Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
153. S2 - Sepihak


__ADS_3

Hubungan dua orang itu gak gampang


Walaupun sudah saling kenal


Sudah saling cocok


Tapi itu saja tidak cukup


They need to share the same dreams


They need to want the same things


_Nic & Mar_


(*Mereka harus berbagi mimpi yang sama


Mereka harus menginginkan hal yang sama)


_________________________________


Kali ini Sari tidak mengajak Roni ke suatu cafe atau restoran untuk pembicaraan mereka. Gadis itu malah minta anterin pulang saja ke rumahnya. Terlalu lelah katanya, ingin cepetan pulang dan istirahat. Jadinya Roni nurut saja melajukan mobilnya ke arah rumah Sari.


Rumah Sari tentu saja adalah kediaman Hartanto yang dulu ditempati Mahes jaman kuliah. Dan tentu saja Roni sudah hapal rute yang harus ditempuh ke rumah itu diluar kepala.


Beberapa menit kemudian mereka tiba di kediaman Hartanto, Roni memarkirkan mobilnya di halaman. Kemudian dipersilahkan duduk di ruang tamu, duduk di sofa berhadapan dengan sang tuan rumah.


"Kamu tinggal sendirian disini setelah mas Mahes kembali ke kampung halaman Banyu Harum?" Roni berbasa-basi. Pasti kesepian juga jadi sultan, rumah segede gini cuma ditinggali sendirian.


"Nggak sendiri. Kan ada pembantu," jawab Sari.


"Kamu gak kesepian? Kalau perlu curhat kamu ngomong sama siapa?" Mau tak mau Roni merasa kasian juga dengan kehidupan Sari yang sepertinya kesepian. Apa semua sultan begini?


"Hmm...kayaknya kamu salah sangka deh. Aku sering kok telponan dan curhat sama mamaku atau mbak Laras. Ngomong ngalor ngidul sama mereka. Aku juga banyak teman yang bisa diajak untuk sekedar ngobrol. Aku bukanya kesepian..." Sari menghentikan perkataannya sejenak.


"Tapi untuk masalah Jun, aku benar-benar gak bisa cerita pada orang lain. Terutama keluargaku."


"Kenapa begitu? Bukannya seharusnya malah mereka yang paling tahu dan mengerti tentang masalah ini?" Roni penasaran.


"Karena sejak awal memang hubungan kami ini terkesan dipaksakan. Keluargaku mau menerima Jun juga seperti karena terpaksa. Karena aku yang memaksakan. Jadi kalau ada kejadian begini... Sudah pasti mereka akan semakin tidak menyukai Jun. Bahkan mungkin mereka tak akan ragu untuk menyuruhku membatalkan pertunangan kami." Sari mencoba menjelaskan duduk perkaranya.


"Si Jun kesannya jadi kayak pria gak tahu diuntung begitu ya? Udah syukur-syukur keluarga kamu mau menerima dia, eh malah sekarang dia yang berulah seakan menyia-nyiakan kamu. Wajar kalau mereka marah pada Jun." Roni mengambil kesimpulan.


"Nah You got the points. kasarannya seperti itu..." Sari membenarkan teori Roni. "Jadi gimana Ron, kamu sudah menghubungi dia? Dia bilang sesuatu sama kamu?" lanjutnya bertanya.


"Sudah. Aku sempet bertukar pesan sama dia. Yah awalnya si nanyainn kabar dulu. Basa-basi, seakan gak ada masalah apa-apa."


"Kamu gak nanyain tentang aku?"


"Iya, aku nanyain kok. Dia juga cerita tentang hubungan kalian. Tentang dia yang berjuang untuk sekolah lagi demi memantaskan diri untukmu..."


"Huh alasan klasik. Lantas kenapa dia berubah?"


"Nah itu aku sempet nanyain juga kapan kalian mau nikah. Terus dia jawab...Kayaknya agak susah." Roni menceritakan tentang hasil pembicaraannya dengan Jun saat menghubunginya beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


"Agak susah? Tapi bukannya tidak mungkin kan?" Sari sedikit tidak senang mendengar jawaban Jun.


"Sepertinya Jun sedang ada masalah juga disana, Sar. Tapi dia gak mau cerita sama aku. Dia cuma bilang ada sesuatu," Roni menjelaskan.


"Tapi kalau melihat dari sifatnya si Jun, aku masih percaya padanya. Dia bukanlah pria yang mudah berpaling atau berselingkuh, Sar."


"Aku capek, Ron. Rasanya hanya aku yang berjuang untuk bertahan sementara dia justru makin menghindar dan menghilang. Mungkin saja aku mulai nyaman dengannya tapi mungkin dia sudah bosan denganku. Aku si bodoh yang dibutakan oleh cinta tanpa mau melihat keadaan yang sebenarnya terjadi. Aku seharusnya bisa berpikir lebih realistik."


"Cinta tak bisa dipaksakan. Tak akan bisa berjalan secara sepihak. Kedua belah pihak harus bergerak bersama. Mereka harus berbagi mimpi yang sama


Mereka harus menginginkan hal yang sama...Gak bisa kalau cuma aku yang ingin tapi dia tidak." Sari menjelaskan dengan sangat pilu.


"Terus maumu apa?" Roni benar-benar kebingungan bagaimana harus bereaksi. Yah memang rasanya sangat melelahkan untuk memperjuangkan suatu hubungan sendirian, secra sepihak. Dan Roni tahu benar rasanya selama tiga tahun ini. Capek.


"Aku cuma ingin semua berjalan dengan wajar dan sederhana. Kami menjalin hubungan seperti kebanyakan pasangan lainnya tanpa memikirkan status, kekayaan, harta dan segala keruwetan lainnya." Suara Sari mulai terdengar bergetar.


"Hal sederhana yang pada kenyataannya tak sesederhana itu untuk dilakukan." Roni menambahkan ucapan Sari. Seakan mengatakan isi hatinya juga.


Sari mengangguk lemah menyetujui ucapan Roni, kemudian terdiam. Keduanya terdiam untuk beberapa lamanya saling berpandangan. Rasa simpati dan empati mulai tumbuh di dalam hati mereka. Karena kesamaan nasib mereka. Karena sama-sama lelah berjuang secara sepihak.


Entah mengapa Roni merasa sedih dan tak tega juga melihat Sari sekacau itu. Seolah Roni juga dapat merasakan kesedihan dari gadis itu. Ingin rasanya menggenggam erat jemarinya sekedar untuk memberinya kekuatan dan semangat. Tapi tentu saja Roni tidak bisa melakukannya, tidak berhak.


"Hubunganmu dengan Ella gimana, Ron?" Tiba-tiba Sari mengalihkan pembicaraan mereka pada hubungan Roni dengan Ella.


"Sejujurnya hubungan kami juga sama kacaunya. Tidak sehat. Entah mengapa aku selalu tidak tenang, aku tidak bisa menemukan kedamaian dalam hubungan kami. Aku selalu saja merasa gelisah dan curiga kalau-kalau dia bermain di belakangku. Kalau dia berpaling dan pergi meninggalkanku." Roni menceritakan kegundahannya.


"Ella? Tidak mungkin!" Sari tidak percaya.


"Kamu tahu kan bagaimana dia? Dia tak mencintai aku, Sar. Dan aku juga tahu benar akan hal itu... Tapi aku masih merasa bahwa Cinta itu seperti perang. Sakit, begitu buruk untuk bertahan, tetapi untuk beberapa alasan, aku harus terus berjuang."


"Tapi bagaimana dengan Ella? Apakah dia pernah bilang kalau tidak nyaman denganmu?" Sari bertanya dengan hati-hati. Pertanyaan yang sangat sensitif tentunya, menyangkut perasaan. Mau tak mau Sari jadi teringat dengan beberapa pepatah yang dia yakini juga kebenarannya. Tapi jelas-jelas dirinya sendiri juga menolak untuk melakukannya.


'Jika dia yang kamu cinta tak melakukan apapun tuk bertahan denganmu, jangan paksakan dirimu terus berusaha tuk tetap bersamanya.


Jangan paksakan diri tuk tetap bertahan pada sesuatu yang bukan untukmu. Kadang kamu harus melepaskannya sebelum ia lebih menyakiti.'


"Ella juga mulai berubah akhir-akhir ini. Rasanya ada yang dia sembunyikan dariku. Membuatku gila, dibakar api cemburu dan curiga. Aku bahkan beberapa kali menyakitinya karena kecemburuanku..."


"Kenapa begitu? Bukannya biasanya kamu selalu bisa mengendalikan diri?" Sari tahu bahwa Roni memang sedikit emosian. Tapi tak mungkin pria ini bisa berbuat sesuatu yang menyakiti Ella.


"Aku tak bisa tenang karena dia ada disini. Ardi Pradana ada disini, dan aku yakin kamu juga mengetahuinya." Roni menarik napas sejenak untuk meredakan emosinya karena menyebut nama Ardi.


"Mas Ardi? Tidak mungkin. Dia bahkan sudah di Surabaya selama beberapa bulan ini. Tapi tak sekalipun dia berniat menemui Ella." Sari juga tahu benar betapa sibuknya Ardi sehingga bahkan pria itu tak sempat memikirkan urusan asmara.


"Linggar! Si brengsek itu telah mengatur adanya pertemuan antara Ella dan Ardi beberapa minggu yang lalu." Roni akhirnya menceritakan tentang pertemuan dan konfrontasi mereka di imperial restoran itu.


"Dan setelah kejadian itu entah mengapa aku selalu merasa tidak tenang dan curiga pada Ella. Aku curiga dia bertemu dengan Ardi diam-diam di belakangku. Aku curiga mereka masih berhubungan." Roni mengakhiri penjelasannya.


"Dalam cinta, kita harus tahu kapan harus bertahan dan kapan harus melepaskan. Jangan paksakan untuk tinggal ketika dia ingin pergi." Sari kali ini mengutarakan sebuah nasehat untuk Roni dan sekaligus untuk dirinya sendiri.


Cukup lama keduanya kembali terdiam dan merenungi nasib mereka masing-masing. Sampai asisten rumah tangga Sari datang ke ruang tamu dan menyuguhkan hidangan untuk tamunya. Wanita paruh baya itu juga menyerahkan sebuah paket yang belum dibuka kepada Sari.


"Non, tadi ada paketan buat non Sari."

__ADS_1


"Oh, Ok. Makasih ya bi Sri," Sari mengucapkan terima kasihya dan pembantu itu segera undur diri.


Sari mengamati bungkusan kecil paket yang diterimanya. Apa ini? Perasaan dirinya sedang tidak berbelanja atau memesan sesuatu? Sari mengamati lebih seksama paketan itu dan didapati nama Junaedi Eko Wahyudi dari Jogja sebagai si pengirim paket. Jun? Jun mengiriminya sesuatu?


Dengan terburu-buru Sari membuka bungkusan paket ikut karena saking penasarannya. Setelah berhasil membuka bungkusnya Sari mendapati sebuah kotak kecil disana dengan sebuah kertas putih bertuliskan sesuatu, surat.


Sari cepat-cepat membuka lipatan kertas itu dan dengan kalap membaca isi surat yang ditulis oleh Jun. Surat yang berisi tulisan begitu singkat...


Dear Sari,


Maaf...Rasanya hanya kata itu yang layak kuucapkan untukmu.


Terima kasih...Tak terkira rasa syukurku karena pernah menjadi bagian hidupmu.


I love you...Dan sampai kapan pun aku masih selalu mencintaimu.


Berbahagialah selalu disana.


Karena kita tak mungkin lagi bersama.


Jun


Tangan Sari bergetar demi membaca surat singkat itu. Perlahan namun pasti butiran bening air mata juga mulai mengalir membasahi pipinya. Gadis itu menangis sesenggukan dalam diamnya. Tapi Sari masih berusaha menguatkan diri untuk membuka kotak di tangannya...


Dan begitu kotak itu terbuka dapat dilihatnya sebuah cincin. Cincin yang bentuknya sama persis dengan yang ada di jari manisnya. Cincin dengan namanya terukir di sisi dalamnya. Cincin pertunangan mereka yang seharusnya dipakai oleh Jun...


"Sar?..." Roni benar-benar kebingungan melihat reaksi Sari setelah membuka paketan itu. Didekatinya gadis itu dan ambilnya secarik kertas dari tangan Sari. Mata Roni seketika melebar dan terbelalak demi membaca isi surat itu, terlebih lagi saat melihat cincin di dalam kotak yang masih dipegang Sari dengan tangan bergetar.


"Jun mengembalikan cincin pertunangannya. Dia bahkan mengirimkannya lewat paket..." Sari tak sanggup melanjutkan perkataannya. Terlalu sakit dan menyesakkan untuk diteruskan.


"Damn it! Jun Brengsek!" Roni terang-terangan mengumpat penuh emosi mewakili Sari. Sangat kesal dan marah melihat apa yang telah terjadi di hadapannya.


Bagaimana mungkin Jun dapat setega itu? Bedeb*ah kamu Jun! Bagaimana dia dapat memutuskan pertunangannya dengan Sari secara mengerikan begini? Kenapa tidak dengan baik-baik? Dan kenapa harus diputuskan? Apa alasannya?


"Kenapa? dia begitu tega, Ron..." Sari sudah tak dapat membendung lagi luapan air matanya yang bagaikan air bah. Tangisan dan cucuran air mata mengalir deras dari kedua matanya, mengiringi tubuhnya yang bergetar hebat dan sesenggukan.


Tak tega. Entah mengapa Roni juga merasa sangat sakit hati melihat Sari seperti itu. Sedih dan hancur sekaligus patah hati menjadi berkeping-keping pastinya yang dirasakan oleh Sari. Roni mengambil kotak cincin dari tangan Sari dan meletakkannya di meja bersama suratnya.


Kemudian entah bagaimana dirinya duduk di sofa disebelah Sari. Dan diraihnya tubuh bergetar gadis itu. Didekapnya wajah Sari ke dada dan bahunya. Dipinjaminya gadis itu sebuah sandaran kokoh untuk menangis disana. A shoulder to cry on.


Cukup lama Roni menemani Sari sampai gadis itu tenang dan menghentikan tangisnya. Membantunya naik ke kamarnya, dan menidurkannya di ranjangnya sebelum akhirnya undur diri dari kediaman Hartanto.


Tidak bisa dibiarkan begini. Aku harus bertindak. Paling tidak kalaupun harus berpisah Sari dan Jun harus menyelesaikannya baik-baik. Roni mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan pada satu-satunya orang yang pasti dapat membantunya saat ini. Maheswara.


Roni


Mas, ada waktu? Aku ingin bicara sebentar.


Sambil menunggu jawaban Mahes Roni berjalan ke halaman rumah dan mengambil mobilnya yang terparkir disana, kemudian melajukan mobilnya pulang ke kontrakan.


~∆∆∆~


Ketika kita berada dalam suatu hubungan yang buruk, kita sebenarnya tak pernah dipaksakan utuk bertahan. Hanya rasa ego, napsu dan hasrat tak mau kalah kita yang memaksakan keadaan. Kita harus cukup kuat untuk katakan enough is enough.

__ADS_1


🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼


__ADS_2