
Sore harinya sesuai dengan waktu yang ditetapkan oleh Ardi, mobile pajero sport hitam yang biasa dipakai Ardi sudah parkir di depan kontrakan Ella. Bener-bener on time ini pak driver. Cocok dah sama bosnya yang juga selalu on time atau sekalian super ngaret (dengan berbagai alasan) hehe.
"Tan, aku brangkat dulu ya. Doain sukses!" Pamit Ella pada Intan saat jemputannya datang. Ella juga sudah bersiap dengan tas ransel dan tas plastik bekal yang dibelikan Ardi di toserba tadi.
"Oke, El. Good luck deh pokoknya God bless you juga. Sukses pokoknya!" Jawab Intan memberi semangat Ella dengan lebaynya.
Ella segera menghampiri mobil hitam yang parkir di halaman kontrakannya, mengetuk kacanya. Driver segera keluar mobil dan membukakan pintu untuk Ella di pasenger seat di belakang. "Non Ella ya? Saya Hasan supirnya Pak Ardi," sapanya ramah.
"Iya pak. Maap ya jadi ngerepoti bapak." Ella beranjak masuk mobil dan duduk di pasenger seat. Dan tak lama kemudian Pak Hasan segera menjalankan mobilnya.
Dapat dilihatnya diatas kursi sudah tersedia bantal boneka cute berbentuk sapi hitam putih yang gendut dan empuk. Selimut bulu yang tebal, halus dan wangi juga tersedia di sana. Siapa lagi coba yang nyiapin ini kalau bukan si babang sultan kesayangan Ella?
"Pak Ardi yang naroh itu non. Katanya non Ella suka mabuk darat. Jadi disuruh tidur aja sama pak Ardi." Ujar Pak Hasan sambil melirik Ella yang senyum-senyum sendiri memeluk boneka sapinya.
"Nggak kok pak. Aku mabuk kalau naik bis. Klo mobil biasanya si aman," Ella menjawab. "Oiya ini ada minuman, permen sama makanan ringan, Pak. Monggo diunjuk biar ndak ngantuk." Ella memberikan sekantong plastik perbekalan pada Pak Hasan.
"Wah makasih lho. Non ella baik banget. Istirahat aja non kalau udah sampai Surabaya saya bangunin ntar." Pak Hasan sepertinya sudah diwanti-wanti oleh Ardi jangan sampai Ella tidak nyaman selama perjalanan apalagi mabuk. Kok kayaknya dia khawatir banget.
"Iya pak. Aman, santai saja sama saya pak. Saya gak galak kayak Pak Ardi hehe."
"Kata siapa Pak Ardi galak non?" Pak Hasan bertanya takut-takut.
"Lho bukannya dia tegas sama pegawainya?"
"Iya memang tegas. Tapi bukan galak non. Dia gak pernah marah tanpa alasan kok. Malah jarang banget ngomomg yang gak penting. Sekalinya ngomong biasanya tegas dan berwibawa. Jarang perintah sana-sini juga orngnya, gak kaya Bu Cindy."
Ella terkikik tertahan. Yaiyalah Ardi jarang main perintah sana-sini wong dia yang merintahin Cindy buat bergerak. Jadi Cindy yang kelihatan sebagai tukang perintah dan Ardi sebagai CEO cool. Benar-benar siasat pencitraan seorang sultan hehe
Ella mengeluarkan ponselnya dari tas dan didapatinya beberapa pesan dari Ardi.
15.00 Lazuardi
Si Hasan udah dateng El? Gak telat kan?
15.20 Lazuardi
Udah berangkat belum? Kok gak ada kabar?
Ella tersenyum geli melihat pesan Ardi ini. Emang klo Pak Hasan telat mau dia marahin?
Ella
Hello, honey. thanx for your lil cute guardian for me. #Ella menyertakan foto bantal sapinya yang lucu.
(*Halo sayang. makasih untuk penjaga kecilnya yang lucu). Kejahilan english day Ella masih berlanjut hehe
Lazuardi
Glad if u like. Hug him and dream about me
(*Aku Seneng kalau kamu suka. Peluk dia dan mimpikan aku)
Ella
__ADS_1
Ok, I'll take a nap. See you in my dreams
(*Ok, aku tidur dulu ya. Sampai jumpa di mimpiku)
Lazuardi
Sleep tight honey. I love you...
(*Tidur nyenyak sayang, I love u...)
Ella langsung menata bantal dan selimutnya kemudian merebahkan tubunya menguasai seluruh passenger seat. Menata tubuhnya dan selimutnya senyaman mungkin.
Kemudian Ella menutup matanya dan tertidur. Memang dia sudah meminum obat anti mabuk yang dapat membuatnya ngantuk dan tertidur sepanjang perjalanan. Sehingga nanti malam dirinya dapat begadang dan belajar mempersiapkan ujiannya besok.
Beberapa kali Ella terbangun untuk makan roti, cemilan, minum dan ngobrol bentar dengan pak Hasan. Buka-buka ponsel, bertukar pesan dengan Ardi. Baca-baca artikel gak penting juga. Lalu lanjut tidur lagi. Begitu terus berulang-ulang. Sampai akhirnya mereka sampai di Surabaya dan di rumah Ella hampir jam sepuluh malam.
Ella langsung disambut dengan gembira oleh kedua orang tuanya. Tapi mereka sedikit heran juga dengan orang asing yang mengantarkan Ella. Setelah menjelaskan bahwa Pak Hasan adalah driver Ardi akhirnya kedua orang tua Ella mengijinkannya untuk menginap di rumah mereka.
Awalnya Pak Hasan menolak dan bersih keras untuk tidur di mobil, tetapi papa Ella memaksanya untuk jadi saja tamu di rumah mereka. Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih karena telah mengantar Ella.
"El, si Ardi punya supir pribadi?" Mama Ella bertanya kepo saat menghampiri Ella di kamarnya. "Mobilnya ada berapa kok gampang bener pinjemin kamu mobil pajero sama sopirnya sekalian?"
"Mobilnya ada dua ma. Dipinjemi satu dia make yang satunya. Dan itu driver perusahaan bukan driver pribadinya." Ella coba menjelaskan.
"Tunggu-tunggu kok bisa-bisanya dia nyuruh driver perusahaan buat anterin kamu?"
"Yah karena dia owner perusahaan itu. Dia direkturnya, ya nurut aja sopirnya disuruh."
"Lho? Bukannya perusahaan nak Ardi itu kecil-kecilan? Kok sampe punya driver dan dua mobil mewah?"
Dan mamanya cukup tahu diri untuk segera meninggalkan Ella sendirian di kamarnya. Sudah merupakan kebiasaan anaknya sejak jaman sekolah. Ella kalau akan ujian selalu begadang dan mengurung diri kamarnya.
Tepat pada saat mamanya meninggalkan kamar, ponsel Ella berdering. Dan tentu saja Ardi yang menelponnya, siapa lagi?
"Hallo Honey. Have you arrived?" Tanya Ardi. Duh belum kapok aja ni orang berlagak jadi bule lokal, batin Ella.
(*Hallo sayang, udah nyampe?)
"Mas Ardi...please...Masih belom puas main bule-buleannya?"
"Hahahaha Lha katanya mau belajar TOEFL?"
"Udah ah capek." Jawab Ella kesal.
"Yaudah kamu bobo dulu aja kalau capek"
"Capek ngomong english maksudnya. Ini aku masih mau begadang. Mas Ardi mau nemenin?" Ella memberi penawaran.
"Nemenin gimana?"
"Mas Ardinya gak capek? gak pingin tidur?"
"Nggak juga. Ini masih ada kerjaan yang belum kelar. Kayaknya si bakal begadang juga." Ardi menjawab kekhawatiran Ella.
__ADS_1
"Yaudah yuk kita mulai." Ella mengganti mode panggilan menjadi vidio call. Dapat dilihatnya Ardi yang masih mengenakan kemeja kantorannya. Dia sedang duduk di meja kerja di kamarnya sambil menghadap laptopnya.
"Kok belum ganti baju mas?"
"Baru sampai rumah. Belum sempet"
"Tapi udah mainan leptop aja?"
"Iya dateng-dateng keinget beberapa email yang dikirimkan klien belum sempat dibaca dan dibalas."
"Mandi dulu sana biar seger, ganti baju, istirahat." Ella tak tega melihat Ardi yang bahkan masih saja ngurusi pekerjaan sampai jam segini. Apa setiap harinya selalu begitu? Untuk apa coba jadi Sultan kalau ternyata gak bisa tidur dan beristirahat dengan tenang gitu.
Yah memang usaha tak akan mengkhianati hasil. Pantas saja Ardi bisa sesukses sekarang diusianya yang tergolong masih muda. Ternyata pria itu bahkan bekerja lebih keras dari sebagian besar orang dalam diam dan kesendiriannya. Hal yang tentu tidak diketahui orang lain.
Disaat para pegawainya sudah pulang kantor jam lima sore dan langsung melupakan segala urusan kerjaan. Kembali bersantai dengan keluarganya atau sekedar beristirahat dari penatnya bekerja. Bos mereka ternyata bahkan masih belum pulang dari kantornya, atau malah membawa pekerjaannya sampai ke rumahnya sendiri. Bekerja dan berpikir sendirian tanpa batasan jam kerja resmi.
Orang-orang pasti hanya melihat enaknya saja. Melihat seorang Lazuardi Pradana sang anak Sultan yang kaya raya dengan segala aset yang dimiliki keluarganya. Ardi yang terlihat hidup mewah dan bahagia dalam setiap kesehariannya. Segala fasilitas hidup yang nyaman, uang berlimpah yang dapat dia hambur-hamburkan seenaknya. Membuat iri semua orang yang melihatnya.
Tapi apa mereka tahu bahwa aset itu juga akan percuma saja jika tidak bisa kita mengolahnya? Andai saja Ardi tidak bekerja sekeras itu, apa mungkin perusahaannya akan tetap berjaya seperti ini? Mereka tak tahu bahwa Ardi pun juga sudah berusaha dengan sangat keras untuk mendapatkan posisi dan kenyamanannya saat ini.
Bahkan para sultan pun punya beban hidup dan tanggung jawab yang harus ditanggung. Bukan melulu bersenang-senang dan berfoya-foya. Jadi mereka memanfaatkan segala fasilitas dan kemewahan mereka yang terlihat menyilaukan itu memang karena mereka layak untuk mendapatkannya. Sebagai hasil dari segala usaha dan kerja keras yang telah mereka lakukan.
"Hmmm kamu pengen liat aku mandi?"
"Nggak! Enak aja!" Jawab Ella dengan muka memerah. "Abisnya mas Ardi keliatan capek banget gitu. Dari pagi kan udah kerja terus, sekarang waktunya istirahat."
"Ok bu dokter. Aku mandi dulu. I'll call you later. Cya Honey" Ardi menutup sambungan vidio callnya.
(*Nanti kutelpon lagi. Cya sayang).
Setelah mematikan sambungan telponnya Ella pergi ke dapur, membuat secangkir kopi sebagai senjatanya menahan kantuk. Tak lupa dibawanya juga cemilan ke kamarnya. Ella kemudian beranjak ke meja belajarnya, menata buku-buku diktat dan catatan-catatan yang masih harus dibaca dan dihapalkannya.
Ella pun memulai kegiatan belajarnya. Dibacanya sebuah buku diktat tentang penyakit dalam yang tebalnya hampir setebal bantal. Membaca dan terus membaca, berusaha mengingat dan masukkan materi-materi itu ke memori otaknya.
Beberapa menit kemudian Ardi kembali menghubungi Ella melalui vidio callya. Pria itu sudah terlihat segar, bersih dan ganteng tentu saja. Sudah berganti kostum juga dengan tshirt oblongnya yang santai. "Hallo, Ella sayang. Masih belum tidur?"
"Hallo mas, Masih donk. Tadi udah banyak tidur di perjalanan. Sekarang waktunya begadang hehe." Jawab Ella sambil terus membaca buku dihadapannya.
Ardipun kembali duduk ke meja kerjanya dan menghadap ke leptop yang tadi ditinggalkannya begitu saja ke kamar mandi. "Besok jam brapa ujiannya?" tanya Ardi.
"Jam 10.00 ujian TPA nya. TOEFL nya jam 13.00." Ella menjawab.
"Besok perginya sama Hasan ya. Jangan nyetir sendiri atau nebeng orang lain."
"Ok bos. Tapi besok aku brangkat pagian mau ketemu prof dulu buat minta rekom. Gak papa ni aku ngerepotin Pak Hasan sepagi itu?"
"Gak papa udah tugasnya nganterin kamu kemana aja selama kamu di Surabaya. Sampai kamu kembali ke sini lagi."
"Yaudah kalau gitu."
"Nanti setelah kembali, aku bakal kasih dia reward yang pantas kalau kerjanya bagus. Jadi kamu gak usah sungkan." Nah mungkin ini juga yang mungkin disukai anak buahnya dari Ardi. Pria itu tak akan pelit untuk memberikan reward yang pantas untuk anak buahnya yang baik. Tapi dia juga tak akan segan memberi pusnishment yang kejam juga untuk anak buahnya yang nakal. Sifat yang membuatnya disegani dan dihormati oleh bawahannya meskipun masih muda.
Kemudian mereka berdua hanya terdiam dengan vidio call yang masih terus tersambung. Sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ella yang berkutat dengan bukunya ataupun Ardi dengan laptopnya. Tak ada yang berbicara hanya sesekali saling memandang wajah masing-masing dari layar ponselnya. Begitu saja rasanya sudah cukup menyenangkan bagi mereka. Rasanya sudah seperti ditemani dan berduaan walaupun terpisah jarak ratusan kilo meter.
__ADS_1
~∆∆∆~