Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
139. S2 - Strategi


__ADS_3

Bambang memasuki ruangan Ardi dan menyerahkan beberapa dokumen yang perlu ditanda tanganinya dalam satu map. Menyerahkan pula map lain yang berisi tumpukan berkas yang masih harus diperiksa.


"Ada lagi?" tanya Ardi. Biar sekalian dikerjain dan sekalian beres nanti.


"Untuk hari ini itu saja pak. Di luar ruangan ada pak Linggar dan bu Praditha yang ingin bertemu. Bapak ingin menemui siapa duluan?" Bambang menjelaskan guess list Ardi hari ini.


"Ngapain satu-satu? Barengan aja."


"Baik, Pak." Bambang menurut saja. Kalau diprotes tamunya juga urusan bosnya kan? "Ada hal lain yang bapak inginkan?"


"Panggilkan Cindy dan Kresna kesini. Aku mau personal meeting sama mereka." Ardi melanjutkan perintahnya pada Bambang.


"Personal meeting?" Bambang kebingungan. Apalagi Cindy dan Kresna adalah kombinasi yang tidak biasa. Mau ngapain lagi ini pak bos?


"Udah panggilin aja," Ardi menjawab sambil melambaikan tangannya mengusir Bambang.


Bambang pun pamit keluar ruangan dan mempersilahkan Linggar dan Ditha sekaligus masuk ke dalam untuk bertemu bosnya.


"Halo mas Ardi, selamat siang." Ditha menyapa dengan senyuman manisnya. Sementara Linggar tidak menyapa langsung mendekat ke meja kerja Ardi. Menyodorkan beberapa lembar dokumen ke meja kakaknya itu.


"Halo Dit, gimana urusannya di Kedori?" Ardi menyambut sapaan Ditha. Memutuskan meladeni Ditha duluan sebagai tamu, Linggar mah belakangan saja kan bisa.


"Udah beres mas. Mulai besok aku udah bisa mulai pindah ke kantor disini. Jadi aku kesini mau nanyain apa aja yang perlu disiapkan?" Ditha memberi tahukan maksud kedatangannya.


"MOU (Memorandum of Understanding) udah dibuat kok. Kemarin dari pihakmu ada Tyo yang menyaksikan pembuatannya. Setelah ini aku kirim MOU-nya ke kantormu. Kamu baca-baca dulu aja, kalau ada yang belum jelas bisa kamu tanyakan. Kalau sudah deal nanti kasihkan Cindy biar dibikinkan kontrak kerjanya." Ardi menjelaskan tugas pertama Ditha dalam kerjasama mereka.


"Oke, tapi kan aku belum kenal sama kawasan kantor ini. Mas Ardi gak mau ngasih tour guide?" Ditha sedikit berharap Ardi mau sekedar jalan-jalan bersamanya keliling komplek perkantoran.


"Boleh. Nanti aku suruh Bambang nemenin kamu jalan-jalan." jawab Ardi, tidak peka seperti biasa.


"Tapi kalau misal aku ada yang gak paham gimana? Kan enaknya langsung sama Mas Ardi," Ditha sedikit merajuk, masih berharap Ardi mau menemaninya.


"Bambang tahu segalanya tentang bussiness park ini kok." Ardi tetap bersikeras merekomendasikan Bambang untuk menemani Ditha berkeliling. Membuat gadis itu semakin manyun saja.


"Maaf ya Dit, mas Ardi masih banyak yang harus diurusin kayaknya. Tu liat aja tumpukan dokumen di mejanya." Linggar membantu meyakinkan Ditha, nyaris ngakak juga melihat ekspresi kesalnya tadi. Asli lucu dan gemesin banget ini cewek kalo manyun. Mimpi apa kamu kemarin Dit? Sampai ditolak mentah-mentah sama mas Ardi begini?


"I see...Maybe next time," Ditha akhirnya memaklumi juga begitu melihat tumpukan dokumen itu.


"Iya Next time kita lunch kemana gitu bertiga kayaknya seru," Linggar seenaknya menyetujui, membuat Ardi tak bisa mengelak juga.


"Ok, jadi gak sabar nungguin undangan dari dua tuan muda Pradana," Praditha akhirnya mau mengerti juga. "Yaudah aku pamit dulu kalau gitu, MOU nya aku tunggu ya." Ditha pamit undur diri dari ruangan.


"Hahahaha asli parah kamu mas!" Linggar ngakak terang-terangan waktu Ditha sudah keluar ruangan.


"Apaan si? Kamu mau ngapain kesini?" Ardi sewot karena ditertawakan adiknya. Udah gila ya dia?


"Ditha itu pengennya jalan-jalan sama kamu mas, Eh malah disodorin Bambang hahaha. Harusnya aku aja yang disuruh nemenin dia, pasti seru." Linggar dengan sabar menjelaskan maksud tersembunyi dari Ditha yang terlihat jelas olehnya.


"Kamu kan udah janjiin mau luch bareng. Temenin aja dia. Aku sibuk banget gak sempet lunch diluar." Ardi mulai berkutat dengan dokumen-dokumennya.


"Mana mau dia keluar sama aku, maunya kalau sama mas Ardi." Linggar pura-pura kecewa.

__ADS_1


"Kamu naksir sama dia?" Kali ini Ardi sedikit curiga.


"Huahahha, asli kamu lucu gak peka banget si mas! Ditha itu jelas-jelas yang naksir sama mas Ardi. Aku cuma tertarik aja lucu banget dia. Orangnya cuek, judes, dan tomboy gitu. Tapi justru itu uniknya..."


"Masih bocah dia, aku gak minat. Buat kamu aja!"


"Kamu mah dikasih mbak Cecil aja gak minat, maunya cuma Ella dan Ella melulu...Udah buta oleh cinta kayaknya. Pasti gak ada yang cantik lagi selain Ella." Linggar mengeluh dan Ardi hanya mesam mesem sebagai balasannya.


"Terus gimana? Udah sampai mana usaha pdkt ke mbak Ella?" Linggar kepo juga akhirnya.


"Menyusun strategi..."


"Haaaa?" Linggar benar-benar kaget mendengarnya. Udah beberapa hari berlalu dan ternyata mas Ardi belum juga bertindak terhadap mbak Ella? Ngapain aja coba? Katanya udah bertekat, lhakok masih saja santai gini si? Linggar benar-benar gemas dan gregetan melihat sikap kakaknya ini.


"Yah gimana lagi, kerjaan masih buanyak kayak gini. Asli aku bahkan gak sempet kemana-mana." Ardi mencoba beralibi. "Kalau udah agak longgar pasti aku samperin dia."


"Kapan? Nunggu kamu longgar ya sampe kiamat juga gak bakalan sempat. Bisa jomblo seumur hidup kamu mas!" Linggar beneran sewot kali ini.


"Enak aja! Awas kuwalat kamu ya!"


"Gak bakal. Mending aku cari cewek banyak-banyak daripada kelamaan jomblo kayak kamu."


"Mana kerjaanmu coba liat?" Ardi mengalihkan pembicaraan. Menagih draft bikinan Linggar tentang rancangan kegiatan dan inovasi pembuatan produk baru untuk anak perusahaan di Banyu Harum.


"Itu tadi yang aku sodorin," Linggar kembali menyodorkan dokumen yang dibawanya tadi.


Ardi menghentikan kegiatannya menandatangani dokumen. Beralih pada map yang disodorkan Linggar. Untuk beberapa saat Ardi terlihat sangat serius membaca apa yang ditulis adiknya itu.


"Lho? Udah dibaca semua belum? Kok tahu-tahu bilang gagal aja?"


"Kasarannya aja ya, kamu terlalu teoritik dan kaku. Kenyataan di lapangan gak bisa seideal itu. Terus apaan itu pembiayaannya? Pelit banget. Mana jalan proyekmu kalau sepelit itu."


"Bisa kasih contoh yang lebih kongkret?" Linggar mau tak mau merasa takjub juga dengan kakaknya ini. Cepet bener dia mengetahui kelemahan dari draft rancangannya hanya dengan membaca sepintas saja. Memang benar experience is the best teacher. Bahkan mengalahkan ilmu dan teori. Membuat Ardi yang basicnya enginer saja bisa mengalahkan Linggar yang orang asli managerial.


"Nanti minta ke Bambang aja contoh draft yang bener kayak apa." Ardi memberi saran. "Bikin lagi, besok harus dikumpulkan."


"Widih, lusa lah mas," Linggar berusaha merayu.


"Besok. Kamu harus belajar soal death line juga. Tanggung jawab. Ini kan tugas aku kasih sejak seminggu lalu, dan aku bilang death line tujuh hari."


"Aarrrrgghh yaudah sini, besok aku kesini lagi," Linggar buru-buru mengambil dokumennya dari meja Ardi.


Tak lama kemudian Cindy dan Kresna terlihat memasuki ruangan. Linggar sedikit heran dengan kombinasi aneh ini, mbak secretaris cantik dan mas hacker jenius yang misterius yang bermuka suram. Ngapain mas Ardi memanggil mereka berdua untuk menghadap bersamaan?


"Anda memanggil kami, pak?" Cindy bertanya sedikit heran. Perasaan dirinya sedang tidak ada tugas atau proyek yang harus dilaporkan ke Ardi.


"Iya...Kres, gimana tugasmu beres?"


"Beres pak." Kresna menyerahkan sebuah flashdisk beserta beberapa lembar dokumen ke meja Ardi. "Tapi saya sarankan untuk membuka flashdis-nya kalau bapak sudah sendirian saja."


"Haaa? Emang kenapa?" Ardi malah semakin penasaran. Segera diambilnya flashdisk itu dan dicolokkan ke USB laptopnya.

__ADS_1


"Isinya vidio pak..."


Ardi semakin penasaran dan buru-buru membuka file vidio yang ada di flashdisk. Linggar yang ikutan penasaran mendekat dan merapat ke kakaknya untuk ikut melihat ke layar laptop.


Ardi langsung menekan tombol play pada vidio itu. Tampaknya rekaman kamera cctv yang ada di sebuah taman kota. Dan dari waktu dan tanggal yang terlihat di timer menunjukkan waktu sore di hari saat dirinya berjumpa dengan Ella. Mungkin ini kejadian setelah kejadian di private room imperial restoran tempo hari. Dengan kemampuan hacking Kresna memang tidaklah mustahil untuk meretas vidio cctv taman kota begini.


Seorang pria muncul di layar, mengambil duduk di salah satu bangku taman itu. Roni, Ardi dapat mengenali pria itu adalah Roni. Tak lama kemudian seorang gadis juga muncul di layar, mengambil duduk di sebelah pria itu. Ella... Keduanya nampak berbicara dengan serius. Tak ada suara yang pada vidio cctv itu, sehingga Ardi tidak dapat mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan.


Tak lama kemudian keduanya terlihat berseteru. Sampai tiba-tiba Roni memegangi wajah Ella dan mendekatkan wajahnya ke wajah Ella. Dapat terlihat disana Roni yang melakukan kegiatan agresif untuk mencium Ella dengan ganasnya.


Karena vidio ini direkam sedikit jauh sehingga Ardi tidak dapat melihat ekspresi kedua orang itu. Tapi yang pasti melihat keduanya seperti itu mampu membuat darah Ardi mendidih rasanya. Terbakar api cemburu. Ardi sudah hendak menutup laptopnya saat Linggar mencegahnya, menahan tangannya...


"Bentar, mas...Lihat lagi, ada yang aneh..."


Ardi kembali memperhatikan layar laptop dan dapat dilihatnya Ella mendorong tubuh Roni menjauh dari tubuhnya. Menghentikan ciuman dan pelukan mereka. Kemudian gadis itu memalingkan wajahnya dari Roni dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya...Nangis?... Ardi dapat melihat tubuh Ella yang sedikit berguncang, sesenggukan.


"Si brengsek jahan*am itu!" Ardi menggeretakkan geliginya menahan kemarahannya. Ardi langsung menutup layar laptopnya dengan keras-keras saking emosinya.


Kurang ajar sekali Roni berani melakukan hal sekasar itu pada Ella. Dia bahkan berani memaksakan ciumannya pada Ella? Apakah Ella tidak suka untuk menerima ciuman dari Roni? Kenapa Ella terlihat sangat kecewa bahkan sampai menangis seperti itu, sungguh menyakiti hatinya untuk melihatnya begitu...


'Brengsek! Aku gak rela kamu membuat Ella menangis! Mana janjimu yang berkata akan membahagiakan Ella?...Jangan salahkan aku kalau merebut Ella karena kau tidak bisa menepati janjimu. Akan aku bahagiakan sendiri Ella. Percuma dia bersamamu kalau kau juga membuatnya nangis.'


"Tu kan? Sekarang mas Ardi percaya kan omonganku bener?" Linggar ikutan marah juga melihat vidio barusan. Roni yang mengatai mereka berdua cabul karena membawa Ella ke ruang tertutup malah bertindak asusila begitu? Bisa-bisanya dia mencium Ella secara paksa begitu, ditempat umum lagi. Parah banget, gak bermoral!


Tapi disisi lain Linggar juga sedikit lega melihat reaksi kakaknya yang terlihat sudah mendidih kepanasan. Kalau sudah begini masa kamu masih mau berdiam diri mas Ardi? Sudah jelas terlihat juga kan Ella tidak mencintai Roni. Ella bahkan mendorong tubuh pria itu menjauh, menolak ciuman paksa darinya dan menangisi kejadian itu dengan sedihnya.


"Cindy kamu pelajari semua yang ada dari data yang dukumpulkan Kresna ini. Lalu kamu bikinkan aku beberapa scenario dan strategi untuk mendapatkan dia kembali." Ardi melemparkan dokumen pemberian Kresna ke ujung meja.


Dengan ragu-ragu Cindy mengambil dokumen di meja itu. Sangat penasaran riset apa yang telah dilakukan Kresna. Cindy juga sangat penasaran dengan vidio apa yang barusan ditonton Ardi dan Linggar. Vidio yang mampu membuat keduanya terutama Ardi terlihat sangat marah begitu.


Mata Cindy langsung terbelalak demi membaca dokumen yang dipegangnya. Apa-apaan coba? Isi dokumen itu cuma tentang seorang gadis, Ella. Mulai dari biodata, curiculum vitae lengkap, hobi, kebiasaan sehari-hari, hal-hal yang disukai dan tidak disukai sampai jadwal keseharian Ella juga ada lengkap disana.


Gila! Ini sih udah kayak stalker namanya! Cindy tak percaya kalau Ardi segila itu sampai memerintahkan Kresna si hacker jenius hanya untuk stalking Ella? Dan lebih gila lagi perintah yang diberikan Ardi untuknya tadi...Membuat scenario dan strategi untuk dapetin dia kembali? Dasar Edan!


"Kamu kan sesama wanita, jadi kamu pasti tahu apa dan bagaimana caranya untuk membuat dia senang dan bahagia. Kita sebut saja ini sebagai Operasi perebutan Ella kembali." Ardi mengatakan hal bodoh itu dengan cool dan tanpa berdosanya.


Membuat Linggar, Cindy dan Kresna melonggo semelongo-melongonya. Mau ketawa takut dosa, takut dipecat juga tepatnya. Hanya bisa tertawa dan memaki dalam hati saja menghadapi tingkah Ardi yang setengah gila ini.


"Besok udah harus jadi ya draftnya...Kalian boleh pergi sekarang." Ardi mengakhiri pertemuan mereka dan mengusir ketiga orang itu. Ardi melanjutkan berkutat tumpukan dokumennya.


Sementara Linggar, Cindy dan Kresna buru-buru keluar dari ruangan Ardi. Menutup pintunya rapat-rapat dan langsung tertawa ngakak terpingkal-pingkal tanpa tertahankan lagi


"Huahahaha kalian liat ekpresi wajahnya saat ngasih perintah tadi?" tanya Linggar.


"Yaampun parah banget pak Ardi. Hampir gak tahan aku nahan ketawa tadi hahaha." Cindy menimpali sementara Kresna tidak berkomentar tapi ikutan tertawa ngakak juga.


"Dia mikir apa sih? Mau dapetin cewek aja pakai strategi segala?" ujar Cindy tak habis pikir.


"Itu tandanya dia serius, All out namanya hahaha" Linggar kembali ngakak.


~∆∆∆~

__ADS_1


🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🤭🌼


__ADS_2