
"Kita mau kemana mas?" Ella bertanya pada Ardi saat menyadari mobil mereka bahkan sudah hampir keluar kota Surabaya.
"Katanya kemarin penasaran sama perusahaanku? Penasaran sama aset dan hartaku? Kira-kira cukup gak buat modal nikah kita? Ayo kutunjukkan saja langsung." jawab Ardi.
"Duh gak sebegitunya juga kali." Ella kelabakan juga kalau diajakin ke bisnis park. Ngapain coba?
"Biar kamu tahu dan bisa bayangin bagaimana lingkungan kerjaku. Bagaimana aku bergaul dengan rekan kerjaku. Serta bagaimana aku cari duit untuk bisa nafkahin kamu nantinya," jawab Ardi.
"Kan dulu pernah liat yang di Genting. Aku udah lihat bagaimana cara kerja mas Ardi sebagai CEO."
"Yang di Genting gak ada apa-apanya, El. Bisa dibilang yang di Surabaya ini mengurusi semua perusahaan baik yang besar maupun kecil di Banyu Harum. Disini main office-nya sementara yang disana fokus sama proses produksinya saja."
Ella diam saja tak sanggup membayangkan. Bagi Ella perusahaan Ardi di Genting sudah cukup hebat malah dibilang gak ada apa-apanya. Kayak gimana lagi coba Bisnis Park yang acara launching pembukaannya sampai masuk TV segala itu.
Dan pertanyaan Ella segera terjawab beberapa saat kemudian saat mobil mereka memasuki kawasan Pradana Bussiness Park. Benar-benar mirip sebuah taman bisnis yang asri dan ramah lingkungan. Pepohonan rindang juga tertata rapi di sepanjang jalannya. Bahkan dari gerbang utama mereka langsung disambut oleh air mancur besar dalam sebuh taman yang ditata apik.
Ardi langsung memarkirkan mobilnya di gedung terdepan yang tepat menghadap taman air mancur. Deretan gedung di sayap kiri. Ella dapat melihat setidaknya ada tiga sampai empat gedung setinggi tiga atau empat lantai yang berjajar di sayap kiri dan sayap kanan kawasan ini.
Sementara di bagian tengahnya di desain seperti taman kota. Lengkap dengan bebungaan yang tertata apik, serta kolam lengkap dengan air mancur pula. Di kawasan itu juga terdapat sebuah hall besar yang bisa dipakai pesta outdoor jika ada acara. Untuk kesehariannya hall itu dipergunakan sebagai food cort dan rest area. Benar-benar kawasan kerja yang sehat, hijau dan nyaman untuk ditinggali.
"Ini beneran mas Ardi yang bikin?" Ella ternganga kagum melihat kemegahan, keindahan dan luasnya area bisnis park ini.
"Ya nggak lah, El. Emangnya aku bisa sulap? Aku cuma penggagas ide dan merealisasikannya dengan bantuan banyak sekali pihak lainnya."
"Yang diseberang sisi kanan air mancur itu adalah gedungnya Hartanto Farmacy. Jadi kamu kalau nyari aku disini, kalau nyari Mahes disitu." Ardi menunjuk gedung yang tepat berhadapan dengan gedung tempat mereka berdiri.
"Yuk masuk," Ardi menggandeng erat tangan Ella seakan ingin memberikan kekuatan dan semangat pada Ella. Sekaligus mengumumkan kepada semua karyawannya siapa gadis yang dibawanya itu.
"Tegakkan badanmu, pe-de aja meski nanti dilihatin. Senyumin saja yang melihat dan menyapa. Tunjukin pesonamu, dan buktikan kamu layak jadi pendampingku." Ucapan Ardi bukannya membantu Ella meredakan rasa nervous-nya. Malah semakin membuatnya grogi saja rasanya.
Ella menegakkan tubuhnya, mengembangkan senyuman indah di bibirnya. Berjalan dengan semakin merapatkan pegangannya pada sebelah lengan Ardi untuk mencari ketenangan. Mereka menyusuri dan melewati lantai satu dengan berbagai pasang mata memperhatikan mereka. Kemudian mereka ke lift dan Ardi menekan tombol ke lantai 3.
Lantai 3 lebih ramai lagi orang di dalam ruang kubilek-kubikelnya masing-masing. Dan begitu Ardi dan Ella lewat, hampir semua karyawan langsung berdiri dan memandangi mereka berdua dengan penasaran. Beberapa bahkan pura-pura lewat berpapasan dan menyapa mereka berdua. Ella hanya tersenyum menjawabnya seperti saran Ardi.
Ardi terus membawa Ella berjalan sampai ke ruangannya di ujung lantai 3. Bambang menyambut dan menyapa mereka tepat di depan ruangan Ardi.
"Selamat siang pak Ardi, bu Ella. Di dalam sudah menunggu anda pak Irza Wismail." Bambang menjelaskan tentang tamu VIP Ardi.
"Irza?" Ardi penasaran tapi terlihat senang juga.
Ardi langsung mengajak Ella memasuki ruangannya. Ruang kerja yang lumayan luas dengan desain minimalis modern yang didomasi oleh warna hitam dan putih. Ruangan terbagi menjadi beberapa bagian, living room untuk menerima tamu di sisi kiri, working room di sisi kanan tempat meja kerja Ardi dan tumpukan dokumennya. Serta di tengah ruangan terhubung dengan ruangan lain yang sepertinya kamar pribadi Ardi.
Di dalam ruangan sudah menunggu dua orang pria. Seorang pria yang sangat tampan dengan kulit putihnya mirip artis koreya. Pria itu memakai setelan jas yang terlihat mahal. Walaupun masih muda, pria itu mampu memberikan aura yang mengintimidasi dan berwibawa. Pasti dialah Irza Wismail. Sementara pria lainnya lebih terlihat seperti sekretaris pribadi Irza.
"Hallo bro Irza, lama bener baru nongol lagi." Ardi menghampiri dan menyapa Irza. Memberikan bro-hug kepadanya. Sementara pria satunya membungkuk sopan menyapa Ardi.
__ADS_1
"Sorry baru sempet kesini lagi sejak pembukaan." Irza menyambut sapaan Ardi.
"Oiya kenalin ini Ella, cewekku." Ardi mengenalkan Ella pada Irza.
"Irza Wismail," Irza menyodorkan sebelah tangannya untuk Ella. "Dan dia Gala asistenku,"
"Ella," Ella menyambut tangan Irza dan menjabatnya.
"Jadi ini Ella yang mampu bikin Ardi gagal move on selama tiga tahun? Memang gadis yang sangat cantik dan cerdas. Syukurlah kalian bisa bersatu kembali." Irza tersenyum ramah pada Ella.
"Irza ini calon kakak iparnya Johanh. Masih inget Johanh Astin kan?" Ardi menjelaskan pada Ella. Kemudian memberikan isyarat mempersilahkan mereka semua duduk si sofanya masing-masing.
"Oh Johanh yang itu...Kalau gak salah tunangannya bernama Kika ya?" Ella mengingat-ingat Johanh Astin yang dikenalnya saat konser Cold Play tiga tahun yang lalu.
"Iya benar, Kika wismail adalah adikku. Kika pasti senang ketemu kamu." Irza menjelaskan pada Ella.
"Waduh gawat ni. Kalau kamu sudah punya cewek, berarti tinggal aku doank ini yang jomblo." Irza menambahkan ucapannya, kali ini ditujukan untuk Ardi dengan memasang wajah bersedih.
"Kan ada Tyo dan Cecil. Jillia juga sepertinya masih kosong. Masih banyak kok lainnya yang lajang." Ardi mengingat-ingat nama-nama temannya sesama single. Yah bagaimana pun Irza memang biasanya berkumpul dengan Ardi yang sesama jomblo dan sepemikiran dengannya kalau sedang pesta. Mungkin Irza takut kehilangan teman pestanya.
"Kamu belum tahu? Tyo katanya lagi deket sama Rena." Irza memberikan suatu informasi yang sangat mengejutkan bagi Ardi.
"Rena? Renata Sudibyo?" Ardi bertanya dengan nada yang sulit diartikan. Dan Ella dapat menangkap ada sesuatu saat Ardi menyebutkan nama Rena.
"You right, Rena adalah masa lalu. Dan Ella adalah masa depan." Ardi menyetujui.
"Yaudah kalau gitu, aku kesini cuma mau menyapa saja. Mungkin mulai besok aku akan mengurusi perusahaanku untuk beberapa minggu kedepan."
"Iya, beresin semuanya sebelum kamu tinggalin lagi. Cuma Wismail aja, perusahaan founder yang belum beroperasi." Ardi mengingatkan, tak ingin temannya tertinggal dari yang lainnya atau bahkan mungkin mengalami kerugian.
"Santai saja. Bentar lagi juga kekejar dengan produk baru kami yang baru launching." Irza menjawab optimis. "Terima kasih sambutannya, aku pamit dulu." Irza beranjak dari duduknya, pamitan pergi meninggalkan ruangan kerja Ardi diikuti oleh Gala sekretarisnya.
"Siapa itu Renata?" Ella bertanya penasaran saat tinggal berduaan saja dengan Ardi.
"Mantanku," Ardi menjawab singkat tapi jujur.
"Oh...dia cantik ya?" Ella memang sudah dapat menduga Ardi ini bukanlah pria yang tidak pernah berhubungan dengan wanita lain sebelum dirinya. Tapi tetap saja rasanya tidak menyenangkan untuk mengetahui tentang mantan Ardi.
"Jelas aja cantik. Dia model internasional." Ardi menjelaskan. "Rena itu putri dari konglomerat Haritomo Sudibyo. Dia hebat banget, tipe cewek mandiri yang gak mau memanfaatkan segala status kesultanannya. Dia malah memilih dunia modeling yang disukainya. Dia bahkan menetap di Paris, meninggalkan keluarga dan segala miliknya untuk menekuni mimpi, ambisi dan dunianya."
"Oh, wanita hebat. Kenapa kalian putus?" Ella semakin menyelidik. Merasa tidak aman harus saingan dengan seorang model internasional. Bahkan dengan wanita yang diakui hebat oleh Ardi.
"Karena dia terlalu, egois, ambisius dan lebih mementingkan kariernya sendiri daripada hubungan kami," jawab Ardi sambil menerawang jauh.
"Berarti mas Ardi masih cinta sama dia?"
__ADS_1
"El...kamu ngomong apa si?" Ardi tidak senang dengan ucapan Ella kali ini. Ucapan yang seolah meragukan perasaanya pada gadis itu.
"Penasaran aja, kalian putusnya karena keadaan yang memaksa. Bukan karena ingin berpisah." Ella merasa ketakutan Ardi tidak bisa lepas dari bayangan Rena. Padahal kan dirinya dan Ardi baru saja memutuskan untuk kembali bersama. Bagaimana kalau Rena tiba-tiba muncul dan menghancurkan segalanya?
Ardi menyadari kegalauan dan keraguan Ella. Ardi mendekat pada Ella, meraih jemari gadis itu dan memandangnya lekat-lekat. "El, You might not be my first love. But You will be my last and eternal love."
(*El, kamu mungkin bukanlah cinta pertamaku. Tapi kamu akan menjadi cinta terakhir dan abadiku.)
"Renata atau wanita manapun lainnya tak akan ada yang bisa ngalahin posisi kamu di hatiku, El. You're still the one I want. The one that I love."
(Kamu satu-satunya yang kuinginkan. Satu-satunya yang aku cintai.)
"Bisakah aku pegang kata-katamu mas?" Ella kembali ingin memastikan.
"Tentu. Aku benar-benar serius sama kamu, El. Ayo kita temuin mamaku secepatnya. Kalian perlu bicara berdua, kamu selesaikan urusanmu dengan mama. Setelah itu aku akan ajak keluargaku, mama dan papaku buat melamarmu ke orang tuamu." Ardi menjelaskan rencananya pada Ella.
Ella terbelalak kaget. Tak mengira Ardi sudah seserius itu merencanakan kelanjutan hubungan mereka berdua. Jadi apa yang dikatakan oleh Ardi selama ini tentang menikah itu beneran serius? Bukan hanya bercanda dan main-main saja?
"Untuk membuktikan keseriusanku kali ini aku membawamu kesini. Akan kujelaskan tentang semua aset dan segala kepemilikan atas namaku." Ardi menekan interkom dan memanggil Bambang.
Tak lama kemudian Bambang masuk ke ruangan dengan menenteng tab-nya. Menyodorkannya pada Ardi. Menyodorkan data-data statistik sepertinya.
"Eh mas Ardi, coklat di mobil tadi kebanyakan buat aku. Suruh Bambang bagi-bagiin ke para staff aja." Ella memberikan sarannya.
"Kamu denger itu Mbang? Laksanakan perintah Ella. Kamu sisain juga beberapa buat Ella. Jangan dihabisin semua." Ardi memerintahkan Bambang.
"Baik, pak." Bambang menurut saja. Kemudian pamit undur diri dari ruangan.
"Nah begini nyonya Ardi Pradana, ini anggap saja satu lingkaran utuh ini adalah seluruh aset Pradana. Lingkaran penuh, 100% saham." Ardi menunjukkan diagram cakram di tabnya, Ella memperhatikan dengan serius penjelasan Ardi.
"Yang berwarna merah ini atas namaku, atas nama saja lho. Tapi masih ada hak Laras dan Linggar di dalamnya. Kemudian yang berwarna kuning ini adalah milik orang lain non keluarga inti. Bisa dibilang mereka adalah pemegang saham. Sementara yang berwarna biru ini murni milikku sendiri." Ardi menjelaskan dengan gamblangnya.
"Jadi meskipun aku CEO Pradana Group, semua aset Pradana bukan milikku sepenuhnya. Kepemilikanku hanya sekitar 20 persen saja. Aku lebih miskin dari dugaanmu?" Ardi mengakhiri penjelasannya.
"Tapi masih cukup kan buat modal nikah kita?" Ella yang kali ini menggoda Ardi. Tahu benar nilai saham Perusahaan Pradana ini berapa. Dan sekitar dua puluhan persen milik pribadi Ardi, ini jelas sudah luar biasa nilainya. Tak bisa dibayangkan berapa jumlah nominal realnya.
"Jadi kamu mau nikah model gimana juga akan kuturuti. Mau honeymoon keliling eropa atau amerika ya ayo aja." Ardi tersenyum senang menjawab pertanyaan Ella. Merasa bahagia akhirnya Ella mau juga membahas soal pernikahan mereka.
"Awas lho ya, aku bakalan minta yang aneh-aneh nanti yang bikin mas Ardi bangkrut." Ancam Ella.
"Boleh, siapa takut hehe."
~∆∆∆~
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼
__ADS_1