
"Si Ardi parah banget waktu itu. Dia dateng ke kantorku sore-sore sebelum jam pulang kerja. Pakai tuxedo lengkap, asli keren banget bak pangeran. Ardi juga bawain buket bunga segar yang bagus dan gede banget ukurannya. Romantis abis pokoknya. Kontan satu kantorku heboh dan gempar waktu itu..."
Cecil memulai ceritanya dengan nada yang dramatis sambil tersenyum malu-malu dan sesekali melirik Ardi yang sedikit salah tingkah. Tingkah mereka berdua membuat semua yang mendengarkan cerita semakin berpikir dan berspekulasi kemana-mana.
"Waktu Ardi masuk ke ruangan ku, asli aku kaget dan surprise banget. Ardi? Gak salah makan ini anak? Asli syok aku liat dia. Udah Ge Er dan berdebar gak karuan juga jantungku rasanya. Apalagi waktu dia berjalan mendekat dan menyodorkan buket bunganya padaku..."
"Ardi waktu itu cuma bilang, Cil please terima yah..."
"Aku speachless. Makin bingung dibuatnya. Masa iya sih Ardi mau nembak aku? Perasaan gak pernah keliatan PDKT. Saking penasarannya aku mau saja untuk nerima buket itu."
"Do you know what i got?" Cecil menghentikan ceritanya sejenak, berteka teki penuh misteri. Membuat semua yang mendengar semakin kepo dan penasaran dengan apa yang terjadi diantara mereka berdua.
(*Kalian tahu apa yang kudapatkan?)
"Aku terima buketnya, aku cium wangi bunganya yang harum sampai aku sadari ada sesuatu yang terselip di balik buket bunga...Apa coba yang terselip disana? Secarik kertas...Love letter kah?..."
"Noooo...Ternyata bukan surat cinta yang aku dapat melainkan surat kontrak kerja. Asyem banget kan? Kena aku dikerjain sama Ardi. Parah banget asli dia hahaha!" Cecil tertawa ngakak kali ini, gak jaim lagi dengan image dan penampilan cantiknya.
"Siapa yang gak melting coba digituin?" Cecil mengakhiri kisah tentang rayuan maut Ardi padanya dua tahun yang lalu, yang sangat dramatis dan fenomenal.
Semua yang hadir dan mendengarnya langsung tertawa ngakak bersama tanpa ditahan lagi. Mereka membayangkan bagaimana ekspresi Ardi saat menyerahkan buket dengan wajah seriusnya.
Lebih ngakak lagi untuk membayangkan reaksi Cecil saat menerima buket bunga dan mendapati surat kontrak kerja dibalik buket bunga itu. Asli unpredictable banget memang kelakuan Ardi Pradana ini.
"Gila! Parah banget kamu, Di! Aku atau Jo aja belum tentu berani pakai cara licik kayak gitu." Tyo mau tak mau harus mengakui kenekatan Ardi.
"Hehe tapi sukses kan?" Ardi ikut tertawa ringan menanggapi reaksi teman-temannya. "Mau gimana lagi coba? Kita kan udah abis-abisan waktu itu. Gak bisa mikir lagi siapa yang bisa dimintai tolong. Cuma Cecil yang kepikiran di otakku waktu itu."
"Kaget aja si awalnya. Kalau inget sifat Ardi emang kayaknya gak mungkin bakal ada personal matter, pasti urusan bisnis ... Tapi yang aku herankan Pradana grup kan juga punya perusahaan konstruksi ngapain malah proyek gede gini diserahin ke Ciputra?" Cecil menceritakan keraguannya saat membaca kontrak kerja waktu itu.
"Perusahaan sih ada tapi duitnya gak ada, ludes." Ardi mengakui kebangkrutannya terang-terangan.
"Ardi is the most crazy gambler I ever know." Nick Marcus ikut menyeletuk menanggapi kali ini.
(*Ardi adalah penjudi paling gila yang aku kenal.)
"But I know he is very clever and talented as a bussinesman. So I have no doubt to bet on him."
(*Tapi aku tahu dia sangat cerdas dan berbakat sebagai bisnisman. Jadi tak ada keraguan untuk bertaruh padanya.)
__ADS_1
"You right. Beneran gila emang dia. Bisa-bisanya sampai all out ngabisin duitnya dalam satu proyek." Tyo menyetujui, mengingat-ingat juga saat Ardi menjabarkan tentang rencana awal kontrak mereka. Tapi setelah pembicaraan panjang lebar akhirnya Tyo tertarik juga mengucurkan dananya yang tidak sedikit untuk proyek ini. Dirinya seolah mendapat firasat bahwa proyek ini bakalan sukses.
"Tapi aku setuju sama prinsip Ardi. All or nothing." Irza ikutan mendukung Ardi. "Ardi itu seperti jendral perang yang handal. Dia sudah melakukan banyak persiapan sebelum berperang. Dia sudah bikin konsep yang rapi dan bagus banget waktu pengajuan kontrak padaku. Makanya meskipun terlalu risky dan terkesan sembrono aku kepincut juga buat naroh investasi gede ke proyek miliknya. Karena yakin bakalan sukses besar..."
"Yes he has a devinitely great Plannig. Aku jadi gak nyesel nerima buket bunga fenomenal itu hehe." Cecil ikutan menyetujui pendapat mereka.
(*Iya Ardi memiliki rencana yang sangat hebat)
"Bener banget itu. Sekalian aja kita menyelam bersama, mati tenggelam bersama atau malah nemuin permata dan sukses bersama juga. Seru juga kan hehe..." Mahes ikut nimbrung juga mengomentari.
Mahes memang yang paling habis-habisan menginvestasikan modal milik Hartanto dalam proyek ini. Dirinya bahkan rela pembangunan rumah sakit Hartanto Medika di Surabaya tertunda karena kehabisan dana. Mahes menyadari dirinya juga sama gila dan nekatnya dengan Ardi, sama juga dengan kumpulan sultan muda di hadapannya ini. They are the real crazy gambler.
(*Mereka semua adalah benar-benar penjudi gila)
"Untung aja semua berjalan lancar. Tak ada masalah atau kerugian yang berarti. Makasih banget lho buat kalian semua atas kepercayaannya." Ujar Ardi dengan tulus.
Ardi merasa lega dan senang memiliki teman, sahabat, sekaligus mitra bisnis yang sepemikiran dengannya. Yang sama gilanya dengan dirinya, yang tak ragu sedikit pun dalam mengambil resiko. Tak ragu untuk mengeluarkan uang sampai triliunan rupiah untuk proyek bersama ini.
"Thank you very much for all your supports, guys. Makasih banget juga udah nyempetin datang ke acara ini." Ardi mengangkat gelas wine nya untuk bersulang dengan para tamu VIP ini. Para tamu pun langsung menyambut ajakan Ardi untuk bersulang dan minum dari gelasnya masing-masing.
(*Makasih banyak untuk semua dukungan kalian)
"Jangan sungkan-sungkan ayo nikmati semua hidangan kami yang tak seberapa ini." Ardi menambahkan sambutan ramah tamahnya.
(*Gak masalah, kami bisa bulan madu di Surabaya setelah urusan bisnis selesai).
"Lu mau honeymoon sampai kapan? Kalian udah nikah dua tahunan lebih masih honeymoon aja." Tyo menyeletuk sewot melihat kemesraan Nick dan istrinya yang tanpa malu-malu diperlihatkan di depan umum. Mungkin udah biasa bagi mereka yang orang western tapi tetap saja terlihat aneh kalau dilakukan di negara ini.
"Makanya buruan nikah, biar tahu rasanya pengen hanimun terus," Mahes yang menyeletuk kali ini, ikutan memanasi dengan menarik tubuh Laras yang berdiri disampingnya semakin dekat ke tubuhnya, ikut memamerkan kemesraan mereka berdua.
"Haduuuh, apes banget ya tinggal kita bertiga doank disini yang jomblo," Tyo mencari teman senasib seperjuangan sesama jomblo pada Irza dan Ardi.
"Aku gak diitung?" Cecil terkikik geli melihat tingkah mereka. "Gini-gini aku juga masih jomblo kok." Lanjutnya membuka rahasia pribadinya. Membuat para pria jomblo yang kebetulan mendengar ucapan itu jadi sumringah. Paling tidak masih ada juga cewek high quality jomblo yang bisa mereka gebet.
"I'm coming Cecil. Wait for me..." Tyo langsung mendaftarkan dirinya sebagai kandidat pacar Cecil.
"Lha bukannya kamu udah gandeng cewek, Yo?" Ardi yang memang tidak tertarik dengan wanita selain Ella dapat mengabaikan pesona dan kecantikan Cecil begitu saja.
Ardi malah beralih, bertanya keheranan pada Tyo karena dari tadi dirinya melihat sudah ada seorang wanita di samping pria itu.
__ADS_1
"Dia? Masa kamu lupa, ini Praditha adikku." Tyo memperkenalkan adiknya pada Ardi.
"Ditha yang waktu itu? Wah sudah dewasa dan jadi gadis manis rupanya." Ardi sedikit kaget melihat penampilan Ditha yang dikatakan sebagai adik Tyo. Pangling dan nyaris tidak mengenalinya.
Memang Ardi sudah mengenal adik Tyo ini sejak dulu, mengingat Tyo adalah teman kuliahnya satu kampus. Jadi dulu Ardi dan teman kuliahnya sering main kerumah Tyo yang ada di Surabaya. Tak jarang juga bertemu dengan keluarga Tyo dan Ditha yang waktu itu masih SMP.
"Iya. Mas Ardi yang gak banyak berubah sejak sepuluh tahun yang lalu." Ditha merasa kegirangan Ardi masih ingat padanya. Tapi sedikit jengkel juga karena dirinya yang dalam ingatan Ardi adalah gadis SMP tomboy yang masih buluk dan dekil tentunya. Sedangkan Ardi? Makin keren aja sejak terakhir kali mereka bertemu.
"Nanti perusahaan kami yang disini Ditha yang pegang, makanya sekalian aja aku kenalin pada kalian semuanya di acara ini." Tyo menjelaskan peranan adiknya bagi proyek kerjasama mereka.
"Mohon bantuan dan bimbingannya ya kakak-kakak sekalian." Ditha sedikit membungkuk seolah memberi penghormatan pada para senior bisnisnya.
"Bagus nanti bisa barengan sama Linggar, adikku belajarnya. Dia juga baru mulai terjun ke dunia ini. Nggar kamu ada temennya tu," Ardi juga mengenalkan Linggar pada rekan-rekanya. Linggar juga melakukan penghormatan yang sama seperti Ditha sebagai salam perkenalannya.
Selanjutnya Ardi, Linggar dan Laras sebagai keluarga inti radana mohon pamit dari gerombolan tamu VIP itu. Sebagai tuan rumah, tentunya mereka harus menyapa dan beramah tamah dengan semua tamu-tamu lainnya. Tak bisa hanya berkumpul dengan sekelompok orang tertentu saja.
"Eh Hes, Ardi udah punya pacar belum? Kira-kira mau gak ya dijodohin ama Ditha?" Tyo tiba-tiba menyeletuk pada Mahes saat Ardi sudah menjauh.
"Hmm...Kayaknya si belum ada," jawab Mahes. Sedikit bingung juga dengan status asmara Ardi. Dibilang jomblo juga kakak iparnya itu sudah tidak punya hati, hilang hatinya dibawa pergi sama Ella.
"Ih mas Tyo apaan si..." Ditha memprotes ucapan kakaknya. Tapi semburat rona merah malu-malu dari wajahnya tak dapat disembunyikan.
"Aku juga pernah bilang pada Ardi pingin jadiin dia sebagai adik ipar," Irza tiba-tiba menyeletuk dengan tanpa dosa, membuat semua yang mendengarnya menjadi sangat kaget.
"Hah? Seriusan, Za? Buat si Kika? Bukannya udah tunangan sama si Johanh Kikanya?" Cecil ikutan kepo mendengar cerita bos Wismail grup itu.
"Sebagai kakak, daripada Johanh jelas aku lebih milih Ardi lah. Kalau Jo sama aja kaya si Tyo tu kelakuannya. Walau sekarang sudah tobat si, sudah jinak." Irza menjelaskan keinginan pribadinya yang menginginkan pasangan yang baik bagi adiknya.
"Terus gimana reaksi Ardi?" Mahes ikutan kepo. Pasti mantab tu kalau beneran bisa jadi Ardi dan Kika. Pernikahan dua perusahaan raksasa beneran tu jadinya, Pradana dan Wismail.
"Ardi mah datar aja reaksinya. Mungkin Ardi ngirain aku cuma becanda, soalnya Kika sudah tunangan sama Jo waktu itu." jawaban Irza langsung dibalas dengusan kecewa teman-temannya karena mendengar akhir cerita yang tidak seru. Irza ini gak pintar membumbui cerita, gak kayak Cecil yang bisa bercerita dengan serunya tadi.
"Berarti You must have a wife, Tyo. Biar cepat tobat. As soon as possible," Nick tiba-tiba ikutan menyeletuk dengan bahasa campurannya yang sedikit janggal untuk didengar oleh telinga.
"Aku masih setia nungguin Cecil kok. Kamu kapan siap dilamar, Cil?..." Tyo malah menjawab dengan rayuan ala buaya darat ke Cecil. Membuat gadis itu terang-terangan bergidik dan memberikan pandangan tidak suka yang menusuk pada Tyo.
"In your dreams," jawab Cecil dengan ketusnya. Mau tak mau semua yang hadir jadi ikut tertawa ngakak melihat Tyo ditolak mentah-mentah.
~∆∆∆~
__ADS_1
Buat yang penasaran sama Irza dan Kika wismail serta Johanh Astin bisa langsung mampir dan kepoin di novel berjudul YOUNG MISS karya author teman saya ASTARI ATELIER. Dijamin gak kalah serunya.
Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. Komen apa aja, bisa kritik dan saran atau hujatan juga boleh. 😉