Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
196. S2 - Acara Keluarga (2)


__ADS_3

"Kalau saya si setuju saja. Tinggal bagaimana Ditha-nya..." Linggar menjawab mantab.


Pengen ketawa rasanya melihat Ditha yang semakin melongo menatap tak percaya padanya. Sekarang masa depan kita ada pada keputusanmu Dith. Aku pasrah saja sama keputusanmu. Mau diterusin ya ayo mau batal juga gak masalah hehe...Tapi jauh di lubuk hatinya, Linggar juga berharap agar Ditha mau menerima perjodohan ini. Pasti seru deh nantinya.


Ditha terdiam cukup lama untuk berpikir sebelum menjawab. Membuat suasana menjadi sunyi, hanya ada suara-suara jepretan kamera dari para awak media yang memotret dari kejauhan yang terdengar.


"Saya...Boleh saya minta sedikit waktu?..." Ditha meminta ijin. "Saya ingin bicara berduaan saja dengan Linggar sebentar."


"Boleh saja, mungkin memang ada hal-hal yang harus kalian putuskan berdua." Rahayu menyetujui permintaan putrinya. Semua yang hadir juga tidak keberatan dengan permintaan Ditha.


"Gimana nak Linggar?" tanya Rahayu.


"Sure. No problems." Linggar tak keberatan juga. Bangkit dari kursinya dan menyodorkan sebelah tangannya pada Ditha layaknya seorang pria sejati, the real gentleman.


Ditha menerima uluran tangan Linggar, kemudian pamit beranjak dari kursinya, keduanya berjalan beriringan menuju ke salah satu ruangan di sebelah restoran yang biasa digunakan untuk ruang persiapan pada pesta-pesta tertentu.


"Kamu sudah gila? Kenapa mau aja?" Ditha langsung bertanya pada Linggar dengan nada meninggi.


"Mau apa?" Linggar berlagak pura-pura bodoh.


"Mau aja menerima perjodohan ini. Kamu kan tahu yang aku incar itu mas Ardi? Bukan kamu!"


"Terus kenapa kalau aku?"


"Gak bisa kayak gitu donk!" Ditha makin kesal mendengar jawaban-jawaban Linggar yang terkesan acuh dan seenaknya sendiri.


"Bukannya kamu sendiri yang minta perjodohan ini? Bukannya kamu sendiri yang memanggil para awak media itu?...Sekarang kamu pikirkan deh, kalau salah satu dari kita menolak bakalan kayak gimana jadinya?" Linggar tersenyum licik sambil beralibi.


"Tapi kan lebih baik malu daripada memaksakan keadaan." Ditha menjawab kebingungan, tak berdaya. Jelek-jeleknya pasti besok bakal masuk headline news tentang kegagalan perjodohan antara grup Pradana dan Sampoerna. Karena dirinya.


Memang semua adalah ulah Ditha sendiri. Mulai dari meminta perjodohan, meminta orang tuanya melamar, sampai mengatur agar para wartawan itu datang. Semua dilakukan Ditha untuk bisa mendapatkan mas Ardi. Agar mas Ardi tidak bisa menolak dan mengelak lagi darinya. Tapi kenapa malah ending-nya begini? Seakan kena karma saja rasanya. Masa harus tunangan sama Linggarjati Pradana si Playboy generasi baru ini?


"Apakah aku seburuk itu di matamu?" Linggar bertanya dengan tatapan tajam pada Ditha.


Kali ini Ditha terdiam, memaksa otaknya berpikir lebih keras lagi. Memang Linggar tak pernah bersikap buruk ataupun kasar padanya. Tak pernah juga bertindak brutal, melecehkan atau menggodanya, kecuali soal pertaruhan sial itu. So far, he's not that bad as a man...


(*Sejauh ini, dia tidak terlalu buruk sebagai seorang pria).


Tapi rumor yang mengatakan bahwa Linggar ini doyan gonta ganti pacar sudah menjadi rahasia umum. Ditha malas untuk berhadapan dengan konflik perselingkuhan yang mungkin akan terjadi jika menjadi pasangan Linggar. Malas untuk bersaing dengan wanita lain. Serta takut untuk kecewa dan sakit hati karena perselingkuhan.


"Aku selama ini cuma main-main. Gak ada satu pun dari mantanku yang ingin kujadikan kekasih yang serius. Karena aku belum nemu aja yang cocok untuk dijadikan partner. Partner in love and partner in life yang asik. Dan aku tipe yang susah untuk cocok dengan orang lain. Kalau udah gak cocok ya bye aja. Cari yang lain." Linggar menjelaskan alasannya suka gonta-ganti pacar.


(*Pasangan dalam cinta dan pasangan dalam hidup).


"Tapi entah kenapa aku ngerasa kamu beda dari kebanyakan cewek lainnya Dith. Aku penasaran sama kamu, rasanya pengen nyobain berhubungan sama kamu. Sehingga kita bisa jalan-jalan berdua, berpetualang bersama-sama. It's gonna be a long and hqppy journey for us." Tambah Linggar dengan nada yang sangat serius dan tatapan mata tajam yang langsung mengarah pada mata Ditha.


(*Ini pasti akan menjadi petualangan panjang dan menyenangkan bagi kita berdua).

__ADS_1


"Tapi aku gak cinta sama kamu!" Ditha menjawab, terang-terangan mengatakan perasaannya. Memang belum ada rasa cinta yang tumbuh di hatinya untuk Linggar. Meski tak dapat dipungkiri kadang pesona Linggar juga mampu sedikit menggetarkan hatinya.


"Cinta itu bisa tumbuh dan berkembang dengan sendirinya...Lihat saja aku pasti akan bisa membuatmu jatuh cinta padaku." Linggar tak perduli sama sekali, malah semakin tertantang untuk dapat menakhlukkan Ditha menjadi miliknya.


Ucapan Linggar membuat Ditha sedikit tergerak juga dengan keseriusannya. 'Apa Linggar beneran suka sama aku ya? Sejak kapan? Bukannya selera dia yang cantik-cantik, imut dan feminim sebagai seorang Playboy? Kayak mas Tyo tu yang memilih mbak Rena yang cantik tanpa cela begitu.'


"Beneran gak papa ni?..." Ditha semakin bimbang.


"Kenapa gak dicobain dulu? Kalau ternyata kita gak cocok kan masih bisa untuk dibatalkan next time. Sebelum janur kuning melengkung kan?" Ujar Linggar dengan nada semakin menantang Ditha.


Ditha kembali memikirkan perkataan Linggar. Benar juga si, kan belum nikah juga. Pembatalan perjodohan atau pertunangan juga sering terjadi kok. Dan yang paling penting sekarang kedua keluarga besar mereka tak harus menanggung malu. Menanggung malu karena ulahnya, mau tak mau Ditha jadi merasa harus bertanggung jawab untuk membereskan kekacauan akibat ulahnya sendiri.


"Ok deal. Let's have a try...Besok aku bikinin MOU-nya (Memorandum Of Understanding) ya. Kamu juga bisa bikin MOU buat aku. Lalu


nanti kita gabung menjadi perjanjian, semacam kontrak tentang hubungan kita. Yang harus kamu dan aku tanda tangani diatas materai." Ditha memberikan persyaratan pada Linggar.


(*Ok setuju. Mari kita cobain).


"Widih sampai ada MOU segala hahaha." Linggar tertawa ngakak melihat keseriusan Ditha dalam menanggapi hubungan mereka. Bisa-bisanya dia sampai kepikiran bikin MOU segala coba? Sebegitu gak percayanya kah padaku?


"Kamu harus siap-siap dengan segala persyaratan kalau mau jadi pasanganku."


"Siapa takut?" jawab Linggar semakin tergelitik dan tertantang. Jingkrak-jingkrak kegirangan dalam hati karena berhasil mendapatkan persetujuan dari Ditha untuk melanjutkan perjodohan ini...


'Pasti bakalan seru banget nanti, can't wait for our moments together. Aku pasti gak akan kecewain kamu, Dith. Aku pasti akan bikin kamu bahagia.'


"Yuk balik, kita udah terlalu lama mojok berdua ni. Ntar dikira ngapa-ngapain lagi." Linggar mengajak Ditha untuk kembali ke meja oval.


"Enak aja, ngapa-ngapain apanya?" Ditha merengut memprotes ucapan Linggar, tapi tidak menolak ajakannya untuk kembali ke restoran.


Linggar semakin cekikian melihat reaksi Ditha, Lucu banget asli. Linggar meraih dan menggandeng tangan gadis itu, untuk menambahkan efek yang lebih dramatis kemunculan mereka kembali.


Para orang tua yang melihat keduanya berjalan beriringan dan bergandengan tangan dengan mesranya sudah tersenyum lega dan sumringah.


Tetapi para kakak-kakak mereka malah keheranan melihatnya keduanya. Keluarga Pradana heran dengan sifat Linggar yang terasa aneh, kok mau-maunya tipe badboy gitu dijohohin. Sementara dipihak keluarga Sampoerna juga heran melihat Ditha yang tomboy bisa-bisanya bertingkah manis begitu pada Linggar.


Para wartawan tak mau ketinggalan mengabadikan momen kemunculan mereka berdua. Pasangan fenomenal hasil perjodohan antara dua grup raksasa malam ini. Mereka memotret berkali-kali sampai keduanya kembali duduk di kursi mereka sebelumnya.


"Jadi gimana Dith? Kamu sudah membuat keputusan?" Paramono menanyai putrinya.


"Sudah Pa," Ditha mengangguk mantap. "Aku bersedia menerima perjodohan dengan Linggarjati Pradana ini," lanjutnya menegaskan keputusannya.


Seluruh yang hadir langsung menghembuskan napas lega dan bertepuk tangan serta tertawa bersama berbagi kebahagiaan. Gak menyangka perjodohan ini berakhir dengan sukses. Gak menyangka anak-anak muda ini tak keberatan dengan cara kuno penyatuan dua keluarga mereka.


"Akhirnya nanti kita bisa jadi besan ya jeng," Rahayu terlihat senang sekali berkata pada Kartika.


"Iya semoga saja bisa langgeng ini putra putri kita. Maklum sama-sama anak bontot biasanya egonya sama-sama besar." Kartika menyetujui. Seneng si, tapi ya agak ketar-ketir juga mengingat track record Linggar dengan berbagai macam ceweknya.

__ADS_1


"Udah kalian berdua jalanin saja dulu. Dirasa-rasain sendiri cocok enggaknya. Gak usah buru-buru toh masih sama-sama muda." Erwin ikutan memberikan wejangan, tak ingin putranya menjalani suatu hubungan karena paksaan.


"Sudah-sudah sebaiknya buruan gelar konferensi persnya biar cepet ngacir para wartawan itu." Mahes memberi saran. Memang gak nyaman rasanya dikit-dikit difoto dari jauh. Udah kaya paparazi aja mereka semua. Tapi agak tenang juga si karena Bambang sudah menghandle para wartawan itu.


Mengatur apa yang boleh dan tidak boleh mereka tulis. Mereka boleh menceritakan tentang pertemuan acara keluarga ini. Mereka juga boleh menceritakan siapa saja yang hadir beserta fotonya. Apalagi soal perjodohan yang sukses ini, silahkan saja kalau mau menulisnya. Menulis tentang Linggar dan Ditha dan segala asal usul mereka.


Yang tidak boleh adalah menulis tentang Ardi dan Tyo. Berita kedua CEO itu membawa kekasihnya masing-masing tidak boleh jadi sorotan. Bahkan jangan sampai ada menuliskan nama dari kedua wanita yang mereka sanding. Tidak sebelum mereka berdua mengumumkan sendiri secara resmi siapa wanita pilihan mereka. Sebagai CEO dua grup raksasa memang keduanya tak luput dari gosip.


Linggar dan Ditha ditemani oleh kedua orang tua mereka masing-masing akhirnya menuju ke mimbar konferensi pers. Bersiap memberikan pernyataan dan melayani tanya jawab dari para wartawan.


Sementara anggota keluarga yang tersisa, menikmati kebebasan mereka untuk sedikit bercengkerama satu sama lainnya.


Ardi, Ella, Tyo dan Renata bangkit dari duduk formal mereka di meja oval dan berdiri ngobrol sambil sesekali melihat berlangsungnya konferensi pers.


Laras disibukkan dengan Rangga yang telah diantar kepadanya oleh Nany-nya. Wira dan Budi terlihat asik ngobrol dengan Mahes, masih dengan duduk-duduk di meja oval sambil menikmati minuman dan cemilan ringan.


"Jadi ini bu dokter yang berhasil menjinakkan Ardi Pradana." Rena menyeletuk sambil memandangi Ella dari atas kebawa. Seolah melalukan scanning head to toe pada Ella.


"Iya ini, kenalin. Ella, calon istriku." Ardi memperkenalkan Ella pada kedua temannya.


"Hello nice to meet you. Renata." Rena mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Ella.


"Hello nice to meet you too." Ella menerima jabatan tangan Rena dan tersenyum padanya. Kemudian Rena memeluk ringan tubuh Ella dan memberikan cupika cupiki juga. Sesuai sapaan hangat para sultan muda ini pada sesamanya.


"Tyo. Kamu cantik banget bu dokter. Kalau sakit aku pasti cari kamu buat merawatku. Pasti bisa cepet sembuhnya." Tyo menyodorkan tangan untuk berjabat tangan juga.


"Ella. Ah kamu bisa aja." Ella menyambut jabatan tangan Tyo.


Tyo sengaja menggerakkan tubuhnya mendekati tubuh Ella. Merentangkan kedua lengannya seolah berniat untuk memberikan pelukan pada gadis itu. Sengaja ingin memanas-manasi Ardi.


Ardi yang melihat gelagat mencurigakan itu, buru-buru menarik sebelah tangan Ella ke arahnya. Menjauhkan tubuh gadis itu dari Tyo. Kemudian menghalangi gadis itu dari pandangan Tyo.


Tyo dan Renata langsung cekikikan melihat reaksi Ardi yang sedikit berlebihan. Beneran sudah sakit parah temen mereka yang biasanya cool ini.


"Oh cmon Ardi. Tyo is not trying to do something bad to Ella." Rena mendekat ke Ardi, meletakkan sebelah tangannya ke dada Ardi dan membelainya lembut. Merambat dan merayap sampai ke wajah dan pipi pria itu.


(*Ayolah Ardi, Tyo tidak bermaksud jahat kok sama Ella).


"Its just a friendship hug like this." Rena mengakhiri tindakannya dengan memeluk tubuh Ardi. Pelukan ringan saja sebagai teman.


(*Dia cuma pengen ngasih pelukan persahabatan kayak gini).


Ella yang melihat perbuatan Rena pada Ardi mau tak mau menjadi panas membara juga. Ngapain coba cewek ini terang-terangan merayu Ardi begitu? Di depan kekasihnya sendiri lagi? Apaan coba friendship hug? Yang benar saja! Dan parahnya Ardi malah tidak menolak atau mengelak pelukan itu. Membuat Ella semakin dongkol saja.


~∆∆∆~


🌼Gak pernah bosen ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss donk kasih KOMEN buat penyemangat author. 🌼

__ADS_1


__ADS_2