Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
210. S2 - Sultanwati


__ADS_3

Siang itu betapa kagetnya Ella saat Laras tiba-tiba datang ke ruangannya di poli penyakit dalam RS. Hartanto Medika tepat setelah jam jaganya berakhir. Kayaknya sengaja mau menjemput dan mengajak ke suatu tempat. Mau kemana? Perasaan gak ada janjian sebelumnya, mas Ardi juga gak bilang apa-apa soal ini.


"Mau kemana Ras?" Ella bertanya curiga.


"Women time...Ayo jalan hehe." Laras menjawab santai sambil menggiring Ella ke parkiran mobil.


Dan di parkiran telah menanti mereka di dalam mobil Alphard, Kartika Pradana dan Cindy yang kali ini berperan sebagai supir. Kayaknya beneran mau women time ini. Ella langsung masuk mobil, menyapa Kartika dan menyalaminya.


"Kita mau ngapain ma?" Ella bertanya penasaran kepada calon mama mertuanya itu.


"Persiapan acara pertunangan kamu sama Ardi. Kan kita belum siapin mau ngasih seserahan apa buat kamu. Jadi daripada bingung ajak kamunya aja suruh milih sendiri mau minta apa." jawab Kartika.


"Memangnya sudah dapat tanggalnya ya ma?" Laras ikutan bertanya kepo.


"Sudah. Jumat pertama bulan depan."


"Sepuluh hari lagi dari sekarang." Cindy ikut menjelaskan lebih detail kapan tepatnya.


"Kamu keberatan nggak? Apa terlalu mepet?" Kartika memastikan kesanggupan Ella.


"Saya si gak keberatan. Nanti saya coba bicarakan sama mama dan papa di rumah." Ella tidak berani memutuskan sendiri hal sepenting ini. Karena semuanya berhubungan dengan persiapan acara yang matang dari seluruh keluarganya.


"Iya nanti kabarin saja bisa nggaknya. Pilihan lainnya si, hari selasa di minggu kedua. Dua minggu lagi dari sekarang." Kartika memberikan pilihan lain.


Ella hanya dapat membalas dengan senyuman dan membatin dalam hati. Sepuluh hari atau empat belas hari. Kayaknya hampir sama saja deh, ma. Gak jauh beda itu...


Tujuan pertama mereka adalah sebuah toko perhiasan yang sangat berkelas, Jewel. Sepertinya toko ini khusus menyediakan perhiasan-perhiasan dengan harga fantastis. Bukan seperti toko emas di pingiran jalan atau dipasar-pasar.


Keempat wanita itu turun dari mobil, memasuki toko dan langsung disambut gembira oleh pegawainya yang sepertinya sudah mengenal mama Kartika dan Laras. Bahkan lebih jauh pegawai itu masuk ke dalam toko untuk memanggilkan seorang pria lainnya yang sepertinya adalah atasannya. Yah mungkin mereka sudah hafal dengan Kartika dan Laras karena keduanya langganan beli di sini.


"Nyonya Pradana dan Nyonya Hartanto hari ini mau nyari apa nih?" tanya seorang pria yang sepertinya sales manager disana menghampiri dan menyapa.


"Diamond set jewelry," jawab Kartika.


"Mari, mari silahkan." Pria itu mengajak Kartika Laras, Ella dan Cindy untuk masuk ke ruangan yang lebih dalam. Tempat para tamu vip biasa dilayani.


"Kebetulan ini kami ada lima set yang ready. Kalau mau model lainnya bisa pre order dulu." Pria itu mengeluarkan lima buah kotak perhiasan besar dan membukanya di hadapan mereka. Mata Ella langsung terbelalak demi melihat lima set perhiasan yang terlihat sangat mewah dan bertaburkan batu permata dihadapannya. Indah, glamour, mewah dan pastinya harganya sangat mahal semua.


"Semuanya memakai gabungan emas putih dengan taburan batu permata berlian. Yang biru tidak memakai diamond, melainkan batu-batu Saphir dari Srilanka. Kalau boleh tahu mau beli perhiasan buat siapa kali ini?" Sang pria memulai promosinya.


"Buat dia, Ella. Inget baik-baik ya wajahnya, dia calonnya Ardi. The next Nyonya Pradana." Kartika memperkenalkan Ella pada si salesman.


"Ualala salam kenal nona Ella. Tuan muda Pradana juga memesan cincin pertunangan kalian disini kok."  Pria itu menyapa setelah mengamati jemari tangan kiri Ella. Ingat betul cincin yang dipakai Ella dipesan dan dibeli oleh Ardi Pradana beberapa hari yang lalu.


"Salam kenal," Ella menjawab sambil tersenyum.


"Yang pertama Kalung, gelang dan anting-antingnya berbentuk sulur-sulur bunga dan dedaunannya. Model terbaru dan terkesan modern cocok untuk nyonya muda. Cincinnya memakai Diamond asli berukuran besar." Pria itu menunjukkan kotak pertamanya kepada mereka berempat.


"Yang kedua juga sama dengan detail bunga-bunga dengan pinggiran berbingkai sebagai batas yang jelas. Ini model yang digemari oleh wanita bangsawan eropa. Anting-anting dan cincinnya berdetail kelopak bunga yang senada juga." Beralih ke kotak kedua.


"Nah ini yang saya bilang tadi bertabur batu saphir. Terkesan lebih segar dengan warna birunya. Desain unik dan klasik disesuaikan dengan daerah asalnya Srilanka, model-model dengan kebudayaan asia selatan dan timur tengah. Model yang digemari oleh wanita-wanita Arab dan India."


"Kalau kotak keempat ini memakai desain yang digemari oleh artis holywood di Amerika. Desain modern minimalis dan elegan. Batu permata yang dipakai juga paling banyak disini. Diamond asli semua, membuatnya terlihat simple tapi mewah."


"Kalau yang kelima ini paling sederhana. Cocok untuk dipakai sehari-hari. Tapi jangan salah semua batu yang dipakai adalah diamond kualitas terbaik. Disusun berjajar dan berakhir dengan bentukan kelopak bunga di tengahnya. Saya rasa ini akan sangat cocok dengan cincin yang sudah dikenakan nona Ella." Sang sales melanjutnya promosinya dengan kata-kata manis, smooth talking banget.

__ADS_1


"Kamu suka yang mana El?" Kartika menanyai Ella.


Ella kebingungan harus menjawab apa. Bingung harus memilih yang bagaimana. Bingung juga memikirkan berapa banyak uang yang akan dikeluarkan calon mertuanya ini hanya untuk membelikannya perhiasan. Sesuatu yang menurut Ella tidak begitu penting.


"Tenang saja mbak Ella, kita belanja hari ini pakai uangnya mas Ardi semua kok. Jadi mbak gak usah merasa berdosa untuk dihabis-habiskan." ujar Laras berusaha menenangkan Ella yang sepertinya masih sungkan untuk memilih yang mana.


"Benar itu. Jangan lupa nantinya uang Ardi itu juga uang kamu. Uang kamu ya uang kamu sendiri." Kartika juga ikut mengingatkan Ella.


"Hmmm..." Ella menimbang-nimbang.


"Saya inginnya perhiasan yang diberikan sebagai lamaran adalah perhiasan yang bisa saya kenakan sehari-hari. Sebagai tanda bahwa saya telah terikat dengan si pemberinya. Karena itu saya pilih saja yang paling tidak mencolok dan bisa saya pakai setiap hari."


"Saya pilih nomer 5." Ujar Ella sambil menunjuk kotak perhiasan nomer 5.


"Sudah kuduga," ujar laras tersenyum.


"Yang biru itu bagus juga lho El. Yang itu ambil sekalian ya," Kartika menawarkan pada Ella.


"Gak usah ma, ini saja sudah cukup." Ella menolak halus, benar-benar tak berani untuk mendapatkan lebih banyak lagi perhiasan mewah.


Ini saja satu set harganya sudah ratusan juta harganya coba. Buat yang lain sajalah kan butuhnya masih banyak untuk acara pernikahan mereka nanti.


"Yasudah bungkus juga yang biru. Anggap hadiah dari mama." Kartika tetap tak tergoyahkan ingin membelikan Ella jewelry set yang biru.


"Mama menamai Lazuardi itu memiliki arti batu permata biru kemerahan. Jadi mama ingin memberikan jewelry set dari batu Saphyr ini juga sebagai bukti bahwa mama menyerahkan putra mama sepenuhnya kepada kamu." Kartika mengutarakan alasannya mengapa memilih set yang itu.


"Te, terima kasih ya ma." Ella benar-benar terharu dengan kebaikan hati calon ibu mertuanya itu. Rasanya masih tak percaya saja bahwa beliau adalah orang yang sama yang pernah membuatnya menangis selama bertahun-tahun lalu


"Jewelry setnya udah cukup belum, Ras?' Kartika bertanya pada Laras.


"Cukup si. Dua set sudah bagus kalau menurutku."


"Yaudah itu dulu deh dibungkus yang simple dan yang permata biru." Kartika memberitahukan kepada sang sales manager yang langsung sumringah.


"Baik Nyonya, silahkan kemari." Pria itu mempersilahkan Kartika dan Laras untuk ikut membungkus dan menyelesaikan transaksi mereka.


"Kalau kamu pilih kelima-limanya juga pasti bakal dibelikan semua kok," Cindy menyeletuk saat tinggal berduaan saja dengan Ella.


"Haaah? Serius? Bisa sampai milyaran donk totalnya." Ella tak percaya dengan ucapan Cindy.


"Iya gak masalah. Masih bisa dicover semua sama kartunya pak Ardi." jawab Cindy santai. Membuat Ella semakin penasaran berapa limit kartu sakti Ardi itu? Kok gampang banget main gesek saja.


"Pak Ardi titip pesen tadi buat kamu. Ikutin saja nyonya Kartika dan bu Laras mau pilih apa saja. Gak usah mikirin habis berapanya. Pak Ardi gak bakal bangkrut kok meski kamu belanja gila-gilaan hari ini." Cindy menyampaikan pesan Ardi.


Ella semakin melongo mendengarnya.Gila banget! Mas Ardi, aku harus ngabisin berapa duitmu biar kamu bangkrut? Ratusan juta dalam sekali transaksi ini belum apa-apa? Masih harus belanja apa lagi coba? Berapa duit lagi yang akan dihamburkan?


Selanjutnya setelah Kartika dan Laras menyelesaikan pembayaran dan urusan dengan sang sales manager, keempat Wanita itu pergi dari jewelry shop itu. Cindy lanjut mengemudikan mobilnya ke sebuah gedung yang sepertinya adalah sebuah perusahan clothing line dan butik sekaligus.


Ella, Laras, Cindy, dan Kartika memasuki pintu butik yang ada di bagian terluar gedung tersebut. seorang pelayan wanita langsung menyambut mereka dengan ramah. Menanyai apa yang sekiranya mereka cari dan mengarahkan untuk berkeliling butik untuk menawarkan barang dagangannya.


"Kami ingin mencari tas dan sepatu branded," ujar Laras pada si pelayan butik.


"Yang bagus lho ya," Kartika menambahkan.


Pelayan itu langsung mengerti bahwa para tamu yang sedang dihadapinya adalah tamu VVIP. Pelayan itu segera masuk ke bagian butik yang lebih dalam untuk memanggil atasannya untuk melayani sendiri tamu VVIP mereka.

__ADS_1


Seorang wanita berwajah ke bule-bulean tak berapa lama kemudian datang menghampiri mereka berempat. Sang pemilik butik dengan wajah yang tidak asing lagi bagi Ella. Jillia.


"Hello welcome," Jillia menyambut para tamunya dengan sangat ramah.


"Nice to see you Nyonya Pradana, Nyonya Hartanto dan Ella," Jillia menyapa tamu-tamunya dengan bersalaman dan bercupika-cupiki. Semetara Cindy hanya mengangguk sopan menyapa Jillia.


"Halo Jil. Kami mau lihat koleksi tas dan sepatu mu." Laras mengatakan maksud dan tujuannya kesini.


"Untuk siapa ya? Dan untuk acara apa?" Jillia lanjut bertanya. Ingin informasi yang lebih spesifik kemana dirinya harus membawa keempat tamunya ini.


"Untuk Ella, sebagai hadiah hantaran lamaran." Kartika yang kali ini menjawab.


"Ella? Don't tell me...Wow grats ya." Jillia kegirangan mendapatkan informasi Ella akan menjadi menantu dari keluarga Pradana. Calonnya siapa lagi coba? Sudah pasti Ardi Pradana kan.


"Thanx, Jill" Ella tersenyum menjawab.


"Sepatu dan tas import ada yang rekom gak Jill? yang produksimu juga boleh si." Laras melanjutkan kriteria barang yang diinginkannya.


"Ada donk. Ayo kemari Ikuti aku." Jillia mengantarkan keempat tamunya ke bagian khusus barang-barang branded keluaran luar negeri yang harganya selangit.


"Mau yang budget berapa ini? Puluhan, ratusan atau milyaran?"Jillia sedikit mengedipkan mata pada Ella.


Jillia ingat bahwa Ella ini cewek yang tiga tahun yang lalu di bawa Ardi ke konser Coldplay. Cewek dari kalangan rakyat jelata yang sangat dicintai oleh Ardi. Jillia tidak menyangka bahwa akhirnya mereka berdua bisa bersatu bahkan setelah tiga tahun lamanya tak ada kabar tentang hubungan mereka.


"Mil, milyaran?" Ella ternganga mendengar pertanyaan Jillia. Tak menyangka bahwa harga dari sebuah tas dan sepatu saja bisa mencapai ratusan juta bahkan milyaran rupiah. Mending buat beli rumah saja kan?


"Hehehe sayangnya aku gak punya koleksi yang harganya segitu." Jillia tertawa ringan melihat reaksi kaget Ella. Laras dan Kartika pun juga ikutan tertawa gemas melihat keluguan Ella.


"Ini koleksi sepatu branded saya. Murah-murah saja kok paling cuma belasan juta." Jillia memamerkan deretan sepatu di etalasenya.


"Jimmy Choo itu bagus mbak Ella," Laras ikutan membantu ella yang sepertinya celingukan dan kebingungan untuk memilih yang mana. Entah bingung karena bagus-bagus semua atau bingung melihat bandrol harganya.


Duh mana ada coba cewek kayak Ella ini, yang dapat tiket shopping unlimited malah tidak mau memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tidak mau memilih sepuasnya. Kan jadi gemes sendiri yang ngelihatnya. Seolah Ella takut Ardi akan bangkrut karena membayarinya.


"Ini cocok kayaknya dipakai Party atau acara high society," Laras memilihkan sebuah sepatu dengan hak tinggi lancip serta dihiasi gliter-gliter warna silver yang sangat anggun dan mewah.


Ella mencoba sepatu yang ditunjukkan Laras, sangat nyaman untuk dipakai meskipun haknya lumayan tinggi. "Tapi ini terlalu glamour," Ella menolak sepatu itu. Alasan aslinya si karena angka 18 juta yang terpampang disana. Sayang banget kan buat diinjek!


"Yang ini lebih simple dan netral, cocok kamu pakai buat kerja juga." Kartika ikut menawarkan sebuah sepatu Saint laurent berwarna putih dengan hiasan simple gliter silver diujungnya.


"Hak-nya ketinggian, ma." Ella kembali menolak. Hak dari sepatu itu setinggi 12 centi meter mau dipakai jaga poli? Yang benar saja? Dan angka yang dibadrol untuk sepatu ini lebih gila lagi. 25 juta?


"Aku ingin yang bisa dipakai sehari hari. Untuk kerja atau untuk hang out sehari hari." Ella mengedarkan pandangannya dan akhirnya menemukan sebuah sepatu berwarna biru dari bahan beludru yang tidak begitu tinggi haknya. Doppia GG, dan yang paling penting buat Ella, harganya sepertinya paling murah dari deretan gila ini, 5 jutaan.


"Yang ini saja," Ella mengambil dan mencoba sepatu itu. Rasanya seperti menapak diatas kapas. Empuk banget. Modelnya juga simple dan tidak mencolok.


"Yaudah ambil saja," Kartika tidak keberatan dengan pilihan Ella. "Bungkus ketiga-tiganya, Jil."


Ella melongo semelongo-melongonya. Bukannya dirinya sudah menolak yang dua tadi? Kok malah dibungkus semuanya. AAAHHHH apaan coba para sultanwati ini? Ella sudah menjerit-jerit dalam hati.


Laras, Jillia dan Cindy sudah senyam-senyum dan cekikikan melihat reaksi Ella.


"Udah nikmatin saja proses belanja kita. Gak usah mikirin harga." Laras menyeletuk santai. "Yuk lanjut ke bagian tas."


"Hahaha." Ella tetawa garing tak berdaya, mengikuti kedua sultanwati itu melangkah.

__ADS_1


~∆∆∆~


🌼Yuuuuks say jangan lupa LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN yaaaa 🌼


__ADS_2