
Ella yang melihat perbuatan Rena pada Ardi mau tak mau menjadi panas membara juga. Ngapain coba cewek ini terang-terangan merayu Ardi begitu? Di depan kekasihnya sendiri lagi? Apaan coba friendship hug? Yang benar saja! Dan parahnya Ardi malah tidak menolak atau mengelak pelukan itu. Membuat Ella semakin dongkol saja.
"Stop it Rena! He's mine!" ujar Ella memberanikan diri dengan nada geram dan bergetar, gak terima. Enak aja dia peluk-peluk pacar orang, di depan ceweknya sendiri lagi. Wanita mana coba yang gak cemburu.
(*Hentikan Rena! Dia milikku).
I get jealousy, I get mad, I get worried, I get currious, that' only because i care about you.
(*Aku cemburu, aku marah, aku khawatir, aku curiga, itu hanya karena aku sayang padamu).
Ardi kaget sekali mendengar ucapan Ella. Bukannya biasanya Ella cenderung diam dan membatin saja kalau ada yang tidak berkenan di hatinya? Ini kok tumben dia mau menyuarakan perasaanya? Pasti sudah muntab dan beneran marah gadisnya itu.
Ardi buru-buru menghentikan tindakan Rena yang sepertinya akan lebih jauh lagi menggodanya. Bisa makin gawat dan runyam urusannya kalau Rena sampai menciumnya di hadapan Ella. Bisa perang dunia ke tiga kalau diteruskan. Ardi mendorong tubuh Rena sedikit menjauh dari tubuhnya dengan lembut.
"Sudah-sudah jangan diterusin lagi. Dasar, kalian berdua ini memang pasangan yang jahil banget," Ardi mendengus kesal pada Rena dan Tyo.
Ardi sadar benar keduanya hanya ingin menguji dan melihat reaksi Ardi dan Ella sebagai pasangan. Dan karena tahu akan hal itu, Ardi juga tidak menolak perlakuan Rena padanya. Sekalian pengen lihat juga si bagaimana reaksi Ella nanti, asli penasaran hehe.
Ardi tahu bahwa sebrengsek-brengseknya Tyo dan sebebas-bebasnya pergaulan Rena, gak mungkin lah mereka akan merayu wanita atau pria lain tepat di hadapan pasangan mereka sendiri. Mereka juga masih tahu batasan masing-masing.
"See Tyo? How sweet they are." Rena cekikikan geli tak dapat menahan ketawanya lagi.
(*Liat kan Tyo? Mereka pasangan yang manis banget).
Tyo juga ikutan tertawa geli melihat reaksi Ardi dan Ella. Reaksi yang menurutnya sangat wajar untuk ditunjukkan bagi kedua pasangan yang sudah saling terikat satu sama lainnya. Tapi kalau dilihat langsung begini ya lucu juga sih.
"Ella itu baru saja sembuh dari ngambeknya gara-gara ulah kamu kemarin, Ren. Bisa-bisa ngambek lagi dia ntar abis liat kamu peluk-peluk aku begitu." Ardi menjelaskan penderitaannya menghadapi aksi ngambek Ella mulai kemarin.
"Sorry Ella, it's just a joke hehe," ujar Rena meminta maaf pada Ella soal tindakannya pada Ardi barusan.
(*Maaf ya Ella, ini cuma bercanda kok).
"Dont worry, Ella. Rena ini cewekku sekarang. Dia gak bakal merebut Ardi dari kamu. Hubungan mereka sudah berakhir." Tyo ikut meyakinkan Ella.
(*Jangan khawatir, Ella).
Ella hanya bisa ternganga, melongo, mendengar penjelasan ketiga orang di hadapannya. Jadi? Baik Rena, Tyo bahkan mas Ardi sudah sekongkol? Jadi mereka sudah sengaja menggoda dan membuat dirinya cemburu? Aduuuuh! Resek dan nakal banget para sultan ini! Asli ngeselin banget. Membuat Ella makin geram saja dengan kejahilan mereka.
"Sorry honey... mereka ini kadang bercandanya suka keterlaluan." Ardi menepuk halus puncak kepala Ella berusaha meredakan kemarahannya.
Dalam hati Ardi ikutan gemes dengan sifat cemburuan gadisnya itu. Manis banget asli, meski agak ngeselin juga si kalau lama ngambeknya. Yah at least bisa jadi bukti nyata kan kalau Ella juga beneran mencintai dirinya.
A little jealousy in a realtionship is healty. It's always nice to know that someone afraid to lose you.
(*Sedikit kecemburuan di dalam suatu hubungan adalah sesuatu yang sehat. Rasanya menyenangkan untuk mengetahui seseorang takut akan kehilangan dirimu).
"El, senyum donk, sayang. Masa manyun mulu dari kemarin. Sepet tahu dilihatnya." Ardi menghadapkan wajah Ella pada wajahnya sendiri.
Ella menyunggingkan senyumnya pada Ardi dengan sangat terpaksa. "Puas?" ujarnya masih dongkol.
__ADS_1
"Nah gitu donk cantik." Ardi lega Ella sudah bisa tersenyum lagi. Tidak cemburu ataupun salah paham lagi padanya. Cuma ngambek aja dikit kayaknya.
"Kalau cantik gini kan jadi makin cinta." Ardi lanjut semakin menggoda Ella dan mendaratkan ciuman ringan di kening gadis itu.
"Ih apaan si mas Ardi." Wajah Ella sudah semerah tomat menerima perlakuan Ardi. Apa-apaan coba? Di tempat umum kayak gini lagi?
"Hahahaha nah gitu donk baikan. Gak bagus kalau marahan terus, nanti ada yang nyerobot lho ya." Tyo menarik tubuh Rena untuk didekap mesra dengan sebelah tangannya. Memamerkan juga kemesraan mereka berdua pada Ardi dan Ella.
"Semoga langgeng ya kalian berdua." Renata tersenyum manis memberikan doanya kepada Ardi dan Ella dengan tulus.
"Memang benar orang baik itu untuk orang baik. Dan Ardi itu adalah pria yang sangat baik. Aku jadi tenang melepaskan Ardi untuk gadis sebaik dan semanis kamu." Renata mengakhiri ucapannya sebagai penegasan juga bahwa dirinya telah merelakan Ardi untuk Ella.
"Jadi maksudnya aku bukan pria baik?" Tyo bertanya pada Rena, dengan nada sedikit tidak senang.
"Semua orang juga tahu kamu kayak apa, dear." Rena menanggapi ucapan Tyo. "But we will try to be a better person together."
(*Tapi kita akan berusaha menjadi orang yang lebih baik bersama-sama).
"Nah itu baru bener." Tyo mendekap tubuh Rena makin erat dan memberikan kecupan ringan di sebelah kepalanya. Gak mau kalah dong sma Ardi.
"Jadi kalian kapan ni resminya? Don't forget to invite us." Rena menanyakan pada Ardi.
(*Jangan lupa mengundang kita).
"Don't worry. As soon as posiblle," jawab Ardi mantab. "Terus kalian gimana? Kamu jadi balik ke indonesia atau masih ke Paris, Ren?"
"Sementara ini masih bolak balik Paris-Jakarta. Masih ada beberapa kontrak kerja yang belum kelar." Rena menjelaskan. "At least Tyo gak sebucin seseorang. Tyo masih bolehnin aku ikut modelling."
"Yah asal jangan yang terlalu terbuka aja bajunya." Tyo menambahkan.
"Itu sih sama aja bucinnya!" Rena menimpali kesal.
Dan kedua pria itu tertawa menyadari sifat mereka yang mungkin terlalu posesif pada wanitanya.
Ella hanya diam saja mendengarkan pembicaraan mereka. Ingat betul bagaimana posesifnya Ardi, bagaimana pemilihnya Ardi soal pakaian-pakaian yang akan dipakai Ella. Gak bakal diijinkan make yang terlalu terbuka. Gak bakal bolehin pria lain melihat tubuhnya.
Pantas saja Ardi gak bisa meneruskan hubungannya dengan Rena. Rena yang sesuai tuntutan profesinya diharuskan sering memakai pakaian s*xy dan terbuka. Mana bisa dengan sifat bucin kronis Ardi?
"Aku masih penasaran, gimana ceritanya kalian bisa ketemu bahkan sampai jadian begini?" Ardi bertanya penasaran pada kedua temannya itu.
"Kalau ketemunya si beberapa bulan yang lalu di Paris. Kalau jadiannya baru tadi siang, yah setelah pembicaraan kita kemarin akhirnya aku bisa memutuskan untuk menerima Tyo." Rena menjelaskan.
Memang sebelumnya dirinya belum bisa menerima Tyo karena masih sedikit berharap pada Ardi. Karena hubungan mereka yang masih menggantung selama bertahun-tahun.
Rena bahkan sengaja mencari informasi, menemui, mendatangi Ardi khusus untuk mencari kepastian akhir hubungan mereka. Tapi setelah pembicaraan kemarin, Rena semakin yakin bahwa sudah tak ada lagi namanya di hati Ardi. Sudah saatnya merelakan pria itu, dan mencoba menerima Tyo untuk menduduki singgasana di hatinya sendiri.
"Berarti thanx to kalian berdua ya akhirnya Renata mau nerima aku sebagai kekasihnya. Makasih banyak lho ya. Kapan-kapan aku kasih hadiah deh buat kalian berdua." Tyo tersenyum kegirangan mendengar Rena mengucapkan dengan mulutnya sendiri bahwa telah memutuskan untuk menerima dirinya.
"Lho kenapa makasih ke kami? Kok aku diikutkan juga si?" Ella bertanya kebingungan. Kalau untuk Ardi si mungkin masih ada hubungannya karena memang hubungan Ardi dan Rena belum sempat diakhiri dengan baik sebelumnya. Tapi untuk Ella kan gak ada hubungannya sama sekali.
__ADS_1
"Lho bukanya justru karena kamu, El. Because I have found you. Because I love you." Ardi yang menjawab pertanyaan Ella dengan gregetan.
(*Karena aku sudah menemukanmu. Karena aku mencintai kamu).
Pertanyaan yang menurut Ardi sangat bodoh. Atau memang karena Ella gak peka ya? 'Dasar cewek ini, masak si masih belum sadar aja kalau aku sudah separah ini jatuh cinta kepadanya. Mau bukti model gimana lagi coba?'
Ella sekali lagi hanya bisa tercengang dengan wajah yang memanas, pasti sudah merah banget ini kalau dilihat orang lain. Gimana gak malu coba, mendengar ucapan terang-terangan Ardi yang mengakui perasaan cintanya tanpa malu-malu.
'Dasar mas Ardi ini bisa-bisanya nggombal di hadapan teman-temannya begini. Malu-maluin aja kan?'
"Iya benar sekali. Karena Ardi sudah menetapkan pilihannya padamu. Kalau misalnya gak ada kamu, Ardi kan masih jomblo. Kemungkinan besar dia dan Rena bisa balikan donk kalau ketemu lagi. Karena cinta lama mereka belum kelar..." Tyo menjelaskan.
"Tapi karena kamu, Ardi akhirnya memutuskan untuk menutup kisah lamanya dengan Rena. Menyudahi hubungan asmara mereka berdua. Sehingga Rena dapat menerimaku untuk mengisi hatinya saat ini." Lanjut Tyo mengakhiri ceritanya.
"Our destiny has linked together just like a chain." Renata memberikan kesimpulan.
(*Takdir kita terhubung satu sama lainnya seperti sebuah mata rantai).
"Tapi aku gak ngira kamu mengincar Rena. Kukira kamu serius ngejar Cecil." Ardi bertanya pada Tyo.
"Cecil? Ceicillia Tang?" Rena menanyai Tyo dengan berkacak pinggang. Merasa tidak nyaman juga mendengar nama Sultanwati super tajir dan cantik itu disebutkan. "Yang kayak gitu selera kamu?"
"Eh Brengsek lu, Di. Malah buka masa lalu yang bisa mendatangkan prahara rumah tangga gini." Tyo mengumpat terang-terangan pada Ardi.
"Lha habisnya kan kalau ketemuan kamu selalu saja godain Cecil. Selalu nanyain Cecil mau gak jadi pacarmu? Ya aku kira kamu serius sama dia?" Jawab Ardi pura-pura gak punya dosa. Rasain pembalasanku buat kalian hehehe.
"Oh dear, looks like I need a detail explanation about that." Rena berkata semakin sinis.
(*Oh sayang, sepertinya aku perlu penjelasan detail mengenai masalah itu).
"Iya, emang gitu. Tapi cuma main-main saja, karena Cecil jelas tak akan mau menerimaku. Jadinya ya keasikan aja godain dia... Justru tipe yang diinginkan Cecil itu yang real gentleman seperti Ardi dan Irza." Tyo melempar umpan lambung ke Ardi.
"Jangan pura-pura lupa ya, kamu kan yang pernah ngasih buket bunga mawar super besar buat Cecil, Di?...Aku aja gak pernah berbuat sampai sejauh itu." Tyo menahan tawanya saat mengucapkan kata-kata balasan untuk Ardi. Mampvs kau! Rasakan!
"Buket bunga super besar? Mesra banget kayaknya." Ella ikutan menginterogasi Ardi. Duh siapa lagi ini Cecil coba? Udah clear masalah Rena malah muncul nama Cecil. Sebenarnya ada berapa si ceweknya mas Ardi? Ella semakin geram.
"Fvck you, Tyo!" Ardi mengumpat terang-terangan, khawatir Ella termakan umpan Tyo.
"Terus ada surat cintanya lagi yang ditulis Ardi buat Cecil." Tyo sudah cekikikan tak tahan lagi untuk ngempet ketawanya. Apalagi melihat Ella mulai termakan gosip yang diberitahukannya.
"Yaelah itu bukan surat cinta. Itu surat kontrak kerja." Ardi sudah kebingungan bagaimana harus menjelaskan situasi saat itu pada Ella.
"Hahahahaha." Rena dan Tyo tertawa ngakak sekaligus. Menertawai Ardi yang tak bisa berkata-kata dan Ella yang terlihat mulai ngmbek. Keduanya sudah tahu betul bagaimana detail kisah buket bunga Ardi untuk Cecil yang fenomenal dari grup young businessman mereka.
"Udah deh, kalian toxic banget gak baik buat Ella untuk berlama-lama didekat kalian." Ardi mengajak Ella menjauh dari kedua temannya yang terus ngakak, mencari tempat yang enak untuk bisa menjelaskan segalanya pada Ella dengan baik.
~∆∆∆~
🌼Gak pernah bosen ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss donk kasih KOMEN buat penyemangat author. 🌼
__ADS_1