Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
137. S2 - Kecewa


__ADS_3

Dan begitu disadarinya Roni sudah mendekatkan wajahnya sendiri ke arah wajah Ella. Memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Dekat dan semakin dekat sampai akhirnya kedua wajah mereka tak berjarak. Roni akhirnya mendaratkan bibirnya tepat di bibir ranum Ella hingga kedua bibir mereka bertemu. Roni mencium gadis itu tanpa aba-aba.


Manis, entah mengapa rasanya sangat manis dan menyenangkan yang terasa di bibir. Getaran-getaran menyenangkan langsung merambat memberikan sensasinya dari perut, dada dan menjalar ke seluruh tubuh. Meningkatkan hormon adrenalin yang dapat membuat irama jantungnya untuk berdebar semakin cepat. Berdebar dan bertalu-talu bagaikan dentuman genderang sebelum perang.


Sensasi menyenangkan itu membuat Roni tak dapat berhenti untuk terus mencium dan mengul*m bibir Ella. Lagi dan lagi, Roni tak dapat menghentikan aksinya yang semakin memanas. Mengikuti insting dan kata hatinya. Kedua lengannya bahkan sudah berpindah dari wajah Ella. Meraih tubuh Ella untuk didekapnya dengan sangat erat menempel ke tubuhnya sendiri.


Ella kaget, bingung, dan syok mendapati keadaan apa yang tiba-tiba terjadi pada dirinya saat ini. Tangan dan jemari Roni yang terus memegangi wajahnya, membuatnya terus mendongak ke arah wajah pria itu, tanpa bisa dia elakkan. Lebih parah lagi saat tiba-tiba Roni menurunkan wajahnya mendekat ke wajah Ella. Sampai akhirnya bibir Roni mendarat ke bibirnya, menyerbu dan menciumi bibirnya tanpa permisi.


Tak dapat dipungkiri memang ada sedikit rasa berdebar karena ciuman dari Roni ini. Debaran spontan karena rasa malu dan kaget akibat tindakan tiba-tiba ini. Lebih malu lagi saat menyadari mereka berdua sedang di tempat umum. Bagaimana kalau mereka terciduk sebagai pasangan mesum coba?


Tapi entah mengapa Ella merasa tak ada sensasi menyenangkan yang bermekaran di dada. Rasanya sangat berbeda dari ciuman yang dulu pernah dirasakan Ella dari Ardi. Tidak sama.


Tak ada sensasi manis, halus, dan memabukkan. Tak ada pula getar-getar yang menggelitik di dadanya seperti yang pernah dialami Ella saat Ardi mencium dirinya dulu. Bahkan setelah tiga tahun lamanya, dirinya seakan masih mengingat bagaimana sensasi ciumannya dengan Ardi.


Untuk ciuman dari Roni ini, yang ada malah rasa sesak di dadanya. Tak ada getaran asmara dan gairah yang terasa. Yang membuat Ella ingin membalas ciuman itu. Ella hanya bisa diam dan pasrah menerima setiap kecupan dan hisapan dari Roni tanpa ada keinginan untuk membalas...


Meskipun sekarang Roni adalah pacarnya, entah mengapa ada rasa tidak rela, dan penolakan dalam diri Ella. Tidak rela rasanya Roni merebut ciumannya tanpa ijin seperti ini.


Gelombang kekecewaan, ketidak relaan, rasa terhina, tidak berdaya, dan keputus asaan seketika melanda sekaligus... Menyedihkan, dan menyesakkan rasanya. Tanpa Ella sadari butiran bening air matanya mengalir perlahan dari kedua sudut matanya. Sedih...


Untuk beberapa saat perasaan Ella terasa kalut dan bingung. Sampai akhirnya Ella memutuskan untuk menghentikan tindakan Roni. Dengan mengerahkan kekuatan yang berusaha dikumpulkannya sekuat tenaga, Ella mendorong tubuh Roni untuk menjauh dari tubuhnya. Ella bahkan memukuli dada pria itu agar mau melepaskannya dan menghentikan aksinya untuk mencium Ella.


Ella buru-buru memalingkan wajahnya dari Roni begitu berhasil melepaskan dirinya dari dekapan pria itu. Buru-buru pula menyeka air matanya. Kaget, bingung, sesak, sedih, hancur dan kecewa rasanya bergabung menjadi satu. Bagaimana bisa Roni melakukan hal mengerikan seperti ini padanya?


Yah memang mereka sekarang dalam status pacaran. Tapi tetap saja Ella merasa Roni tidak berhak untuk berbuat begitu padanya...Mencuri ciumannya dengan paksa dan penuh nafsu, hasrat, gairah, serta kekerasan seperti itu.


Kenapa Roni tidak meminta baik-baik? Kenapa harus memakai jalan kekerasan dan paksaan seperti ini? Bahkan ini adalah ciuman pertama mereka sejak mereka resmi berpacaran. Kenapa tidak dilakukan dengan lebih lembut halus, dan indah? Tapi kenapa harus begini?


Mungkin Ella juga tak akan keberatan untuk sekedar memberikan ciuman ringan untuk Roni. Mungkin Ella pun tak akan menolak jika dia memintanya dengan baik dan lembut. Karena mereka berdua sudah dewasa, sangat wajar untuk interaksi seperti itu. Ella juga tidak sepicik itu untuk terus menghindari kontak tubuh dengan Roni. Kontak tubuh yang sewajarnya dilakukan oleh sepasang kekasih jaman sekarang yang sedang berpacaran.


Dorongan keras dari Ella seakan membangunkan Roni dari kegilaannya. Kegilaan karena dibakar api amarah dan cemburu. Seakan ada setan yang merasuki dirinya, merebut kesadaran dan akal sehatnya. Untuk melakukan hal gila yang bahkan tak pernah terbayangkan sekalipun di benaknya.

__ADS_1


Roni sangat kaget melihat reaksi Ella. Kenapa gadis itu menangis? Apa aku sudah keterlaluan? Apa aku terlalu memaksakan untuk menciumnya tadi? Apa aku sudah menyakiti dan membuat Ella bersedih? Mau tak mau Roni menjadi merasa sangat bersalah juga dibuatnya. Dirinya yang selalu berusaha menjaga Ella, malah kini menyakiti gadis itu...


"El...Maaf... Aku, aku khilaf..." Roni kebingungan bagaimana harus meminta maaf atas sikapnya pada Ella yang baru disadarinya kalau sangat kelewatan dan melampaui batas.


"Aku...aku emosi, El. Aku tidak bisa mengendalikan diriku." Roni tak tega melihat Ella yang menangis sesenggukan sambil membelakangi dirinya seperti itu. Gadis itu telihat sangat sedih, kecewa dan terluka karena perbuatannya.


'Aaaarrrggghh! Aku benar-benar sudah gila!' Roni mengutuk kebodohannya sendiri. Menyesali kegagalannya dalam menata emosi. Menyesali hatinya yang tidak bisa menahan dorongan setan dan gairah. Menyesali tindakannya yang terlalu brutal dan kasar pada Ella. Perbuatan yang jelas-jelas menyakiti dan melukai perasaan Ella.


Akhirnya Roni hanya bisa terdiam memandangi punggung Ella yang masih sesenggukan karena tangisnya. Menunggu dalam diam untuk Ella mengatasi kesedihannya sendiri. Ingin rasanya mendekap gadis itu, meminjamkan dadanya atau sekedar lengannya untuk tempat Ella menangis. Tapi sepertinya hal itu tidak memungkinkan untuk dilakukan. Setelah hal jahat yang dilakukannya tadi interaksi fisik darinya sekecil apapun bisa saja semakin melukai gadis itu.


Ella tidak menjawab, masih sibuk menata hatinya yang terluka. Masih sibuk menyeka air matanya yang terus saja mengalir tanpa bisa dibendungnya lagi. Sudah lama dirinya tidak sesedih dan sehancur ini rasanya. Kecewa...Yah lebih tepatnya dirinya sangat kecewa saat ini.


Ella merasa kecewa dengan sikap Roni. Roni yang biasanya baik padanya, Roni yang selalu menjaganya, Roni yang setia menemani dan menghiburnya. Kenapa bisa sedemikian berubah sejak mereka akhirnya berpacaran? Sifatnya terlalu yang posesif dan cemburuan yang kadang membuatnya lepas kendali dan tidak rasional.


Ella baru menyadari sifat Roni yang seperti ini. Mungkin memang pembawaannya sebagai anak terakhir yang membuatnya begitu. Tak jauh beda juga dengan sifat Linggar yang sama-sama anak terakhir. Makanya mereka berdua cocok banget untuk berseteru dan adu mulut seperti tadi.


Entah mengapa Ella jadi mendambakan sosok pria yang dapat mengayominya. Menjaganya dengan lemah lembut. Yang bahkan disaat marahnya tidak akan berkata kasar atau berbuat kasar padanya...


Ardi? Entah mengapa pula sosok Ardi yang tiba-tiba muncul dalam pikirannya. Ardi yang selalu lemah lembut padanya. Ardi yang bahkan saat marah pun lebih memilih diam atau mengalah padanya. Ardi yang selalu menjaganya, mencintainya... itu dulu. Sayangnya masa-masa itu telah berlalu...


Perlahan Ella membalikkan badannya menghadap ke arah Roni. Ella berusaha memberikan senyuman simpulnya untuk pria itu.


"I'm Ok," jawabnya.


Hati Roni rasanya semakin hancur demi melihat Ella dengan mata sembabnya. Sial, padahal aku yang selalu menyalahkan Ardi karena membuat Ella menangis. Sekarang malah aku juga yang membuat Ella bersedih dan menangis seperti ini. Roni mengutuk dirinya sendiri.


"I'm so sorry, El...Maafin aku...Aku kebawa emosi."


"I will forgive you...But it's hard to forget it...Because I'm very disapointed to you."


(*Aku akan maafin kamu. Tapi akan susah untuk melupakannya. Karena aku sudah kecewa sama kamu).

__ADS_1


"Yah kamu memang berhak untuk kecewa. But you must know, I've done those things because i love you very much...I love you a little too much."


(*Tapi kamu harus tahu, aku melakukan semua itu karena aku sangat mencintaimu...Aku mencintaimu sedikit terlalu banyak).


Roni tak memaksa Ella untuk melupakan kesalahannya hari ini. Karena memang sudah kodrat seorang wanita begitu. Wanita mungkin dapat dengan mudah untuk memaafkan suatu hal yang menyakiti mereka, tetapi mereka tak akan pernah melupakan kejadian itu. Forgiving but not forgeting.


"Buat pelajaran aja ya, semoga kedepannya kamu lebih dewasa lagi dalam mengontrol emosi."


"I'll try my best. Thank you for your understanding."


(*Aku akan berusaha. Makasih atas perngertianmu.)


"Yaudah sekarang kita pulang dulu yuk." Roni mengajak dan membantu Ella bangkit dari bangku taman tempat mereka duduk. Mampir sebentar ke wastafle yang tersedia di salah satu sudut taman agar Ella bisa mencuci wajahnya. Menghapus bekas air mata di wajahnya dan sedikit mengembalikan kesegaran di wajahnya.


Untuk selanjutnya mereka kembali ke mobil Roni dan langsung meluncur ke arah rumah Ella. Sekali lagi mereka berdua hanya diam membisu di dalam mobil. Masih terlalu sungkan dan canggung untuk memulai pembicaraan diantara mereka.


"Langsung ke rumah sakit aja, Ron. Kamu kan ada jadwalnya jaga sore ini." Ella melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Sudah lebih dari jam empat sore. Sementara jadwal jaga Roni jam lima.


"Ga papa telat dikit. Aku anterin kamu sampai rumah pokoknya." Roni bersikeras untuk mengantarkan Ella sampai ke rumahnya. Gila aja masa bawa Ella ke rumah sakit saat keadaanya kayak gitu. Terus dari rumah sakit gimana dia pulangnya? Naik taksi? Mana mungkin Roni tega membiarkannya coba?


Ella tersenyum ringan menanggapinya. Roni sudah kembali menjadi dirinya yang biasanya rupanya. Roni yang baik, dan perhatian padanya. Yah Roni memang kadang suka terbawa emosi dan tidak sabaran. Tapi untuk masalah perhatian dan kebaikan hati, Roni sudah jelas lulus ujian. Sudah berkali-kali bahkan tak terhitung banyaknya kebaikan yang diberikan Roni pada Ella.


Suatu hubungan pasti akan menghadapi badai masalah. Anggap saja seperti Manis asin dan asam yang akan membuat rasa masakan menjadi enak. Beberapa masalah kecil dalam suatu hubungan pun sangat berguna untuk mewarnai, membumbui suatu hubungan. Dan Ella cukup dewasa untuk dapat memaafkan, berusaha untuk mempertahankan hubungan mereka. Karena masalah ini tidaklah terlalu fatal.


Ella lebih memilih untuk mengingat-ingat kebaikan Roni padanya yang sangat banyak daripada mengingat kejadian seperti tadi yang sangat jarang terjadi. Bahkan sebelum resmi menjadi pacarnya pun, saat masih dalam hubungan yang tidak jelas Roni juga sangat baik padanya.


Yang paling menyentuh adalah saat Roni rela menemani Ella ke Papua untuk mengikuti bakti sosial yang diadakan kampusnya disana. Roni sampai rela menata ulang jadwal jaganya di RSUD demi event itu. Dan selama kegiatan di pulau yang tak dikenal itu Roni selalu saja menjaga Ella dengan baik. Bahkan saat Ella ketakutan naik helicopters untuk pertama kalinya ke lokasi bantuan pun, Roni dengan setia menggenggam erat tangan Ella sebagai penenang.


Pernah juga Ella nyaris pingsan di kampus karena karena nyeri perut yang parah saat datang bulan. Dismenore. Roni lah yang dengan siap siaga menolong waktu itu. Mengangkat tubuhnya dan membawanya ke klinik kesehatan kampus. Menjaganya sampai merasa baikan dan selanjutnya mengantarkan Ella pulang ke rumahnya. Tentu saja karena hal itu Roni jadi bolos beberapa kuliah.


Belum lagi berbagai perhatian dan kebaikan kecil lainnya yang tak terhitung jumlahnya. Sebut saja Roni yang selalu setia mengantar nya pulang setiap hari dari kampus. Roni yang setia membantunya setiap ada tugas perkuliahan yang merepotkan. Roni yang selalu setia menemani dirinya dalam suka dan duka. Rasanya terlalu banyak yang sudah dilakukan Roni untuknya.

__ADS_1


~∆∆∆~


🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🤭🌼


__ADS_2