
"Bagaimana perusahaanmu? Om lihat kamu masuk TV beberapa minggu lalu." Bowo ingin mengetahui karakter Asli Tuan muda Pradana ini. Apakah tipe orang yang mementingkan harta diatas segalanya atau bukan. Tipe kebanyakan orang kaya.
"Oh itu acara pembukaan bisnis park kami..." Ardi menjawab, bingung akan maksud pertanyaan Bowo.
"Hebat bener ya, kamu masih muda sudah bisa membuat bisnis park semegah itu."
"Sebenarnya bukan hal yang luar biasa karena di wilayah lain sudah banyak kawasan industri seperti itu, Om. Cuma yang agak berbeda bisnis park kami hanya khusus untuk perkantoran dan pemasaran suatu perusahaan bukan untuk proses produksi. Karena lokasinya di perkotaan jadi harus minim polusi dan ramah lingkungan." Ardi menjelaskan konsep bisnis park gagasannya.
Kali ini Bowo dibuat kagum dengan jawaban Ardi yang terkesan sangat merendah. Sama sekali tidak terkesan adanya kesombongan dari ucapannya. "Bikin bisnis park kayak gitu pasti dananya gak main-main kan? Banyak bener uang kamu?" Bowo lanjut memancing, ingin melihat lebih jauh lagi karakter asli dari Tuan muda Pradana ini.
"Wah kalau masalah dana jujur saja saya tidak mampu kalau sendirian, Om. Tapi untungnya saya mempunyai teman-teman dan mitra kerja yang hebat dan solid. Yang mempunyai kesamaan misi dan idealisme bisnis. Kami akhirnya berkerja sama, menggalang dana bersama dan berjuang bersama pula mewujudkan impian kami." Ardi menjelaskan lagi tentang bagaimana dirinya mendapatkan dana. Yang sebagian besar dari investasi teman sultannya.
Penjelasan yang membuat Bowo tersenyum puas dalam hatinya. Sekali lagi Bowo dibuat kagum dengan sikap dan pembawaan Ardi yang terlihat tenang, cerdas dan matang dalam berbicara. Setiap ucapannya seperti telah dipikirkan baik-baik, sehingga memiliki makna, bukan asal ngomong saja. Menunjukkan betapa cepat otaknya berpikir.
Serta yang paling penting adalah pria ini terlihat sangat sopan, santun, dan penuh penghormatan kepadanya sebagai orang yang lebih tua. Sangat jauh dari sosok angkuh yang biasa ditunjukkan oleh seorang CEO perusahaan besar.
Bahkan lebih jauh Ardi juga tidak sombong, dia bahkan tidak meng-claim keberhasilannya mendirikan bisnis park sebagai kesuksesannya sendiri. Dia sangat menghargai bantuan dan kerjasama dengan teman-temannya. Tipe orang yang menghargai dan tahu cara berterima kasih pada orang lain. Tipe seorang pemimpin besar.
"Mobilmu itu porsche keluaran terbaru ya? Mobil seharga milyaran yang langka jumlahnya," Kali ini bowo melanjutkan interogasinya tentang mobil Ardi yang sepertinya baru. Memang hal yang lumrah untuk seorang konglomerat dan sultan mengkoleksi mobil mewah sebagai hobinya. Pemborosan uang yang tujuan utamanya hanya untuk kesenangan pribadi dan pamer belaka.
"Benar, Om. Porsche Cayman 718 2020." Ardi menejelaskan spesifikasi mobilnya. Semakin bingung dengan maksud pertanyaan pak Bowo yang tiba-tiba beralih dari perusahaan ke mobil. Apa papa Ella ini hobi otomotif juga? Atau hanya ingin menyelidiki tentang dirinya?
"Berapa kamu beli itu? Pesen khusus ya? Inden?"
"Saya tidak beli, Om. Kebetulan saya punya teman dekat seorang CEO dari perusahaan otomotif dan perakitan mobil mewah. Nicholas Marcus dari MarcusCo Group yang ikut mengambil bagian dalam bisnis park saya. Nick memberikan mobil itu sebagai uang sewa dan hadiah kerja sama kami." Ardi menjelaskan asal muasal mobil mewahnya.
"Oh MarcusCo perusahaan Amerika itu? Pantas saja." Bowo mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kalau saya pribadi, sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan dunia automotif. Dan saya juga tidak hobi mengoleksi mobil mewah. Selain porsche itu saya cuma punya satu mobil yang biasa saya pakai sehari-hari sebagai kendaraan. Mobil BMW tua yang sudah lebih dari tiga tahun usianya." Ardi melanjutkan penjelasan tentang mobil-mobilnya.
Bowo tercengang kali ini mendengar jawaban Ardi. Untuk ukuran orang sekaya Ardi Pradana tidaklah mengherankan untuk memiliki beberapa mobil mewah sekaligus. Bahkan Artis ibukota yang tak sekaya Ardi saja mobil mewahnya ada banyak. Tapi Ardi hanya memiliki satu mobil? Mobil BMW tua lagi? Yah meski bagi orang biasa mobil semewah BMW dan baru berusia tiga tahun itu sudah termasuk luar biasa hebat.
__ADS_1
Mau tak mau ada rasa kagum juga yang merasuki hati Bowo akan kesederhanaan Ardi. Sederhana dalam kadar seorang sultan tentunya. Memang tak bisa dibandingkan dengan kaum rakyat jelata seperti keluarganya. Ardi ini bukan hanya penampilan fisiknya saja yang terlihat sederhana dan tidak neko-neko. Tapi ternyata pria itu juga bukan tipe pamer dan hobi menghamburkan uang.
Bahkan lebih jauh sepertinya Ardi adalah orang yang dapat dipercaya dan dipegang ucapannya. Terbukti mitra bisnisnya saja sampai rela memberinya mobil mewah seharga milyaran sebagai hadiah kerjasama mereka. Seorang bisnisman yang hebat.
Bowo menimbang-nimbang semua karakter Ardi yang coba digalinya dari tadi. Yah anggap saja untuk ujian karakter dasar sebagai seorang pria, Ardi sudah lulus. Tinggal masalah hati dan perasaan...
Pembicaraan mereka terhenti sejenak saat Ella menghampiri mereka berdua ke ruang tamu. Ella menyuguhkan minuman serta cemilan ke atas meja di hadapan Ardi dan papanya. Kemudian gadis itu pamit undur diri, tak ingin mengganggu lebih lama pembicaraan serius antara kedua pria itu.
Padahal aslinya Ella sudah kepo banget dengan apa yang kira-kira nanti akan ditanyakan papanya ke Ardi. Penasaran apakah papanya mau menerima Ardi atau tidak sebagai pasangannya. Tapi Ella lebih memilih undur diri saja kembali ke ruang tengah, duduk menanti dengan harap-harap cemas bersama mamamya yang asik nonton TV.
"Ayo silahkan hidangannya. Diminum dulu nak Ardi," Bowo menawarkan suguhan di atas meja.
Ardi mengangguk sebagai jawaban. Langsung saja mengambil dan meneguk setengah gelas minuman dingin yang disediakan, membasahi tenggorokannya yang memang sudah terasa sangat keluh. Persiapan untuk melanjutkan interogasi dari papa Ella yang pasti bakal terus berlanjut lagi.
"Terus kamu hubungan sama Ella gimana?" Bowo mulai pertanyaan tentang hubungan mereka berdua.
"Maaf, Om. Kami berdua tidak ada hubungan apa-apa saat ini. Belum ada lebih tepatnya. Kami hanya kebetulan bertemu dan bertukar sapa." Ardi mencoba menjelaskan tentang hubungannya dengan Ella yang rumit saat ini.
"Bertukar sapa? Makan bersama dan berkencan?" Bowo semakin menyelidik. "Kamu tahu kan posisi Ella saat ini masih pacarnya Roni?"
"Iya, saya tahu betul akan hal itu... Karena itu pula saya tidak terang-terangan mengejar Ella. Saya masih setia menunggu keputusan Ella." Ardi menjawab dengan sedikit bimbang.
"Menunggu Ella bagaimana?"
"Saya akan menunggu Ella menyelesaikan masalahnya dengan Roni terlebih dahulu. Mereka harus menuntaskan urusan mereka baik-baik. Baru saya akan maju tanpa ragu lagi untuk mendapatkan Ella kembali." Ardi berharap papa Ella ini dapat memahami keputusan yang diambilnya.
"Yah memang sebaiknya seperti itu." Bowo mengangguk setuju. Bowo tak menyangka bahwa tuan muda ini dapat berpikiran begitu dewasa dan berkepala dingin dalam menghadapi Ella dan segala permasalahan percintaan mereka. Padahal jika mau dia tentunya bisa dengan mudah memaksa Ella untuk kembali kesisinya. Tapi Ardi malah lebih memilih untuk menunggu dengan sabar.
"Satu hal lagi yang perlu Om tanyakan padamu. Apa kamu mencintai Ella? Apa kamu serius dengannya?" Bowo akhirnya sampai pada inti pembicaraan mereka sore ini.
"Saya sangat mencintai Ella, Om. Baik tiga tahun yang lalu, sampai sekarang bahkan untuk tahun-tahun mendatang saya pasti akan terus mencintai Ella." Ardi menyatakan betapa besar rasa cintanya pada Ella. Rasa cinta yang membuatnya seolah kecanduan dan tidak bisa berpaling lagi.
__ADS_1
"Selanjutnya tentu saja saya juga sangat serius sama Ella, Om. Saya ingin melanjutkan hubungan yang lebih jauh dengan Ella. Saya tidak mau kehilangan Ella lagi." Ardi lanjut menjawab semantap mungkin, ingin menunjukkan keseriusan dan kesungguhannya pada papa Ella.
Bowo kembali mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang sudah terlihat jelas bagaimana perasaan Ardi pada Ella. Pria sekelas Ardi pradana dapat dengan mudah mempersunting wanita cantik manapun. Wanita kaya dan bangsawan pun tak akan ada yang menolak dirinya.
Kenapa Ardi harus bersusah payah menanti dan mengharapkan untuk kembali pada putrinya selama tiga tahun ini? Sudah jelas karena dia hanya mencintai Ella. Hanya ada Ella yang bersemayam di hatinya.
"Sama seperti yang pernah om bilang dulu padamu, om tidak suka Ella berjalan berduaan, kesana-kemari, luntang-luntung dengan laki-laki tanpa status yang jelas. Om hanya ingin Ella dapat bersanding dengan pria yang berani menjadikannya sebagai pasangan sah-nya." Bowo kembali mengutarakan keinginannya sebagai seorang ayah.
"Saya sanggup, Om...Saya bersedia..." Ardi langsung menyanggupi tanpa pikir panjang lagi. Kesempatan sekali seumur hidup ini, harus segera diraih tanpa ditunda-tunda lagi.
"Kamu sudah menyelesaikan masalah dengan keluargamu? Kamu sudah bisa melangkah maju? Bagaimana dengan restu dari keluargamu?" Bowo kembali menanyakan masalah yang dulu pernah membuat hubungan Ardi dan Ella tidak bisa maju dan terus saja jalan di tempat.
"Sudah, Om. Masalah restu dari keluarga saya sudah beres semua. Tak akan ada yang keberatan lagi dengan hubungan kami. Bahkan mama saya yang dulunya menentang sekarang sangat mendukung saya untuk segera bersatu dengan Ella. Beliau sangat menginginkan Ella untuk menjadi menantunya." Ardi menjelaskan tentang restu yang sudah diberikan oleh seluruh keluarganya.
"Tapi tetap saja rasanya tidak tenang bagi kami untuk melepaskan anak gadis kami kepada keluarga kalian, yang seolah tak terjangkau oleh kami. Keluarga kalian yang bagaikan penghuni langit sementara kami hanya rakyat jelata penghuni bumi." Bowo menjelaskan keraguannya untuk menyerahkan Ella pada keluarga Pradana yang sekelas sultan.
"Om Bowo tak perlu khawatir masalah itu. Keluarga kami sama sekali tidak perduli tentang harta, tahta, status dan jabatan seseorang. Kami juga tak akan membeda-bedakan perlakuan kepada setiap orang berdasarkan kekayaannya. Kami lebih menghargai seseorang berdasarkan sifat dan hatinya." Ardi mencoba menjelaskan tentang prinsip yang dianut oleh keluarganya sejak dahulu.
"Apa kamu bisa membahagiakan Ella? Apa kamu bisa berjanji tidak membuat Ella bersedih dan menangis lagi? Menjaganya dari segala hal yang mungkin dapat menyakiti dan membuatnya bersedih?" Bowo meminta kesanggupan dari Ardi.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin, Om. Tentunya saya tidak dapat menjamin akan masa depan. Tapi saya akan berusaha menjaga Ella, mencintainya dan memberinya kebahagiaan." Ardi mengemukakan kesanggupannya. Kesanggupannya untuk menjaga, menjadi pendamping hidup yang baik untuk Ella.
"Ella adalah anak kami satu-satunya. Om dan Tante sangat mencintainya. Kami tak akan rela kalau anak kami sampai menderita. Kami hanya ingin melihat anak kami bahagia. Tak perduli dia memilih bersanding dengan siapa, tak perduli kaya atau miskin pria pilihannya. Yang penting Ella bahagia sudah lebih dari cukup bagi kami." Bowo menyatakan betapa dia menyayangi putrinya dan harapan terbesarnya sebagai seorang ayah. Untuk melihat putrinya hidup bahagia.
"Saya mengerti..." Ardi ikut terharu dengan perasaan Bowo pada putrinya. Perasaan murni seorang ayah yang tak rela putrinya hidup menderita dan tak bahagia.
"Sekarang semuanya tinggal menunggu keputusan dari Ella sendiri serta om Bowo sebagai ayah Ella. Kalau boleh saya ingin melamar Ella sebagai calon istri saya, om..." Ardi memberanikan diri berusaha menyampaikan itikad dan maksud hatinya.
~∆∆∆~
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼
__ADS_1