Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
213. S2 - Smart Shopping


__ADS_3

Ardi memang tadinya sangat bersemangat untuk membelikan dan mengetahui ukuran pakaian dalam Ella. Bersemangat untuk mengajak gadis itu ke toko yang ditunjukkan oleh Laras. Tetapi saat mereka benar-benar telah sampai di depan toko Victoria's secret Ardi benar-benar menyesali keputusannya itu.


Ternyata sangat memalukan rasanya baginya, bahkan hanya untuk berdiri di depan toko itu saja. Toko yang memajang berbagi perlengkapan onderdil wanita. Mulai dari under garment, pakaian renang, bikini, sampai sport suit wanita. Meski ada beberapa bagian yang memajang parfum dan make up serta tas dan aksesoris wanita lainnya disana. Dan tentu saja hampir semua customer yang ada di dalam toko adalah wanita semua.


Ella sudah tertawa tertahan melihat reaksi Ardi sebelum memasuki toko. Kayaknya gentar dan ragu-ragu banget untuk melanjutkan langkahnya. Seperti pasukan perang yang ragu-ragu memasuki daerah kekuasaan musuh. Kemana coba perginya semangat 45 yang tadi mengajaknya pergi?


"Jadi masuk nggak? Katanya tadi mau beliin aku under garment?" Ella balik menantang Ardi dengan senyuman jahilnya.


"Bentar-bentar..." Ardi mencoba menata hatinya sebelum memasuki medan perang penuh ranjau.


Ella sudah nyaris ketawa saat melihat muka ngeri Ardi. Apalagi waktu Ella gantian menarik lengan pria itu memasuki toko Victoria's secret sebelum Ardi mempersiapkan diri. Lucu banget asli, jarang-jarang babang sultan bisa salah tingkah kayak begini.


Ardi berusaha memasang poker face-nya. Wajah tak perduli dan bodoh amat untuk menghadapi situasi berbahaya saat masuk toko. Sambil menundukkan kepala dan mencoba mengalihkan pandangannya dari berbagai under garment yang dipajang di segala penjuru toko. Manekin-manekin yang memakai under garment dengan berbagai macam model dan warna. Pemandangan yang membuat otaknya sebagai pria normal travelling kemana-mana.


Asli malu banget rasanya. Apalagi ditambah dengan tatapan jijik para wanita pelanggan lainnya yang memandang kepadanya. Tatapan menusuk dan menghakimi, seolah Ardi adalah maling jemuran yang tertangkap basah. Para wanita itu saling berbisik-bisik pada rekannya sambil cekikikan, mencibir dan melirik dirinya.


"Cowok itu ganteng banget, tapi ngapain ya di sini?"


"Palingan nemenin ceweknya atau istrinya yang di sebelahnya itu?"


"Atau jangan-jangan dia cowok mesum?"


"Nggak papa deh orang ganteng mah bebas."


"Iya kayaknya si tajir juga."


"Coba punya pacar atau suami kayak gitu..."


Mampus! hati Ardi mencelos demi mendengarkan pergunjingan para wanita itu. Parah banget ini. Rusak sudah image-ku hanya gara-gara datang ke toko beginian. Gak bakalan lagi dah!


Memang tempat ini bisa dikatakan sebagai surga para lelaki. Tetapi bagi Ardi saat ini, tempat ini tidak lebih seperti neraka yang panas membara rasanya. Membuatnya serasa terbakar dan kepanasan saja. Buru-buru diajaknya Ella ke bagian yang sedikit sepi dari pengunjung lain. Bagian VIP yang menawarkan under garment dengan harga jutaan.


"Buruan pilih yang kamu suka," perintah Ardi pada Ella. "Ukurannya berapa?"


"Duh kepo bener sama ukuranku hehe." Ella celingukan memandangi under garment impor itu. Pakaian dalam yang kayaknya nyaman banget untuk dipakai. Bahannya begitu lembut di kulit. Tapi harganya benar-benar gak nyaman di dompet.


"Ya biar nantinya aku bisa belikan lagi buat kamu kapan-kapan. Beli online tapinya. Kapok sudah ke tokonya langsung kayak gini." Jawab Ardi.


"Hahaha dasar, siapa tadi yang semangat 45 coba."


"Maklum aja gak tahu medan. Udah buruan pilih dan cobain," Ardi semakin mendesak Ella untuk cepetan.


"Cobain? Ngapain pakai dicobain segala kan udah ada ukuran patennya." Ella memprotes.


"Ya biar aku bisa liat cocok enggaknya kamu pakai."


"Iiiihhhh dasar mesum!"


"Hahahaha, udah honey itu ambil yang berenda-renda warna merah dan biru." Ardi iseng saja menunjuk under wear set yang terlihat cute.


"Ini sama ini?" Ella menelan air ludah saat melihat harga daleman begituan saja diatas satu juta.


"Terlalu ribet modelnya gak bisa dipakai sehari-hari." Ella memilih yang lain dengan model simple dan bahan yang lebih nyaman. "Ini saja."


"Yaudah ambil semua warna yang itu buat gantian."


"Duh satu saja, ini mahal banget. Sayang cuma buat bungkus begituan saja sampai jutaan begini." Ella menyuarakan protesnya.


"Lho yang dibungkus itu aset. Aset punyaku. Jadi aku juga berhak donk ikut modalin." Jawaban tak punya dosa Ardi sukses membuat Ella histeris.

__ADS_1


"Enak saja aset punyamu!"


"Hahaha udah ambil aja deh semua warna, demi aset berhargaku." Ardi keasikan menggoda Ella.


"Beneran gak pa-pa ni?" Ella masih ragu.


"Iya ambil saja, sekalian yang renda-renda tadi cute banget bungkus juga ya." Ardi sedikit memohon.


Akhirnya Ella menurut saja mengambil beberapa buah under wear set berbagai model dan warna. Terserah si calon pemilik aset deh yang mau modalin. Toh juga nantinya buat nyenengin dia juga. Wait...kok jadi mikir kesana si?...


"Oh 34 C ya...I got it." Ardi menyeletuk kegirangan. Yes! Akhirnya ketahuan juga nomer kamu. But wait, cup C...Mantap juga kayaknya. Duh bikin ngiler jadinya membayangkan...


"Inget baik-baik, jangan sampai salah nomer." Ella tersenyum geli melihat wajah Ardi yang kegirangan. Pasti udah mikir kemana-kemana itu si sultan mesum.


"Itu sekalian lingerie setnya ambil juga ya, honey." Ardi kembali memasang wajah bak anak kecil yang menginginkan dibelikan mainan baru.


"Kan udah ada dibelikan Laras dan Linggar kado pertunangan kemarin." Wajah Ella memerah demi melihat model-model lingerie yang ditunjuk oleh Ardi. Masa harus make begituan juga?


"Ya kan buat gantian. Ambil yang leopard tu. Kan sexy dan ganas kayak leopard."


"Mesuuuuum!"


"Udah deh ambil tu yang leopard, item sama magenta. Pusing aku lama-lama disini. Ini kartu buat bayarnya. Aku tunggu di depan ya." Ardi menentukan pilihannya sebelum pamit meninggalkan Ella dan menunggunya di depan toko. Asli sudah pusing banget dari tadi, gara-gara kepala atas dan bawah yang overexcited travelling kemana-mana.


Tak lama kemudian Ella kembali menghampiri Ardi yang menunggunya diluar. Pria itu terlihat mengalihkan pandangan dari toko vistoria's secret.


"Udah dibeli semua tadi?" tanya Ardi memastikan.


"Iya udah diborong semua onderdil buat asetmu." Ella mengembalikan kartu sakti Ardi.


"Makasih lho ya..." Ardi tersenyum puas.


"Salah. Aku yang harusnya makasih karena kamu mau merawat aset milikku nanti hahaha."


"Yaampun mas! Kamu mikir kemanaaa?" Ella sudah pasrah dengan Ardi dan pikiran mesumnya.


"Makin deket tanggal jadi makin semangat dan kepikiran. Penasaran. Kamu si tadi gak mau nyobain dan ngasih liat." Ardi pura-pura merajuk.


"Jangan harap!"


"Hahahahaha." Ardi semakin ngakak melihat reaksi Ella. Lucu banget asli.


"Yuk selanjutnya giliranku nunjukin bagaimana cara shopping yang seharusnya. Smart shopping." Ella yang kali ini mengajak.


"Lho masih mau belanja lagi?"


"Kan aku belum beli-beliin seserahan balasan juga buat mas Ardi." jawab Ella sambil mendahului langkah Ardi ke departemen store di lantai dasar.


"Gak usah lah. Kan gak wajib juga kamu ngasih pihak pria. Biar gak ngerepotin kamu." Ardi mengikuti langkah Ella, mensejajarinya berjalan beriringan.


"Siap-siap aja ya nanti badannya gatel-gatel karena memakai baju murah meriah." Ella sedikit menyindir.


"Tenang aja kulitku kebal kok. Apalagi kalau yang beliin kamu. Pasti jadi pakaian favorit aku."


"Mau beli sepatu atau sandal?" Tanya Ella saat mereka tiba di departemen store lantai satu.


"Sandal," Ardi menjawab. Ingin sesuatu yang bisa dipakainya sehari-hari dari Ella.


Ella langsung dengan cekatan menggiring Ardi ke bagian sandal dan sepatu pria.

__ADS_1


"Nah disini bagian sandal, silahkan pilih." Ella menawarkan pada Ardi dengan membuka tangannya lebar-lebar.


Ardi mengedarkan pandangannya berkeliling. Bingung dan bikin pusing saja melihat terlalu banyak merk, dan model sandal yang ditawarkan. Sudah begitu harus mencari dan memilih sendiri? Ribet sekali! Beda banget kalau di butik, dimana dirinya tinggal bilang saja mau yang bagaimana dan langsung dicarikan oleh pelayan.


"Cariin donk." Ardi pasrah meminta bantuan Ella.


"Berapa nomernya?" Ella tak memperotes. Sadar benar Ardi tak terbiasa untuk berbelanja di departemen store layaknya rakyat jelata begini.


"44."


"Buset gede bener." Ella kaget mendengarnya. Memang kaki laki-laki gede si biasanya, tapi jarang juga yang sampai nomer 44 begini.


"Iya memang, makanya agak susah nyarinya." Ardi mengakui. "Oiya barangku yang lain juga gede lho, El. Kamu gak pengen liat?" Lanjutnya mengoda Ella.


"Gak denger...gak denger..." Ella pura-pura tidak mendengar dan berkutat dengan pencarian sandal Ardi. Sekalian menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah. Barang apa coba? Piktor!


"Hahahaha." Ardi ngakak melihat reaksi Ella.


Dan akhirnya sesuai dengan perkataan Ardi, memang susah untuk mencari sandal yang muat untuk kaki jumbo ukuran bule begitu. Dapat-dapat juga dari merk Kikckers original yang lumayan mahal harganya. Tapi masih rasional dan gak ada apa-apanya jika dibandingkan jumlah uang yang telah dikeluarkan Ardi untuk Ella.


"Nah kan kita dapat diskon 20%, terus masih dapat voucher pembelian 100 ribu untuk modal belanja selanjutnya." Ella memamerkan strategi belanjanya dan menunjukkan voucher dari struk belanjanya.


"Selanjutnya cari baju. Mau kemeja kerja atau kasual? Celana bahan atau jeans?" Ella kembali menggiring Ardi ke bagian pakaian pria.


Ardi cuma mesam mesem saja mengikuti cara belanja Ella. Asli gemes banget sebenarnya, masa cuma buat diskon 20% dan voucher 100 ribu saja sampai seribet ini? Demi uang yang tidak seberapa. Kamu minta duit berapa juga bakal aku kasih kok, El.


Tapi Ella ini memang unik dan berbeda, penuh kejutan saja rasanya kalau sama dia. Benar-benar tipe cewek libra sejati. Segalanya dipikir dan dipertimbangkan baik-baik untung ruginya. Gadis yang sangat cerdas dan menggemaskan bagi Ardi.


"Kemeja kasual dan celana pendek saja." Ardi memutuskan. Untuk work suit biar diurusin Bambang. Klo dibeliin Ella yang santai-santai saja.


Dan ternyata Ella benar-benar meneruskan strategi belanjanya. Memilih barang branded yang sedang diskon dan tidak lupa memanfaatkan voucer diskon 100 ribunya. Smart Shopping menurut Ella. Tapi bagi Ardi yang tahu benar tentang strategi pemasaran malah lucu. Kamu sudah bener-benar terjebak dan termakan diskon dan voucher untuk terus belanja, El.


Ardi sudah cekikikan dalam hati demi menyadari bahwa Ella ini sebenarnya juga hobi shopping. Yah memang wanita manapun pasti hobi berbelanja. Belanjanya yang untuk kelas menengah yang menurut Ella tak mengabiskan banyak uang. Tapi aslinya ya sama aja, boros intinya.


"Sandal sudah, kemeja dan celana sudah. Tinggal apa lagi ya?" Ella bertanya pada Ardi.


"Lho kok berlagak lupa...under wear nya mana?"


"Ogah! Beli sendiri saja kalau itu."


"Lho curang. Tadi kan aku udah beliin kamu banyak. Pembungkus asetku...Masa kamu gak mau modalin juga aset masa depanmu?" Ardi kembali menggoda.


"Gak mauuuuu." Ella sudah sangat malu untuk memikirkan bentuk dan ukuran dalaman Ardi.


"Beliin yang murah juga gak papa deh. Yang paketan sebox dapat tiga." Ardi merajuk dan merayu.


"Nanti kamu gatel-gatel makek yang begitu."


"Gak papa kok, aku ikhlas asal kamu yang beliin."


Ella mendengus pasrah, kalah telak dengan rayuan maut Ardi. Akhirnya membuang ego dan harga dirinya untuk membeli paketan celana dalam pria isi tiga biji merk G*Man.


"Ukuran L, Honey. Large!" Ardi sudah cekikikan geli.


"Iya, iya...." Ella pasrah saja, membelinya dengan muka merah. Maluuuuu.


~∆∆∆~


🌼Yuuuuks say jangan lupa LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN yaaaa 🌼

__ADS_1


__ADS_2