
Hari Minggu ini adalah hari yang sudah dijanjikan untuk Ella dan Ardi akhirnya dapat bertemu secara resmi. Bukan sembunyi-sembunyi seperti tempo hari Ardi mendatangi Ella di RS. Hartanto Medika dengan kabur dari kantornya.
Mau ngapain? Nemuin E.O yang sudah dipesan oleh mama Kartika dan Laras. Memang selama ini Ella dan Ardi tak pernah mengurusi sendiri masalah pernikahan mereka. Karena kesibukan dan urusan masing-masing, akhirnya Laras dan mamanya yang banyak berhubungan dengan orang-orang E.O.
Pagi itu Ardi menjemput Ella di rumahnya dan membawanya ke gedung tempat E.O itu berkantor. Untuk apa? Sekedang mengecek persiapkan, menyamakan persepsi dan keinginan kedua mempelai tentang konsep pernikahan mereka. Pemilihan busana pernikahan dan tentunya dilanjutkan dengan pengambilan foto prewedding.
Karena padatnya acara dan keterbatasan waktu, makan untuk urusan foto prewedding ini hanya dilakukan indoor. Di studio foto saja. Ardi tak bisa mengepaskan dan mengosongkan jadwalnya untuk memenuhi rencana awal konsep foto prewedding outdoor.
Laras dengan semena-mena merencanakan mereka akan melakukan pemotretan di daerah gunung, hutan, dan pantai sekaligus. Dan tentunya dilakukan di tiga kota terpisah pula. Rempong jelasnya. Dan langsung ditolak mentah-mentah oleh Ardi. Ella pun ikut senang karena tak perlu pindah lokasi terlalu banyak hanya untuk foto prewedding.
"Selamat pagi Pak Ardi dan Bu Ella. Saya Hawa yang bertugas menangani segala urusan di pernikahan anda." Seorang wanita berperawakan langsing dan berkulit kecoklatan menyapa Ella dan Ardi. Hawa terlihat ramah dan menyenangkan serta tampil modis dalam balutan hijab style kekiniannya.
"Kita mau ngapain dulu?" Ardi bertanya to the point.
Ella dapat merasakan sepertinya mood Ardi sedang buruk hari ini. Memang gak pernah baik sih mood calon suaminya itu karena kasus dengan Gengen belum kelar dan belum menemukan titik terang. Seakan masih dihantui oleh ketakutan bahwa pernikahan mereka akan ditunda. Takut tercium oleh media dan menjadi konsumsi publik.
Takut dipenjara juga kayaknya hehehe. Meskipun rasanya tak mungkin, karena dengan kemampuan superpower kesultanan, Ardi pasti bisa menghindari kemungkinan ini. Apalagi kesalahan yang dilakukan Ardi juga tidak terlalu berat. Dan Ella juga bisa bersaksi untuk membenarkan tindakan Ardi. Hanya sebagai pembelaan karena calon istrinya dihina oleh Gengen.
"Mari ikuti saya," Hawa tersenyum sopan, berusaha bersabar melayani klient-nya yang sepertinya agak sulit ini. Tapi bagaimanapun mereka adalah klient VVIP jadi ya tetap harus dilayani dengan sangat baik. Service excellent.
Hawa membawa Ardi dan Ella ke bagian percetakan undangan, menunjukkan untuk memilih cover dan desain undangan pada keduanya.
"Untuk isi dan tulisan dalam undangan sudah kami cetak sesuai dengan konsep yang dikirimkan Bu Laras. Cuma untuk pemilihan cover akan diserahkan langsung pada kedua mempelai katanya."
"Bagus-bagus semua jadi bingung." Ella memandangi berbagai cover undangan dari kain satin lengkap dengan Gasper mewahnya dalam berbagai warna dan model.
Ini undangan perbijinya berapa coba? Kan nantinya bakal dibuang juga nagapain mahal-mahal? Jiwa misqueen Ella memberontak tapi mencoba tidak protes. Ngikut aja sesuai kesepakatan awal bahwa pesta pernikahan akan dilaksanakan sesuai keinginan keluarga Pradana.
"Konsepnya apa? Golden marriage kan? Yang itu aja." Ardi menetapkan pilihannya pada undangan berwarna coklat dengan pita gold dan gesper mutiara. Simple and elegan.
"Baiklah yang ini ya," Hawa mencatat untuk undangan sudah fix sesuai pilihan Ardi.
Selanjutnya Hawa mengantarkan keduanya ke bagian pakaian. Sekarang giliran memilih model gaun dan tuxedo untuk kedua mempelai. Hawa mempersilahkan keduanya duduk dan menyodorkan beberapa buah album foto wedding dress.
"Untuk akad nikah pakai adat tradisional atau western?" Hawa bertanya kepada kedua klient-nya.
"Jawa." Ardi yang langsung memutuskan.
"Kalau yang Jawa di Album yang ini." Hawa menunjukkan Album foto khusus untuk model-model kebaya pernikahan.
"Kamu pilih honey, mau pakai yang mana." Perintah Ardi pada Ella. Bingung kalau dirinya yang harus milih, kayaknya sama semua modelnya.
"Yang ini aja ya?" Ella menunjuk salah satu foto, meminta persetujuan Ardi. Dan tentu saja yang dipilih Ella adalah model sederhana dan tidak terlalu terbuka dan sopan.
"Boleh," Ardi menyetujui.
"Ok untuk akad yang ini. Pak Ardi memakai jas atau ikut adat Jawa?" Hawa memastikan outfit Ardi juga.
"Jawa," Ardi menjawab singkat.
"Modelnya yang bagaimana?"
"Terserah," Jawaban singkat lagi.
Hawa langsung mingkem gak berani bertanya lebih jauh lagi pada Ardi.
"Sini saya yang bantu memilihkan." Ella mengalahi untuk memilih, merasa tak enak juga dengan sikap Ardi yang sedang Uring-uringan.
__ADS_1
"Yang ini saja, mbak." Ella memutuskan memilih salah satu model pakaian adat Jawa pria berwarna putih yang cocok dengan kebaya pilihannya tadi.
"Baik saya keep ya modelnya. Untuk akad nikah pakai yang ini...Untuk acara di gedung mau pakai konsep apa? Acara rencana diadakan dua hari jadi bisa memakai 2 konsep." Hawa kembali bertanya.
"Western." Jawab Ardi.
"Untuk hari pertama atau kedua pak?" Hawa lama-lama kesel juga dengan omongan irit Ardi.
Diam. Ardi tidak menjawab malah memberikan tatapan mata tajamnya pada Hawa. Makin pusing lah si mbak E.O. Ella yang melihatnya sudah cekikikan dalam hati. Duh mas Ardi bisa nangis ini si mbak lama-lama.
"Western dua-duanya mbak." Ella lagi-lagi mengalahi untuk menjawab.
"Modelnya yang bagaimana?" Hawa menyodorkan album foto untuk western wedding dress.
"Yang sopan," sekali lagi Ardi menyeletuk.
'Sial, ini orang kok lama-lama ngeselin banget ya? Gue telen ntar lo lama-lama! Untung ganteng, kaya lagi.' Hawa sudah meronta-ronta dalam hati.
"Ini ada berbagai macam model mau pilih yang mana?" Hawa tidak menunjukkan foto ke Ardi, mangkel.
Dia mengalihkan perhatiannya ke Ella saja yang lebih enak diajak berbicara dan komunikasi. Dan akhirnya setelah cukup lama berdiskusi tentang model baju serta mendapat persetujuan dari tuan galak akhirnya berhasil dipilih dua model wedding dress yang nanti akan dipakai.
Sesi selanjutnya dilanjutkan dengan pengukuran badan untuk pembuatan pakaian mereka. Mana mau sultan make pakaian bekas orang lain, bikin baru donk pastinya.
Setelah selesai pengukuran baju, Hawa mengajak keduanya kembali duduk dan mununjukkan satu album foto lainnya yang memuat berbagai macam model dekorasi ruangan pesta. "Untuk dekornya pilih konsep yang mana nantinya?"
"Terserah," Lagi-lagi si sultan menjawab seenaknya.
'Terserah sekali lagi dapet piring cantik lu pak.' Hawa kembali membatin dongkol.
"Hmmmm...Untuk dekorasi dan segala urusan teknis lainnya seperti catering mending ngikut apa kata Bu Laras dan Bu Kartika saja." Ella memberi saran. Tak berani memutuskan sendiri kali ini, takut tak sesuai dengan selera para sultan Pradana ini.
"Udah ah, aku capek," Ardi beranjak dari duduknya. Pergi menjauh dari Hawa dan Ella. Berjalan seenaknya berkeliling ruangan mencari suasana.
'Sabar-sabar...inget dia tajir, sumber duit...inget cicilan rumah belum lunas, cicilan mobil, arisan juga belum bayar.' Hawa berusaha masih tersenyum pada Ardi. Demi hajat hidup barang kreditnya.
"Souvenir juga ikut apa kata mereka saja." Ella ikut beranjak dari duduknya, menghampiri Ardi. Berusaha membuatnya sedikit bersemangat lagi.
"Are you ok?" tanya Ella sambil memberikan muka jahilnya untuk mengembalikan mood Ardi.
Ardi mau tak mau gemas juga melihat wajah jahil Ella yang lucu. Dia hanya mengangguk, tersenyum ringan menjawab pertanyaan Ella.
"Baiklah kalau begitu nanti selebihnya akan saya bahas dengan Bu Laras. Selanjutnya kita beralih ke foto prewedding saja ya." Hawa merasa ini dua orang calon manten sama-sama gak mau ribet. Yaudah mending langsung foto, kelar deh tugasnya.
"Mari lewat sini," Hawa menunjukkan jalan ke arah studio foto yang ada di ruangan lainnya.
Ella segera menarik lengan Ardi untuk mengikuti langkah Hawa. "Mas Ardi jangan berulah biar cepet selesai ini acaranya." Ella berbisik pada Ardi. Memang kelihatan sekali calon suaminya itu sudah bosan dan bad mood.
Mereka bertiga pun memasuki sebuah ruangan studio foto yang lengkap dengan berbagai setting dan latar belakang. Sudah seperti studio profesional para artis papa atas saja rasanya.
"Untuk make up ada rekan saya, Soni. Untuk fotonya nanti sama rekan saya yang lain Ali." Hawa memperkenalkan crew studio pada Ella dan Ardi.
"Halo cyin, si mbak cantik didandanin dulu ya sebelum foto. Nanti kalau sudah selesai baru si mas ganteng di dandanin." Seorang pria yang sedikit melambai menyapa Ella.
"Aku gak usah dandan." jawab Ardi.
"Ya nanti dibersihkan aja wajahnya biar seger. Agak lama ini dandannya, mas ganteng tungguin di sofa aja." Soni sedikit menawar sebelum mengajak Ella ke ruangan Make up artis.
__ADS_1
Dan akhirnya sambil menunggu Ella didandani Ardi menghampiri sofa. Tiduran disana, terus kebablasan tidur beneran. Karena ternyata proses dandan Ella untuk pemotretan ini sangat lama, berjam-jam. Entah make up model apa saja yang dipakaikan di wajah Ella oleh Soni sang periasnya.
Setelah Ella selesai berdandan, Ardi pun dibangunkan dari tidurnya. Ardi juga diminta untuk segera berganti pakaian dan sedikit touch up wajah.
Betapa kagetnya dia saat memasuki studio foto, dirinya mendapati wanita secantik bidadari di depan matanya. Wanita yang sedang melakukan pemotretan Solonya. Ella dengan high end Stapless wedding dress yang dikenakannya. Gaun berwarna putih dengan detail bunga-bunga timbul dengan Payet di seluruh permukaannya.
"Glek!"
Ardi mau tak mau menelan ludah demi melihat wajah Ella dengan sapuan make up minimalisnya yang terkesan natural. Hairdo juga tidak berlebihan dengan hanya disanggul kebelakang dan memakai headpiece simple di atas kepalanya. Cantik dan sangat cantik.
'You look so beautiful in White.'
"Gak ada baju lainnya? Yang itu terlalu terbuka!" Ardi memprotes pada perias Ella. Memang cantik si, tapi kok rasanya terlalu terbuka begitu.
"Maaf tidak ada pak, karena kami hanya menyiapkan baju yang sudah dipesan oleh Bu Laras dan Bu Kartika." Hawa yang kali ini menjawab, tidak menerima komplain karena outfit untuk pemotretan prewedding memang sudah dipesan khusus.
"Duh mas ganteng kan ini cuma buat foto, gak pa-pa lah. Nanti kita ambil angle yang tidak menonjolkan sensualitas." Soni sang perias mencoba merayu Ardi. Sambil sedikit melakukan touch up pada wajah ganteng Ardi serta membantunya memakai tuxedo.
Akhirnya Ardi pun tidak lagi menolak, mau saja untuk berfoto dengan berbagai macam pose. Mulai dari foto solo sampai foto berdua dengan Ella. Bahkan tak jarang diarahkan untuk berpose sedikit mesra.
"Aduh mas ganteng senyumnya mana?" keluh Ali sang fotografer karena daritadi wajah Ardi terlalu kaku dan serius.
"Berisik," jawab Ardi tetap tak mau senyum.
"Pak, jadi kayak gak akur ni fotonya," Hawa ikut berkomentar, tak ingin hasil pemotretan kali ini jelek. Bisa diprotes habis-habisan sama Bu Laras nanti.
"Bodoh amat," Ardi gak perduli.
"Sini deh," Ella meminta time break sebentar untuk berbicara berdua dengan Ardi. Buru-buru ditariknya tubuh Ardi ke balik layar yang tak terlihat siapa pun.
"Mas...Senyum dikit donk jangan pelit-pelit."
"Gak bisa, lagi gak mood..."
"Kalau kamu kayak gitu terus gak selesai-selesai ini pemotretannya." Ella memberikan alasan. Tapi Ardi tetap tak bergeming, bahkan gak mau menjawab. Duh kumat deh tingkah seenak udelnya sendiri.
"Senyum dong mas Ardi sayang," Ella meraih wajah Ardi dan memegang pipinya dengan kedua telapak tangannya. Mencoba merayu pria itu.
Ardi tetap tak bereaksi, akhirnya karena saking gemesnya Ella mendaratkan sebuah kecupan ringan di bibir calon suaminya itu. Barulah kemudian Ardi tersenyum kegirangan.
Selanjutnya sesi pemotretan berjalan lancar dengan Ardi yang tidak terlalu berulah. Masih sering memasang muka kaku juga si, yah mungkin memang sudah bawaannya kayak gitu. Susah banget disuruh tersenyum di depan kamera.
Setelah sesion pertama selesai, Ella kembali memasuki wardrobe room untuk berganti pakaian. Ardi juga ikut berganti pakaian dengan yang lebih trendi. Kali ini Ardi memakai jas warna merah dengan Krah hitam yang dipadukan dengan celana jeans hitam. Lengan jas sengaja dilipat sampai bawah siku untuk menambah kesan machonya.
Sementara Ella terlihat sangat mempesona dengan Glitery bright red mermaid wedding dress. Dengan detail hiasan roufle yang berjalan melingkar mulai bagian bawah, menyamping sampai bagian punggung. Bagian atas gaun berbentuk Strapless yang mampu menampilkan pesona keindahan leher jenjang gadis itu. Sexy.
Untuk make up dan hairdo tetap seperti sebelumnya hanya tinggal menambahkan warna merah menyala di bagian bibir sebagai pelengkap penampilan.
Sesi pemotretan kedua berjalan lebih lancar daripada sebelumnya. Karena tema yang diusung adalah elegant in red, jadi gak perlu senyum yang penting elegan dan keren. Dan si babang sultan jelas paling ahli kalau disuruh pose tanpa senyum begitu.
Lebih dari tengah hari akhirnya beres juga sesi pemotretan dan segala urusan di kantor E.O ini. Ella dan Ardi pun segera pamit undur diri pada semua crew yang turut membantu mereka hari ini, Hawa, Soni dan Ali.
"Makasih ya atas bantuannya," Ella menyalami Hawa saat wanita itu mengantar kepergian kedua kliennya.
"Iya sama-sama." Hawa membalas senang. Kemudian beralih ke Ardi, Hawa sudah hendak menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Tapi dia mengurungkan niatnya saat pria itu menatapnya dengan sangat tajam sebelum akhirnya melengos dan pergi begitu saja sambil menggandeng tangan Ella bahkan tanpa sepatah kata.
'Asem, untung elu sultan ganteng jadi gue gak bisa marah sama elu!' Hawa ngomel setelah keduanya pergi.
__ADS_1
~∆∆∆~
🌼Yuuuuks say PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼