Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
144. S2 - Gairah


__ADS_3

🌼Author's Note🌼


Untuk Episode ini hendaklah dibaca sendirian ya, jangan pas rame-rame bisa berabe (smile).


Atau lebih asik lagi di sebelah suami biar bisa baper sekalian (smirk).


Buat yang belum nikah siap-siap elus dada dan baca istighfar banyak-banyak (devils laugh).


Buat yang belum cukup umur bacanya sambil merem melek, resiko ditanggung sendiri.


Yuk siapkan hati ya gaes...


Marilah kita naik roller coaster bersama-sama.


Here we go...


_____________________________


"Just tell me what do you feel... Do you love me?" Ardi mengulangi pertanyaannya lagi. Dengan sedikit penekanan seakan tak menginginkan penolakan.


(*Katakan padaku apa yang kamu rasakan... Apakah kamu mencintaiku?)


Cukup lama Ella hanya terdiam tak menjawab. Terlihat sangat bimbang dan menimbang-nimbang segala sesuatu dalam otaknya. Membuat Ardi semakin gregetan dan tak sabaran menanti jawaban. Makin dag dig dug saja jantungnya karena tingginya lonjakan hormon adrenalin dalam tubuh.


Satu detik berlalu...


Lima detik...


Sepuluh detik...


Satu menit...


Tiga menit...


Lima menit pun akhirnya berlalu...


Seems like forever rasanya....


Kenapa waktu berjalan sangat lambat untuk menunggu jawaban dari Ella...


.


..


...


....


.....


"I do...I love you too, mas Ardi..."


Akhirnya jawaban itu datang juga. Lirih saja kata-kata itu terdengar. Jawaban dari mulut Ella yang sudah lama diidam-idamkan oleh Ardi.


Tanpa bisa dicegah kata-kata itu seakan meluncur begitu saja dari mulut Ella. Kata-kata yang seolah langsung dapat meledakkan ribuan kembang api bersamaan di dalam hati Ardi dan Ella sekaligus, saking girang dan bahagianya.


'Sudahlah aku tak ingin membohongi diriku lagi.' Ella akhirnya membulatkan tekadnya. Sudah terlalu lama rasanya batin dan jiwanya tersiksa oleh kerinduan mendalam pada Ardi. Terlalu menyesakkan untuk terus menahan dan memendam rasa cintanya yang terpendam terus menerus di dalam dada.


Dan benar saja, setelah akhirnya dapat mengungkap segala rasa ini. Rasanya begitu lega, bahagia dan segala sensasi menyenangkan langsung menyerbu memenuhi seluruh hatinya. Membuat dirinya seakan melayang terbang ke langit ketujuh.

__ADS_1


Ardi rasanya ingin melompat-lompat kegirangan demi mendengar jawaban Ella. Rasa senang, haru dan bahagia, semua rasa menyenangkan seakan bergabung menjadi satu. Memekarkan kebun bunga beraneka rupa di dalam hatinya, membuat semuanya mekar menjadi warna merah muda yang menunjukkan cinta dan kebahagiaan.


Kedua insan manusia yang dilanda gelora asmara itu tetap duduk berhadapan di lantai, dengan jemari tangan saling menggenggam di antara mereka satu sama lainnya. Saling berhadapan, saling pandang, dan saling melemparkan senyuman bahagia di bibir masing-masing.


Yah hanya begitu saja rasanya sudah sangat bahagia bagi mereka berdua. Cukup lama keduanya menghabiskan waktu seperti itu bahkan tanpa perlu untuk berkata-kata.


"So...El...may I?" Ardi memandangi wajah cantik di hadapannya dengan penuh harap. Berharap Ella mengijinkannya untuk sekedar memberikan kecupan ringan sebagai bukti pernyataan cinta mereka.


Tentu saja Ardi tak ingin memaksa atau menyakiti hati Ella dengan menciumnya tanpa permisi. Dirinya pun tak akan memaksakan jika nantinya Ella akan menolak permintaannya. Yah at least Ella sudah mau membalas perasaanya. Ella mau mengungkapkan rasa cinta padanya. Mau apalagi coba? Tamak bener kalau berharap terlalu banyak.


"Sure..." Ella menjawab sambil tersipu malu.


Makin berbunga saja rasanya perasaan Ardi. Bahagia tak terkira mendengar kesanggupan dari Ella. Ardi semakin mencondongkan wajahnya ke arah wajah Ella. Semakin cantik dengan semakin dekatnya wajah itu. Bibirnya yang merekah merah seolah memanggil-manggil dirinya untuk segera menghampiri dan mendarat disana.


Tapi Ardi tak ingin buru-buru. Tak ingin gairah membara membuat dirinya lepas kendali yang mungkin bisa membuatnya berlaku kasar dan menyakiti Ella. Ardi ingin memberikan kesan selembut dan senyaman mungkin bagi Ella dengan sentuhannya.


Ardi mengulurkan sebelah lengannya untuk menyentuh wajah Ella. Jemari tangan kanan Ardi terulur, mengarah dan meraih wajah Ella, membelai dan mengelus wajah gadis itu dengan sangat halus dan lembut. Kening, pipi, hidung, dagu, diusapnya berulang kali. Terakhir jemarinya berhenti dan bermain main dengan bibir Ella.


Entah mengapa suhu tubuh Ardi tiba-tiba naik dan memanas, sangat panas. Jantung Ardi berdebar sangat kencang seakan mau copot saja rasanya.


Dan sialnya lagi Ardi dapat merasakan adanya sesuatu yang tidak beres di satu bagian bawah tubuhnya. Rasanya ada sesuatu yang mengalami perubahan. Tegak tapi bukan kebenaran, sesuatu yang menonjol tapi bukan bakat...Gairah membara yang entah darimana datangnya.


Ardi semakin mendekatkan wajahnya, semakin mendekat pada wajah Ella, dekat dan semakin dekat. Jemari tangannya beranjak dan bergerak dari bibir gadis itu. Menuju ke leher Ella, berjalan ke bagian tengkuknya. Ardi mendorong dan mengarahkan wajah Ella dengan lembut untuk ikut mendekat ke arah wajahnya sendiri.


Ella memejamkan matanya. Bukan karena takut tapi lebih lebih karena ingin lebih menikmati setiap sentuhan yang diberikan Ardi padanya. Sentuhan yang begitu lemah lembut dan dapat membuatnya seakan melayang jauh di angkasa. Segala sensasi menyenangkan dan bahagia menjalar dan merasuki seluruh tubuhnya. Membakar tubuhnya sampai terasa panas membara.


Dan tanpa dapat dihindari lagi, bibir kedua insan itu bertemu. Awalnya Ardi sedikit kaget dengan sensasi lembut dan manis yang menempel di bibirnya. Enak dan memabukkan. Sensasi yang seakan mampu membakar seluruh tubuhku dalam gairah membara.


Ardi memejamkam matanya, entah setan mana yang merasukinya tanpa sadar kedua tangan pria itu ikut bergerak dengan agresif. Dan begitu sadar, Ardi sudah memeluk tubuh Ella dengan sangat kuat. Ardi merangkul dan mendekap punggung gadis itu.


Kedua bibir Ardi dan Ella beradu dan bertemu dengan gerakan yang cukup membara, saling menyambut dan membalas satu sama lain. Kedua napas mereka sama-sama cepat dan memburu sehingga keduanya dapat merasakan hembusan napas masing-masing.


Beberapa lama waktu berlalu dan keduanya terhanyut dalam kenikmatan cumbu rayu. Kemudian Ardi seolah tersadar dari segala godaan setan jahat. Sisa-sisa kesadaran dan kewarasan di otak Ardi mengingatkan dirinya untuk menahan diri dari bertindak brutal yang lebih jauh lagi.


'Gawat! Aku harus menghentikannya sebelum setan jahat semakin merasuki pikiranku. Sebelum aku bertindak kelewatan dan kebablasan yang mungkin bisa menyakiti Ella.' Ardi memperingati dirinya sendiri untuk menyudahi perbuatan gilanya.


Dengan gerakan lemah lembut Ardi melepaskan tautan bibirnya dari bibir Ella dan melonggarkan pelukan dari tubuh gadis itu. Memundurkan tubuhnya beberapa jengkal dari tubuh Ella.


Ardi mengatur kembali napasnya yang tidak teratur untuk memasukkan banyak-banyak oksigen ke otak, untuk membuat dirinya kembali dapat berpikir lebih rasional.


Ella juga melakukan hal yang sama, mengatur napasnya. Menata emosinya yang sempat menggila dan meninggi. Menata debaran di dada yang seakan meledak-ledak tak karuan. Ella mengalihkan wajahnya yang sudah terasa sangat panas dari hadapan Ardi. Tak ingin pria itu melihat wajahnya yang pasti sangat memalukan sekarang.


Entah apa saja yang telah terjadi barusan Ella sama sekali tak dapat menjelaskannya. Yang dia tahu, dirinya hanya mengikuti arahan dan tuntunan dari Ardi yang terasa begitu lembut tanpa kesan paksaan. Membuat Ella semakin lama semakin terlena dan lupa daratan demi merasakan segala kenikmatan dan gairah membara.


"Ella?... Maaf ya... Aku kelewatan..." Ardi meminta maaf saat menyadari reaksi Ella yang sepertinya terlihat sedikit tidak nyaman. Merasa sangat bersalah karena tak bisa sedikit bersabar dan menahan diri dari godaan setan dan gairah.


Ella tidak menjawab, masih terlalu sibuk dengan menenangkan segala sesuatu dalam tubuhnya. Menata segala sesuatu yang tidak teratur juga. Otaknya masih terasa kosong tak bisa diajak berpikir dan merangkai kata.


"El, Kamu gak pa-pa?" Ardi semakin khawatir karena Ella diam saja dari tadi. Apa dia marah? Apa dia kecewa karena aku terlalu agresif? Ardi semakin bingung dan mengutuk kebodohannya sendiri.


Ella menggelengkan kepalanya beberapa saat kemudian setelah beberapa waktu. Setelah berhasil mengembalikan akal sehatnya dan menguasai dirinya kembali.


"Aku... Aku rasanya kayak abis naik roller coaster..." Ella tiba-tiba menjawab dengan kata-kata yang ambigu dan susah untuk dipahami.


"Haaaaaah?" Ardi bertanya kebingungan.


"Ya rasanya kayak dijungkir balikkan gitu sensasinya. Jantung kadang berhenti berdetak, lalu tiba-tiba sangat cepet detaknya...Sensasinya kayak naik roller coaster." Ella mencoba menjelaskan.


Ardi melongo, gemes juga mendengarkan penjelasan Ella barusan. Yaampun ini cewek lugu banget si. Kayak gak punya dosa gitu. Eh malah kegirangan kayak abis naik roller coaster katanya?

__ADS_1


Gak tahu apa yang disini udah ketar ketir setengah gila. Menahan segala sesuatu yang harus ditahan. Gak tahu apa kalau hampir khilaf aku tadi, ampir aja aku makan kamu, El! Eh kamunya malah gak merasa kayak gini... Dasar bener-bener cewek gak peka.


"Tapi enak gak? Seneng rasanya?" Ardi makin penasaran dengan reaksi dan tanggapan Ella.


"Enak si, seneng juga. Ya asik aja pokoknya kayak naik roller coaster. Membuat ketagihan..."


"Ketagihan? Mau lagi? Ayo aja!..." Ardi semakin antusias mendengarkan tanggapan Ella. Menggodanya. Yah kalau mau lagi ayo aja hehe.


"Eh?..." Ella seolah tiba-tiba tersadar kemana arah pembicaraan mereka. Kontan wajahnya memerah lagi. Bagaikan kepiting rebus.


"Enggak! Enak aja! Dasar mas Ardi mesum!" Ella memprotes marah pada Ardi.


"Hahahahaha." Ardi ngakak tak tertahankan. Yaampun ini anak udah tiga tahun berlalu masih aja lugu dan gemesin kayak gini.


"Nyebelin!" Ella memasang muka ngambeknya.


"Kirain kamu udah pinteran dikit karena udah jadi dokter spesialis, El. Gak tahunya sama aja kayak dulu hahahaha." Ardi makin menjadi menggoda.


"Huh! Gak ada hubungannya spesialis sama hal mesum kayak gini!" Ella masih manyun.


"Hahahaha aduuh duh duh perutku sakit kebanyakan ketawa." Ardi memegangi perutnya sambil tetap ngakak gak bisa berhenti.


"Mas Ardi? Gak pa-pa?" Ella sedikit khawatir juga melihat Ardi yang sepertinya kesakitan beneran.


"Iya gak pa-pa, cuma kelaperan. Asam lambung agak naik kayaknya."


"Mas Ardi belum makan siang?"


"Belum. Tadi dari kantor langsung ke butik dulu baru ke food cort rencananya...Tapi malah ketemu kamu. Gak jadi makan deh."


"Ayo aja," Ardi bangkit dari posisinya yang masih duduk-duduk di lantai. Diulurkannya lengannya untuk membantu Ella berdiri juga.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Ardi setelah mereka berdua berjalan beriringan ke dalam mall.


"Aku udah makan. Nemenin mas Ardi makan aja."


"Bentar-bentar..." Ardi seperti teringat akan sesuatu. Merogoh-rogoh saku celananya, saku jasnya, mencari-cari sesuatu.


"Cari apa?" Ella bertanya penasaran.


"Duh Mampoos! Kunci mobil, dompet dan lain-lain dibawa Bambang semua!" Ardi kontan menepuk dahinya. Dia baru menyadari bahwa dirinya gak bawa apa-apa. Semua barangnya dibawakan oleh Bambang. Bahkan gak ada uang sepeserpun yang dibawanya.


"Hahahaha dasar sultan kere!" Ella tertawa geli menyadari kecerobohan Ardi. Bisa-bisanya kan keluyuran begini tanpa membawa apa-apa. Bawa badan doank.


"Ayo aku yang traktir. Tapi traktiran ala rakyat jelata." Ella menawarkan dan Ardi menurut saja kegirangan.


"Apa aja lah yang penting bikin kenyang."


Mereka pun berjalan beriringan berdua layaknya sepasang kekasih yang berbahagia. Padahal entah apa status hubungan mereka saat ini. Yang pasti untuk saat ini mereka berdua hanya ingin menikmati kebersamaan mereka berdua.


Untuk hari ini saja. Tak usah memikirkan hal lainnya. Hanya ada mereka berdua dengan perasaan cinta mereka yang membara. Urusan besok biarlah nanti saja dipikirkan lagi belakangan.


'Biarkan waktu yang memainkan perannya. Aku dan kamu menjadi seperti apa, sedekat apa, sejauh apa, dan bagaimana kedepannya. Yang kutahu mendoakan hubungan kita adalah jalan terbaik untuk saat ini.' Ella akhirnya membuat keputusan.


~∆∆∆~


Gimana gaes udah panas belum? Udah puas naik roller coaster bareng Ella dan Ardi?


🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼

__ADS_1


__ADS_2