Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
194. S2 - The Pradanas


__ADS_3

Ardi memasukkan mobilnya ke sebuah rumah bergaya modern yang terlihat sangat megah. Memarkirkan mobilnya di car port super luas di halaman rumah.


Jadi inilah Pradana mansion yang ada di Surabaya? Bener-benar rumah khas para sultan yang terlihat mentereng bahkan hanya dari luarnya saja. Memang di kawasan ITS ini sudah terkenal dengan kawasan rumah mewah.


"Kamu mau di mobil aja? Gak turun?" Ardi bertanya keheranan karena Ella masih tak mau turun dari mobil bahkan setelah Ardi turun dan membukakan pintu mobil untuk Ella.


"Aku...aku takut..." Ella menjawab ragu.


Tadi di rumah masih santai, tapi begitu sampai di pradana mansion yang mentereng ini mau tak mau nyali Ella sedikit menciut lagi. Masih trauma saja rasanya dengan The Pradanas. Meskipun kejadian beberapa tahun yang lalu bukan di rumah ini.


Ardi tahu benar akan ketakutan yang dirasakan Ella. Diulurkannya sebelah tangan untuk membantu Ella turun dari mobil. Digenggamnya sebelah tangan gadis itu erat-erat. Dingin, kayaknya Ella beneran ketakutan dan merasa tidak nyaman.


"Don't worry honey...I'm with you. Nobody can touch or hurting you." Ardi berusaha menenangkan Ella sebelum membawanya memasuki rumah.


(*Jangan khawatir sayang...Aku bersamamu. Tak akan ada yang bisa menyentuh dan menyakitimu).


Ella hanya mengangguk lemah menjawab ucapan Ardi. Mencoba menata hatinya, membuang segala kegelisahan dan keraguan di dada.


'Keadaan sudah berubah, orang tua mas Ardi sudah mau menerimaku. Tak akan ada lagi perlakuan buruk yang akan menyakiti hati,' Ella berusaha menyakinkan dirinya sendiri.


Keduanya berjalan beriringan memasuki rumah, melewati ruang tamu dengan perabotan mewah bergaya eropa klasik, tak ada orang disana. Lanjut berjalan ke ruang tengah yang terlihat hangat dengan beberapa set sofa super besar disana. Di ruangan ini duduklah Erwin yang sedang berbincang-bincang dengan Linggar dan Mahes.


Ardi langsung mengajak Ella menghampiri papanya, menyapa dan bersalaman mencium tangan Erwin. Sementara Linggar dan Mahes tersenyum ramah menyambut kedatangan mereka berdua.


"Ini Ella pa, cewek Ardi yang dulu dan sampai sekarang." Ardi memperkenalkan Ella pada Erwin.


"Oh Ella yang dulu itu ya. Seneng bisa ketemu lagi nak Ella." Erwin menyambut Ella dengan senyuman lebar.


"Iya, Om. Apa kabarnya?" Ella balas tersenyum, lega sekali rasanya mendapat sambutan ramah dari papa Ardi. Tapi memang dari dulu tuan besar pradana ini cenderung netral dan ramah sifatnya.


"Baik. Mari duduk, jangan sungkan-sungkan." Erwin mempersilahkan pada Ella.


"Mama mana?" tanya Ardi langsung mencari orang yang paling ingin dipertemukannya dengan Ella.


"Mama masih ke J.W Melati sama mbak Laras. Ngecekin persiapan akhir disana. Mereka berdua mana percaya kalau cuma menerima laporan lewat vidio." Linggar yang menjawab.


"Yaudah kalau gitu sambil nungguin mama datang, kamu disini dulu ngobrol-ngobrol sama mereka. Aku mau naik sebentar, mandi dan ganti baju." Ardi pamit untuk naik ke kamarnya di lantai dua.


Ella mengambil duduk di salah satu sofa dengan kekikukan yang menjadi-jadi. Gimana gak canggung coba kalau berhadapan dengan tiga sultan begini?


"Kalau misalnya nanti jadi perjodohan, terus gimana kelanjutannya?" Linggar menanyakan nasib masa depannya setelah acara perjodohan hari ini.


"Lho ya terserah kalian berdua. Mau tunangan dulu atau mau langsung merrid juga boleh." Erwin menjawab dengan entengnya


"Merrid? Papa bercanda? Ogah, aku gak mau! Aku belum puas menikmati masa muda sebagai perjaka singel." Linggar memprotes papanya.


"Yah paling tidak kalau kamu dan Ditha sama-sama tidak keberatan, kalian bisa tunangan dulu. Sampai kalian berdua siap, sekalian penjajakan kira-kira bisa lanjut sampai pernikahan atau nggak." Mahes memberikan sarannya dengan lebih bijak.

__ADS_1


"Misalnya, misalnya saja ya... ternyata kita berdua gak cocok. Bisa dibatalkan nggak pertunangannya?" Linggar kembali bertanya ragu-ragu.


"Ya terserah balik ke kalian berdua. Toh kalian yang menjalaninya. Tapi harus diselesaikan dengan baik, jangan sampai menimbulkan masalah." Erwin sedikit khawatir juga kalau mengingat sifat Linggar yang playboy dan suka gonta-ganti cewek.


"Nggar, kamu perlu ingat perjodohan ini gak hanya menyatukan dua orang, dan dua keluarga tapi juga dua grup raksasa. Jadi sebelum memutuskan segala sesuatunya kamu bener-bener harus mikir dulu baik-baik," Mahes kembali menasehati.


"Jadi kalau menurutku sebelum semuanya terlanjur ruwet, kalau kamu belum yakin sama Ditha mendingan batalin aja perjodohan ini dari awal."


Linggar terdiam memikirkan perkataan Mahes. Memang Linggar sama sekali belum mengenal Ditha. Tidak tahu sifat dan peragainya juga. Tetapi entah mengapa ada satu bagian dari dirinya yang sangat penasaran dengan gadis itu. Rasanya ingin selalu berada di dekatnya dan ingin mengenal Ditha lebih jauh lagi...Membuat Linggar merasa tak ingin menolak perjodohan ini.


"Kalian kan masih sama-sama muda. Dicoba dulu saja. Siapa tahu kamu bisa tobat setelah tunangan sama Ditha..." celetuk Erwin sekaligus harapannya agar Linggar bisa berubah.


Sebagai orang tua, Erwin sadar benar memang usia Linggar masih usia nakal-nakalnya. Bahkan Ardi juga pernah nakal dulunya. Semoga saja Linggar juga dapat berubah seiring berjalannya waktu.


Pembicaraan berlanjut dengan topik-topik ringan dengan sesekali melibatkan Ella dalam percakapan. Sampai Ardi kembali dari kamarnya, sudah ganteng, bersih dan wangi dengan tshirt casual dan celana pendek, gaya rumahan.


Tak lama kemudian Laras dan Kartika pun datang dengan beberapa staff lain. Membuat suasana rumah yang dari tadi sunyi langsung heboh. Kedua wanita itu datang-datang langsung ngomel-ngomel gak jelas tentang segala persiapan di J.W Melati yang kurang memuaskan bagi mereka.


"Mbak tidurkan Rangga diatas. Biar gak rewel nanti pas acara." Perintah Laras pada Nany-nya Rangga.


"Tahu nggak, ternyata keluarga Sampoerna nanti mengundang banyak awak media lho. Jadinya kami tadi terpaksa mempersiapkan juga mimbar untuk konferensi pers sekalian." Kartika memberitahukan informasi pada the pradanas lainnya yang hadir di ruangan. Tampak tidak senang dengan situasi yang terjadi diluar kendalinya.


"Lho konferensi pers buat apa?" Linggar jadi panik juga mendengar akan ada awak media ikut meliput acaranya. Duh masa harus konferensi pers segala?


"Kayaknya mereka gak ingin penolakan. Siap-siap aja ya Nggar. Kalau kamu nolak bisa memalukan seluruh nama Pradana dan Sampoerna sekaligus." Laras ikut menjelaskan, terlihat sedikit kesal juga.


Linggar menelan salivanya. Mampvs deh! Udah gak bisa mundur lagi sekarang. Linggar jadi kepikiran juga jangan-jangan Ditha yang merencanakan semuanya. Pasti Ditha berharap agar mas Ardi (yang dikira dijodohkan dengannya) tak bisa menolak lagi.


Tapi masalahnya...Bukan mas Ardi yang ternyata jadi kandidat perjodohan, melainkan Linggar. Gimana reaksi Ditha nantinya coba?


"Lho ada mbak Ella?" Laras yang baru menyadari kehadiran Ella langsung menghampiri, memeluk dan memberikan cupika-cupiki pada Ella.


"Udah lama mbak? Maap ya kita keasikan ngobrol sampai gak sadar kalau ada mbak juga disini."


"Ella?" Kartika sepertinya juga baru menyadari kehadiran gadis itu diantara the pradanas lainnya.


Deg, jantung Ella rasanya berhenti berdetak sejenak mendengar Kartika memanggil namanya. Udah gak bisa ditunda lagi sepertinya, waktunya untuk berhadapan dengan calon mama mertuanya itu. Nyonya besar Kartika Pradana.


Ella langsung menghampiri Kartika dengan kecanggungan tingkat dewa. Dari tadi Ella sudah mencari-cari waktu yang tepat kapan harus menyapa nyonya besar Pradana ini.


Kartika yang terlihat cantik dan berkelas dengan dandanan serba branded-nya. Aura dan wibawanya sebagai nyonya besar benar-benar mampu membuat nyali Ella semakin menciut.


"Selamat siang tante," Ella mencium tangan Kartika sebagai sapaan wajar kepada yang lebih tua.


Setelah menerima salam dari Ella, Kartika malah memeluk tubuh Ella. Memeluk tubuh gadis itu sangat erat sambil berkata. "Aku senang sekali, akhirnya kita bisa ketemu lagi."


Ella kaget sekali dibuatnya, kebingungan dan tidak sanggup menjawab atau bereaksi menanggapi tindakan Kartika. Hanya sanggup berdiri membatu tanpa kata-kata. Speachless.

__ADS_1


Apa benar nyonya besar pradana bisa bersikap sehangat ini padanya? Ella gak sedang ngimpi di siang bolong kan?


"Eh Ras, karena Ella udah datang buruan kamu telpon MUA-nya buat kesini." Kartika memerintahkan pada Laras yang langsung menjalankan perintah itu.


"Ardi, Ella boleh mama pinjem bentar? Mama pingin ngobrol sedikit sama dia." Kartika meminta ijin pada Ardi. Ella langsung memberikan pandangan 'temenin' ke Ardi. Berharap Ardi mau sekedar menemani dirinya untuk menghadapi Kartika.


"Bawa aja ma, marahin aja kalo bandel." Diluar dugaan Ella, Ardi malah sengaja menyodorkan Ella pada mamanya. Bahkan cekikikan terang-terangan.


'Asyem,' batin Ella. Ni orang kayaknya sengaja balas dendam gara-gara Ella sok ngambek. Membuat Ella hanya bisa mesam-mesem tak berdaya menanggapi ucapan Kartika. Pasrah saja saat Kartika menggiringnya pindah ruangan.


Ella menurut saja saat Kartika mempersilahkan duduk di sebuah kursi di ruangan yang sepertinya ruang baca. Menunggu dengan harap-harap cemas kira-kira apa yang akan dibicarakan Kartika padanya. Semakin galau lagi saat menunggu Kartika berkutat di coffe table, sepertinya sedang menyeduh teh.


Tak lama kemudian Kartika kembali menghampiri Ella dengan dua cangkir teh yang segera disuguhkan pada Ella. Ella mengamati teh dihadapnnya yang terlihat cerah dan beraroma harum menenangkan.


"Cobain nak Ella, Ronnefeldt. Teh dengan warna cerah yang bisa membuat suasana hati menjadi lebih tenang dan hangat. Kamu kayaknya gugup banget, ayo minum dulu." Kartika mempersilahkan.


"Maaf te, jadi merepotkan..."


Kartika tersenyum menjawabnya dan mendahului Ella menyeruput teh-nya. Ella mengikuti apa yang dilakukan Kartika, menikmati keharuman aroma serta cita rasa teh yang sepertinya mahal ini. Dan benar saja, setelah beberapa tegukan Ella dapat merasakan perasaanya menjadi lebih tenang.


"Lain kali gak usah manggil te lagi. Mama aja, mama Kartika juga boleh." Ucapan Kartika kali ini mampu membuat Ella nyaris tersedak saking kagetnya.


"Ma, mama?" Ella meletakkan cangkir tehnya di meja. Semakin bingung harus bereaksi bagaimana.


"Lha kan kamu calonnya Ardi? Udah sepantasnya panggil mama donk. Masa tante?"


Ella semakin bengong menghadapi Kartika. Rasanya sifat mama Ardi ini benar-benar berbeda dari yang ada dalam benaknya. Jadi ini sifat aslinya? Secara keseluruhan hampir mirip dengan sifat Laras. Ceplas ceplos dan cerewet, tapi pada dasarnya baik banget.


"Mama mau minta maaf sama kamu nak Ella. Mama sudah jahat banget sama kamu dulu." Kartika memulai pembicaraan mereka.


"Iya ma, aku sudah maafin kok. Aku juga salah karena terlalu keras kepala. Karena aku tidak tahu tentang kondisi keluarga pradana waktu itu."


"Sebagai seorang ibu, mama cuma menginginkan yang terbaik buat Ardi. Tapi ternyata mama malah kelewatan dan cenderung memaksakan kehendak mama untuk Ardi. Bahkan tanpa mama sadari, mama berbuat jahat pada putra mama sendiri."


"Selama tiga tahun berpisah dari kamu, Ardi itu berubah jadi seperti orang lain. Dingin, tak ada emosi, hampir kayak robot yang tahunya cuma kerja dan kerja. Sejak saat itulah mama sadar kalau Ardi itu lebih bahagia saat bersama kamu. Bisa makin hancur dia kalau terus-terusan berpisah dari kamu."


"Karena itulah mama tak akan keberatan lagi dengan hubungan kalian. Karena mama tahu kamu juga gadis yang baik. Mama percaya sepenuhnya pada pilihan Ardi...Kalian sudah terlalu banyak menderita. Kalian berdua sudah sepantasnya hidup bersama. Berbahagialah kalian untuk selamanya." Kartika mengakhiri pembicaraannya.


Ella hanya bisa tersenyum lega menanggapi ucapan Kartika yang terdengar sangat tulus. Ucapan seorang ibu yang hanya mengharapkan kebahagiaan bagi putranya. Lega sekali rasanya seolah beban berat yang sudah bertahun-tahun menghimpitnya hilang seketika. Restu dan penerimaan dari mama Ardi akhirnya dapat dia dapatkan.


"Mama titip Ardi sama kamu ya. Jagain dia, sayangi dia dan bahagiakan dia." Kartika mengutarakan permintaan terdalamnya pada Ella.


"Baik, ma." Ella menjawab sambil mengangguk mantap menyanggupi permintaan Kartika.


Keduanya kemudian saling bertukar senyuman dan pandangan penuh arti. Menikmati teh dalam cangkir yang entah mengapa terasa lebih nikmat.


~∆∆∆~

__ADS_1


🌼Gak pernah bosen ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss donk kasih KOMEN buat penyemangat author. 🌼


__ADS_2