Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
223. S2 - MudBlood


__ADS_3

Segelas redwine yang dibawa oleh seorang yang tadi menabrak tubuh Ella telah tumpah tepat di bagian dadanya. Di bagian dressnya yang berwarna putih. Merubah warna putih dress menjadi ternoda kemerahan. Sensasi rasa dingin di dadanya karena cairan wine yang dingin segera menyadarkan Ella dari keterkejutannya.


Ella mengamati sekitarnya untuk mencari siapa pelaku yang telah menabrak dirinya. Tepat dihadapannya berdiri seorang pria dengan gelas wine kosongnya. Pasti dia pelakunya.


Seorang pria berpostur tubuh besar berjalan dengan langkah sempoyongan mendekat ke arah Ella. Berdiri begitu saja di hadapan gadis itu sambil memandangi Ella dengan pandangan berkilat-kilat. Pria itu sepertinya sedang dalam pengaruh alkohol. Mabuk parah.


"Biitch! Berani sekali elu numpahin minuman gue!" hardiknya marah pada Ella.


Ella diam saja dengan ekspresi tercengang dan terbelalak. Terlalu bingung harus menjawab apa pada pria kurang ajar di hadapannya ini. Terlalu marah dan emosi demi melihat reaksi menyebalkan orang yang sudah menabrak dan menodai pakaiannya. Bisa-bisanya dia tidak minta maaf malah mengumpat dan memaki dirinya begitu?


"Kak Ella, Kak Ella gak pa-pa?" Kika bergegas menghampiri Ella dengan panik. Dia mencoba membersihkan noda di baju Ella dengan beberapa helai tisue yang di bawanya. Tetapi noda di dress Ella tidak bisa hilang tentu saja.


"Hei kamu, Gengen dari Kobolt Grup! Bukannya sudah seharusnya kamu meminta maaf setelah apa yang sudah kamu lakukan pada seorang wanita?" Kika memberanikan diri menegur pria yang bernama Gengen itu. Pria mabuk yang telah menabrak Ella.


"Maaf? Cuih! Si brengsek itu yang numpahin minuman gue!" Gengen balik menjawab marah.


Ridley, seorang pria lainnya yang tadi berjalan bersama Gengen berusaha melerai. Pria itu terlihat belum terlalu mabuk, dia mencoba membantu dan menenangkan temannya itu.


"Udah yuk Gen, gak usah nanggepin si nona manja Wismail," bisiknya.


"Kika Wismail? Si putri pelacur matre yang menikahi Jati Wismail karena duitnya? Si tuan putri palsu yang diangkat menjadi anak tiri dari keluarga Wismail?" Gengen memicingkan matanya berusaha mengenali Kika yang berdiri di hadapannya.


Ella kaget sekali mendengar perkataan Gengen. Tak menyangka Kika Wismail adalah anak tiri dari keluarga Wismail. Ternyata Kika dan Irza tidak memiliki hubungan darah sebagai saudara. Dan lebih kaget lagi mendengar Pria itu menyebutkan ibu Kika sebagai pelacur matre yang menikahi ayah Irza karena duit. Apa benar semua yang dikatakannya?


"Kalau iya memang kenapa?" Kika menjawab, membenarkan perkataan Gengen. Gadis itu kelihatan sekali sedang berusaha untuk tidak gentar melawan pria di hadapannya.


Perdebatan semakin memanas dan orang-orang di sekitar mereka mulai kepo dan berkerumun untuk melihat kejadian apa yang sedang terjadi. Ella semakin panik dan kalut saja dibuatnya.


'Aduh, kok jadi terlibat masalah runyam begini?'


Ini adalah pesta pertamanya di kalangan elit. Apa dirinya akan memberikan kesan yang buruk? Apa dirinya akan mempermalukan nama Ardi dan keluarga Pradana sekaligus?


"Emang ye buah jatuh gak akan jauh dari pohonnya. Buah busuk hehehe. Emak elu dulu ngejer-ngejer nikahin kepala keluarga Wismail, kini elu juga ngincar pewaris VOA grup. Pinter bener kalian emak dan anak milih target tajir!" Ujar Gengen berjalan semakin mendekat ke Arah Kika dan Ella berdiri.


"Tanyain bro, berapa si Johanh ngasih dia duit. Kalau dia mau kita juga bisa kok ngasih segitu bahkan lebih hehehe." Ridley kali ini ikut cekikikan keras menghina Kika.


"Berapa tarif elu semalam hah? Jo ngasih elu berapa?" Gengen semakin mencaci Kika.


"Gak ada hubungannya dengan Kak Jo, kamu harus minta maaf pada kak Ella!" Suara Kika sudah mulai bergetar sekarang, seakan mau menangis. Jelas saja gadis itu sangat sedih, malu dan terluka dikatai begitu oleh kedua pria itu.


"Ella?" Gengen seakan tersadar bahwa ada gadis lain di hadapannya.


"Cewek yang lu tabrak tadi, bro. Calon bininya Ardi Pradana." Ridley menjelaskan pada Gengen.


Di grup young businessman sudah ramai soal pertunangan dadakan Ardi Pradana. Dan parahya pewaris Pradana grup itu malah memilih cewek dari kalangan rakyat jelata. Jelas saja pada kepo dan nyari-nyari kayak apa cewek itu, sehebat apa sih?


Gengen menyingkirkan tubuh Kika dari hadapannya. Membuatnya langsung berhadapan dengan Ella sekarang. Pria itu pun mendekat dan meraih sebelah lengan Ella, mencengkeramnya dengan sangat keras. Mendekatkan wajah Ella ke wajahnya sendiri. Kini pandangan pria itu tepat memandangi wajah Ella yang begitu dekat. Mengamati dengan teliti setiap inchi bentuk dan profil wajah Ella.


Ella sedikit bergidik menyadari wajah Gengen sangat dekat dengan wajahnya. Wajah yang sudah kemerahan karena mabuknya. Sampai-sampai Ella dapat mencium aroma alkohol yang kuat dari mulut Pria itu. Sungguh sangat menjijikkan.


Saking geram, marah dan jijiknya dengan pria bernama Gengen itu, Ella sampai bisa melupakan rasa sakit di kaki kanannya yang terkilir dan di lengan atasnya yang dicengkeram oleh pria itu. Ella berusaha memberikan tatapan garang dan menantangnya pada pria itu. Tidak gentar.


"Wah cantik juga elu cewek MudBlood (*darah lumpur). Pantesan si Ardi klepek-klepek sama elu. Kalau bosen main sama Ardi ntar main sama gue aja ya. Dijamin puas dan dapat banyak duit pula hehehe." Ujar Gengen sambil menyeringai dan meniup telinga Ella untuk menggodanya.

__ADS_1


Ella sudah tak tahan dengan perlakuan pria kurang ajar itu. Malu dan terhina rasanya. Seakan harga dirinya terinjak-injak oleh perkataan pria kurang ajar itu. Ella berusaha mengerahkan tenaganya, didorongnya tubuh Gengen menjauh dari tubuhnya. Tak ingin pria itu terlalu dekat dengannya...Cukup mudah ternyata karena pria itu sedang mabuk.


"Fvck Off! Cewek Mudblood gak tahu diri! Sok alim! Padahal hobi maen ama cowok kaya! Bodoh bener Ardi Pradana sampai kejebak wajah polos elu! Kejebak permainan licik cewek matre kayak elu!" Gengen semakin marah karena dorongan Ella pada tubuhnya. Semakin mencaci-maki Ella.


Gengen memperbaiki posisi berdirinya. Mendekat lagi kearah Ella dengan emosi semakin meluap-luap.


"Memang cewek matre ya mainnya sama cewek matre. Kika dan Ella cocok bener, perkumpulan cewek matre doyan duit hahahaha." Ridley menambahkan dengan nada mengejek. Pria itu menghadang Kika agar tidak ikut campur urusan antara Gengen dan Ella.


Ella benar-benar speachless mendengar perkataan kedua pria yang tidak dikenalnya itu. Kedua pria dengan mulut berbisanya. Bagaimana mungkin mereka bisa mengatakan hal yang mengerikan begitu tentang dirinya? Mereka yang bahkan tidak mengenalnya. Mereka yang tidak tahu apa-apa tentang dirinya...Bagaimana mereka bisa mengatakan Ella menjebak Ardi karena uangnya?


'Kamu dimana mas Ardi? Tolong aku, selamatkan aku dari mereka!'


Batin Ella sudah menjerit-jerit panik menyadari Gengen kembali mendekatinya. Apa yang akan dilakukan pria itu padanya? Segalanya mungkin bagi pria mabuk yang bahkan gak bisa berpikir logis.


"Jadi Tarif elu berapa semalam? Ardi ngasih elu berapa? Atau ngasihnya bulanan? Borongan? Gue juga mau donk incip-incip dikit." Gengen membisikknya kata-kata keji itu saat posisinya sudah kembali dekat dengan Ella.


Ella mengepalkan kedua jemarinya erat-erat, menahan sekuat tenaga luapan emosi yang semakin menderu-deru di dalam dada. Marah, sangat marah rasanya sampai hampir meledak. Bahkan saking marah dan kecewanya membuat Ella ingin berteriak dan menangis kencang. Ingin memberontak dan meneriakkan bahwa apa yang mereka katakan tentang dirinya tidak benar.


Tapi apa dengan begitu masalah akan selesai? Tidak! Kedua pria brengsek ini pasti akan semakin ngelunjak dan merasa menang. Oleh karena itu Ella memutuskan dirinya harus kuat dan bertahan tanpa menitikkan air mata di hadapan mereka. Tanpa terlihat lemah di depan mereka.


"Gimana kalo lu temenin gue malam ini? Kita booking kamar dan main sepuasnya sampai pagi! 100 juta? 200 juta? Gue kasih kontan langsung buat lu!" Gengen tertawa mengejek pada Ella.


"PLAAAAK!!"


Ella sudah tak dapat menahan diri lagi untuk bersabar mendengarkan ucapan keji Gengen. Tak perduli lagi pria itu sultan atau konglomerat. Tak perduli banyak orang yang melihat mereka. Dan begitu sadar, Ella sudah mendaratkan tamparan kerasnya di sebelah pipi pria itu.


"Fvcking Biitch!" Emosi Gengen semakin meledak saat menyadari seorang menampar wajahnya. Sangat memalukan baginya untuk diperlakukan begitu oleh seorang wanita, wanita miskin, Ella.


"Sini lu, dasar Mudblood ganjen! Pakai sok jual mahal segala! Makin galak, makin bikin penasaran buat dicium!" Dengan kemarahannya yang memuncak Gengen kembali melangkahkan kakinya mendekati Ella. Memberikan gelagat ingin mencium Ella.


'Mas Ardi! Mas Ardi, tolong aku!'


Tiba-tiba Ella merasakan tubuhnya oleng saat sebelah kakinya menjejak udara kosong. Sedetik kemudian tubuhnya melayang di udara untuk beberapa saat. Ella lupa bahwa dirinya sedang berdiri di pinggir kolam renang. Lupa arah bahwa langkah mundurnya semakin membawanya mendekat ke kolam renang.


"BYUUUUURR!"


Kepanikan Ella semakin menjadi-jadi saat menyadari tubuhnya terasa sangat dingin. Dingin karena tercebur ke air kolam di malam hari. Semakin panik lagi saat kakinya tak bisa digerakkan. Kram?Mungkin karena masuk air dingin secara mendadak. Mungkin pula karena kakinya yang memang sudah terkilir sebelumnya.


Ella berusaha keras menggepakkan kedua lengannya untuk berenang sebagai ganti kakinya, tapi tubuhnya seakan tak mau bergerak. Dan pada akhirnya Ella dapat merasakan tubuhnya semakin lama semakin tenggelam...


'Tolong! Tolong aku! Mas Ardi!'


~∆∆∆~


Ardi berjalan meninggalkan Ella dengan perasaan tidak tenang, entah mengapa rasanya berat sekali untuk membiarkan Ella berdiri sendirian disana. Firasat apa ini? Padahal sudah jelas jetset party begini pastilah memiliki tingkat keamanan tinggi. Tak mungkin akan ada orang yang bisa mencelakai Ella. Kecuali para tamu undangannya sendiri. Kecuali para sultan dan sultanwati yang hadir di pesta.


Dengan langkah cepat Ardi buru-buru berjalan ke arah mainhall, ke arah meja prasmanan yang menyuguhkan berbagai macam makanan dan minuman. Ardi segera menghampiri Stan minuman dan mengambil segelas Mocktail untuk Ella serta segelas White Wine untuk dirinya sendiri.


Ardi sudah hendak kembali ke tempat Ella saat sebuah suara menyapanya. Ardi menoleh dan mendapati Masrur Al Maeri si raja minyak dari Abu Dhabi dan Luna Whey sang penguasa fashion yang menyapanya. Sudah lama sekali rasanya tidak bertemu dengan keduanya, sejak konser Coldplay tiga tahun yang lalu.


"Halo Masrur, Luna." Ardi menyapa ramah. Menunjukkan kedua tangannya yang memegang gelas sehingga tak bisa memberikan sapaan hangat pada keduanya.


"Sendirian aja?" tanya Luna menyelidik. Gak mungkin kan? Itu buktinya Ardi bawa dua gelas minuman.

__ADS_1


"Sama Ella," jawab Ardi singkat.


"Wah Ella. Kangen banget ni sama Bu dokter cantik." Masrur ikutan berkomentar sambil membayangkan wajah cantik nan innocent Ella tiga tahun yang lalu.


"Enak aja ngangenin calon istri orang!" Ardi nyolot.


"Hei jadi gosipnya kalian sudah tunangan itu bener ya? Selamat bro!" Luna menyeletuk kegirangan.


"Bener donk."


"Terus mana undangan resminya?" Masrur menagih sesuatu yang harus diberikan Ardi padanya.


"Belum, masih proses. Palingan satu, dua bulan lagi."


"Jangan mepet-mepet ngundangnya. Kasihanilah kami yang harus terbang melintasi benua dan samudra ini untuk bisa hadir di pesta kalian." Luna memperingatkan dan memberikan saran pada Ardi.


"Oke. Nanti kalau udah dapat tanggalnya aku kabarin." Ardi menyetujui saran Luna.


"Si Jo mana ya?" Masrur menanyakan Johanh Astin, teman karibnya sesama mantan playboy.


"Tadi ada. Gak tahu lagi kalau sekarang." Ardi menjawab.


"Dia juga sudah mau nikah kan? Akhir bulan ini malah katanya? Buru-buru banget kayaknya." Luna menyeletuk.


"Kika yang minta katanya. Ya sebagai gentleman mana bisa nolak coba?" Masrur menanggapi.


"Iya..." Ardi juga menanggapi, pandangan matanya tertuju pada dua sosok tubuh yang berjalan sedikit sempoyongan membelah keramaian pesta. Gengen dan Ridley dari Kobolt Grup. Sepasang pembuat onar setiap pesta. Ngapain coba Cecil ngundang mereka?


"Duh si biang kerok!" Luna menyeletuk mengikuti arah pandangan Ardi. Memandang dua sosok pria yang berjalan gontai dengan sesekali menabraki orang yang mereka lalui. Berlalu begitu saja tanpa minta maaf pada korban-korban mereka.


"Wah Gengen dan Ridley ya?" Masrur ikutan berkomentar. "Parah mereka gak ada kapoknya. Habis kasus pembakaran hutan untuk buka lahan perkebunan sawit, ditambah kasus prostitusi artis, sekarang masih berani mabuk-mabukan begitu. Mau nambah masalah lagi?"


"Duitnya banyak, bisa beresin semua kekacauan dengan duit." Luna berkomentar.


Ardi semakin tidak tenang menyadari Gengen dan Ridley berjalan ke arah kolam. Ke arah tempat Ella menunggunya. Jangan sampai, jangan sampai mereka berbuat macam-macam pada Ella.


Cepat-cepat Ardi mengakhiri pembicaraan dan pamit kepada Masrur dan Luna. Ingin secepatnya menemukan Ella dan memastikan gadis itu baik-baik saja.


Ardi berjalan cepat menyusuri ruangan pesta, sesekali terhenti karena orang menyapanya di tengah jalan. Ardi hanya mengangguk sopan sebagai jawaban dan berlalu lagi.


Entah mengapa perasaan Ardi semakin tidak tenang dari tadi. Hanya Ella dan Ella saja yang ada di pikirannya. Seolah gadis itu sedang dalam kesusahan dan memanggil-manggil namanya. Meminta pertolongan padanya.


'El, kamu gak pa-pa kan? Tunggu aku sebentar!'


Ardi semakin panik saat sampai di poolside, sudah ramai dengan kerumunan orang. Menyeruak diantara kerumunan dan dapat dilihatnya Ella disana.


Ella yang berjalan mundur tanpa melihat arah. Gengen yang terus maju ke arah gadis itu, terlihat sangat bernafsu.


"Ella! Hati-hati!" Ardi berteriak panik, tapi terlambat. Ella sudah jatuh tercebur ke kolam.


"BYUUUUURR!"


~∆∆∆~

__ADS_1


Penasaran dengan tokoh Johanh, Kika dan Irza? Mereka ada di novelnya temenku ASTARI berjudul YOUNG MISS. Jangan lupa dikepoin juga ya dijamin gak kalah serunya 🥰


🌼Yuuuuks say jangan lupa LIKE, VOTE dan KOMEN yaaaa 🌼


__ADS_2