Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
116. S2 - Itikad Baik


__ADS_3

"Karena waktu itu aku sempat mau menyerah dan mau membuang profesiku."


"Kenapa? Kenapa begitu, mbak?" Ella bertanya kaget mendengar Reni pernah berpikiran untuk membuang profesinya sebagai dokter. Reni yang jelas-jelas berasal dari keluarga dokter turun temurun sampai mau melepas profesi dan gelarnya? Kenapa?


"Waktu itu aku masih muda dan idealis. Sebagai fresh graduate tentunya aku masih bersemangat untuk mengamalkan ilmuku. Bahkan setelah aku menikah aku juga masih sibuk bekerja. Sampai akhirnya aku hamil, dan aku kehilangan anak pertamaku karena kecapekan, aku perdarahan. Bayi kami tak bisa diselamatkan, aku keguguran..."


"Bayangkan bagaimana hancurnya hatiku saat itu? Bagaimana aku menyalahkan diriku sendiri. Aku yang seorang dokter malah tidak bisa menjaga kesehatanku dan bayiku sendiri. Aku hanya bisa menangis dan meratapi nasib. Berkali-kali meminta maaf pada suamiku karena tak bisa menjaga buah hati kami. Sedih dan serasa duniaku hancur..."


"Cukup lama waktu yang kubutuhkan untuk dapat bangkit kembali menerima kenyataan dengan ikhlas. Bahwa semua sudah diatur dan digariskan oleh Tuhan sebagai takdir kami. Bahwa mungkin memang belum rejeki kami untuk memiliki keturunan." mata Reni terlihat berkaca-kaca mengingat peristiwa pahit yang pernah dialaminya.


"Emosiku tidak stabil waktu itu bahkan aku sampai berencana melepas profesiku saja. Sebagian sebagai penebusan dosa untuk mengurangi rasa bersalahku. Rumah tanggaku kacau dan nyaris hancur. Karena aku terlalu sedih dan kecewa pada diriku sendiri, sampai aku melupakan bahwa suamiku juga sama sedihnya denganku. Dan aku tidak memperdulikannya, aku egois..."


"Suamiku untungnya tetap sabar menghadapiku yang setengah gila waktu itu. Dia tak pernah meninggalkanku, malah semakin menemaniku. Mas Wildan juga bukannya menyuruhku berhenti bekerja malah semakin menyemangati aku untuk terus bekerja. Dengan alasan untuk mempercepat proses kesembuhanku waktu itu. Untuk memberiku kesibukan sehingga tidak terus larut dalam kesedihan dan keterpurukan."


"Dengan kata-katanya yang sangat mengena tadi, suamiku memberiku semangat untuk terus bekerja. Kami berdua akhirnya bangkit dan menata hidup kami berdua sekali lagi. Memperbaiki apa yang sekiranya kurang dalam rumah tangga kami. Sampai sekarang pernikahan kami sudah berjalan sepuluh tahun. Dan kami sangat bahagia dengan apa yang kami miliki sekarang." Reni mengakhiri ceritanya dengan dramatis.


Ella terdiam, tercengang dan kaget demi mendengar kisah hidup Reni yang diluar dugaannya. Ella tak mengira Reni yang terlihat sangat ceria dan bahagia dengan kehidupannya sekarang memiliki masa lalu yang begitu menyedihkan.


"Mbak Reni hebat, keren banget." Ella memberikan pujiannya dengan tulus pada Reni. Memuji keberhasilan Reni untuk mengatasi kesulitan dalam hidupnya. Berusaha bangkit dan menemukan kebahagiaan lain yang menantinya di masa depan.


"Ah kamu bisa aja hehe," Reni mengelak pujian Ella. "Intinya rumah tangga itu dibangun dengan kepercayaan antara suami dan istri. Ikatan suci yang menyatukan dua insan manusia untuk hidup bersama dalam suka dan duka."


"Kamu tenang aja, El. Kalau nanti jadi sama Roni dia gak bakal ngelarang kamu kerja pastinya. Karena dia sendiri tahu bagaimana perjuangan kamu untuk menjadi dokter, bahkan spesialis." Reni tambah mempromosikan Roni, adiknya.


Ella hanya bisa tersenyum dan tertawa pasrah sebagai reaksi untuk menjawabnya. Masih terlalu bingung harus menerima atau menolak Roni untuk melanjutkan hubungan yang lebih jauh lagi.


"Hore tante Ella jadi sama Om Oni," Aish yang kebetulan mendengar ucapan mamanya ikut menyeletuk. Entah sejak kapan ini kedua gadis kecil tadi sudah berada didekat mereka berdua, sibuk memberi makan ikan-ikan di kolam.


"Hore nanti Nisa bisa jadi manten kecil mendampingi tante Ella dan Om Oni." sang Adik tak mau kalah ikut menimpali.


"Nanti kita jadi manten kecilnya barengan, dek." Aish mengingatkan adiknya.


"Iya nanti kita barengan, asyiiik". Nisa menyetujui.


Ella dan Reni yang mendengar celotehan kedua gadis kecil itu mau tidak mau jadi tertawa. Benar-benar comel banget mereka ini. Cerdas dan menggemaskan sekali, entah dikasih makan apa coba sama emak bapaknya.


"Eh udah sore ayo udahan mainnya. Waktunya mandi biar cantik. Nanti kan papa datang masa kalian bau kecut gitu?" Reni menggiring kedua anaknya untuk masuk ke dalam rumah.


"Papa pulang nanti? Horeee."

__ADS_1


"Bawa oleh-oleh apa ya papa buat Nisa?"


Kedua gadis kecil itu masih saja berceloteh sambil melangkah ke dalam rumah. Ella memandangi kepergian ketiganya dengan tersenyum. Setelah dirinya hanya sendirian Ella kembali memandangi kolam ikan di hadapannya, suara gemericik air dari pancuran terdengar menyejukkan jiwa, memberikan kenyamanan tersendiri.


~∆∆∆~


Malam harinya selepas magrib Ella dan Roni menemani si duo comel nonton TV di ruang tengah. Sementara mama Roni dan Siti sedang sibuk di dapur menyiapkan makan malam. Reni juga sedang melayani suaminya, mengurusi koper Wildan yang baru saja tiba dari perjalanan dinasnya. Sementara Papa Roni seperti biasa sedang praktek mandiri di ruang prakteknya di halaman depan yang terpisah dari rumah utama.


Tak lama kemudian Reni bersama suaminya menghampiri Roni dan Ella di ruang tengah. Mengambil duduk di sofa yang berhadapan dengan kedua anak muda itu. Sementara Nisa dan Aish sedang asik nonton TV acara barbie kesukaan mereka, kelihatan sangat serius tak bisa diganggu.


"El, ini kenalin mas Wildan suamiku," Reni mengenalkan suaminya pada Ella.


"Wildan," pria yang dikenalkan hanya tersenyum dan mengangguk sopan sebagai perkenalan pada Ella.


"Ella," Ella juga balas tersenyum menjawabnya. Sepertinya Wildan ini termasuk aliran yang anti bersalaman dengan wanita bukan muhrimnya.


"Gimana suasana disini? Agak rame, berisik dan heboh ya? Sabar aja ya emang begitu bawaan orang-orangnya." Wildan mengawali obrolan santai.


Ella hanya bisa tersenyum dan tertawa ringan menanggapinya. Memang bagi Ella yang anak tunggal, sudah terbiasa dengan suasana rumah yang tenang dan sepi. Jauh berbeda dengan suasana disini yang terasa ramai, sangat hidup.


"Yeee, yang bikin rame itu justru kedua anakmu itu yang comelnya minta ampun," Roni menjawab.


"Emang mereka jadi kayak gitu nurun siapa coba?" Wildan malah balik bertanya.


"Nurun orang tuanya lah...Kalau dipikir-pikir mbak Reni yang dominan hahaha" Roni tertawa geli.


"Hahaha Om Oni, Uti dan Akung juga berperan penting ngajarin mereka berdebat." Reni ikutan tertawa menyadari keluarganya yang heboh. Membuat keempatnya ikut tertawa lepas bersama.


"Jadi sudah sejauh apa hubungan kalian?" Wildan tiba-tiba bertanya pada Roni dan Ella tanpa basa-basi.


"Hmmm teman dekat, mungkin?" Roni menjawab sedikit ragu, melirik Ella untuk persetujuan.


"Bisa dibilang begitu..." Ella menyetujui ucapan Roni.


"Begini dek Ella," Wildan mulai berbicara dengan nada seriusnya. Wildan menyadari sepertinya kedua anak muda di hadapannya ini belum mencapai kesepakatan akan kelanjutan hubungan mereka.


"Roni, adik kami ini sama sekali tidak pernah membawa dan memperkenalkan seorang wanita ke rumah. Jadi sekalinya dia memutuskan untuk membawa seorang gadis, pastinya Roni sudah sangat serius. Dia tak akan main-main dan pasti ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih jauh dengan gadis itu." Perkataan Wildan serasa sangat tepat mewakili segala perasaan Roni saat ini pada Ella.


"Sekarang semua kembali pada dek Ella, maunya bagaimana. Kalau memang dek Ella juga sudah mantap dan serius dengan Roni, sebaiknya kita segerakan saja semua itikad baik untuk hubungan kalian." Wildan mengembalikan umpan pada Ella.

__ADS_1


Ella terdiam, tak sanggup menjawab. Benar dugaan Ella suami mbak Reni ini orang yang sangat cerdas dan bijaksana. Apa yang dikatakannya selalu make a sense. Tapi tetap saja untuk saat ini Ella belum sanggup untuk menjawab, Ella belum bisa memastikan akan menerima Roni sebagai pasangan hidupnya atau tidak.


"Gak usah buru-buru lah mas, aku juga belum lulus sekolah. Belum punya kerjaan tetap." Roni mencoba mencari alasan untuk mengulur waktu untuk hubungan mereka.


"Semakin lama menunda, akan semakin banyak kegelisahan dan dosa yang kalian tanggung. Luntang-luntung berduaan, padahal bukan pasangan sah. Memang kalian sudah dewasa dan bisa menjaga diri, tapi tetap saja setan ada dimana-mana. Sebaiknya segera diikat saja secepatnya." Wildan kembali mengingatkan.


"Untuk masalah pekerjaan dan rejeki jangan khawatir, Ron. Pernikahan bisa juga sebagai pembuka pintu rejeki. Asal kita niat dan mau berusaha, insyaallah akan ada saja rejeki yang akan datang. Dan perlu kamu ingat, rejeki seseorang tak akan tertukar dengan orang lainnya." Wildan menambahkan wejangannya dengan mantab.


Ella mau tidak mau menjadi semakin kagum sekaligus sedikit ngeri juga dengan ketegasan Wildan. Bahkan pada usianya yang belum sampai empat puluh tahunan, pria itu bisa sedemikian dewasa pemikiran dan perkataannya. Kayaknya ini orang emang punya keyakinan spiritual yang sudah cukup tinggi. Levelnya jauh diatas Ella dan Roni yang kadang masih bingung untuk menyatukan urusan spiritual kedalam masalah duniawi.


Sementara Roni tahu benar apa yang dikatakan oleh Wildan benar. Dirinya memang tak akan ragu untuk melamar Ella dan melanjutkan ke hubungan yang lebih jauh. Tentunya jika dirinya dan Ella sudah bisa mencapai kesepakatan akan hal itu. Bukan keinginan pribadinya secara sepihak, sementara Ella belum menghendakinya. Tapi dirinya bisa apa coba untuk saat ini? Roni tetap saja hanya bisa menunggu dan menunggu keputusan dari Ella.


"Yah mungkin mereka masih perlu waktu untuk saling mengenal. Kita juga mungkin perlu untuk kenalan sama kekuarga Ella," Reni mencoba membantu Roni dan Ella yang sepertinya tidak bisa berkutik di hadapan Wildan. Memang suaminya ini kalau sudah masalah prinsip agak keras dan susah untuk sedikit dibengkokkan orangnya.


"Benar juga, mungkin nanti mas Wildan dan mbak Reni bisa mampir untuk silaturahmi ke rumah dek Ella di Surabaya." Wildan kembali mengatakan sesuatu yang membuat Ella semakin ngeri.


Aduh gawat, gerak cepet banget ini orang, Ella semakin kebingungan. Sepertinya sudah tidak bisa untuk ditunda-tunda lagi. Dirinya harus segera memantapkan hatinya dan membuat keputusan untuk memilih. Untuk membuat keputusan besar yang akan mempengaruhi masa depannya.


"Mamaaa Nisa lapar..." ucapan Nisa membuat mereka berempat menghentikan pembicaraan serius mereka.


"Aish juga lapar, tapi Aish mau makan bareng papa." Aish tak mau kalah, malah request makan ditemani papanya.


"Nisa juga mau..." Sang adik juga menyetujui. Mungkin mereka masih kangen karena papanya baru pulang dari luar kota setelah beberapa hari.


"Oke, ayo makan sama papa. Balapan siapa yang abis duluan dapat hadiah." Wildan langsung bangkit dari kursinya menghampiri kedua anak gadisnya. Digendongnya kedua gadis kecil itu dilengan kanan dan kirinya sekaligus, berjalan ke ruang makan. Reni ikut pamit mengikuti anak dan suaminya ke ruang makan, untuk menyiapkan makanan mereka.


"Sorry lho El, mungkin ucapan mas Wildan terdengar sangat memaksa dan memberatkan buat kamu." Roni berkata saat tinggal mereka berdua saja di ruang tengah itu.


"Iya, Ron. Gak papa kok. Memang apa yang dikatakan mas Wildan bener banget," jawab Ella.


"Ilmunya udah ketinggian dia, gak nutut kita kalau mau ngikutin. Belom sampai sana hehe." Roni mencoba menenangkan Ella. "Gak usah buru-buru, kamu ikutin aja apa kata hati kamu. Dan aku akan selalu setia menunggumu."


________________________________


Setiap insan manusia memiliki masalah hidupnya masing-masing. Dan Tuhan tidak akan memberikan cobaan serta beban yang tidak bisa ditanggung oleh hambanya. Percayalah jika kau diberi suatu cobaan yang berat menurutmu, hal itu dikarenakan Tuhan percaya kamu mampu untuk melewatinya. So stay strong and still, there will be a springs season after a hard winter. Percayalah pasti akan ada kebahagian yang menanti setelah cobaan yang berat.


~∆∆∆~


🌼Tolong luangkan waktu klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin, bagi TIP dan IKUTI author ya. Makasih 😘🌼

__ADS_1


__ADS_2