Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
188. S2 - Hilang


__ADS_3

Diam, 'ku hanya sanggup terdiam


Di saat kau menghilang


Menyimpan seribu kenangan


Terisak-isak suara tangisku


Melawan kenyataan habis upayaku


Senyuman terakhir itu


Pecahkan saraf sadarku


Aku harus bagaimana


Berjalan tanpa kamu


Apa dayaku


Beri aku kesempatan


Untuk memelukmu lagi


Pelukmu lagi


_Tak Seimbang-Iwan Fals_


__________________________________


Jumat pagi ini langit Jogja tiba-tiba mendung. Padahal saat ini sedang musim panas yang terik-teriknya. Seakan Langit pun ikut berduka, seakan semesta ikut berkabung. Mengantarkan kepergian seorang pria yang sangat baik untuk kembali menghadap yang kuasa. Pria yang sudah berjuang sekian lama dengan sangat gigih melawan penyakitnya tanpa kenal lelah.


Jun...Kini kau telah pergi memenuhi panggilan illahi. Tugas dan peranmu di dunia sudah berakhir. Perjuangan beratmu sudah berakhir. Kau sudah tidak perlu merasakan kesakitan lagi. Kau sudah bebas dan bisa tersenyum lega dari sana. Yah kamu pergi dengan senyuman terkembang di bibirmu pagi ini. Pergi meninggalkan kami semua orang-orang yang mencintai dan menyayangimu.


Kamu orang baik Jun, makanya Tuhan sangat sayang sama kamu. Tuhan memberikan penyakit padamu untuk menggugurkan dosa-dosamu, seperti daun yang berguguran dari pohon. Kemudian saat kamu telah bersih Tuhan memanggilmu pulang kembali ke pangkuannya. Semoga saja kau mendapatkan tempat yang baik disisi-Nya.


Roni mempererat pelukannya pada tubuh mungil wanita yang bergetar hebat, sesenggukan disebelahnya. Sari, gadis itu terus saja menangis tanpa suara dengan pandangan kosong yang sangat memilukan.


Hancur, Roni dapat membayangkan betapa hancurnya hati gadis itu. Sedih tak berdaya dan putus asa untuk menerima keputusan takdir yang telah merampas kekasih yang dicintainya. Untuk dapat merelakan dan mengikhlaskan Jun pergi dan menghilang selamanya.


Roni dan Sari memandang pada kerumunan orang yang berpakaian serba putih. Orang-orang yang mengelilingi sebuah gundukan tanah yang masih merah warnanya. Dengan taburan bunga-bunga segar mawar, melati, sedap malam, dan kenanga yang sangat banyak sampai menutupi seluruh bagiannya. Tempat persemayaman terakhir dari Jun.


Kemarin malam Roni dan Sari langsung pergi ke Rumah sakit tempat Jun biasa dirawat setelah mendapat panggilan telepon dari Bunda Nia. Sesampai disana mereka mendapati Jun sudah terbaring koma di ICU, tak sadar dan tak dapat berkomunikasi lagi tentu saja.


Seluruh keluarga besar Jun yang hadir di Rumah Sakit sudah menitikkan air mata. Menyadari bahwa mungkin inilah saatnya mereka harus merelakan Jun untuk pergi dari sisi mereka. Merelakan cucu, anak, kakak, keponakan dan kerabat mereka untuk menghadap sang kuasa.


Mereka semua berkumpul di depan ruangan ICU. Karena memang siapa saja tidak diijinkan masuk ke dalam ruangan. Mereka merapalkan doa dan membaca ayat ayat kitab suci untuk ditujukan pada Jun sebagai doa.


Dan tepat hari jumat sekitar pukul tiga dini hari, takdir akhirnya menunjukkan keputusannya. Monitor penanda detak jantung Jun sudah tidak menunjukkan lagi gerakan naik turun. Lurus saja seperti sebuah garis datar, tak ada pula hitungan jumlah pernapasan dan tensi darah pria itu yang ditunjukkan disana.


Tak lama kemudian dokter ICU mengatakan berita kematian Jun pada seluruh keluarga yang setia menantinya di luar ruangan. Berita yang langsung disambut dengan tangisan pilu semua yang hadir disana. Bahkan beberapa ada yang sampai pingsan mendengarnya.


Sari merasa hancur dan tak berdaya demi melihat seluruh prosesi pemakaman Jun pagi ini. Dadanya begitu sesak, isi kepalanya seakan menjadi kosong seketika. Blank... Kedua mata Sari pun rasanya begitu panas karena terlalu banyak menangis tanpa henti. Aliran yang tak sanggup dibendungnya dan mengalir begitu saja membasahi pipi.


Memang sebagai dokter Sari sudah tahu akan seperti apa akhir dari perjuangan panjang Jun melawan penyakitnya. Sari pun sudah berusaha menata hati jika kenyataan terburuk bisa saja terjadi. Tetapi tetap saja sebagai seorang kekasih Sari masih sulit untuk menerima suratan takdir mereka. Kenapa secepat ini kamu pergi Jun?...Hilang.


"Kamu mau mendekat kesana?" Roni menawarkan pada Sari untuk lebih mendekati pusara Jun. Saat sebagian besar pelayat sudah pergi. Hanya ada beberapa keluarga inti Jun saja yang tersisa disana.


"Ayo..." ujar Sari singkat. Dan Roni langsung membantu memapah tubuh lemah gadis itu untuk berjalan mendekati gundukan pusara itu.


Sari mengambil posisi berjongkok di samping pusara. Mengulurkan tanganya untuk membelai lapisan teratas gundukan tanah yang dipenuhi oleh bunga. Membelai juga batu nisan pualam yang telah terukir nama Jun di atasnya.


Hanya waktu yang mampu mengerti


Betapa berat perpisahan ini


Semoga cerita cinta kita


Dapat menjadi kenangan indah nanti


Berpisah denganmu seperti ini

__ADS_1


Telah membuatku semakin mengerti


Betapa indah saat kita bersama


Yang pasti akan selalu kukenang


Selamat jalan kekasihku


Kaulah cinta dalam hidupku


Aku kehilanganmu, harus mengikhlaskanmu


Hanya doa yang bisa kupanjatkan untumu


Agar kau tenang dalam keabadianmu


Keluarga Jun juga satu persatu pamit pergi meninggalkan pusara untuk kembali ke rumah duka. Terakhir Bunda Nia bersama suami dan kedua adik perempuan Jun juga bangkit dari posisi berjongkok mereka di samping pusara. Sari pun ikut bangkit bersama mereka, saling melemparkan senyum pasrah sebelum akhirnya saling berpelukan.


Laili, dan Riski kedua adik perempuan Jun yang pertama memeluk Sari bergantian. Saling bertukar kehangatan dan saling menguatkan satu sama lainnya. Kemudian Bunda Nia yang terakhir memeluk tubuh Sari juga dengan sangat erat. Menepuk-nepuk punggung Sari dengan lembut dan membisikkan kata-kata ditengah lelehan air matanya.


"Jun sudah tenang disana...Jun sudah gak kesakitan lagi...Ikhlaskan dia ya, nak Sari...Relakan dia pergi..."


"Iya Bunda..." Sari hanya bisa mengiyakan permintaan Nia dengan linangan air mata yang semakin deras saja. Bisa apa lagi coba...


"Bunda dan keluarga juga sudah ikhlas. Mungkin ini adalah yang terbaik untuk semuanya. Untuk Jun, untuk keluarga dan juga untuk kamu." Nia melanjutkan setelah melepaskan pelukannya dari tubuh Sari.


"Kita harus tabah...Kita harus kuat. Jun pasti gak ingin kita terus menangis dan bersedih kayak gini...Gak pa-pa untuk menangis sepuasnya hari ini. Tapi mulai besok kita harus bangkit, kita harus bahagia. Untuk kita sendiri dan untuk Jun juga." Nia menggenggam erat jemari Sari sebagai penyemangat untuk mengakhiri nasihatnya. Kemudian wanita paruh baya itu kembali ke sisi suaminya, ayah Jun yang langsung merangkul istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Kami tunggu di rumah duka ya, nak Sari. Kita makan dan istirahat sejenak disana. Jangan sampai nanti kita jadi sakit juga. Jun pasti sedih kalau kita terlalu berduka dan berkabung untuknya." Pamit ayah Jun sebelum membimbing langkah istrinya meninggalkan komplek pemakaman. Kedua putri mereka pun mengikuti di belakang mereka.


Sekarang hanya tinggallah Roni dan Sari berdua saja disana. Berdiri menghadap pusara Jun yang masih basah bertabur bunga.


Roni dapat melihat tubuh Sari jatuh terduduk di tanah sebelah pusara dengan tak berdaya. Tanah pekuburan yang masih basah menodai pakaian mahal yang dikenakannya. Tapi Sari nampaknya tidak perduli, Yang ada dipikirannya hanya Jun dan Jun saja saat ini. Jun yang telah hilang.


Roni tak berdaya dan sedih sekali melihat Sari yang seperti itu. Ingin rasanya menolong gadis itu berdiri, menopangnya dan memberikan sandaran untuknya. Tapi Roni tidak melakukannya. Roni ingin memberi waktu dan kesempatan pada Sari untuk sedikit berbicara dengan Jun, dengan makamnya.


Roni hanya bisa melihat saja gadis itu menangis meraung-raung sambil membelai lembut batu nisan Jun. Tangisan pilu untuk meluapkan segala emosinya, menumpahkan segala kesedihannya. Menyuarakan rasa frustasi dan ketidak berdayaannya yang sejak tadi dipendamnya dihadapan banyak orang.


"Kuharap kamu bahagia memiliki perempuan seperti aku sebagai kekasihmu, Jun. Perempuan yang egois luar biasa karena tak ingin kehilanganmu. perempuan yg tidak bisa melepasmu karena rasa sayangku yg begitu besar padamu...I love you."


"Aku bukan perempuan yang kuat seperti katamu, Jun. Aku pasti akan menangis seharian karena merindukanmu. Kuharap kamu tidak menyesal meskipun aku tak sempurna. Meskipun terkadang aku menyebalkan, menyusahkan, membuatmu risih dengan sifat manjaku."


"Terima kasih...Terima kasih atas segala yang pernah kau berikan untukku, segala yang kau ajarkan padaku. Kau yang selalu ada untuk menemani proses pendewasaanku. Kau yang merubahku dari gadis kecil manja menjadi seorang wanita dewasa."


Sari terdiam sejenak. Mencoba menyeka air matanya, menghentikan tangisnya. Sepertinya gadis berhasil menyelesaikan suatu pergolakan di dalam hatinya. Dan sekali lagi Roni hanya bisa melihat gadis itu dengan semakin tidak berdaya. Tak tega.


"Sekarang kamu bisa pergi dengan tenang, Jun. Kamu sudah gak sakit lagi. Kamu sudah tidak menderita dan tersiksa dengan rasa sakit yang pasti membuatmu sengsara..."


"Dan aku, kamu gak usah khawatir juga soal aku. Thanx to you, aku yang sekarang pasti bisa bertahan. Walaupun hatiku hancur berantakan aku akan tetap hidup. Aku juga akan berbahagia untukku dan untukmu juga..."


"Selamat jalan, Jun...Sampai jumpa lagi di keabadian..." Sari mengusap batu nisan Jun untuk terakhir kalinya sebelum bangkit dari duduknya di tanah. Berdiri sempoyongan menghampiri Roni yang dari tadi menungguinya.


Roni menyambut Sari, membantu memapah gadis itu agar tidak jatuh. Membawanya ke mobilnya dan mengantar ke rumah duka di rumah nenek Jun.


Sesampai di rumah duka ternyata Tina dan Gatot Hartanto, orang tua Sari, serta Mahes sudah hadir disana. Sari dan Roni langsung menyapa dan mencium tangan mereka sebagai sapaan.


Sari langsung menghambur ke pelukan mamanya dan menangis lagi di pelukan mamanya itu. Mendapati putrinya yang seperti itu mau tak mau Tina juga ikut menitikkan air matanya. Mana tega coba melihat dan membayangkan nasib putrinya yang sangat malang ini.


Lalu mereka semua kembali duduk di kursi yang sudah tertata dan disediakan untuk tamu yang melayat. Berkumpul bersama dan berbagi kesedihan sebagi satu keluarga. Ketiga orang lainnya seperti dapat ikut merasakan kesedihan dan rasa kehilangan yang dirasakan oleh Sari saat ini.


"Oiya ini Roni, temen Sari dan Jun interenship, ma, pa." Mahes mengenalkan Roni pada kedua orang tuanya yang pasti sudah keheranan melihat seorang pria bersama dengan putri mereka.


"Saya Roni, salam kenal." Roni mengangguk sopan memperkenalkan dirinya pada tuan dan nyonya besar Hartanto.


"Roni ini adik kelasku. Dia juga bekerja di RS. Hartanto medika Surabaya. Karena dia juga kenalan Jun, maka Sari minta tolong sama Roni untuk menemani ke Jogja menemui Jun...Tapi gak tahunya malah begini jadinya..." Mahes menjelaskan alasan kehadiran Roni disana. Takut kedua orang tuanya salah tangkap akan kebaikan yang sudah Roni lakukan untuk Sari.


"Terima kasih ya sudah nemenin Sari. Maaf sudah merepotkan kamu yang harus mengurusi putri manja kami." Ujar Gatot pada Roni. Merasa sangat sungkan pada pemuda yang direpotkan Sari itu.


"Gak pa-pa kok, om. Sari dan Jun adalah teman saya. Jadi sudah sewajarnya saya sedikit membantu." Roni menjawab sopan.


"Thanx for everythings ya, Ron. Kami sekeluarga berhutang budi sama kamu." Mahes yang kali ini berkata. Memang nyatanya Roni yang memegang peranan penting kali ini. Bahkan kemarin malam juga Roni yang mengabari Mahes waktu Jun masuk ICU.

__ADS_1


Mahes yang sudah mendapat firasat buruk segera mengabari kedua orang tuanya. Mengajak mereka ke Jogja untuk sekalian menjemput Sari pulang. Mereka bertiga pun akhirnya pergi dengan penerbangan pertama Surabaya-Jogja. Betapa kagetnya mereka saat tiba di kediaman Jun ternyata disambut dengan rumah duka begini.


"You're welcome, gak usah sungkan-sungkan kan semuanya berteman." jawab Roni tidak keberatan.


Pembicaraan mereka berhenti saat Laili menghampiri mereka, mempersilahkan menikmati jamuan sederhana di dalam rumah. Laili juga memberikan sebuah surat untuk Sari.


Sari langsung membuka surat itu dengan terburu-buru dan dibacanya surat itu. Tulisan tangan Jun yang sepertinya ditulis dengan tangan bergetar. Entah bergetar karena menahan kesedihan atau kesakitan dari sekujur tubuhnya.


*Teruntuk Sari-ku yang luar biasa


Mayang Sari Hartanto...Sari...


Aku tahu kau sudah bukan milikku lagi


Tapi hatiku masih terikat denganmu


Cintaku tak bisa berpaling darimu


Setiap hari aku dihantui ketakutan


Membayangkan semua semakin memudar


Menggerogoti waktuku sedikit demi sedikit


Memikirkan aku akan meninggalkanmu sendiri


Aku berkali-kali menyalahkan takdir


Atas semua kemalangan yang terjadi


Menyalahkan hidup yang bagaikan lelucon


Begitu kejam mempermainkan nasib


Kini aku telah sadar dan bersyukur


Tuhan ternyata sudah sangat baik padaku


Mempercayakan kamu untuk dekat denganku


Memberiku sakit sebagai penggugur dosaku


Seperti daun dari pohonnya yang gugur


Aku mungkin akan pergi hilang darimu


Tapi cintaku masih tersimpan untukmu


Walau kita berada di belahan dunia yg berbeda


Maka janganlah kau menangis dan bersedih


Hiduplah dengan baik dan berbahagia.


Yang selalu mencintaimu


Jun*


Sekali, dua kali, tiga kali Sari membaca dan menghayati isi surat perpisahan Jun untuknya. Surat yang dengan gamblangnya menceritakan curahan hati pria itu. Surat yang mungkin ditulisnya karena bisa merasakan waktunya sudah semakin dekat.


Sari tak tahu lagi apa yang dirasakan olehnya demi membaca surat itu. Semua perasaan terasa campur aduk menjadi satu berkecamuk di dalam dadanya. Sesuatu yang paling pasti adalah air matanya yang semakin deras saja mengalir bagaikan air bah terus membasahi pipinya.


'Selamat jalan kekasih hatiku


Pergilah dan bawalah cintaku bersamamu


Semoga kau tenang disana


Aku disini akan berusaha untuk baik-baik saja'


~∆∆∆~

__ADS_1


🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss donk kasih KOMEN buat penyemangat author. 🌼


__ADS_2