
Jakarta, jumat sore yang sangat melelahkan bagi Ardi. Ardi menghempaskan begitu saja tubuhnya di kasur empuk hotel begitu tiba di kamar hotelnya. Bahkan tanpa melepas jas dan dasi yang dikenakannya terlebih dahulu.
Perjalanan bisnis maraton telah dilakukannya sejak kamis pagi kemarin. Bisa dibilang sukses dan sesuai target yang diinginkan. Bahkan kamis malam kemarin dia harus nemenin para sultan Jakarta untuk clubbing dan party-ing sampai pagi.
Yang paling bikin capek dari perjalanan ini bukanlah kegiatannya yang padat. Melainkan kemacetan di ibukota ini yang tidak rasional dan bisa bikin gila. Duh bisa-bisanya ada orang yang masih betah idup di kota kayak gini. Bagi Ardi mendingan di Surabaya aja deh masih bisa ditolerir macetnya, apalagi ada Ella di sana yang bikin adem hehe.
"Pak, malam ini sudah gak ada jadwal. Bapak mau hang out sendiri, saya temani, atau bagaimana?" Bambang menghampiri Ardi. Menanyai keinginan atasannya itu. Tapi kayaknya pak Ardi capek banget, ya semoga aja dia milih tidur di hotel. Dan besok siang mereka bisa pulang kembali ke Surabaya.
Bambang sendiri tidak secapek Ardi karena kemaren malam tidak ikut clubbing sampai pagi. Bambang tidur dengan damai kemarin malam di hotel. Yah gak mungkin juga kan dirinya ikutan pergaulan para sultan dan sultanwati itu, bisa kualat hehe.
"Aku capek banget, jangan ganggu aku. Kamu bebas malam ini kalau mau jalan." Jawab Ardi sekaligus mengusir Bambang dari kamarnya.
"Baik, pak." Bambang menjawab kegirangan. Segera pamit dan berlalu dari dari kamar Ardi, kembali ke kamarnya sendiri tepat disebelah kamar Ardi.
Lumayan banget ini bisa dapat waktu bebas untuk jalan-jalan, shopping, cari oleh-oleh atau kalau lagi hoki bisa nemu cewek juga. Gara-gara pekerjaannya yang terlalu sibuk dan harus ngintil terus kemana Ardi pergi, Bambang sama sekali gak sempet cari cewek. Kapan bisa punya pacar coba?
Ardi mengambil ponselnya dari saku jas, pengen cari penyejuk jiwa raga. Pereda lelah dan capek setelah seharian beraktivitas. Dipanggilnya nomer favorit itu untuk berhubungan lewat vidio call, Ella.
"Hallo, honey," sapa Ardi sambil tetep tiduran dan rebahan di kasur, males beranjak.
"Halo mas Ardi," balas Ella disana, sepertinya gadis itu masih sibuk mengeringkan rambutnya. Abis mandi kayaknya, abis keramas. Duh seger banget dilihatnya, pasti wangi itu kalau dicium-cium.
"Sayangnya mana?" Ardi menagih panggilan sayang untuknya. Ella ini masih saja malu-malu untuk sekedar memanggilnya dengan panggilan sayang.
"Sayang..."
"Gak ikhlas banget nyebutnya..." Ardi memprotes.
"Emang yang ikhlas itu kayak gimana?" Ella tertawa ringan meletakkan hair dryer-nya. Udah selesai mengeringkan rambutnya, sekarang bisa fokus menghadapkan wajahnya ke panggilan vidio call.
"Mas Ardi sayang...gitu..." Ardi makin gemes melihat Ella dengan rambutnya yang mengembang besar, kelihatan tebel banget karena abis di Blow hair dryer. Kayak singa hehe...Singa betina yang cantik si tapi.
"Mas Ardi sayang... Bau kecut karena belum mandi hehe." Ella menjawab sambil menambahkan jahil.
"Duh kok ada embel-embelnya." Ardi bangkit dari rebahannya. Berdiri, melepaskan jas dan dasinya, melemparkannya begitu saja di lantai kamar.
"Kok tahu aku belum mandi? Dicium-ciumin ya dari sana?" Ardi semakin keasikan menggoda Ella.
"Idih ogah. Bisa rusak hidungku ntar hehe."
"Eh belum tahu dia. Nanti pasti ketagihan dan minta lagi klo udah sekali cium baunya."
"Gak bakalan!" Ella langsung memprotes keras dan membuat Ardi tertawa ngakak.
"Sibuk banget ya hari ini? Capek? Abis ini masih ada acara lagi?" Ella kali ini menginterogasi. Penasaran ingin tahu jadwal Ardi.
"Iya padat banget acara dua hari ini. Gila macetnya disini, bikin kita serasa kejar-kejaran sama waktu. Biar gak telat ketemu satu klient ke klient lainnya," Ardi menjelaskan. Inilah yang disukainya dari Ella, perhatian dan pengertian banget. Ella bisa menjadi pendengar yang baik dan pasti tak akan keberatan dengerin keluh kesahnya.
"Kalau capeknya si sudah pasti. Tapi abis liatin wajah cantik kamu jadi ilang capeknya. Kamu lucu banget deh kayak singa betina rambutnya hehe."
"Haaaa? Singa betina apaan? Bukannya singa betina gak ada rambutnya ya?" Ella menggerak-gerakkan kepalanya, membuat rambutnya berkibar-kibar.
Semakin lucu dan tergelitik saja rasanya Ardi melihat tingkah gadisnya itu. Duh kalau deket pasti udah aku cium kamu, El. Saking gemesnya.
"Lho iya ya hahaha." Ardi baru sadar juga kalau Singa yang berambut blow hanya singa jantan.
"Udah deh mas Ardi mandi dulu sana lalu makan malam dan istirahat." Ella tak tega juga melihat Ardi yang sepertinya kelelahan dan kurang tidur.
"Kamu mau liat aku mandi?" Ardi semakin jahil menggoda Ella. Dibukanya beberapa kancing kemejanya untuk menunjukkan dadanya yang bidang pada gadis itu.
"Iiiihhh mulai deh mesumnya!" wajah Ella terlihat memerah saking malunya melihat pemandangan indah dihadapnnya. Dada bidang yang sandar-able.
"Mesum-mesum begini tapi ngangenin kan?"
"Nggak. Gak kangen sama mesumnya!"
"Tapi aku yang masih kangen kamu..." Ardi merajuk.
"Besok kan udah pulang dan bisa ketemuan langsung." Ella ingat Ardi mengatakan akan ada acara keluarga hari sabtu sore. Jadi pasti besok sore Ardi pasti sudah di Surabaya kan.
__ADS_1
Pembicaraan mereka berhenti karena ada ketukan di pintu kamar Ardi. Siapa si ganggu aja? Kalau Bambang pasti langsung masuk kan? Atau room service? Perasaan Ardi gak mesen sesuatu.
"Bentar ya honey, ada tamu." Ardi beranjak untuk membukakan pintu kamarnya.
Kedua mata Ardi langsung melebar saat mendapati sosok seorang wanita cantik dengan tubuh tinggi semampai di balik pintu. Tubuh indah seorang model kelas internasional, Renata Sudibyo.
"Rena?..." Sapa Ardi setengah tak percaya dengan siapa yang ada di hadapannya.
"Hi Ardi. Long tome no see." Rena balas menyapa dengan senyuman lebar. "May I have your time?"
(*Hi Ardi. Lama tak berjumpa. Boleh minta waktu?)
"Ah sure, Come in..." Ardi mempersilahkan Rena memasuki kamarnya, untuk sesaat lupa pada panggilan vidio callnya dengan Ella.
(*Tentu, mari masuk)
"How are you?" Rena kembali berbasa-basi.
(*Gimana kabarnya?)
"Fine. What about you?"
(Baik. Kamu sendiri gimana?)
"Great. Finally I can meet you."
(*Luar biasa. Akhirnya aku bisa menemukanmu.)
Ella terdiam saja mendengarkan percakapan Ardi dan tamunya. Rena? Renata? Mantan mas Ardi? Apa mereka janjian ketemuan di Jakarta? Kenapa wanita itu mendatangi Ardi di kamar hotel? Berduaan di kamar hotel? Mau tak mau ada gelombang rasa cemburu juga yang menghampiri Ella.
"I miss you, Ardi. You look just the same as many years ago. Or should I say, more handsome?" Rena memberikan pelukan hangatnya pada Ardi serta memberikan ciuman di pipi kanan dan kiri Ardi.
(Aku kangen kamu, Ardi. Kamu keliatan sama saja seperti beberapa tahun yang lalu. Atau bisa dibilang makin ganteng aja?).
"Oh cmon, stop firlting on me. No body can resist your beauty." Ardi buru-buru melepaskan pelukan Rena dari tubuhnya.
(*Hentikan gombalanmu. Gak bakal ada yang sanggup menolak godaan kecantikanmu).
Dan benar saja Ardi mendapati panggilan vidio callnya dengan Ella sudah berakhir. Ella sudah mengakhiri panggilannya.
"Hahaha, no body? Except you, right?" Rena tertawa garing mendengar jawaban Ardi.
(Gak ada satupun? Kecuali kamu bukannya?)
Ardi tidak merespon jawaban Rena. Malah kembali berkutat dengan ponselnya, buru-buru mengirimkan pesan singkat pada, Ella. Tak ingin gadis itu marah atau salah sangka pada hubungannya dengan Rena.
Lazuardi
I'll call you latter. Dont overthink bout it.
(*Nanti kuhubungi lagi. Jangan terlalu dipikirkan.)
Tidak ada balasan. Waduh, Ella beneran marah ini. Ardi beneran kelabakan dibuatnya. Ardi mencoba memanggil Ella kembali tapi gadis itu pun menolak panggilannya. Membuat Ardi makin kalut saja.
"What's wrong? Anythings happen?" Rena dapat merasakan kegelisahan Ardi.
(*Ada apa? Ada masalah yang terjadi?)
"Nothing."
(*Gak pa-pa)
"Lagi telponan sama sapa hayo? kok pake buka-buka baju nunjukin dada sexy kayak gitu?" Rena sedikit menggoda Ardi dan bersiul ringan memandangi dada Ardi dengan kemeja yang tebuka kancingnya.
"Oh dang!" Ardi buru-buru membalikkan tubuhnya dan memasang kembali kancing bajunya. Rena hanya cekikikan melihat reaksi Ardi.
"How come you so shy to me. Aku kan udah pernah liat yang lebih banyak lagi dari itu hehe."
(*Ngapain malu-malu sama aku)
__ADS_1
"Hahaha waktu itu kan badanku masih bagus...Have a seat." Ardi mempersilahkan Rena duduk setelah merapikan penampilannya. Memungut pula dasi dan jas yang tadi dilemparnya begitu saja di lantai. Biar gak terlalu jorok kelihatannya.
"Sekarang juga masih bagus kok. Masih sexy." Rena mengambil duduk di sofa.
"Bisa aja." Ardi ikut mengambil duduk di sofa yang berhadapan dengan Rena. "Kamu gimana kabarnya?" tanya Ardi pada Rena. Agak heran juga si bagaimana Rena bisa tahu tempatnya menginap. Tapi kalau mengingat koneksi dan pergaulan para sultan si bukan masalah yang sulit.
"Well, as you can see..."
(*Yah seperti kamu lihat...)
"Kurus..."
"Hahahaha yaampun kamu jujur banget si. Cuma kamu lho yang berani ngomongin aku kurus."
"Kamu beneran kurus banget. Susah ya jadi model? Harus sekurus itu?" Ardi sedikit prihatin melihat Rena yang jauh lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu. Rena yang dulu lebih sintal dan berisi.
"Kamu tahu gak? Bentuk badan kayak gini ini idaman setiap wanita lho ya. Bisa nangis cewe-cewe kalau dengerin komentar kamu hehehe."
"Terserah lah apa kata orang. Tapi kalau aku pribadi si lebih suka yang sedikit berisi. Enak dicium pipinya empuk hahaha." Ardi tersenyum sendiri memikirkan pipi Ella yang tembem dan enak diciumin.
"Kamu suka yang BMI (Body mass Index) normal?"
"Iyalah, kalau under BMI kan gak bagus juga. Bukan hanya kelihatan kurus tapi juga gak sehat kan?"
"Mau gimana lagi tuntutan kerjaan si."
"Ya itukan profesi yang kamu pilih sendiri."
"Hahaha Iya juga sih..."
"Enak gak idup di luar negeri terus?" tanya Ardi.
"Yah ada enak dan gak enaknya si. Kadang kangen juga sama indonesia. Kangen mama dan papa, kangen keluarga, kangen teman-teman. Kangen semuanya yang ada disini.
"Kalau kangen kan tinggal pulang aja."
"Nyatanya gak segampang itu juga. Jadwalnya itu lho bisa kacau."
"Percaya deh model internasional gitu lho." Ardi memuji dan Rena hanya tertawa garing.
"By the way, udah lama banget ya kita gak ketemu." Rena mengingat-ingat kapan mereka berdua bertemu. "Empat tahun?"
"Lima tahunan kayaknya." Ardi mengoreksi.
"Kalau misalnya aku dulu gak keluar negeri, kira-kira kita masih bisa sama-sama seperti dulu gak?" Rena tiba-tiba bertanya pada Ardi.
~∆∆∆~
FYI (For Your Information)
*Indeks massa tubuh adalah metrik standar yang digunakan untuk menentukan apakah seseorang masuk dalam golongan berat badan sehat atau tidak sehat.
*Indeks massa tubuh alias BMI membandingkan berat badan Anda dengan tinggi badan Anda, dihitung dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan tinggi badan dalam meter kuadrat.
BMI \= Berat badan (kg) : Tinggi Badan (m) kuadrat
*Misalnya, Anda ingin mencari tahu apakah Anda normal atau obesitas. Anda memiliki berat badan 80 kilogram dan tinggi 1,75 m (175 centimeter).
Pertama, kalikan tinggi badan dalam kuadrat: 1,75 x 1,75 \= 3,06. Selanjutnya, bagi angka berat badan dengan hasil kuadrat tinggi badan: 80/3,06 \= 26,1.
*Kategori berat badan yang tercantum di bawah ini:
-Di bawah 18,5 \= Berat badan kurang
-18,5 – 22,9 \= Berat badan normal
-23 – 29,9 \= Berat badan berlebih (kecenderungan obesitas)
-30 ke atas \= obesitas
__ADS_1
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss donk kasih KOMEN buat penyemangat author. 🌼