Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
163. S2 - Pilihan


__ADS_3

"El...Mama mau nanya sama kamu, kamu jawab jujur ya. Kamu cintanya sama siapa? Kamu ingin menjalin hubungan lebih jauh dengan siapa? Roni atau Ardi?" Lilik kali ini yang mencoba bertanya. Ingin tahu sebenarnya putrinya ingin bersanding dengan siapa.


"Mas Ardi," Ella menjawab dengan mantab kali ini.


"El, kamu sudah yakin? Kamu tahu kan bagaimana posisi nak Ardi itu? Bagaimana keluarganya, dan bagaimana status sosialnya?" Lilik akhirnya bertanya lagi setelah cukup lama tertegun saking kagetnya mendengar jawaban putri tunggalnya itu.


"Aku tahu ma, aku tahu benar bagaimana keadaan mas Ardi saat ini. Aku bahkan sudah go*gling tentang segala sesuatu dalam Pradana Group."


"Tapi tetap saja nak, Ardi dan keluarganya itu bagaikan di langit posisinya sedangkan keluarga kita yang rakyat jelata ini ada di bumi. Pasti akan sulit bagi kalian berdua untuk saling menyesuaikan diri dengan dunia masing-masing." Lilik masih sangat khawatir akan masa depan putrinya itu kalau harus bersanding dengan seorang sultan.


"Memang tak akan mudah. Dan aku juga tahu akan hal itu. Tapi entah mengapa rasanya selama aku ada di sisi mas Ardi, aku bisa melalui segala rintangan apapun yang akan menghadang. Selama kami bersama, kami akan kuat menjalaninya berdua." Ella mengutarakan keyakinannya pada mamanya.


"Lalu bagaimana dengan calon mertuamu? Bagaimana dengan mama Ardi? Bukannya mereka tidak menyetujui hubungan kalian?" Lilik masih merasa tidak tenang saja.


"Keluarga mas Ardi sudah mau menerimaku, ma. Mama mas Ardi yang dulu menentang hubungan kami juga sudah mengalah dan mau menerima siapapun wanita yang akan dipilih mas Ardi menjadi istrinya. Beliau bahkan sudah berniat minta maaf atas sikap kasarnya padaku. Mungkin nanti di saat yang tepat mas Ardi akan membawaku untuk dipertemukan lagi dengan kedua orang tuanya."


"Tapi Ardi telah menghilang dan mencampakkan kamu begitu saja selama tiga tahun ini, El." Bowo ikutan nimbrung mengingatkan Ella akan kesalahan Ardi. Kesalahan fatal Ardi yang membuat putrinya bersedih dan gundah selama tiga tahun lamanya.


"Mas Ardi dan keluarganya juga punya masalah sendiri, pa. Dalam tiga tahun ini papa mas Ardi ternyata sedang sakit, terkena serangan jantung dua kali. Hingga memaksa beliau pensiun dini dari jabatan pimpinan tertinggi Pradana Group. Otomatis beban kepemimpinan Pradana group langsung jatuh ke pundak mas Ardi sebagain putra pertama keluarga Pradana."


"Akhirnya mas Ardi yang harus berjuang sendirian dan mati-matian untuk mengurusi kekacauan akibat keadaan papanya. Mas Ardi seakan tiba-tiba didapuk menjadi kepala keluarga yang harus mengambil setiap keputusan penting keluarga itu. Dia juga harus memimpin begitu banyak perusahaan sekaligus tanpa aba-aba." Ella menceritakan kesusahan dan alasan mengapa Ardi tidak bisa menghampirinya selama tiga tahun ini.


"Dan kenapa harus tiga tahun? Sebenarnya bukan mas Ardi yang meminta waktu tiga tahun tapi Ella sendiri yang memintanya. Aku yang meminta waktu padanya untuk menungguku tiga tahun demi menyelesaikan masa study-ku sebagai dokter spesialis. Aku yang sebenarnya ngotot ingin memantaskan diriku untuknya."


Lilik dan Bowo kembali terdiam kali ini, kaget mendengar penjelasan Ella. Mereka tak menyangka bahwa Ella sendiri lah yang sengaja meminta waktu selama tiga tahun untuk fokus dalam kuliahnya.


"Dan setelah tiga tahun berlalu, mas Ardi datang kembali sesuai janjinya. Dia bahkan sudah berusaha untuk mendekat padaku, sampai-sampai dia mau bersusah payah mendirikan bisnis park baru di Surabaya ini. Semuanya hanya untuk bisa kembali mendekat dan bersatu denganku. Memang sedikit gila kedengarannya tapi semuanya nyata dan dia dapat mewujudkannya. Membuat kerajaan bisnisnya sendiri di Surabaya ini."


"Mas Ardi itu selama tiga tahun ini begitu setia padaku. Dia bahkan tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun setelah berpisah denganku. Suatu hal yang sangat menakjubkan mengingat dirinya bisa saja mendapatkan gadis manapun yang diinginkannya. Bahkan ribuan gadis pun akan rela melalukan apa saja untuk dapat bersanding dengannya."


"Mas Ardi memilih setia padaku dan bertahan dalam kesendiriannya...Tapi di lain pihak malah aku yang menduakannya, aku malah membuka hatiku untuk Roni." Ella menceritakan penyesalan terbesarnya.


"Lalu bagaimana dengan nak Roni? Dia juga sudah berjuang dan menemanimu dengan sabar selama tiga tahun ini." Lilik mau tak mau menjadi dilema juga mendengar cerita Ella. Ternyata Ardi yang dikiranya brengsek karena meninggalkan Ella begitu saja selama tiga tahun ini juga sama menderitanya dengan anaknya. Baik Ella, Roni dan Ardi semuanya telah menderita oleh takdir cinta yang pelik.


"Mama benar sekali. Roni memang sangat baik. Dia juga banyak berjasa bagiku...Tapi ma, bahkan sampai saat ini pun aku tidak pernah bisa mencintainya. Semua hubungan ini lebih tepat sebagai balas budi dibandingkan dengan cinta. Semakin lama dijalani semakin sesak saja rasanya di dada karena hubungan yang dipaksakan."


"Aku baru menyadarinya setelah pertemuan kembali dengan mas Ardi. Rasanya sangat berbeda, ma. Getar-getar di dada yang tak pernah aku rasakan saat bersama dengan Roni. Tetapi saat berada di dekat mas Ardi segala rasa dan getaran itu muncul seketika. Seakan menegaskan bahwa aku memang masih sangat mencintai mas Ardi." Ella mengakhiri curhatannya kepada kedua orang tuanya.


"Apa kamu yakin Ardi dapat menjagamu dan membahagiakanmu?" Bowo menghela napas mendengar cerita putrinya. Meminta kepastian dari Ella tentang pria pilihannya. Memang untuk masalah hati semuanya tak dapat dipaksakan, tetapi tetap saja sebagai orang tua Bowo hanya ingin kebahagiaan bagi Ella, putri semata wayangnya.

__ADS_1


"Pasti, pa. Ella percaya sepenuhnya pada mas Ardi." Ella kembali mengatakan penuh keyakinan.


"Yasudah suruh dia besok kesini untuk menemui papa, papa ingin ngomong sebentar sama dia. Papa ingin tahu seberapa seriusnya dia sama kamu. Nanti papa yang akan memutuskan dia layak atau tidak untuk kembali bersamamu. Papa tak ingin kegagalan hubungan kalian terulang lagi." Bowo akhirnya memberi keputusan. Bagaimanapun dirinya belum bisa percaya sepenuhnya dengan Ardi.


"Baik, pa." Ella menjawab lega mendengar keputusan papanya. Lega karena papanya tidak menentang dan menolak mentah-mentah hubungannya dengan Ardi. Tapi aslinya bingung juga bagaimana harus menghubungi Ardi agar datang ke rumahnya besok?


"Sudah malam, sebaiknya kita istirahat dulu. Besok pagi semuanya harus bekerja kan?" Bowo mengakhiri diskusi keluarga mereka dan semuanya akhirnya kembali ke kamar masing-masing.


~∆∆∆~


Keesokan harinya Ella menghabiskan waktunya berjaga sift pagi di UGD dengan kegalauan tingkat dewa. Bagaimana tidak, dirinya sama sekali tak tahu bagaimana cara menghubungi Ardi. Bagaimana caranya meminta pria itu untuk datang ke rumahnya, menemui papanya. Untuk berbicara dengan papanya sesuai dengan apa yang diinginkan Ardi kemarin.


Ella bahkan sudah bertanya ke bagian administrasi yang mengurusi pembayaran Linggar kemarin kalau-kalau Ardi meninggalkan nomer ponselnya disana. Tapi tetap saja nihil hasilnya. Dan Ella harus kembali dengan tangan kosong.


Mau tak mau Ella jadi menyesal tidak pernah menanyakan nomer ponsel Ardi. Menyesali kekeras kepalaan dirinya yang hanya ingin perjumpaan mereka dituntun oleh takdir. Kalau sudah begini takdir pun tak bisa membantu kan?


Akhirnya sore itu Ella pulang ke rumah dari RS. Hartanto Medika dengan harap-harap cemas. Sore hari setelah menyelesaikan sift paginya di UGD dan Visite beberapa pasien yang menjadi tanggung jawabnya juga. Gadis itu mandi dan membersihkan diri, berdandan secukupnya dan merenung di kamarnya. Memikirkan cara menghubungi Ardi.


Kemarin si memang papanya sempat bilang ke Ardi kalau ingin bicara besok saja. Tapi kemudian papanya juga menutup pintu rapat-rapat tepat didepan mata Ardi, seolah mengusirnya dan tak mengharapkan kehadirannya. Apa Ardi masih berani untuk datang ke rumahnya? Tapi kalau mengingat sifat nekat Ardi si pasti tak akan gentar juga.


Parahnya baju-baju kebaya Ella yang akan dipakainya besok untuk acara penyumpahan ketinggalan semuanya di mobil Ardi. Gimana donk? Besok pakai baju apa? Apa harus buru-buru cari MUA dadakan sekalian sewa kebayanya? Semakin galau saja jadinya kan?


Tepat saat Ella sudah mau menyerah untuk dapat menghubungi Ardi tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Dari nomer telpon yang tidak dikenali kontaknya. Dengan harap-harap cemas Ella mengangkat panggilan itu, berharap dari Ardi.


"Iya, ini siapa ya?" Ella bertanya ragu-ragu.


"Yaampun beneran mbak Ella. Mbak ubah ke vidio deh. Rangga ingin nyapa ni hehe."


"Rangga? Ranggawuni? Kamu? Jangan-jangan Laras?" Ella sangat kaget mendapati Laras yang menelponnya.


Ternyata takdir memang masih berpihak padanya. Buru-buru Ella mengubah panggilan menjadi vidio call. Dapat dilihatnya seorang wanita cantik sedang menggendong bayi laki-laki yang sangat gembul menggemaskan.


"Rangga, say hello to budhe...Halo budhe Ella!" Laras menggerak-gerakkan tangan Rangga untuk menyapa Ella.


"Halo Rangga!" Ella menyapa Rangga yang tertawa kegirangan mendengar sapaannya. Entah ngerti atau nggak yang penting hepy aja bagi Rangga.


"Yaampun makin lucu aja, gembul banget dia. Pengen tak gigit itu pipinya hehe." Ella gemas melihat si baby gembul.


"Hahaha iya dia udah naik beberapa kilo sejak terakhir mbak Ella ketemu. Udah berat banget sekarang, capek klo gendong lama-lama." Laras mengembalikan Rangga ke Nany-nya dan sekarang fokus vidio call dengan Ella.

__ADS_1


"Ada apa ini, Ras? Tumbenan nelpon?" Ella penasaran dengan tujuan Laras menelponnya.


Laras hanya tersenyum-senyum penuh misteri sebelum menjawab. "Aku mau booking MUA buat mbak Ella besok. Mbak Ella maunya konsepnya gimana? Bajunya warna apa? Hairdo-nya pengen yang kayak apa?" Laras mengutarakan niatnya menghubungi Ella.


"Oh masalah MUA...Ok nanti aku kirim pesan aja ya biar enak requestnya."


"Hmmm kalau bukan masalah MUA masalah apa lagi hayo?" Laras menggoda Ella, senyam-senyum.


"Kamu ngapain si cengar-cengir aja dari tadi?"


"Lagi seneng mbak. Seneng banget akhirnya dapat kabar gembira dari mas Ardi."


"Kabar gembira apaan?"


"Yah pokoknya aku seneng aja. Semoga lancar hubungan kalian. Jangan lama-lama, kasian mas Ardi udah kelamaan nahan hahahaha."


"Haduuh ngomong apa coba? Adult area ini." Ella memprotes malu-malu.


"Gak pa-pa. Kamu udah waktunya belajar tentang itu juga mbak," Laras semakin mengoda Ella. Duh ini sekeluarga Pradana emang hobi jahil semua ya?


"Btw kamu nelpon ini disuruh mas Ardi?"


"Nggak. Dia cuma minta booking-in MUA buat kamu. Lha kan aku gak tahu maunya kamu yang kayak gimana. Jadi aku telpon deh."


"Terus dapat nomerku darimana?"


"Di kontaknya mas Mahes ada tu." jawab Laras santai. Dan Ella menyadari kebodohannya karena melupakan Mahes. Kan bisa nanya Mahes nomer ponsel Ardi, bodoh banget...


"Oiya Ras tolong kamu bilangin mas Ardi suruh ke rumah ya nanti. Sekalian bawain baju kebayanya."


"Lho kenapa gak bilang sendiri?"


"Aku...aku gak punya nomer ponselnya," Ella mengaku. Memgakui kebodohannya sendiri.


"Haaaa? Kok bisa? Dasar kalian berdua memang pasangan aneh hahaha," Laras tertawa ngakak.


"Udah gitu aja, pokoknya kamu bilangin dia."


"Ok deh." Laras menurut saja sebelum mengakhiri panggilannya dengan Ella dan berganti memanggil Ardi kakaknya melalui sambungan telpon. Berperan sebagai perantara mereka. Sebagai dewi cinta Ardi dan Ella.

__ADS_1


~∆∆∆~


🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼


__ADS_2