Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
61. Sidang (2)


__ADS_3

"Mas Ardi adalah putra pertama dari Pradana Group, pa. Pewaris utama perusahaan itu dan sebentar lagi juga dia yang akan menjadi direktur utama atau CEO dari seluruh perusahaan dibawah naungan Pradana Group." Ella kembali menjelaskan posisi Ardi yang sebenarnya kepada papanya.


Ucapan pelan Ella itu seakan mampu membungkam Bowo dengan sangat telak. Dia tak menyangka pemuda yang dibawa anak gadisnya ke rumah sebagai pacar adalah putra konglomerat. Memang sejak minggu lalu saat Ella diantar oleh seorang supir yang mengaku supir dari Ardi saja sudah sangat mencurigakan. Bagaimana mungkin Ardi yang masih semuda itu memiliki supir pribadi.


Bowo pun sempat mengobrol dengan pak Hasan waktu itu. Pak hasan juga sempet cerita bahwa Ardi adalah atasanya di perusahaan. Direktur di perusahaan konstruksi itu. Pak Hasan lebih jauh juga bercerita bahwa perusahaan Ardi bukan perusahaan konstruksi kecil-kecilan melainkan perusahaan konstruksi besar yang bahkan menangani proyek perumahan elite berharga milyaran per unitnya.


Awalnya Bowo sedikit bangga dengan kemampuan Ardi mengelola perusahaannya di usia semuda itu. Dia menganggap Ardi adalah pemuda yang tekun dan ulet sehingga dapat sukses diusianya yang masih muda. Ditambah lagi pemuda itu terlihat ramah, sopan dan sangat perhatian pada Ella. Tentu saja dirinya tak akan keberatan Ella berhunbungan dengan pria hebat seperti itu.


Tapi sekarang apa? Setelah mendengar sendiri dari Ella tentang siapa sebenarnya pacarnya itu. Tetap saja Bowo tak mengira bahwa perusahaan Ardi yang menurutnya sudah hebat seperti itu adalah bagian kecil dari keseluruhan perusahaan milik Pradana Group. Dan Ardi sebagai putra pertama Pradana Group itu tentu saja bakal menjabat sebagai CEO menggantikan ayahnya cepat atau lambat. Mengurus aset dan kekayaan yang tak daoat terbayangkan nilai dan jumlahnya olehnya. Benar-benar diluar jangkauan akal sehatnya.


"Kenapa dari awal kamu berbohong soal keluargamu? Soal pekerjaanmu? Apa kamu takut kami tidak akan setuju setelah mengetahui kenyataan tentang keluargamu?" ujar Bowo setelah cukup lama bermain dengan pikirannya. Bowo mulai bertanya menyelidik tentang pekerjaan dan asal usul keluarga Ardi lebih detail.


Bowo benar-benar tidak pernah mengira Ella akan membawa pria sekelas Ardi Pradana sebagai pacarnya. Putra konglomerat super kaya yang bagaikan langit dan bumi dengan keluarga sederhana mereka. Entah sehebat apa pesona Ella bagi Ardi sehingga pria itu seperti tergila-gila dan mau melakukan apa saja untuk mendapatkan putrinya itu.


Tetapi sebagai orang tua normal, Bowo sama sekali tidak mengharapkan menantu yang kaya. Persetan dengan semua harta dan kekayaan. Semua yang bersifat duniawi begitu bisa dicari nantinya. Dia hanya berharap menantunya kelak adalah seorang pria yang baik dan bertanggung jawab yang bisa menjaga dan membahagiakan Ella, putri tunggal kesayangannya itu. Yang bisa memperlakukan Ella seperti dirinya yang selalu menjaga dan menyayanginya. Bahkan kalau bisa yang lebih baik dari dirinya dalam menjaga dan membimbing Ella di dalam bahtera rumah tangga mereka kelak.


"Tidak, Om. Bukan saya bermaksud bebohong dan menyembunyikan kenyataan. Karena waktu itu saya memang cuma memegang perusakaan konstruksi saja. Perusahaan saya merupakan perusahaan kecil-kecilan jika dibandingkan dengan keseluruhan aset Pradana Group." Ardi coba menjelaskan posisinya.


"Selain itu ada rahasia apa lagi? Para CEO dan konglomerat biasanya memiliki terlalu banyak rahasia yang tidak diketahui publik. Gaya hidup kalian pun jauh berbeda dengan kami para rakyat jelata ini." Bowo lanjut menyelidik, sangat penasaran pada Ardi. Rasanya dirinya sendiri masih belum bisa percaya pria seramah dan sesopan Ardi adalah seorang putra konglomerat. Bukannya biasanya para CEO tajir itu arogan dan seenaknya sendiri? Tapi pada diri Ardi sama sekali tidak terlihat sifat itu. Pria itu terlihat terlalu sederhana dan merakyat untuk ukuran pewaris utama perusahaan besar.


"Tidak ada. Saya tidak akan berpura-pura lagi. Jika om penasaran dan ingin mengetahui tentang aset pradana group, om dapat mengaksesnya di internet. Kami sangat terbuka dan transparan pada publik. Tak ada yang kami sembunyikan." Ardi berhenti sebentar, menghela napas perlahan.

__ADS_1


"Sebagai diri saya pribadi, saya tidak memungkiri bahwa memang kadang pergaulan saya di dunia bisnis terlalu bebas dan berbahaya. Kadang tidak sesuai dengan norma kesopanan dan adat ketimuran yang sudah mendarah daging di negara kita. Saya juga mengakui bahwa saya sering minum minuman beralkohol. Saya mengakui juga bahwa saya sering berhubungan dengan wanita cantik dan seksi. Tapi semuanya hanya sebatas urusan formalitas pekerjaaan. Nothing personal." Ardi terang-terangan membuka urusan pribadinya juga.


"Tetapi untuk masalah percintaan hanya ada Ella wanita di hati saya. Hampir setahun ini hanya ada Ella yang bertahta di lubuk hati saya. Saya sangat mencintai Ella. Tak akan ada wanita yang lainnya selain dia." Ardi seolah menekankan kalimat-kalimat terkahirnya ini tentang bagaimana perasaannya pada Ella.


"Baiklah anggap saja kita tak ada urusan dengan siapa dan darimana asal keluargamu." Bowo berhenti membahas soal keluarga Ardi.


"Jujur saja aku sudah kecewa dengan kamu sebagai Ardi secara pribadi. Ardi yang tidak bisa memegang omongan dan janjinya sendiri padaku. Mengkhianati kepercayaan yang telah coba aku berikan padamu untuk menjaga putriku tercinta."


"Janji sepeleh untuk membawa Ella ke konser. Ijin yang kau minta cuma untuk ke konser kok malah tambah dibawa ngeluyur gak karuan kayak gitu ke tempat lain. Ketempat yang yang tabu dan berbahaya lagi bagi seorang gadis baik-baik. Kalian berdua malah menghabiskan malam berduaan sampai diri hari. Orang tua mana coba yang masih punya hati saking cemasnya memikirkan nasib putrinya yang tiba-tiba menghilang bersama seorang pria tak dikenal?" Bowo akhirnya mengutarakan kekecewaannya pada Ardi.


"Tapi pa, gak bisa kayak begitu juga kan..." Ella berusaha memprotes ucapan papanya.


"Maaf, om. Saya akui saya memang salah." Ardi cepat-cepat memotong ucapan Ella. Tak ingin memperkeruh suasana. Tak ingin membuat papa Ella semakin marah dan kecewa pada dirinya.


"Tapi gak terjadi apa-apa sama Ella, pa. Mas Ardi udah jagain Ella banget kemarin. Kami berdua juga tidak melakukan apapun yang melanggar batas." Ella yang kali ini berusaha memprotes ucapan papanya karena Ardi hanya diam saja.


"Ella bener, pa. Yang penting mereka masih bisa sama-sama menjaga diri tanpa melewati batasan yang semestinya." Lilik coba membantu kedua anak muda itu. Dia merass kasian juga melihat mereka berdua yang dimarahi habis-habisan oleh suaminya.


"Kali ini memang tidak kejadian. Tapi bagaimana dengan lain kali? Bagaimana kalau kejadian kayak gini terus terulang? Kamu mau anakmu kenapa-napa dulu baru bertindak?" Bowo ikut memarahi Lilik yang ikut menentang ucapannya.


Lilik terdiam seketika itu juga. Tak sanggup membantah ucapan suaminya. Memang benar dirinya juga sangat khawatir kemarin. Bagaimana kalau kejadian lagi? Apalagi melihat Ella yang tampak begitu panik tadi pagi, mana mungkin tidak terjadi apa-apa? Mungkin benar mereka berdua tidak sampai melanggar batas, tapi bagaimana jika sudah menyerempet kesana? berbahaya sekali!

__ADS_1


"Sekarang aku mau nanya lagi sama kamu nak Ardi. Kamu serius gak sama Ella?" Bowo tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. "Kalau kamu serius mending segera diikat saja atau dihalalkan sekalian biar aman kalau mau berduaan lagi kemana-kemana. Yang di rumah nungguin juga tidak akan cemas memikirkan kalian." Bowo berhenti sebentar.


"Tapi kalau kamu tidak serius atau mau main-main saja lebih baik tidak usah diteruskan lagi hubungan kalian. Percuma bikin dosa saja kalau tidak ada tujuan dan itikad yang jelas untuk bersatu," lanjutnya kemudian.


"Saya...saya benar-benar serius, om. Saya sangat mencintai Ella. Sejujurnya saya juga ingin melamar Ella tapi belum bisa untuk saat ini. Karena saya masih belum mendapatkan restu dari kedua orang tua saya." Ardi mencoba menjelaskan posisinya yang sedikit sulit pada papa dan mama Ella.


"Mana bisa kamu melamar anak orang kalau orang tuamu saja tidak menyetujui?" Bowo kembali bertanya. Memang dia sudah dapat menebak tak akan semudah itu untuk dapat diterima sebagi menantu dari keluarga konglomerat. Dan sebagai seorang ayah tentu dirinya tak akan tega melihat Ella harus menderita karena memperjuangkan cintanya pada pemuda ini.


"Iya saya janji akan saya selesaikan dulu urusan dengan keluarga saya. Baru saya akan menemui om lagi untuk melamar Ella." Ardi menyanggupi pada Bowo.


"Yasudah kamu selesaikan dulu urusanmu dengan keluargamu. Dan selama itu tolong jaga jarak diantara kalian selama kalian belum dapat bersatu. Bersikaplah sopan dalam bergaul. Karena kita semua tak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi." Bowo memberikan nasehatnya untuk Ardi.


Apa maksudnya ini? Apakah maksudnya dirinya tak boleh bertemu dan berdekatan Ella sebelum bisa melamarnya? Ardi semakin bingung dan tak berdaya menghadapi papa Ella. Tak berdaya karena memang apa yang beliau katakan papa Ella sangat logis dan tidak dapat terbantahkan. Hal yang sangat wajar dilakukan oleh seorang ayah untuk melindungi putrinya. Apalagi Ella adalah putri tunggal mereka satu-satunya.


"Nanti kamu pulang sendiri saja ke Genting. Gak usah nganterin Ella. Ella biar nanti naik travel saja. Om sudah pesankan travel yang nganter Ella pulang ke Genting." Bowo akhirnya memutuskan.


Seluruh tubuh Ardi rasanya lemes seketika demi mendengarnya. Bahkan untuk pulang bareng saja mereka dilarang? Tidak boleh? Sebegitu buruknya kah dirinya di mata papa Ella? Sebegitu tidak dapat dipercayanya kah beliau padanya untuk menjaga putrinya?


~∆∆∆~


Karakter pak Bowo cocok banget sama. karakter bapak negara. Kelihatan keras dan tegas tapi aslinya sangat menyayangi anak gadisnya. Jelas gak rela donk anak gadisnya digituin ama Ardi.

__ADS_1


🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼


__ADS_2