Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
124. S2 - True love


__ADS_3

Tidak semua orang beruntung,


menikah dengan cinta sejatinya.


Tapi semua orang bisa beruntung,


Menjadikan orang yang dinikahinya


sebagai cinta sejatinya _ Tere Liye


________________________________________


"Pasien A dengan GGK, KU menurun dok, mohon konsul." Suara salah seorang perawat terdengar di sisi lain panggilan telpon Ella.


(GGK: Gagal Ginjal Kronis, KU: Keadaan Umum)


Yap hari minggu adalah hari libur, hari dimana seorang dokter residen pun mendapatkan liburannya. Tak ada tugas On Duty hari ini tentu saja. Tapi jangan harap untuk melarikan diri dari tugas Off Duty di hari minggu. Hari dimana kebanyakan dokter dan dokter spesialis mengambil libur. Jadilah hari minggu adalah consult day bagi para residen.


Dan ini sudah panggilan untuk pasien ke lima bagi Ella pagi ini untuk menerima konsultasi. Membuatnya sama sekali tidak bisa menikmati minggu paginya, bahkan acara sarapan pagi bersama keluarga pun ikut terganggu. Andai saja dirinya dapat menolak atau mengabaikan panggilan-panggilan ini sejenak.


Tapi mana mungkin kan? Bagaimana kalau itu konsulan darurat? Bisa gawat kalau sampai terjadi sesuatu yang berbahaya pada pasien karena terlambat penanganan. Karena terlambat konsul dan keputusan tindakan dari dokter penanggung jawabnya? Terlalu sembrono dan menuntut pertanggung jawaban moral yang sangat besar.


"Perbaiki KU-nya, intake makanannya dan minumnya dijaga, lanjutkan pemberian obat seperti kemarin, infuse juga sama dengan kemarin cuma dipercepat tetesannya ya. Jangan lupa hari ini lakukan pemeriksaan urine dan pemeriksaan darah lengkap. Serta jadwalkan Hemodialisa untuk besok senin." Ella menjawab konsulan pasien dengan memberikan beberapa advice.


"Baik dok, terima kasih. Untuk pasien lainnya aman dok. Kalau ada apa-apa nanti saya telpon lagi."


Ella mendengus lega. Syukurlah tak ada pasien yang aneh-aneh hari ini. "Semoga gak ada telpon lagi deh," Ella sangat berharap.


"Amiiin dok, semoga aman hari ini," suara diseberang sana ikut mengamini. "Yaudah dok terima kasih, maaf mengganggu liburannya."


"Ya sama-sama," Ella menjawab singkat mengakhiri panggilan tugas negaranya.


"El, sarapannya udahan belum?" Lilik bertanya setelah Ella menutup panggilannya. Geregetan juga melihat putrinya itu sarapan sejak lebih dari setengah jam yang lalu tapi belum selesai-selesai juga sampai sekarang.


"Bentar ma, tanggung ni." Ella melanjutkan menyuap makanan di piringnya yang masih separuhnya dia habiskan. Sarapan yang tertunda karena pangilan tugas negara tadi.


Setelah menyelesaikan sarapannya yang tertunda Ella segera membersihkan meja makan dan mencuci piring, gelas serta sendok garpu yang tadi dipakainya. Memang sudah menjadi adat kebiasaan di rumahnya untuk bertanggung jawab pada alat makan yang habis dipakai masing-masing.


"El, sini deh coba liat ini!" Mama Lilik tiba-tiba berteriak dengan hebohnya sambil menunjuk TV.


"Apaan ma? Berita artis?" Ella sama sekali tidak tertarik dengan berita infotainment.


"Bukan gosip ini. Head line news, berita utama ini yang mama tunjukin." Lilik gemas mendengar respon Ella. "Cepetan kesini, keburu abis beritanya."

__ADS_1


Karena sangat penasaran Ella buru-buru beranjak dari dapur dan menghampiri mamanya ke ruang tengah. Langsung melihat ke arah TV yang ditunjukkan oleh mamanya.


Untuk sekilas jantung Ella terasa berhenti berdetak demi melihat wajah seorang pria muda dengan setelan jas resminya di layar kaca. Wajah tampan yang sangat familier, wajah yang dulu sering menjumpai dirinya. Wajah yang sampai sekarang pun masih sering hadir dalam mimpi-mimpinya.


Ardi, benar saja di layar kaca pun tertulis jelas namanya disana. Lazuardi Pradana, CEO Pradana Group dan founder dari Pradana Bussiness Park.


"Ini nak Ardi kan?" Lilik memastikan dirinya tidak salah lihat dan tidak salah mengenali orang.


"I, Iya ma..." Ella menjawab dengan terbata-bata saking gugupnya melihat wajah Ardi untuk pertama kalinya setelah tiga tahun. Ella semakin penasaran kenapa Ardi sampai masuk TV segala, dibacanya tulisan yang berjalan dibagian bawah layar kaca.


Pembukaan Pradana Bussiness Park, dan kawasan itu dibangun di Surabaya? Jangan bilang kalau...Jangan bilang kalau mas Ardi ada di Surabaya? Kota ini? Kota yang sama dengan dirinya? Jantung Ella tiba-tiba terpacu dan berdetak semakin cepat demi menyadari kenyataan itu.


"...Terima kasih kepada teman-teman dari Wismail Grup, Hartanto Grup, MarcusCo Grup, Sampoerna Grup dan Ciputra Grup. Kami sangat bangga perusahaan raksasa seperti kalian bersedia memberikan kepercayaan untuk bekerja sama dalam proyek Pradana Bussiness Park ini." Ella dapat mendengar suara Ardi melakukan siaran konferensi pers dari TV.


Suara tegas dan berwibawa itu, suara yang selalu dibuat selembut mungkin jika bersama dengan Ella, benar-benar suara mas Ardi. Hanya dengan melihat wajah tampannya, dan mendengarkan suaranya saja seolah dapat membangkitkan semua kerinduan yang telah terpendam rapat-rapat di hati Ella. Lazuardi Pradana benar-benar kamu seperti candu dalam hidupku, umpat Ella dalam hatinya.


"El? Kamu gak pa-pa?" Lilik bertanya khawatir karena Ella yang masih saja bengong menatap TV dengan pandangan kosong. Meskipun berita tentang Ardi Pradana sudah beberapa saat yang lalu hilang dari layar kaca, berganti dengan iklan komersial.


Dari reaksi Ella ini Lilik dapat menebak kalau putrinya itu sebenarnya masih ada perasaan pada Ardi. Ardi yang merupakan cinta sejatinya, true love.


"Apa? Kenapa ma?" Ella kaget dan tersadar dari lamunannya demi mendengar suara mamanya. Dia segera beranjak dari depan TV dan mengambil duduk di sofa disebelah mamanya duduk.


"Ella sayang ... Kamu masih cinta ya sama Ardi?"


Ella benar-benar kaget mendengarnya. Tak ada angin tak ada hujan kenapa pertanyaan itu yang tiba-tiba keluar dari mulut mamanya?


"Kamu tadi ngeliatin Ardi di TV itu kayak kangen berat, kayak pingin menarik keluar tubuhnya Ardi dari dari TV untuk kamu peluk saja tubuhnya."


"Hahaha mama bisa aja deh bikin perumpamaan kayak gitu." Ella tertawa geli mendengar perumpamaan mamanya itu. Benar-benar imajinasi tinggi, kebanyakan nonton sinetron pastinya ini.


Lilik membuang napasnya keras-keras sebelum kembali menata kata-katanya lagi. "El, kamu lihat apa yang dilakukan Ardi tadi? Dia semakin hebat. Dia rasanya semakin tak terjangkau oleh kita yang orang biasa ini. Kehidupannya dan kehidupan kita bagaikan bumi dan langit saja rasanya..." Lilik mengutarakan kekhawatirannya setelah melihat tayangan berita tadi.


"Iya ma, Ella juga sadar diri kok. Mas Ardi itu terlalu tinggi, baik dari segi materi atau segalanya bagi Ella." Ella menyetujui ucapan Lilik, sadar diri akan keadaannya, posisinya sebagai rakyat jelata. Sadar diri akan status kesultanan Ardi yang semakin lama semakin menyilaukan mata untuk dilihat.


Dulu dengan naifnya Ella berfikir untuk bersekolah, mengambil program spesialis untuk setidaknya mampu berdiri sejajar dengan Ardi. Tapi sekarang bahkan jika dirinya telah lulus pun rasanya tetap saja jurang pemisah antara mereka berdua terlalu jauh.


Ella mengutuk kebodohannya waktu itu yang sama sekali tidak memperhitungkan bahwa Ardi juga masih akan terus berkembang. Ardi masih dapat lebih hebat lagi. Lebih tinggi dan tinggi lagi Ardi menapaki jenjang kedudukan harta dan tahtanya. Semakin berkilau bagaikan namanya Lazuardi, sang permata biru yang semakin berkilau karena pulasan dan tempaan oleh sang waktu.


Kalau sudah seperti ini siapa yang tidak akan bergetar dan menciut nyalinya coba? Siapa yang tak akan gentar hanya dengan mendengar namanya disebut. Lazuardi Pradana.


"Di kehidupan ini tidak semua kisah cinta berakhir bahagia. Tidak semua orang beruntung, menikah dengan cinta sejatinya." Lilik meraih sebelah tangan putrinya. Menggenggamnya erat-erat, seolah ingin memberikan kehangatan dan kekuatan untuk Ella dalam menghadapi kerasnya kehidupan ini.


"Tapi semua orang juga bisa beruntung, dengan menjadikan orang yang dinikahinya sebagai cinta sejatinya. Disinilah perlunya keikhlasan dan penerimaan yang tulus dari masing-masing pasangan itu sendiri...Dan semuanya itu dapat dipelajari, dapat dipupuk dengan berjalannya waktu." Lilik mengakhiri nasihatnya kepada Ella.

__ADS_1


Ella terdiam sekarang, tahu benar apa yang dimaksudkan oleh mamanya. Tahu benar bahwa mamanya tak ingin dirinya terluka lagi untuk kedua kalinya. Mamanya hanya ingin dirinya bahagia, menikah dengan pria yang baik dan menjadi menantu di keluarga yang baik pula. Keluarga normal. Bukan keluarga sultan dengan segala aturan dan keruwetan yang menyesakkan jiwa dan raga.


"I know, tenang saja Ella juga masih realistik kok. Lagian ini juga sudah tiga tahun berlalu, dan selama itu juga kan kita tidak tahu apa yang telah terjadi dengan mas Ardi. Bisa aja kan dia sudah menikah, dan memiliki keluarganya sendiri. Ella sudah tidak berharap kok ma..." Ella berusaha menenangkan mamanya, sekaligus menenangkan hatinya sendiri.


Berusaha menekan gemuruh yang kembali bergejolak di dadanya. Debaran-debaran asmara yang dia kira sudah lama padam. Ella tak mengira bahwa semua rasa itu akan bangkit seketika hanya dengan melihat sosok Ardi yang begitu nyata.


Ella berusaha mengubur kembali rasa itu dalam-dalam, berusaha menekan gejolak perasaan di dadanya. Mencoba kembali menghadapi kenyataan dengan lebih rasional. Membuang segala mimpi-mimpi indah dan gilanya untuk dapat bersanding dengan sang sultan, Ardi Pradana.


"Oiya kamu belum cerita gimana kejadian waktu ke Malang kemarin? Ngapain aja disana kemarin? Gimana keluarga Roni? Gimana tanggapan dan reaksi mereka sama kamu?" Lilik mengalihkan pembicaraan mereka.


Memberondong Ella dengan berbagai pertanyaan. Menanyakan rasa penasarannya tentang kunjungan Ella ke rumah Roni kemarin. Kemarin Ella tiba di rumah mereka di Surabaya cukup malam, sehingga putrinya itu belum sempat untuk bercerita padanya.


Yah mungkin saja Ella dan Roni baru pulang dari Malang setelah prosesi makan malam. Keluarga Roni mungkin ingin memberikan jamuan makan malam yang selayaknya dulu sebelum akhirnya mengijinkan tamunya pulang. Sesuatu yang wajar sebagai norma dan adab kesopanan menyambut tamu.


"Keluarganya Roni hangat dan asik banget ma, rame suasananya. Ya hampir kayak Roni semua gitu sifatnya cerah ceria. Mama papanya dan kakaknya ramah banget. Terus yang paling seru ada ponakannya si Roni namanya Aisyah dan Anisa lucu banget mereka berdua, comelnya minta ampun. Masa baru pertama ketemu udah pingin jadi manten kecil pendamping Ella, hehe ada-ada aja kan." Ella menceritakan pengalamannya kemarin waktu berkunjung ke kediaman Suherman.


Lilik lega sekali mendengar cerita Ella. Paling tidak Ella dapat diterima dengan baik oleh keluarga Roni. Sangat berbeda dengan apa yang pernah dialami putrinya itu dari keluarga Ardi. Sebagai seorang ibu tentu saja Lilik lebih memilih untuk menyerahkan Ella kepada keluarga yang mau menerima putrinya itu dengan tangan terbuka.


"Syukurlah kalau begitu. Sepertinya keluarga Roni menyambut kamu dengan baik." Lilik mengutarakan kelegaannya pada Ella.


"Iya ma, baik banget malah." Ella juga mengakui bahwa dirinya ikutan lega dan senang juga dengan perlakuan keluarga Roni. Perlakuan hangat yang seolah dapat menghapuskan trauma dan ketakutannya untuk berhadapan dengan seseorang yang memiliki jabatan sebagai calon mertua.


"Terus gimana selanjutnya?" Lilik bertanya dengan hati-hati agar tidak terkesan terlalu menuntut.


"Hmmm...kakak iparnya Roni itu agamis banget orangnya. Mas Wildan si menyarankan agar kita cepat-cepat berikatan. Tapi Ella dan Roni sudah punya beberapa pertimbangkan sendiri. Kami berdua masih perlu melakukan dan mendiskusikan banyak hal."


"Iya pelan-pelan saja, gak usah buru-buru yang penting kalian nyaman dan bahagia dalam menjalani setiap prosesnya." Lilik sedikit lega juga mendengar jawaban Ella yang sepertinya mulai bisa untuk membuka hatinya untuk Roni.


"Kakak dan kakak iparnya Roni juga mengatakan ingin berkunjung kesini ma, silaturahmi saja kenalan sama keluarga disini." Ella juga menceritakan tentang keinginan kedua kakak Roni untuk berkunjung.


"Ya monggo silahkan saja. Kan tidak ada salahnya bersilaturahmi," Lilik tidak keberatan.


Malah semakin senang karena melihat keluarga Roni yang terlihat menerima Ella dengan baik. Mereka bahkan sangat serius menanggapi hubungan antara Roni dan Ella. Lebih jauh bahkan sepertinya menginginkan hubungan mereka terus berlanjut ke jenjang berikutnya.


~∆∆∆~


FYI (For Your Informations)


*GGK atau Gagal ginjal kronis adalah Penyakit ginjal yang telah berlangsung lama sehingga menyebabkan kegagalan fungsi ginjal.


Ginjal berfungsi menyaring kotoran dan kelebihan cairan dari darah. Apabila ginjal tidak berfungsi, kotoran menumpuk.


*Haemodialisa adalah proses membersihkan dan menyaring darah menggunakan mesin untuk sementara membersihkan tubuh dari zat yang berbahaya yang sebenarnya dilakukan oleh ginjal.

__ADS_1


~∆∆∆~


Ditunggu lho ya LIKE, KOMEN dan VOTE yang banyak. Abisin simpanan poin kalian kalau perlu. Pakai sebagai my bday presents hahahaha 🎁


__ADS_2