Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
109. S2 - Firasat


__ADS_3

Roni mengajak Ella menepi dari kerumunan manusia, menjauhi keramaian pesta. Berjalan berdua ke arah tangga yang melingkar di sudut ruangan yang mengarah ke lantai dua. Tujuan mereka adalah ke ruang kerja Mahes untuk mengambil file dan dokumen yang tadi dijanjikan Mahes pada Roni.


Sesampai di lantai dua, Ella dapat mendengar suara tangisan bayi yang cukup keras. Bahkan cukup keras sehingga dapat mengalahkan keriuhan susana pesta di lantai bawah. Mengalahkan musik dari band akustik yang sedang beraksi.


Suara bayi siapa yang sedang menangis? Apakah putra Laras dan Mahes yang sedang menangis? Ella mau tak mau menjadi khawatir akan keadaan anak itu. Kenapa anak itu menangis sekeras ini? Apa dia kesakitan?


"Anaknya mas Mahes kayaknya nangis, kok keras banget gitu kenapa ya?" Ella terdengar sangat khawatir. Dirinya memang sangat tidak berpengalaman dengan bayi dan anak kecil. Ella sering tak tega jika berhadapan dengan anak kecil yang sakit atau menangis.


"Kamu mau coba liat?" Roni tahu benar kalau Ella khawatir dan penasaran sekali dengan keadaan si adek bayi. "Aku ke ruang kerja sendiri aja, kamu ke si adek bayi." Roni memberi saran.


"Iya gitu aja." Ella menyetujui saran Roni.


Setelah itu Roni melanjutkan langkahnya ke arah ruang kerja Mahes sementara di sebelah kanan tangga. Sementara Ella berjalan ke sayap kiri, mencari-cari suara tangisan bayi tadi berasal. Ella akhirnya sampai ke sebuah kamar yang terbuka pintunya, suara sang bayi makin keras terdengar dari sana.


Dengan sedikit ragu Ella masuki kamar itu, duh gak sopan banget kayaknya masuk ke kamar orag sembarangan. Tapi saat ini dirinya benar-benar mengkhawatirkan keadaan si bayi yang terus saja menangis.


Di dalam kamar itu, Ella mendapati Laras yang sedang menggendong seorang bayi laki-laki yang terlihat sangat lucu dan gendut. Laras sepertinya kebingungan untuk menenangkan anaknya yang sedang menangis dengan histeris.


"Rangga, good boy...diem donk sayang...cup cup cup...jangan nangis lagi ya..." ujar Laras dengan penuh kasih sayang menimang-nimang bayinya dalam posisi tengkurap di dekapannya dan menepuk-nepuk halus punggung bayi itu.


"Ehm, si adek kenapa?" Ella bertanya khawatir tapi ikut kebingungan juga tak tahu apa yang harus dilakukan untuk menenangkan si bayi.


"Mbak Ella?..." Laras sedikit kaget menyadari kehadiran Ella di kamarnya. "Si Rangga rewel, abis nyusu tadi terus kesedak. Ni anak gak bisa pelanan dikit si kalau minum napsu banget. Mirip banget sama om Linggarnya, doyan makan." Laras masih saja sempet-sempetnya menjawab dengan detail pertanyaan Ella.


"Tapi dia gak pa-pa kan? Nangisnya keras banget soalnya." Ella masih khawatir, mendekati Laras dan bayinya. Mengamati bayi lucu itu yang semakin menggemaskan kalau dilihat dari dekat.


"Gak pa-pa udah aman kok. Dia udah muntah barusan, udah gak tersedak lagi. Mungkin cuma kaget aja dia, jadinya nangis heboh." Laras terus menimang dan menepuk-nepuk halus punggung Rangga. Dan benar saja tak lama kemudian bayi kecil itu mulai menghentikan tangisannya bahkan terlihat mengantuk dan memejamkan matanya.


"Yaampun lucunyaaa..." Mau tak mau Ella menjadi gemes melihat wajah tidur malaikat kecil itu. Rangga tentu saja memiliki wajah yang tampan dengan kulitnya yang putih bersih. Perpaduan sempurna dari wajah cantik Laras dan wajah ganteng Mahes. Bentuk tubuhnya yang sintal dan bulat semakin menambah kelucuannya, membuat siapapun yang melihatnya gemas pengen mencium dan mencubitnya.


"Kalau udah tidur dia bakalan anteng kok gak akan rewel lagi, kayak seseorang lainnya." Laras kembali menyeletuk, berusaha menyamarkan nama orang yang dimksudnya. Tetapi tentu saja Ella tahu siapa yang dimaksud Laras, pasti Ardi. Siapa lagi coba yang doyan tidur dan bisa tidur dimana saja tanpa perduli keadaan di sekitarnya.

__ADS_1


Laras berjalan perlahan ke arah box bayinya dan meletakkan Rangga disana. Untuk sesaat Rangga seperti terusik dan mengerak-gerakan bibirnya sebelum akhirnya tertidur lagi. Semakin menggemaskan hanya untuk melihat tingkah dan pose tidurnya.


"Mbak Ella bisa tolong bantu jagain Rangga sebentar. Aku mau ganti baju dulu, ni bajuku kotor kena muntahan Rangga tadi." Laras menunjuk bagian atas mermaid dress mahalnya yang bernoda putih bekas muntahan Rangga. Noda putih karena Rangga hanya minum susu saja sebagai nutrisinya, sangat kontras dengan dress Laras yang berwarna navy.


"Tentu, aku cuma perlu jagain kan? Kalau bangun dan nangis gimana?" Ella sedikit kebingungan juga harus ngapain.


"Kalau dia bangun segera hampiri, ajakin ngomong atau godain. Dia gak bakal nangis kalau tahu ada orang lain disisnya." Laras menjelaskan tentang kebiasaan putranya. Ella mengangguk mengerti sebagai jawaban.


Kemudian Laras berjalan ke arah wardrobe room, memilih dan mengambil gaun pengganti yang akan dipakainya sebelum akhirnya ke kamar mandi yang masih terhubung dengan ruangan itu.


Meninggalkan Ella sendirian duduk di kursi di sebelah box bayi Rangga. Mengamati wajah tidur nan damai Rangga yang membuat Ella tersenyum-senyum sendiri saking gemasnya. Sesekali Ella memyentuh dan membelai lembut pipi gembul Rangga. Tak mampu menahan godaan untuk tidak menyentuhnya.


Tak lama kemudian Laras sudah kembali dari wardrobe room dengan penampilan barunya. Dress simple berwarna pink yang kalem dengan lengan pendek dan bawahan lebar sepanjang dibawah lutut. Tak lupa Laras menambahkan kalung mewah dari bahan batu-batuan sebagai aksesoris tambahan. Membuat penampilanya terlihat seperti nyonya besar yang terhormat dan elegan.


"Mbak Ella tolong jagain Rangga sebentar lagi ya, aku mau cari nany-nya ini buat jagain. Kok lama bener gak balik-balik dia. Aku kan harus kebawah lagi, menjamu para tamu." Laras minta ijin pamit meninggalkan Ella setelah memastikan kerapian penampilannya di kaca.


Ella hanya menganguk menjawabnya. Mau tidak mau ada sedikit rasa iri juga melihat kehidupan Laras yang seolah berjalan sangat mulus dan menyenangkan. Tetapi Ella juga sadar banyak hal yang juga Laras korbankan untuk mendapatkan segala kebahagiannya ini.


Padahal Ella tahu benar seperti apa Laras beberapa tahun yang lalu. Gadis dengan ambisi dan idealisme tinggi yang punya segudang mimpi. Dengan segala rasa percaya dirinya, dengan segala kepintaran, kecantikan dan kekayaannya. Seolah dunia berada di genggamannya.


Siapa pun tak akan ada yang menyangka seorang Laras yang seperti itu bisa berakhir begini. Alih-alih mengejar mimpi dan profesinya, diusianya yang masih sangat muda Laras malah rela menjadi seorang ibu. Rela dress mahalnya kotor dan ternoda oleh muntahan dari anaknya tanpa rasa jijik...


Yah memang hidup adalah pilihan. Dan setiap pilihan yang kita buat juga memiliki suatu konsekuensi tersendiri. Ella pun ikut merasa senang dan bangga Laras si nona besar Pradana yang manja bisa memilih jalan hidup pilihannya. Bisa juga untuk menjalani segala konsekuensi dari pilihan itu. Menjadikannya jauh lebih dewasa dalam bersikap dan menghadapi dunia. Mungkin Mahes lah yang berperan besar untuk mendewasakan Laras.


Tak lama kemudian pintu kamar diketuk beberapa kali dan masuklah Roni dengan membawa sebuah map dokumen di tangannya. Roni menghampiri Ella yang masih setia duduk menunggui Rangga yang sedang tertidur pulas.


Ella melihat pria itu berjalan cepat dan terlihat sedikit tergesah-gesah. Jauh berbeda dengan peragainya yang santai sebelum mereka berpisah beberapa saat yang lalu. Wajah dan raut muka Roni juga terlihat gundah dan gelisah. Kenapa dia? Ella membatin keheranan.


"Kamu lagi ngapain, El?" Roni bertanya dengan nada tidak sabar, keheranan melihat Ella duduk diam sendirian di dalam kamar ini.


"Nungguin ni si sultan kecil yang lagi bobok."

__ADS_1


"Oh, putranya mas Mahes ya?" Roni baru menyadari ada bayi yang sedang tidur di dalam baby box-nya.


"Iya si Rangga namanya. Liat deh Ron ganteng dan gemesin banget ini anak." Ella memberi tahu pada Roni, heran bisa-bisanya Roni gak ngelihat bayi selucu Rangga.


"Kamu pingin? Kita juga bisa bikin kok ntar yang lucu-lucu kayak gini..." celetuk Roni tanpa rasa berdosa, berusaha sedikit santai.


"Ih apaan si, Ron..." Ella memprotes, terlalu memalukan untuk membahas masalah itu.


"Ya nanti lah bikinnya, El. Bukan sekarang. Kalau misalnya kita udah nikah nanti." Roni memperjelas maksud ucapannya.


"Yaiyalah udah pasti itu!" Ella langsung menjawab dengan bersungut marah.


Apaan coba si Roni? Belum-belum udah ngomongin nikah dan bikin anak? Padahal dirinya saja masih bingung harus bagaimana menata hatinya untuk Roni. Dirinya memang sudah bertekat untuk tidak menolak Roni. Namun dilain sisi juga masih berusaha untuk dapat menerima pria itu.


Tingkah Ella membuat Roni tertawa ringan, gemas melihat reaksi lucunya. Ella ini padahal seorang dokter, bahkan usianya juga udah cukup dewasa, tapi kalau berbicara soal beginian masih saja terlihat malu-malu.


"El, kita ke bawah yuk. Kita makan dulu sampai puas terus pamit pulang." Kali ini Roni mengajak Ella dengan nada sangat serius yang seolah tak ingin penolakan.


"Lho?! Kok kayaknya buru-buru gitu?" Ella sedikit heran dengan sikap Roni kali ini. Tumben Roni pengen cepet-cepet pulang, gak nongkrong dulu sama teman seprodinya?


"Penasaran pengen cepet-cepet baca ini." Roni mencoba mencari alasan dengan dokumen pemberian Mahes yang dipegangnya.


Entah mengapa Ella mendapat firasat kalau Roni sengaja menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi apakah itu? Mau tak mau Ella menjadi penasaran juga. Apalagi Ella juga dapat merasakan bahwa Roni terlihat sedang gundah dan gelisah saat ini.


Apa terjadi sesuatu di ruang kerja Mahes saat mereka berpisah tadi? Apa Roni bertemu dengan sesuatu yang tidak disukainya disana? Sesuatu yang bisa membuatnya merasa tidak nyaman dan gelisah? Tapi apakah itu? Ella sangat penasaran.


Firasat Ella entah mengapa selalu mengarah ke ruang kerja Mahes. Penasaran ada apa dengan ruangan itu. Apa aku harus coba melihat apa yang ada di ruangan itu?


~∆∆∆~


🌼Tolong luangkan waktu klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin, bagi TIP dan IKUTI author ya. Makasih 😘🌼

__ADS_1


__ADS_2