Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
183. S2 - Flash Back


__ADS_3

...~Beberapa hari sebelumnya~...


Siang itu Roni sedang bertugas di poli jantung RSUD Sutomi sebagai bagian dari tugas residennya. Keadaan poli sudah cukup lenggang dan aman karena memang hanya melakukan pelayanan sampai jam dua belas saja. Selanjutnya tinggal pencatatan dan entry data rekam medis secara komputerisasi dan visite pasien yang menjadi tanggung jawabnya.


Roni pamit keluar dari poli untuk beralih ke ruang rawat inap jantung dan pembuluh darah, melalukan visite. Roni berjalan santai saja dari poli ke arah ruangan melewati koridor-koridor panjang rumah sakit. Dan saat itulah ponselnya berdering, nama Mahes yang tertera dilayar ponselnya.


Roni segera saja menerima panggilan telpon itu. Sangat penasaran dengan apa kira-kira yang akan dibicarakan Mahes. Beberapa hari yang lalu Roni memang meminta tolong pada kakak kelasnya itu untuk mencari informasi tentang Jun. Dan Mahes menjanjikan informasi itu dalam waktu dua hari. Hari ini memang tepat dua hari itu. Orang macam apa coba yang disewa Mahes untuk cari informasi? Dan lagi berapa duit fee-nya? Sultan mah bebas!


"Halo, mas Mahes." Roni menyapa.


"Halo, Ron. Aku udah dapat infonya tentang Jun di Jogja." Mahes menjawab sapaan Roni.


"Jun tinggal di rumah neneknya di daerah sekitaran Malioboro setelah keluar dari kost-nya. Ibu Jun ternyata berasal dari Jogja dan rumah aslinya di sana. Jadi selama menghilang Jun tinggal bersama nenek dan keluarga tantenya di rumah itu.


"Bagus deh. Kalau sudah ada alamat jelasnya tinggal datangin saja dia." Roni menjawab.


"Aku juga sudah menyelidiki tentang keseharian Jun di kampusnya. Seperti kamu bilang, dia tipe cowok setia yang tidak mungkin untuk berselingkuh. Dan benar saja, Jun dengan sifatnya yang memang tertutup tidak mempunyai seorang teman dekat wanita mana pun disana. Bahkan untuk teman laki-laki juga jarang." Mahes kembali menjelaskan. Roni diam saja mendengarkan penjelasan Mahes yang sepertinya bakal agak panjang.


"Tapi ada yang sedikit aneh dari dia akhir-akhir ini. Aku cari info kegiatannya di kampus, ternyata dia mengambil cuti untuk semester ini. Alasan yang dikemukakan pada akademik juga tidak jelas."


"Aku selidiki lebih jauh lagi ternyata beberapa bulan yang lalu dia sempat mengalami cidera paha atas karena main footsal bersama teman-temanya. Cidera yang membuatnya kesulitan untuk bergerak dan berjalan, seperti patah tulang." Mahes mengambil jeda sejenak, menarik napas dalam.


"Tetapi setelah beberapa lama cidera itu tidak kunjung sembuh bahkan semakin parah. Dan setelah diselidiki lebih lanjut memang tulang itu sudah bermasalah sebelumnya tanpa dia sadari. Jadi sebelum kecelakaan itu tulang pahanya sudah sakit. Osteosarcoma."


(Osteosarcoma adalah kanker ganas tulang).


"Osteosarcoma?" Roni kaget sekali mendengar penjelasan Mahes.


*Osteosarcoma, adalah kanker ganas. Ya Tuhan, apa lagi ini? bagaimana mungkin Jun bisa kau pilih untuk menderita penyakit itu? Penyakit yang sangat jarang terjadi dan biasanya diderita oleh anak-anak masa pertumbuhan atau orang dewasa muda. Dan seperti diketahui harapan untuk sembuh dan hidup untuk pasien sarcoma* sangat kecil. Apalagi kebanyakan penyakit ini baru diketahui dan bergejala saat sudah stadium lanjut.


"Gimana keadaan dia sekarang, mas?" lanjut Roni khawatir. Sebagai seorang dokter tentu saja dia hafal benar tentang penyakit mematikan itu.


"Gak bisa dikatakan baik-baik saja sih. You know lah pasien kanker. Apalagi kalau yang diserang organ-organ dalam seperti itu. Sangat cepat metastasis-nya, dan untuk kasus Jun juga begitu."


(metastasis adalah Penyebaran sel kanker dari satu organ ke organ yang lainnya).


"Stadium berapa?" Roni bertanya semakin frustasi. Bagaimana mungkin Jun temannya satu putaran interenship yang terlihat begitu bugar dan sehat tiba-tiba didiagnosis kanker ganas? Jun yang bahkan sedang mendalami spesialisasi onkologi, ilmu yang mempelajari tentang kanker. Benar-benar kenyataan yang sangat tragis.


"Empat..."


"Astaga..." Roni semakin tak berdaya mendengarnya. Stadium empat? Stadium akhir?


"Keadaan dia udah 'jelek' banget Ron. Ini aku ada beberapa foto terbaru Jun..." Mahes mengirimkan beberapa file foto pada Roni.


(Jelek adalah istilah yang umum digunakan oleh tenaga medis untuk pasien dengan prognosa kesembuhan dan harapan hidup rendah).


"Stadium empat tentu saja..." Roni membuka file foto-foto yang dikirim kan Mahes.


Semakin lemas saja rasanya demi melihat keadaan Jun sekarang. Jauh sekali berbeda dari Jun yang dikenalnya beberapa tahun yang lalu. Sel-sel kanker telah menggerogoti tubuhnya dan memaksanya untuk berbaring lemah atau menggunakan kursi roda. Perawakannya juga menjadi lebih kurus dan pucat, tidak secerah dan sesegar dulu lagi.

__ADS_1


"Ron...Sorry ya, sepertinya kamu yang harus memberi tahukan tentang hal ini pada Sari. Sari harus tahu yang sebenarnya tentang Jun..." nada suara Mahes juga terdengar tak berdaya.


Mana tega coba untuk memberitahukan kenyataan sepahit ini pada Sari, adik perempuannya. Memberi tahukan bahwa kekasih adiknya itu sudah tak akan lama lagi masa hidupnya. Memang hidup dan mati adalah urusan Tuhan, tapi sebagai dokter dia tahu benar sampai mana harus berharap dan berjuang dalam pertarungan melawan penyakit.


Keadaan juga tidak memungkinkan bagi Mahes untuk menghubungi Sari dan menceritakan tentang Jun sendiri. Karena Sari masih belum mau bercerita tantang Jun padanya. Memang dalam keadaan begini hanya Roni yang bisa memberi informasi ini pada Sari. Tapi tentu saja tak akan semudah itu untuk memberitahu informasi yang menyedihkan ini.


"Iya mas, nanti aku akan kasih tahu dia. Aku juga akan mengantar Sari ke Jogja untuk menemui Jun."


"Makasih banyak ya, Ron. Aku titip Sari sama kamu. Sekali lagi sorry banget buat ngerepotin kamu." Mahes Mengakhiri pembicaraan mereka.


"Iya mas, sama-sama." Roni mengakhiri panggilan telponnya dengan Mahes.


Kemudian Roni beranjak melanjutkan langkahnya untuk ke ruangan rawat inap jantung, dan melakukan visite. Setelah semua tugasnya selesai Roni buru-buru pergi dari RSUG G untuk ke kontrakannya dulu. Mengambil beberapa perlengkapan yang sekiranya perlu dibawa untuk ke Jogja.


Roni juga menghubungi beberapa rekan residennya untuk minta tukeran jadwal jaga sehingga bisa mengosongkan jadwalnya untuk beberapa hari kedepan. Menggantinya dengan jadwal jaga dobel di kemudian hari. Selanjutnya setelah semua persiapannya selesai, Roni melajukan kembali mobilnya ke arah RS. Hartanto Medika untuk menemui Sari.


~∆∆∆~


Sari sudah selesai mengemasi kopernya di kamar pribadinya di ruang direktur rumah sakit. Padahal Sari sudah berusaha membawa barang seminimal mungkin, tapi kok masih dua koper sedang saja sih? Dan isinya cuma baju-baju, make up, daily care, dan segala keperluan travelling juga. Tak ada yang aneh-aneh dibawanya. Tapi rasanya sudah kayak orang mau minggat lama dan jauh saja.


Beberapa hari yang lalu Roni mengatakan pada Sari akan mengantarnya ke Jogja untuk menemui Jun. Setelah berhasil menemukan informasi tentang alamat dan dimana bisa menemui pria itu.


Sari sendiri bukannya tidak pernah mencoba mencari Jun. Sari sudah menghubungi kampusnya, tapi ternyata Jun mengajukan cuti. Sari juga menghubungi pemilik kost-kostan Jun, tetapi Jun juga sudah tidak kost disana katanya. Bahkan Sari juga sudah menghubungi teman-teman residen Jun dan teman kost-nya, tetapi sekali lagi tak ada yang tahu dimana Jun berada. Pria itu seakan menghilang ditelan bumi begitu saja. Kemana dan kenapa dia?


Entah mengapa hari ini Sari merasa sangat gelisah, firasatnya mengatakan akan ada hal buruk yang terjadi. Jadilah Sari segera mempersiapkan segala keperluannya untuk bepergiannya ke Jogja selama beberapa hari.


Tak lama kemudian Wulan sekretaris Sari datang menghampiri atasannya, sedikit heran juga dengan dua koper yang ada di sisi Sari. Mau kemana bu Sari ini? Mau keluar kota kah? Berapa lama? Kenapa sama sekali tak ada omongan padanya? Tetapi Wulan tak berani bertanya langsung, takut dianggap terlalu ikut campur urusan atasannya.


"Kenapa, Lan?" Sari bertanya.


"Ada dokter Roni minta ijin menghadap," Wulan menjawab.


"Suruh masuk, dan suguhkan minuman." Sari memerintahkan pada Wulan. Kemudian Wulan pamit undur diri, mempersilahkan Roni masuk, duduk di sofa dan menyuguhkan minuman dingin.


"Tumben siang-siang, Ron?" Sari menyapa Roni yang sudah menantinya di sofa. Memang masih terlalu awal untuk jadwal jaga sore Roni di poli jantung.


"Aku sudah dapat info tentang Jun," Roni berkata langsung to the point.


"Jun?" Sari buru-buru mengambil duduk di sofa sebelah Roni. Sangat bersemangat ingin mengetahui informasi apa yang didapatkan Roni.


"Sar...Jun...Keadaanya sedang tidak baik..." Roni sedikit bingung harus memulai darimana menjelaskan tentang keadaan Jun pada Sari.


"Tidak baik? Tidak baik gimana?" Sari sangat kaget, bingung dan cemas sekaligus mendengarnya. Ada apa dengan Jun? Apanya yang tidak baik?


"Jun sakit parah, Sar..."


"Gak mungkin!" Sari langsung memotong ucapan Roni.


"Jun itu sangat sehat! Kamu pasti bohong, Ron!"

__ADS_1


"Osteosarcoma...stadium empat."


Mata Sari langsung terbelalak dan ternganga demi mendengar nama penyakit Jun. Lelucon apa ini? Mana mungkin Jun yang bahkan sekolah di bidang onkologi malah menderita penyakit yang dipelajarinya? Bagaimana mungkin Jun bisa menderita kanker? Stadium akhir?


Sari memang sudah merasa tidak beres dengan Jun beberapa bulan ini. Pria itu selalu menolak menerima vidio call darinya. Mungkin tak ingin ketahuan keadaan dan perubahan tubuhnya yang sedang sakit, bahkan mungkin sedang sekarat. Jun tak ingin Sari tahu apa yang sedang dialaminya, tak ingin membuat Sari bersedih dengan keadaanya.


Sekujur tubuh Sari rasanya lemas seketika, tak berdaya. Sedih, sesak dan tak dapat menerima kenyataan yang baru didengarnya. Kenapa takdir begitu kejam padanya? Kenapa harus Jun? Jun itu pria yang sangat baik. Bahkan sebagai dokter pun Jun selalu totalitas dalam merawat pasiennya tanpa pamrih. Kenapa Tuhan?


Entah mengapa isi surat Jun kembali berkelebat dalam ingatan Sari...


*Maaf...Rasanya hanya kata itu yang layak kuucapkan untukmu.


Terima kasih...Tak terkira rasa syukurku karena pernah menjadi bagian hidupmu.


I love you...Dan sampai kapan pun aku masih selalu mencintaimu.


Berbahagialah selalu disana.


Karena kita tak mungkin lagi bersama.*


Jadi begitu...Jadi kamu meninggalkanku karena ini, Jun? Kamu tak ingin membuatku bersedih? Kamu ingin aku bahagia? Bagaimana bisa?...


Sekujur tubuh Sari tiba-tiba bergetar hebat. Tangisan putus asa, tak berdaya dan frustasi Sari tiba-tiba meledak dan menggema di seluruh ruangannya. Air matanya sudah tak terbendung lagi bagaikan air bah yang meleleh membasahi pipinya.


Roni ikut tak berdaya melihat Sari sehancur itu. Bingung tak tahu apa yang harus dilakukannya. Yang bisa dilakukannya hanya mendekati gadis itu, memeluknya erat dan memberikan tempat untuk menangis di bahunya.


"Jun gak akan mati kan, Ron?" Tanya Sari tak berdaya disela-sela tangisnya.


"Iya...Jun itu kuat. Dia pasti bisa bertahan." Roni berusaha menghibur Sari, walau dia dan Sari sendiri sudah tahu apa jawaban pertanyaan itu.


"Kenapa...Kenapa harus Jun, Ron?..."


Roni tak sanggup menjawab hanya bisa memeluk tubuh Sari semakin erat untuk memberikan sedikit ketenangan padanya.


~∆∆∆~


FYI (For You Information)


*Osteosarcoma adalah jenis kanker tulang yang bermula di sel-sel pembentuk tulang (osteosit). Osteosarcoma bisa menyebabkan penderitanya tidak bebas bergerak, pincang, bahkan mengalami patah tulang tanpa sebab yang jelas.


*Pada stadium IV, sel kanker yang semula tumbuh di jaringan tubuh tertentu sudah berkembang dan menyebar ke organ tubuh lain. Misalnya, sel kanker yang awalnya tumbuh di paru-paru dapat menyebar ke otak ketika sudah mencapai stadium IV.


*Semakin tinggi stadium kanker yang terbentuk di dalam tubuh, semakin rendah pula peluang untuk sembuh dari kanker.


 


*Pengobatan osteosarcoma dilakukan melalui operasi dan kemoterapi. Pada beberapa kasus, dokter juga dapat melakukan prosedur radioterapi.


🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼

__ADS_1


__ADS_2