Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
28. Prahara (2)


__ADS_3

Kaget. Suara Ardi yang memanggil namanya seakan mampu membuat copot jantung Ella. Rasa panik yang amat sangat segera menyerangnya, apalagi setelah dapat dilihatnya wajah dan aura disekitar tubuh Ardi yang membara dibakar api amarah.


Dengan gerakan kikuk tingkat dewa Ella melepaskan tangan kirinya dari genggaman tangan Roni secara perlahan. Ella merasa sangat bodoh dan mengutuk dirinya sendiri karena baru menyadari bahwa sebelah lengannya masih dalam genggaman tangan Roni.


Mati aku, bisa-bisa mas Ardi salah paham dengan hubungannya bersama Roni. Padahal kenyataannya dia kan sama sekali gak ngapa-ngapain dengan Roni. Pikiran Ella mulai panik dan kalut.


Ardi berjalan semakin mendekat ke arah Ella dan Roni. Ardi mendekat dan menghampiri Ella. Dengan gerakan sedikit kasar Ardi menarik paksa sebelah lengan gadis itu ke arahnya. Menjauhkan tubuh gadis itu dari arah Roni. Menutupi tubuh Ella dibelakang tubuhnya sendiri. Berusaha menyembunyikan gadis itu agar Roni seolah tak bisa melihat Ella lagi.


Kedua pria itu berdiri berhadapan, berpandangan, saling melemparkan tatapan tajamnya satu sama lain. Seakan ada aliran listrik yang keluar dari mata mereka masing-masing yang saling beradu. Jika saja tatapan itu setajam belati yang bisa membunuh seseorang mungkin mereka berdua sudah saling bunuh saat ini.


Aduuuh gimana ni? Aku harus bagaimana? Ella kebingungan menghadapi suasana yang sangat canggung dan tidak mengenakkan itu. Ella semakin panik menghadapi kedua pria dihadapanya itu.


Dan tentu saja sudah banyak mata yang memandang mereka bertiga dengan tatapan curiga dan ingin tahu. Tatapan orang-orang yang lewat disebelah mereka. Mungkin mereka mengira akan ada pertengkaran hebat sebentar lagi.


"Ehmm...Mas Ardi. Kenalin ini Roni dokter setim interenship Ella di RSUD." Ella berusaha mengenalkan Roni dengan nada wajar pada Ardi.


"Dan ini mas Ardi, Ron. Dia pacarku." Ella mengambil posisi diantara kedua pria itu, berusaha melerai adu pandang mereka.


Baik Ardi maupun Roni tak bergeming dari posisi mereka. Keduanya terlalu keras kepala dan gengsi untuk mengawali menghentikan kegiatan saling tusuk dengan pendangan mereka.


Sampai beberapa saat kemudian Roni lah yang akhirnya mengalah. Dia mendengus menghembuskan napasnya dengan kasar sambil mengalihkan pandangannya dari Ardi.


"Roni," ujarnya mengenalkan diri tapi tetap tak mau repot-repot untuk mengulurkan tangannya.


"Ardi," jawab Ardi dengan sedikit geraman tertahan. Kelihatan sekali dia sedang berusaha keras menata emosinya agar tidak meledak saat itu juga.


Ardi menggenggam tangan Ella dengan semakin Erat. Entah bagaimana rasanya emosinya sudah memuncak naik sampai ke ubun-ubun demi melihat tangan Ella digandeng oleh lelaki lain. Lelaki yang bahkan bukan saudara atau kerabat gadis itu...


Ardi menarik tangan Ella, membawanya menjauhi Roni bahkan tanpa berkata satu kata pun. Dia membawa Ella terus berjalan menuju salah satu stan perumahan disana.


Ella hanya bisa diam menurut tanpa berani melawan dan bersuara. Dia tahu betul Ardi sedang berusaha menahan gejolak emosinya, dia tak ingin pertahanan pria itu jebol dan menumpahkan segala emosinya di tempat umum ini.

__ADS_1


'Aduh apes banget! kok bisa-bisanya aku kesini pas tim marketing agen perumahan mas Ardi sedang promosi di mall ini juga' Ella semakin mengutuk kebodohan dirinya sendiri. Entah mengapa rasa bersalah yang amat sangat menyesakkan menyelimuti dirinya. Menenggelamkannya dalam lautan kesedihan dan keputus asaan.


Apakah yang seperti ini bisa digolongkan penghianatan? perselingkuhan? Tapi aku kan tidak melakukan apapun dengan Roni?...Tapi dengan jelas Ardi melihatku berduaan dengan pria lain? Pria lain yang bahkan menggenggam erat tanganku? Pria lain yang telah menyatakan perasaan sukanya padaku. Pria lain yang jelas-jelas mencintaiku...


Ella merasa sangat sedih dan menyesal. Seharusnya dia menuruti semua perkataan Intan untuk tidak bermain api. Untuk menjauhi Roni. Untuk tidak memberikan harapan palsu kepada Roni. Jika sudah begini jadinya, bukan hanya Roni yang merasakan sakit karena patah hati, tetapi dirinya dan Ardi juga jadi ikut terlibat dalam prahara yang pelik ini.


Dengan masih menggengam tangan Ella Ardi memasuki salah satu stan perumahan. Cindy dan beberpa orang sales yang ada disana menyambutnya dengan keheranan. Tetapi mereka tak berani bertanya atau berkomentar menyadari ekspresi wajah Ardi yang terlihat sangat marah. Ardi menghampiri meja dan mengambil kunci mobilnya yang tergeletak dari sana. "Aku tinggal dulu" ujarnya sambil beranjak meinggalkan stan itu.


"Tapi pak, tadi kita belum selesai membahas tentang metode pembayaran DP dan angsurannya" salah seorang sales memprotes dengan sedikit takut.


"Cindy, kamu urus itu," jawab Ardi tak perduli. Ardi terus saja melangkah, membawa Ella menjauhi stan promosi mereka.


"Baik pak," jawab Cindy menurut saja tak berani membantah perintah atasannya. Ella dapat melihat ekspresi kebingungan pada wajah para sales di stan itu. Sementara di wajah Cindy, entah mengapa Ella merasakan adanya tatapan menyeramkan dan rasa tidak suka yang tidak ditutup-tutupi oleh gadis itu kepadanya. Tatapan Cindy yang seakan menyalahkan Ella atas semua kejadian tiba-tiba yang tidak menyenangkan ini.


Ardi terus membawa Ella berjalan menyusuri lantai dasar R*xy mall dalam diam. Berjalan dengan langkah cepat dan memburu. Mereka berdua berjalan semakin menjauhi keramaian dan akhirnya berakhir di tempat parkiran mobil. Mereka menghampiri mobil pajero sport hitam milik Ardi yang terparkir disana. Memasuki mobil itu dalam diam, dan melaju bersama mobil itu dalam diam pula.


"Aku...aku tadi...aku gak ngapa-ngapain sama Roni." Ella berusaha menjelaskan duduk perkara yang terjadi pada Ardi.


Beberapa menit kemudian. Ardi membelokkan dan memarkirkan mobilnya di parkiran sebuah taman kota yang indah. Dari parkiran itu mereka berdua dapat melihat air mancur yang indah berwarna warni karena pantulan cahaya lampu dibawahnya.


Pemandangan yang indah ditengah gelapnya malam. Untuk beberapa lama mereka terdiam, hanya lantunan lagu sayup-sayup dari music player yang terdengar di dalam mobil. A thousand years by Christina Perry.


"Maaf mas..." hanya kata itu saja yang akhirnya bisa keluar dari mulut Ella. Dia Terlalu bingung untuk mulai menjelaskan duduk perkaranya darimana.


"Aku tahu. Aku tahu kamu tak mungkin begitu..." Ardi menjawab. Dia tahu betul Ella tidak bersalah. Dan tidak ada apa-apa antara Ella dan pria bernama Roni tadi. Dari meja di stand nya tadi Ardi dapat melihat jelas Ella yang sedang menikmati Thai tea-nya dengan sangat bahagia. Keenakan sampai membuatnya bengong untuk sesaat.


Dan pria itu hanya membantu Ella, menarik lengannya dan mengarahkan Ella ke tempat yang aman agar tidak tertabrak di keramaian manusia itu. Tak ada bunga-bunga cinta yang terlihat dari mereka berdua...


Tapi entah mengapa isi kepala Ardi tiba-tiba kosong dan emosinya meledak begitu saja hanya karena melihat tangan Ella digandeng oleh pria lain.


"Aku mungkin yang terlalu serakah... Aku yang tak rela kau disentuh oleh pria lainnya" jawab Ardi sambil menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Terlihat sekali sedang berusaha meredam emosinya.

__ADS_1


"Jadi? Jadi mas Ardi gak marah sama aku?"


"Mana bisa aku marah sama kamu, El"


"Terus ini apa kalau gak marah?"


"Aku gak marah sama kamu. Tapi tetap saja aku tak rela kamu berduaan dan disentuh oleh pria lain. Jangan diulangi lagi!"


Ella mengangguk mantap sebagai jawabannya. Diberikannya senyuman terindahnya untuk pria itu. Dalam hati dia berjanji juga untuk tidak mengulangi kebodohannya lagi. Untuk tidak berduaan dengan pria lain diluar ijin dan sepengetahuan Ardi.


Dengan perasaan lega, bahagia dan haru yang bercampur menjadi satu memenuhi dadanya Ella spontan memeluk tubuh Ardi. Erat dan sangat erat. Mereka berpelukan erat di dalam mobil pajero sport hitam yang mesinnya masih menyala itu.


Tak perlu berkata-kata apapun lagi bagi mereka. Baik Ella ataupun Ardi, keduanya seakan mengerti bahwa tak mungkin salah satu dari mereka akan berpaling ke lain hati. Tak mungkin mereka dapat menghianati satu sama lainnya. Mereka berdua telah disatukan dalam ikatan cinta yang suci dan murni.


Keduanya berpelukan hangat untuk beberapa saat, saling berbagi kehangatan, berbagi debaran jantung yang semakin kencang. Sambil mendengarkan alunan lagu yang terus mengalun dan sangat mendukung suasana hati mereka.


And all along I believed, I would find you


Time has brought your heart to me,


I have loved you for a thousand years


I'll love you for a thousand more


"I love u Ella" Ujar Ardi sambil mengelus punggung Ella dengan sayang.


"I love u too mas Ardi"


~∆∆∆~


🌼Tolong klik RATE (⭐⭐⭐⭐⭐), JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR and GIFTS Makasih 😘🌼

__ADS_1


__ADS_2