Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
191. S2 - Marriage


__ADS_3

"Kalau misalnya aku dulu gak keluar negeri, kira-kira kita masih bisa sama-sama seperti dulu gak?" Rena tiba-tiba bertanya pada Ardi.


Ardi terdiam cukup lama memikirkan perkataan Rena sebelum akhirnya menjawab. "Looks like we need to have a serious conversation about this..."


(*Sepertinya kita harus melakukan pembicaraan serius mengenai masalah ini).


"Yeah, absolutely..." Rena menanggapi ucapan Ardi.


(*Sepertinya begitu).


"Yuk kita ngobrol sambil dinner di Restoran bawah. Gak bagus juga kan kalau kita berduaan di kamar hotel begini. Takut ada setan sebagai orang ketiga."


"Setan? You're more dangerous than the devil."


(*Kamu lebih berbahaya dari pada setan).


"Hahaha you know me so well." Ardi tertawa dengan sebutan Rena untuknya. Devil eh?


(*Kamu tahu banget soal aku).


"Of course. I know and still remember everything about you. I know your body and soul," jawab Rena.


(*Tentu saja. Aku tahu dan ingat segalanya tentang kamu. Aku tahu kamu luar dalam).


Ardi sadar benar memang dirinya yang dulu, Ardi muda enam tahun yang lalu hampir sama saja dengan Linggar saat ini sifatnya. Seorang tuan muda kaya dengan segala kebanggaannya, kekayaan, ketampanan yang seolah dapat melakukan serta mendapatkan apapun yang diinginkannya. Membuat dirinya menjadi terlalu percaya diri, sombong, arogan dan seenaknya sendiri seperti kebanyakan tuan muda kaya lainnya.


Ardi bahkan sering seenaknya kabur dan tidak bertanggung jawab dalam mengurusi pekerjaan dan perusahannya. Kebanyakan main-main dan tidak serius. Yah kegiatan jalan-jalan dan travelling dengan Rena juga sering mengganggu dan mengalahkan segala jadwal dan urusan bisnisnya. Benar-benar masa muda dan masa pemberontakan sebagai anak nakal yang sampai membuat kedua orang tuanya sumpek dan kebingungan.


Tapi Ardi yang sekarang berbeda. Enam tahun sudah berlalu, dan waktu serta pengalaman hidup telah mengajarkan banyak sekali padanya. Merubah total dirinya yang dulunya seorang tuan muda arogan menjadi tuan muda yang lebih bijaksana dan bertanggung jawab. Menjadi pria dewasa yang dapat bepikir dengan cermat, cerdas dan logis. Ardi berusaha memperbaiki dirinya dalam segala aspek kehidupan. Masih mending 'pernah nakal' daripada 'nakal seterusnya' kan?


'Kamu salah, Ren. Aku sudah tidak seperti dulu lagi. Dan kamu belum kenal Ardi yang sekarang'...


"Bisa jadi gosip tidak sedap nantinya kalau kita ketahuan berduaan di dalam kamar hotel. Kamu kan terkenal Ren kayak artis." Ardi mencari alasan. Bangkit dan beranjak dari tempat duduknya.


"Sejak kapan kamu perduli soal gosip sama aku? Hahaha tuan muda Pradana takut digosipin ada affair sama Renata Sudibyo? Cmon, you can handle it easily." Renata tertawa cekikikan menanggapi alasan klise yang dikemukakan Ardi, tapi ikutan bangkit dari tempat duduknya juga.


(*Ayolah, kamu kan bisa mengatasi masalah beginian dengan mudah).


"I dont want to messing out everythings." Lanjut Ardi mengambil dompetnya dari bedside table dan berjalan mendahului Rena keluar kamar hotel.


(*Aku tak ingin mengacaukan segalanya).


Membuat Rena akhirnya mau tak mau mengikutinya, berjalan beriringan dengannya menuju lift dan turun ke restoran di lantai dasar.


Ardi memang dapat dengan mudah menahan gosip dan menekan awak media dengan kekuasaannya. Menjaga nama baik dan masalah pribadinya agar tidak menjadi santapan publik. Tapi saat ini Ardi benar-benar tak ingin mengacaukan apa yang telah diperjuangkannya selama tiga tahun ini, Ella. Ardi tak ingin menyakiti hati Ella bahkan mengacaukan hubungannya dengan gadis itu.


Mereka berdua mengambil duduk di salah satu chair set restoran. Memesan beberapa menu makanan dan minuman sebelum melanjutkan pembicaraan.


"So what do you say?" Rena memulai pembicaraan setelah semua pesanan mereka diantarkan. Tetapi sama sekali tak ada niat untuk menyentuhnya.


(*Jadi apa jawabanmu?)


"Kalau misalnya aku dulu gak keluar negeri, kira-kira kita masih bisa sama-sama seperti dulu gak?" Rena mengulangi pertanyaannya tadi di kamar.

__ADS_1


"I dont think so," jawab Ardi tegas. "Gak bisa!"


"Why...?" Rena tak menduga jawaban Ardi.


"Because there is no 'If' in real life," Ardi menjawab.


(*Karena tak ada kata andai saja dalam kehidupan).


"You're right. We can't turn back the time." Rena membenarkan ucapan Ardi kali ini.


(*Kamu benar. Kita gak bisa memutar kembali sang waktu).


"Tapi aku cuma kepikiran aja sih kalau misalnya aku kembali dan menetap di indonesia. Kira-kira apa kita bisa kayak dulu lagi? Apa kita masih bisa bersama?"


"Kamu mau kembali dan menetap disini?" Ardi balik bertanya penasaran.


"Tergantung sih..."


"Ren, kamu inget terakhir kali kita ketemu? Aku sampai bela-belain ke Paris buat datengin kamu. Aku ngajakin kamu pulang dan untuk menjalin hubungan lebih serius. Tapi apa jawaban kamu?..." Ardi membuang napasnya perlahan. Teringat akan kegagalan cinta pertamanya dengan Rena.


"Aku, aku waktu itu masih belum kepikiran buat menikah sama kamu. Aku memang cinta sama kamu, sayang sama kamu. Tapi aku belum siap..." Rena mencoba menjelaskan alasannya lima tahun yang lalu menolak tawaran Ardi untuk menikah.


"Lantas sekarang kamu udah siap? Siap menikah dengan segala konsekuensinya?"


"Hmmmm... bisa dibilang lebih siap."


"That's not enough." Ardi menyanggah ucapan Rena.


"Pernikahan itu harus didasari oleh kesanggupan dan kesiapan kedua belah pihak. Gak bisa buat coba-coba...Bagaimana pun sebisanya aku berharap that I will marry someone once in a life time."


Rena terdiam memikirkan perkataan Ardi. Memang benar kata Ardi, dia belum siap...Bahkan sampai saat ini pun dirinya masih belum siap untuk menjalani kehidupan pernikahan. Untuk terikat pada seorang pria. Untuk meninggalkan dunia dan kariernya yang telah lama dirintisnya dengan susah payah. Masih belum rela saja rasanya...


"Aku tahu kamu orangnya seperti apa, Ren. Kamu ini gadis dengan jiwa yang bebas dan tidak suka untuk terikat. Kamu terlalu cerdas dan hebat untuk hanya terkurung di satu tempat. Kamu bisa bersinar dan mewujudkan semua impian dan ambisimu. Masa depan cemerlang yang masih membentang luas di hadapanmu." Ardi lanjut menjelaskan tentang Ren yang dikenalnya sejak dulu dan bahkan sepertinya sampai sekarang dia masih begitu.


Rena yang ambisius, Rena yang rela melakukan apapun demi mengejar mimpinya. Rena yang lebih memilih karier dan kehidupannya di Paris daripada cintanya, keluarganya dan segala hal yang dicintainya di negara ini. Gadis ini tak akan bisa untuk terikat dalam suatu ikatan pernikahan.


"It's just the matter of perseption." Rena mencoba membela diri. "Semua bisa dibicarain baik-baik dan bisa bikin beberapa agreement untuk kedua pihak."


(*Ini kan cuma masalah persepsi).


"Yah tepat sekali. Ini tentang persepsi dan pandangan hidup." Ardi memutar otaknya untuk merangkai kata yang dapat menjelaskan arti kata pernikahan baginya. Pernikahan yang diidamkannya.


"You must know...For me, marriage is not only about love. Marriage is to find a peacefull life. To make a partner that willing to be by my side everytime and in every condition. Someone to suport each others."


(*Kamu harus tahu ... Bagiku, pernikahan bukan hanya tentang cinta. Pernikahan adalah untuk menemukan kehidupan yang damai. Untuk membuat pasangan yang bersedia berada di sisiku setiap saat dan dalam setiap kondisi. Seseorang untuk mendukung satu sama lainnya).


"Huuuh dasar egois. Mana ada cewek yang mau nemenin kamu setiap saat." Rena tertawa mendengar cita-cita Ardi tentang pernikahan impiannya. Hal yang sudah jelas tak akan bisa diwujudkan oleh Rena. Rena tak akan bisa begitu.


"Ada. Nyatanya ada yang mau. Yah tidak harus setiap saat bersama but atleast she always there for me if i need her." Ardi menjawab.


(*Paling tidak dia selalu ada di sana saat aku membutuhkan dirinya).


"Pasti hanya gadis pengangguran yang gak punya pekerjaan kan yang bisa melakukan semua itu. Wanita karir mana bisa kayak gitu."

__ADS_1


"Ella-ku bisa. Ella bisa melakukan semua itu."


"Ella? Siapa Ella? Jangan-jangan yang telponan sama kamu tadi ya?" Rena bertanya menyelidik. Memang sedikit janggal dengan sifat Ardi tadi, sepertinya Ardi gelisah akan sesuatu.


"Iya. Ella adalah kekasihku sekarang. Gadisku itu seorang dokter spesialis penyakit dalam, bukan pengangguran yang tidak punya kerjaan. Tapi bahkan dengan segala kesibukannya dia pasti masih menyempatkan waktunya untukku. Dan aku serius sama dia, aku ingin menikahi dirinya." Ardi menjelaskan terang-terangan tentang Ella.


Rena terdiam membisu tanpa kata, tak menyangka Ardi telah menemukan wanita lain pengganti dirinya. Bahkan Ardi sudah serius ingin menikah dengan gadis bernama Ella itu. Entah mengapa ada rasa perih yang seakan mengiris hati Rena. Perasaan tidak rela karena Ardi sudah memiliki wanita lain. Perasaan menyesal karena dirinya dulu pernah menolak dan menyia-nyiakan cinta Ardi padanya.


Gadis seperti apa yang bisa membuat seorang Lazuardi Pradana jatuh cinta? Rena semakin penasaran dengan sosok Ella ini. Sosok dokter spesialis penyakit dalam yang dikatakan Ardi. Tapi kalau diingat-ingat, Rena sama sekali tak pernah mendengar nama gadis itu. Jangan-jangan bukan dari golongan mereka? Golongan rakyat jelata kah? Hebat sekali gadis itu bisa menakhlukkan Ardi.


Ardi Pradana sudah terkenal di kalangan para sultan muda sebagai the real gentleman, pria yang sangat menjaga diri untuk dapat berhubungan dengan seorang wanita. Hanya sekali Ardi terang-terangan menyatakan hubungan asmaranya, yaitu dengan dirinya. Renata Sudibyo. Dan setelah hubungan mereka kandas lima tahun lalu, tak pernah sekalipun ada kabar bahwa Ardi mempunyai wanita lainnya. Kenapa tiba-tiba sekarang sudah mau menikah?


"Ren, kita masing-masing sudah punya kehidupan sendiri. Kamu dengan kehidupanmu di Paris dan aku dengan kehidupanku di Surabaya."


"Maaf ya Ren semua tentang kita berdua sudah berakhir lima tahun yang lalu, kamu memang pernah menjadi bagian dari hidupku. Masa laluku. And you're always be my best travelling partner. We can also be a good friend after this." Ardi mengambil jeda sejenak sebelum melanjutkan.


(*Dan kamu adalah partner travel terbaikku. Kita juga masih bisa menjadi teman baik setelah ini).


"Tapi Ella untuk saat ini adalah masa depan-ku. Ella adalah wanita yang ingin kupersunting sebagai istriku." Ardi mengakhiri penjelasannya dengan tegas. Menjelaskan dengan gamblang tentang hubungannya dengan Rena dan Ella sekaligus.


"Gratz Ardi, I'm happy to hear that. Pantesan kamu gak mau ada gosip diantara kita. Ternyata buat dia toh?" Ella memaksakan senyumannya untuk memberikan ucapan selamat pada Ardi. Walau jelas rasanya sangat menyakitkan untuk diucapkan.


(*Selamat Ardi. Aku bahagia mendengarnya).


"Iya, Ella kalau ngambek agak nyeremin sih hehe."


"Hahahaha yaampun seorang Lazuardi Pradana yang bahkan tak kenal gentar dengan tender milyaran rupiah bisa takut ceweknya ngambek?... Sudah sakit parah kamu! Bucin kronis!"


"If you really love someone, you will always want her to be happy. You will try the best not to make her sad, angry or cry."


(*Jika kamu benar-benar mencintai seseorang, kamu akan selalu menginginkan dia untuk bahagia. Kamu akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak membuatnya sedih, marah atau menangis).


"Hope I'll find someone that treath me like that."


(*Kuharap aku akan segera menemukan seseorang yang akan memperlakukanku demikian).


"Tyo gimana? Denger-denger kamu deket sama dia akhir-akhir ini?" Ardi memastikan gosip yang di dengarnya dari Irza.


"Tyo? Hahahha masa kamu mau jodohin aku sama si playboy itu?"


"Tyo gak seburuk itu kok. Bahkan si Jo aja bisa jinak. Kasih dia kesempatan untuk membuktikan kesunguhannya sama kamu, selanjutnya terserah kamu aja mau gimana." Ardi memberi saran.


"Tyo itu orangnya bebas dan berpikiran terbuka."


"Tipe yang cocok buat kamu kan?"


"Yah jauh lebih baik lah daripada pria bucin yang pengen ditemenin terus kemana-mana," sindir Rena pada Ardi.


"Asyem, diajarin malah nyindir."


"Hahahahaha."


Keduanya pun akhirnya tertawa lepas bersama. Lega dengan akhir dari hubungan mereka berdua setelah menggantung selama lima tahun lamanya. Dan yang terpenting adalah mereka berdua masih dapat berteman dan berhubungan baik seperti sebelumnya.

__ADS_1


~∆∆∆~


🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss donk kasih KOMEN buat penyemangat author. 🌼


__ADS_2