
"Terima kasih kamu sudah mau jujur padaku akan perasaanmu. Berarti semua yang ada diantara kita sebaiknya kita akhiri saja sampai disini. It's Over." Entah bagaimana Roni akhirnya bisa mengucapkan kata-kata itu dari mulutnya. Kata-kata perpisahan yang seolah memiliki beban ribuan ton untuk sekedar diucapkan.
It's really painfull to say goodbye
To someone that you don't want to let go
But its even more painfull to ask someone to stay
If they never want to stay beside you
(*Sungguh menyakitkan untuk mengucapkan selamat tinggal
Kepada seseorang yang tidak ingin kamu lepaskan
Tapi akan lebih menyakitkan meminta seseorang untuk tinggal
Jika mereka tidak pernah ingin tinggal di sisimu)
Yah semuanya sudah benar. Semuanya sudah selayaknya terjadi. Roni mencoba untuk menata hatinya sendiri. Menyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dilakukannya adalah suatu hal yang sudah benar dan seharusnya untuk dilakukan. Bahkan seharusnya jauh-jauh hari sebelum hari ini. Keputusan ini adalah yang terbaik, bagi dirinya sendiri, bagi Ella dan bagi mereka bedua.
Selanjutnya tinggal masalah Roni pribadi untuk dapat menata hati. Mengumpulkan serpihan-serpihan hati yang pecah dan porak poranda. Menata, mengobati dan merekatkan kembali semua kepingan menjadi sebuah kesatuan hati yang utuh kembali. Untuk nantinya dapat diberikan kepada cinta lainnya yang mungkin menantinya di kemudian hari.
Ella tak sanggup bereaksi untuk menjawab perkataan Roni. Hanya air mata yang seakan mewakili berbicara, mengalir deras tanpa sanggup terbendung lagi dari kedua matanya. Sakit, sesak dan perih rasanya menghimpit dada.
Tak tega rasanya bagi Ella untuk membayangkan seperti apa perasaan Roni saat ini. Bagaimana hancur berkeping-kepingnya hati dan perasaan Roni saat ini. Patah hati untuk kedua kalinya. Dan dua-duanya karena gadis yang sama, karena Ella.
"Aku rela kamu pergi, aku ikhlas kamu kembali pada Ardi, El...Cuma satu saja yang kupinta darimu. Kamu harus bahagia, kamu harus hidup berbahagia bersamanya. Kalian berdua harus bahagia bersama." Roni menambahkan ucapannya dengan ditambahi harapan dan doa darinya untuk kebahagiaan Ella.
"Aku bukan ingin mengucapkan selamat tinggal, El. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih kamu karena telah datang ke dalam hidupku dan memberiku kegembiraan. Terima kasih telah mencoba mencintaiku dan membiarkan aku untuk mencintaimu, serta mau menerima cintaku sebagai balasannya. Terima kasih atas segala kenangan indah yang kamu berikan. Kenangan yang akan akan kukenang selamanya."
Meleleh, semakin meleleh deras saja rasanya air mata Ella di pipinya. Tak sanggup sama sekali untuk sekedar berkata-kata.
'Jadi begini akhir cerita kisah kita berdua, Ron? Terlalu singkat dan menyedihkan rasanya hubungan asmara kita. Jika dibandingkan dengan perjuangan kamu untuk mendapatkan cinta dariku,' batin Ella menjerit dan meratap.
Ella berusaha keras untuk menyeka air matanya dengan telapak tangannya. Bahkan gadis itu juga mengambil beberapa helai tisue untuk membantu menyeka dan meredakan tangisnya. Kemudian Ella mencoba mengangkat wajahnya untuk Roni, tak ingin lagi menunduk dan menyembunyikan lagi ekspresi wajahnya.
Tak ingin pula melewatkan ekspresi wajah Roni saat ini, ingin disimpan dan diingatnya dalam memori ingatannya. Sebagai bagian pendewasaan dirinya, sebagai pengingat bahwa ada seorang pria yang begitu mencintainya bahkan sampai sebegininya.
Dan diluar dugaan Ella, wajah Roni terlihat tersenyum padanya walau dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Kamu hebat, Ron...Kamu kuat...
Ella berusaha balas tersenyum untuk Roni. Memberikan penghargaan atas keberanian dan kekuatan pria itu dalam menata hati serta untuk mengungkapkan segala perasaanya.
Tapi nyatanya hanya senyuman lembut simpul saja yang sanggup tersungging dari bibir Ella. Senyuman yang dipaksakan untuk terkembang ditengah rasa haru biru yang mendesak di dalam dadanya.
Cukup lama keduanya hanya diam dan membisu, saling bertukar pandangan serta senyuman. Seolah saling menguatkan dan saling berbagi kegundahan serta rasa sakit di dada mereka masing-masing.
__ADS_1
Ella memang merasa sedih, tapi dia juga bangga dengan Roni. Roni yang biasanya cenderung emosional sekarang bisa setenang dan sedewasa ini dalam bertindak. Mungkin karena dia sudah sampai di tahap pasrah juga...
Namun di satu sisi, Ella juga merasa lega dan bahagia karena hubungan ini berakhir. Sehingga dirinya dapat menyambut hubungan lainnya yang lebih menjanjikan kebahagiaan. Hubungan cinta dengan Ardi yang selalu diidamkan olehnya.
If you're brave enough to say good bye, life will reward you with a hello
(*Jika kamu cukup berani untuk mengucapkan selamat tinggal, kehidupan akan memberimu sebuah salam perjumpaan)
"Sudahlah jangan menangis lagi, jangan bersedih lagi." Roni meraih jemari tangan Ella di atas meja. Menggenggamnya dengan sangat erat. Berusaha memberikan ketenangan dan kekuatan batin untuk Ella. Tak ingin melihat gadis itu menangis lagi.
"Aku masih disini, El. Aku gak kemana-mana. Kamu masih bisa mencariku saat butuh bantuanku. Aku gak akan menghilang seperti seseorang hehehe." Roni sedikit memasukkan candaan untuk mencairkan suasana canggung mereka.
Dan Ella pun mau tak mau membalas candaan Roni dengan senyuman. Tahu benar siapa yang dimaksudkan Roni dengan seseorang itu.
"Karena kita masih sama, we are still the same. Aku masih Roni yang sama, kamu juga masih Ella yang sama. Tak ada yang berubah diantar kita, kecuali hanya sekedar status. Selebihnya kita masih sama saja, berteman dan bersahabat seperti sedia kala." Roni mengakhiri ucapannya dengan senyum semakin lebar terkembang di bibirnya.
Pria itu terlihat tersenyum lebar seakan sangat tenang dan berbahagia. Namun entah apa yang dirasakannya di dalam hatinya saat mengucapkan kata-kata ini. Entah bagaimana keadaan hati Roni saat ini. Separah apakah luka dan kerusakan disana hanyalah Roni dan Tuhan yang tahu.
Roni berharap bahwa hubungan mereka berdua tidak akan rusak. Bahwa mereka masih akan berteman dan bersahabat baik seperti sedia kala. Persahabatan dan pertemanan mereka selama empat tahun ini rasanya terlalu berharga jika harus hancur hanya karena perubahan status asmara.
Mata Ella melebar mendengar perkataan terakhir Roni. Kata-kata yang sangat ingin didengar olehnya. Ketakutan terbesar Ella bahwa hubungan baik pertemanan mereka berdua akan rusak dengan berakhirnya hubungan asmara ini ternyata tidak terjadi. Ella senang sekali karena Roni masih sudi untuk menjadi temannya, menjadi sahabatnya.
"Makasih...makasih banyak ya, Ron. Terima kasih atas segala yang pernah kamu lakukan untukku. Terima kasih untuk segala waktu, cinta, dan perhatian yang kamu berikan untukku. Terima kasih untuk segala kebaikan kamu padaku yang tak bisa lagi disebutkan satu persatu..." Ella akhirnya dapat bersuara setelah mendapatkan dorongan semangat dan mendengar ucapan ramah Roni.
"Aku minta maaf dengan segala sikap dan keegoisanku. Aku minta maaf juga karena tidak bisa membalas cintamu...Tapi aku berjanji aku akan tetap selalu menjadi temanmu. Yes you right, We are still the same. And will always be a best friend."
Keduanya kembali terdiam untuk beberapa saat lamanya, tersenyum dan bertukar pandangan. Seakan telah mencapai kesepakatan tak tertulis diantara mereka. Kesepakatan akan hubungan mereka selanjutnya yang tidak seharusnya berakhir dengan rusaknya pertemanan mereka. Keduanya merasa puas dengan hasil persetujuan yang mereka capai saat ini.
"Aku ke kamar mandi dulu ya, Ron" Ella mohon pamit untuk ke kamar mandi sebentar. Sekedar untuk mencuci mukanya, membuang bekas-bekas air mata di wajahnya. Selanjutnya juga untuk mengulaskan bedak dan make up lainnya tipis-tipis sekedar untuk mengembalikan kecerahan di wajahnya serta menutup bekas tangisan disana.
Roni yang berada di meja sendirian menunggu Ella sambil termenung dan mimikirkan peristiwa yang baru saja terjadi. Seperti mimpi saja rasanya, hubungan asmaranya dengan Ella yang sudah diperjuangkan olehnya selama bertahun-tahun dapat berakhir dalam beberapa menit saja. Hanya dengan sebuah kalimat perpisahan saja.
Sekarang Ella bukan miliknya lagi, tapi Roni merasa masih ada satu hal lainnya yang harus dia lakukan. Roni mengambil ponselnya dari saku kemejanya. Menghubungi Mahes dengan sebuah pesan singkat. Dirinya memang sudah membahas tentang rencana malam dengan Mahes, dan Mahes tentu saja tak keberatan untuk membantunya.
Roni
Sebentar lagi aku mau antar Ella pulang ke rumahnya.
Maheswara
Ok, aku kabarin dia untuk menunggu disana.
Roni
Sip, Thanx ya.
__ADS_1
Mahes hanya membalas pesan Roni dengan emot jempolnya sebagai tanda untuk mengakhiri obrolan mereka. Roni menutup pesan dari Mahes dan mengembalikan ponselnya ke saku kemejanya saat Ella kembali menghampirinya dari toilet.
Roni berdiri dari kursinya untuk menyambut kedatangan Ella. Mengambil kunci mobilnya, bersiap-siap untuk pulang dan mengakhiri acara pertemuan mereka malam ini.
Tapi betapa kagetnya Roni saat tiba-tiba saja gadis itu menghambur menabrak tubuhnya. Ella tiba-tiba saja memeluk tubuhnya dengan sangat erat. Mungkin Ella ingin memberikan sebuah pelukan perpisahan untuknya. Pelukan tanda berakhirnya hubungan asmara mereka serta tanda kembalinya hubungan persahabatan mereka.
Good bye my love, Welcome my bestfriend
(*Selamat tinggal kekasihku, selamat datang sahabatku).
Roni membalas pelukan hangat Ella dengan sama eratnya. Pelukan yang murni sebagai sahabat, bukan pelukan penuh gairah dan debaran dada dari sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Tapi lebih mirip pelukan persahabatan antara dua teman lama yang akan berpisah. Berpisah dan berjauhan tubuh tetapi masih terikat oleh persahabatan.
Cukup lama keduanya berpelukan dan berbagi kehangatan.
"Sekali lagi terima kasih ya, Ron. Thank you for every things that you've done for me." Ujar Ella setelah melepas pelukannya dari tubuh Roni.
(*Terima kasih untuk segalanya yang pernah kamu lakukan untukku).
"Kamu berkata seolah-olah cuma aku saja yang berjasa buat kamu. Kamu salah, El...Kamu itu juga sangat berjasa bagiku. Thank you very much for all the things that you done to me too." Roni menjawab sambil ikut melepaskan pelukannya dari tubuh Ella.
(*Terima kasih banyak untuk segala hal yang pernah kamu lakukan untukku juga).
"Semoga kamu bahagia selamanya," terakhir Roni mendaratkan sebuah ciuman ringan di kening Ella sebagai doa dan harapan perpisahan mereka.
Ella tersenyum dan mengangguk mantap menjawabnya. "Kamu juga harus bahagia, Ron... Kamu pria yang baik, aku percaya Tuhan pasti telah menyiapkan seorang gadis yang baik juga untukmu."
"Hahahaha I hope so..." Roni menjawab dengan tawaan garing. Yah semoga saja, El. Tapi mau cari dimana lagi gadis secantik, sebaik, secerdas dan sesempurna kamu? Kamu beneran paket komplit yang diciptakan oleh Tuhan. Dan mungkin aku yang kurang baik untukmu...
"Percayalah, orang baik ditakdirkan untuk orang yang baik pula...Jadi pasti nanti akan ada gadis baik yang akan menjadi pendamping hidupmu." Ella melanjutkan perkataan sekaligus doanya untuk Roni.
"Amiiin...Hope the best for both of us." Roni mengakhiri pembicaraan mereka berdua. Kemudian mengajak Ella untuk beranjak pergi dari cafe setelah membayar tagihan mereka.
(*Semoga kita mendapatkan apa yang terbaik bagi kita berdua).
Keduanya kemudian berjalan ke parkiran mobil menuju mobil Roni, untuk selanjutnya melaju membelah gelapnya malam ke arah rumah Ella. Keduanya tak banyak bicara selama perjalanan ini, masih terlalu canggung dan segan dengan status baru hubungan mereka.
Beberapa menit kemudian sampailah mereka berdua di rumah Ella. Betapa kagetnya Ella saat mendapati sebuah mobil super mewah berwarna biru metalik yang terparkir di depan rumahnya. Mobil Ardi?
Dan benar saja Ardi langsung keluar dari mobilnya begitu mendapati Roni memarkirkan mobilnya tepat paralel di belakang mobil Ardi.
"Mas Ardi? Ngapain dia malam-malam kesini?" Ella bertanya kebingungan melihat kehadiran Ardi disana. Seperti biasanya, Ardi masih dengan busana kerjanya yang rapi bahkan pada jam segini.
"Aku yang memanggil dia." jawab Roni tanpa dosa.
"Haaaah? Untuk apa?" Ella benar-benar kebingungan sekarang. Ngapain coba Roni memanggil Ardi?
__ADS_1
~∆∆∆~
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼