
Para team ganteng hanya pergi sekitar 20 menit untuk membawakan para tim cantik beberapa piring berisikan makanan. Bahkan di belakang mereka mengikuti pula 2 orang pelayan yang membawa piring dengan menu berbeda serta minuman menyegarkan.
Meski mereka meruapakan kesatuan grup tapi diputuskan para team cantik duduk berdekatan dengan team ganteng terpisah dari mereka. Agar kedua tim dapat melakukan pembicaraannya dengan lebih leluasa. Girls talk dan business talk yang merupakan topik favorit dari kedua tim .
"Ini makanan dan minuman yang gak ada alkoholnya, honey." Ardi meletakkan gelas dengan cairan sedikit berbusa warna pink di hadapan Ella. Blueberry Rose Mocktail. Ardi juga menyodorkan beberapa makanan untuk Ella santap dipiringnya.
"Ok, makasih ya." Ella menerima perlakuan Ardi dengan gembira. Perlakuan sama seperti yang didapatkan para wanita lain di sebelahnya. Rupanya pada sultan ini memang sangat lembut dalam memperlakukan para wanitanya, memperlakukan bak seorang ratu.
Setelah memastikan keamanan makanan dan minumannya, Ella segera meminum segelas Mocktail pemberian Ardi untuk melegakan tenggorokan yang lelah. Selanjutnya Ardi mengambil duduk mengobrol dengan kalangannya.
Ella sebelumnya berpikir bahwa bergaul dengan wanita-wanita kalangan jetset akan melelahkan karena merasa harus jaga image setiap saat agar tidak diremehkan. Tapi ternyata itu cuma perkara personal saja.
Baik Kika, Laras dan Rena ternyata cukup menyenangkan untuk menjadi teman mengobrol. Ketiganya yang dari kalangan konglomerat sama sekali tidak memandang rendah atau mempermasalahkan status sosial Ella yang berbeda dengan mereka.
"Kak Ella apa serah-serahan pernikahannya sudah siap semua?" tanya Kika sambil melahap sepotong Beef Wellington yang terlihat sangat lezat.
Ella mengangguk tapi juga memutar bola matanya. "Sudah kayaknya. Tapi ampun dah waktu diajak belanja barang-barang itu. Pusing sendiri aku liat harganya. Udah tahu mahal juga ngambilnya gak kira-kira. Semua dibungkus." Ella mengutarakan keluhannya.
"Biasa aja kok mbak. Namanya juga serah-serahan ya harus bagus dong. Harus enak diliat karena bakal dipajang juga." Laras menyeletuk tak terima.
"Ya.. Tapi tas puluhan juta kan terlalu mahal. Seumpama dicopet aku lebih kuatir sama tasnya daripada isi dompetnya." Ella berusaha membela diri. Mengatakan kebenaran, gak mungkin juga dirinya bawa duit puluhan juta.
"Asalkan Ardi mampu dan nggak keberatan seharusnya nggak apa-apa dong." Rena sepertinya berada di tim Laras. Tim fashionista papan atas. Rena sebagai mantan pacar Ardi juga tahu benar bahwa Ardi bukan pria yang pelit untuk membiayai kekasihnya.
Merasa kalah jumlah, Ella melirik pada Kika untuk meminta dukungan. Berharap Kika dapat sedikit mendukung pendapatnya.
"Bukannya aku tidak paham perasaan Kak Ella. Aku juga pernah merasa tak habis pikir kenapa sebuah tas bisa dihargai lebih mahal daripada ponsel pintar keluaran pabrikku." Kika berusaha menjelaskan.
"Tapi sekali lagi: Ada harga, ada barang. Bisa jadi tas itu memang sudah melalui produksi yang jauh lebih mahal daripada produksi sebuah ponsel canggih."
Ella mengangguk sambil memikirkan statment Kika barusan. Berusaha mencerna apa yang dikatakan gadis itu. Kika ini meski di luar terlihat manis dan manja tapi ternyata bisa bijak juga dalam berbicara.
"Perkara tas juga gitu. Jangan hanya membandingkan fungsinya sebagai alat bantu pembawa barang saja. Pikirkan juga lifetime nya. Biasanya tas mahal saking awetnya sampai bisa diwariskan ke anak cucu lho." Kika mengakhiri penjelasannya.
"Emang bisa seawet itu?" Mata Ella terbelalak. "Ya masuk di akal juga sih kalo gitu ceritanya. Tas yang umumnya kubeli di pasar rata-rata umurnya paling lama cuma 2 tahun." Ella mengingat tas middle classnya.
"Selain itu juga kita harus memikirkan image apa yang ingin kita sampaikan ke orang lain." Rena yang seorang model tentunya sangat memahami tentang menjaga image ini.
"Kita berada di lingkungan yang mana kesan pertama itu sangat penting. Jadi sebisa mungkin kita memberikan image yang terbaik di hadapan orang lain dalam satu pandangan." Laras ikut menambahkan pendapatnya berusaha meyakinkan calon kakak iparnya itu.
"Aku nggak bilang kalo pake tas yang tidak branded itu jelek. Silakan aja kalau mbak Ella pengen sering pakai untuk kegiatan sehari-hari. Mungkin ke pasar, ke rumah temen atau reuni SMA."
"Tapi akan ada momen-momen tertentu yang mengharuskan kita tampil benar-benar tak bercela. Nggak mau kan kita pas ada acara penting ketemu dengan calon investor waktu lagi pake tas yang engselnya hampir putus."
"Ntar dikira keluarga Pradana keuangannya lagi jatuh karena nggak mampu beli tas dengan engsel bagus. Dikira Ardi Pradana gak mampu belikan istrinya tas yang layak. Better be cautious than sorry." Laras terlihat puas sudah mengeluarkan semua uneg-unegnya. Laras ingin mengingatkan Ella untuk menjaga nama Ardi dan nama keluarga mereka.
(*Lebih baik bersiap daripada menyesal)
"Kak Ella boleh saja berpikir bahwa orang yang menilai orang lain dari penampilan itu, Picik. Tapi ingat juga bahwa manusia memang nggak bisa disamaratakan. Ada yang memegang teguh prinsip seperti itu. Jadi kita juga harus menyesuaikan." Kika mengambil kesimpulan dari diskusi mereka.
__ADS_1
"Aku jadi takut nih. Sepertinya setelah menjadi istri mas Ardi aku jadi punya beban baru yang sangat berat." Ella menjawab sedikit bergidik sambil menggosok-gosok kedua telapak tangannya yang tiba-tiba merasakan ilusi dingin.
"Jangan kuatir, Kak Ella pasti bisa kok. Mungkin awalnya berat karena masih belum biasa dan proses adaptasi." Kika berusaha menangkan Ella. Dirinya yang merupakan anak tiri di keluarga Wismail juga pernah merasakan culture shock yang sama seperti Ella. Berbeda dengan Laras atau Rena yang memang sudah sultanwati sejak lahir.
Ella merasa terharu dan sedikit kagum dengan perkataan Kika. Seolah gadis itu dapat memahami segala kegalauan yang dirasakan Ella selama ini.
"Kenapa nggak dari dulu-dulu aja ya aku pertemukan kalian." Laras menghela nafas lega. "Jadinya mindset kita pas belanja kemaren bisa satu frekuensi."
Ella terkikik geli mendengar keluhan calon adik iparnya. "Yah maap. Habis aku nggak dikasih briefing dulu sih kemarin."
"Yasudah, karena udah satu frekuensi boleh lah kalo kapan-kapan kita shopping bareng." Rena memberikan usul yang langsung disambut pekikan setuju dari Laras memberi dukungan. Sementara Kika dan Ella juga tersenyum menyetujui usulan itu.
Setelah cukup lama kedua grup ganteng dan grup cantik itu beramah tamah, satu persatu pasangan minta ijin untuk undur diri.
Ngapain? Sudah jelas untuk melancarakan kepentingan bisnis mereka masing-masing. Mereka harus berkeliling menyapa dan beramah tamah dengan para tamu lain, terutama yang menjalin kerjasama bisnis dengan perusahaan mereka.
Ardi juga mengajak Ella untuk berdiri dari table set mereka, mengandeng lengan gadis itu untuk mendatangi target pertama mereka. Seorang pria yang dilihatnya berdiri di dekat poolside sambil ditemani seorang wanita.
"Selamat malam pak Handoko Tahir, nyonya Tahir." Ardi menyapa kedua sosok itu. Seorang pria berusia empat puluhan tahun bersama istrinya yang sepertinya keturunan Tionghoa. Mereka merupakan Penguasa dari Tahir Group. Grup yang berkecimpung di bidang industri properties juga.
"Selamat malam, Ardi Pradana." Handoko menyambut Ardi dengan sumringah. "Wah tumben bawa cewek ni?" lanjutnya sedikit menggoda Ardi yang memang jarang sekali terlihat menggandeng seorang wanita di pesta beberapa tahun belakangan.
"Kenalkan ini, Ella calon istri saya." Ardi langsung mengenalkan Ella bahkan tanpa basa basi terlebih dahulu.
"Salam kenal nyonya Pradana." Handoko mengangguk ramah sebagai salam.
Ella menyambutnya dengan senyuman dan anggukan sopan juga. Sedikit kikuk juga karena perkenalan mendadak tanpa aba-aba.
"Tungguin saja paling satu dua bulan kedepan, undangan resminya masih belum jadi hehe." Ardi menjelaskan rencana pernikahan yang masih on going proses.
Setelah perkenalan dan basa basi singkat, pembicaraan Ardi dan Handoko kembali berkelumit di seputaran pangsa bisnis mereka. Membicarakan kerjasama serta pertukaran produk yang sekiranya dapat dilakukan untuk keuntungan masing-masing.
Ella seperti yang diperintahkan Ardi sebelumnya hanya perlu diam berdiri disampingnya, senyam-senyum sambil terus menautkan lengan di lengan Ardi. Tidak begitu sulit sebenarnya tetapi cukup membosankan dan menguras tenaga setelah beberapa kali melakukannya.
Gimana gak capek kalau terus-terusan berdiri dengan high heels, dengan menjaga postur tubuh setegak dan seanggun mungkin, menyunggingkan senyum lebar untuk siapapun dan mendengarkan pembicaraan yang sama sekali tak dimengerti olehnya.
"Kamu capek?" Ardi menanyai Ella setelah mereka menyapa tamu ketiga. Tak tega juga melihat Ella yang sepertinya tidak nyaman.
"Agak haus aja." Ella menjawab jujur. Memang daritadi dirinya cuma meminum segelas Mocktail yang diberikan Ardi padanya.
"Kamu tungguin disini dulu deh, aku ambilin minuman." Ardi memberikan perintahnya sambil mengamati keadaan di sekeliling mereka. Sepertinya masih aman, mending di poolside ini lumayan sepi daripada harus berdesakan ke bagian meja prasmanan.
"Apa aku anterin ke Laras aja biar kamu ada yang nemenin?" Ardi memberikan pilihan kedua yang lebih aman untuk Ella.
"Laras juga pasti sedang menemani mas Mahes kan? Lagian aku kan sudah Segede gini, gak papa kok ditinggal sebentar," Ella berusaha meyakinkan Ardi yang menurutnya terlalu terlalu khawatir padanya.
Memang suasana disini terasa asing, baru dan tidak nyaman bagi Ella, tapi apa perlu sekhawatir itu? Memangnya apa yang kemungkinan bisa terjadi padanya? Hilang? Tersesat? Mana mungkin Ella sebodoh itu.
"Yaudah deh, kamu tetep disini ya. Jangan kemana-mana sampai aku kembali." Ardi tetap mewanti-wanti. Masih tak tenang saja rasanya untuk meninggalkan Ella sendirian.
__ADS_1
"Iya, aku tungguin." Ella mengangguk mantab untuk meyakinkan Ardi.
Setelah Ardi berlalu meninggalkannya, Ella mengedarkan pandangannya ke segala penjuru poolside ini. Kolam renang berbentuk segi empat membentang di sisi kiri, taman yang apik juga tertata di sekitarnya. Sementara di sisi kanan deretan table set ditata apik untuk tempat tamu beramah tamah dan menikmati hidangan.
Di bagian sisi lain dari kolam renang Ella dapat melihat sosok yang sepertinya dikenalnya. Kika Wismail, gadis itu sedang berdiri sendirian juga. Kemana Johanh Astin dan Irza Wismail? Bukannya kedua pria itu biasanya selalu mengawal Kika bagaikan bodyguard kemana saja gadis itu pergi?
Entah mengapa Ella merasa Kika itu terlihat sedikit tidak begitu normal. Seperti gugup dan tidak begitu nyaman untuk berada di tengah keramaian seperti ini. Mungkin hampir sama saja seperti apa yang dirinya sendiri rasakan. Tapi bukankah Kika juga bagian dari orang-orang jetset sultan dan sultanwati yang sudah terbiasa berpesta?
Tanpa Ella sadari, dirinya sudah melangkahkan kaki dan berjalan untuk mendekat ke arah Kika berdiri. Melupakan janjinya sendiri pada Ardi untuk menunggu di tempat mereka terakhir bertemu sebelumnya.
"Kika? Kok sendirian? Kamu gak pa-pa?" Ella bertanya menyapa Kika saat jarak mereka sudah dekat. Sedikit khawatir dengan wajah Kika yang sepertinya sedikit pucat.
"Eh Kak Ella." Kika sepertinya lega melihat Ella yang menyapa dirinya.
"Kak Jo pulang duluan setelah mendapat panggilan penting. Sementara Kak Irza tadi si katanya mau mengambilkan minuman, tapi sepertinya kecantol ngobrol sama yang lain."
"Yaudah sini aku temenin." Ella menawarkan diri untuk menemani Kika. Entah mengapa rasanya tak tega meninggalkan Kika sendirian. Disamping untuk dirinya sendiri juga, kan jadi punya temen ngobrol.
"Makasih ya," Kika tersenyum kegirangan. "Kak Ardi mana?" Kika melanjutkan untuk bertanya heran melihat Ella hanya sendirian.
Bukannya seharusnya Ardi tidak membiarkan Ella berkeliaran sendirian saja? Terlalu berbahaya. Seharusnya dititipkan dulu kepada seseorang yang dikenalnya. Gimana kalau gadis ini nyasar atau bertemu orang-orang yang tidak seharusnya dia temui?
Karena tidak semua Sultan dan sultanwati itu berhati baik. Tidak semua dari mereka satu visi dan misi. Bahkan tak jarang mereka akan saling menjatuhkan pada lawan-lawan bisnis mereka. Berbagai macam upaya bahkan rela dilakukan termasuk sampai mencelakai para penerus grup lawannya.
Untuk Grup sebesar Pradana tentunya tidak sedikit kalangan yang membenci dan ingin menghancurkan mereka. Baik secara terang-terangan atau terselubung.
Kika jadi teringat akan kemalangan yang pernah menimpa dirinya sendiri. Tragedi yang menorehkan luka dan trauma sangat dalam padanya. Membuatnya membutuhkan banyak waktu untuk dapat pulih dan bangkit kembali.
"Mas Ardi juga sedang mengambilkan minuman." Ella menjawab pertanyaan Kika.
Ella jadi teringat janjinya pada Ardi untuk menunggu calon suaminya itu di tempat terakhir mereka bertemu. Ella celingukan mengedarkan pandangan untuk mencari-cari sosok Ardi diantara kerumuman orang. Mencari ke arah tempat pertemuan mereka. Tidak ada, sepertinya Ardi belum kembali.
"Buuugghh!"
Tiba-tiba saja seseorang menabrak tubuh Ella dengan sangat keras. Tabrakan yang mampu membuat tubuh Ella oleng dan terpaksa mundur beberapa langkah. Menyeimbangkan tubuhnya agar tidak jatuh tersungkur.
Dan sialnya kakinya yang memakai high heels sepertinya menapak pada posisi yang salah. Membuat pergelangan kaki kanannya terasa sangat sakit, mungkin terkilir...
Butuh beberapa detik bagi Ella untuk menyadari apa yang telah terjadi sampai dirasakannya sensasi dingin di bagian dadanya. Dan begitu Ella sadari bagian putih dressnya sudah ternoda oleh tumpahan red wine. Tumpahan yang membuat warna putih dressnya menjadi kemerahan.
"Brengsek! Kalau bengong jangan ditengah jalan!" Seorang Pria tiba-tiba membentak dan memaki Ella dengan nada sangat keras. Pria yang tadi menabrak tubuh Ella. Pria yang sepertinya sudah setengah mabuk.
Pria itu menghampiri Ella "Biitch! Elu numpahin minuman gue!" hardiknya marah pada Ella dengan pandangan berkilat-kilat.
Ella diam saja dengan ekspresi tercengang. Terlalu bingung harus menjawab apa pada pria kurang ajar ini. Terlalu marah dan emosi demi melihat reaksi orang yang menabrak dan menodai pakaiannya. Bisa-bisanya dia tidak minta maaf malah mengumpat begitu?
~∆∆∆~
Penasaran dengan tokoh Johanh, Kika dan Irza? Mereka ada di novelnya temenku ASTARI berjudul YOUNG MISS. Jangan lupa dikepoin juga ya dijamin gak kalah serunya 🥰
__ADS_1
🌼Yuuuuks say jangan lupa LIKE, VOTE dan KOMEN yaaaa 🌼