang unlimited.
"Yawes ayo mbak kita go, aku udah lapar banget. Aku udah ngemper dan ngantri seharian dari pagi disini." Linggar mengajak Ella.
"Oke, ayo deh. Aku juga udah lapar," Ella melirik jam tangannya yang memang sudah menunjukkan pukul satu siang lebih. Pantesan udah lapar aja.
Linggar menggandeng sebelah tangan Ella dengan tanpa dosanya. Seperti seorang anak kecil yang mengandeng tangan kakak perempuannya. Dan tentu saja Ella dapat merasakan hal itu sehingga dirinya tidak keberatan dengan perlakuan Linggar padanya, perlakuan adik kecilnya.
Mungkin mereka berdua merasa tidak ada apa-apa diantara mereka. Hanya murni sebagai kedekatan seorang kakak dan adik. Saudara yang lama tak berjumpa dan ingin saling melepaskan kerinduan. Tapi tetap saja siapapun yang melihat kedua pria dan wanita dewasa itu berjalan dan beriringan pasti akan berpikiran kemana-mana.
Bahkan mungkin ada yang mengira mereka adalah sepasang kekasih. Yah memang dari segi wajah dan penampilan Ella masih tergolong awet muda sehingga tidak terlalu kelihatan kalau dirinya sedang bersanding dengan brondong yang enam tahun lebih muda darinya. Mereka berdua masih terlihat sebagai pasangan yang serasi untuk bersanding bersama.
Linggar mengarahkan Ella ke parkiran mobil, menuju ke sebuah mobil Ferrari berwarna merah menyala. Buset dah si Linggar, memang doyan banget show off dia ya? Selera mobilnya juga yang terlihat sangat mencolok begini. Sangat berbeda dengan seseorang yang lebih suka untuk tampil sederhana dan kelihatan tidak mencolok...
"Hei cewek ganjen! Ngapain kamu gandengan tangan sama pacarku? Dasar pelakor jal*ang!" Seorang wanita muda tiba-tiba datang menghampiri Ella dan Linggar, berteriak-teriak penuh emosi. Sampai-sampai semua orang di kawasan parkiran melihat kearah mereka dengan penasaran.
Kaget! syok dan Speachless.
Itulah hal pertama yang dirasakan Ella saat wanita muda tadi memisahkan pegangan tautan tangannya pada tangan Linggar dengan kasarnya. Kejadian yang hampir sama persis seperti sering terjadi di drama-drama televisi tentang perselingkuhan atau tentang pelakor. Drama ku menangiiiiss...
Ella bengong tanpa sanggup bereaksi. Bisa-bisanya dirinya terjebak dalam drama asmara yang pelik ini. Ini pertama kalinya dalam hidupnya seseorang wanita lain melabraknya. Mengatai dirinya sebagai pelakor, perebut pacar orang. Siapa wanita itu? Pacar Linggar?...
"Linggar! Apa-apaan ini? Siapa tante-tante ganjen ini?" Wanita muda itu balik bertanya ke Linggar dengan emosi semakin memuncak.
Aduh beneran mampoos ini. Malah dibilang tante-tante lagi? Tante-tante perebut brondong? Parah banget gelar yang baru didapatkan Ella.
__ADS_1
~∆∆∆~
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. ðŸ¤ðŸŒ¼