
Hari minggu ini hampir sama seperti hari efektif lainnya. Ah seharusnya Ardi bisa libur saat week end. Ini kok malah belum beres saja urusan di kantornya. Beberapa perusahaan rekanan ada yang molor pengajuan MOU-nya. Molor pula jadwal penempatan gedung baru dan segala keperluan administrasinya. Membuat Ardi dan timnya terpaksa menikmati hari minggu di kantor. Walaupu hanya setengah hari tetap saja menyebalkan rasanya.
Ardi sudah membaca dan mempelajari rencana dan strategi yang dibuat oleh Cindy untuknya. Seperti yang diharapkan dari Cindy strategi bikinannya tebel dan detail banget sampai berlembar-lembar banyaknya. Sudah mirip primbon percintaan saja bentuknya. Bahkan Cindy juga mencantumkan berbagai simulasi dan keadaan sebagai contoh situasi serta cara menyikapinya.
Ardi memilih beberapa cara yang sepertinya bisa dia jalankan dan sesuai dengan kepribadiannya. Dan beberapa hari ini Ardi sudah mulai melancarkan juga rencana itu, daily dosses of roses (*dosis harian bunga mawar).
Jadi intinya setiap harinya, setiap pagi Ardi selalu mengirimkan setangkai bunga mawar segar dengan berbagi macam warna yang berbeda dan bergantian setiap harinya ke rumah Ella. Dengan hanya tulisan, Good morning and have a nice day diakhiri dengan inisial namanya L.P - Lazuardi Pradana (*Selamat pagi, semoga harimu menyenangkan).
How to do that? Gampang tinggal booking aja salah satu florist terkenal, toko bunga segar untuk mengirimkan bunga mawar pesanannya. Setiap hari, setiap pukul tujuh pagi. Selama sebulan penuh akan dikirim terus bunga-bunga itu. Dan Ardi hanya tinggal menerima laporan setiap harinya serta membayar tagihan tentu saja. Gampang banget sebenarnya. Masa si gitu aja bisa bikin cewek bahagia?
Menurut Cindy kalau dalam keadaan hubungan mereka saat ini, Ardi tidak bisa melakukan agresi terang-terangan pada Ella. Kalau Ardi terlalu agresif Ella-nya pasti bakal eneg juga. Malah bisa-bisa gadis itu kabur dan menghindar bahkan menjauh kalau langsung disamperin.
Jadi solusinya harus memakai pendekatan yang lebih halus dan sweet dulu. Katanya sih buat bikin si cewek melting. Yah apalah Ardi yang tidak mengerti dalamnya hati wanita memilih untuk menurut saja apa kata Cindy. Tak ingin operasi merebut Ella yang dijalankannya akan gagal.
"Mas Ardi ayo berangkat," Linggar menjemput Ardi di ruangan kerjanya. Untuk acara makan siang dengan Praditha Sampoerna yang sudah mereka janjikan sebelumnya. Hampir setiap hari Ditha menagih janji makan siang yang dibuat oleh Linggar itu. Lama-lama menjengkelkan juga kalau gak buru-buru dipenuhi.
"Ditha-nya udah ready?" tanya Ardi.
"Udah. Semangat banget dia diajakin jalan sama dua cowok ganteng kayak kita hehe."
"Tiga," Ardi menimpali ucapan Linggar.
"Hah? Siapa satunya?"
"Bambang. Dia mau sekalian ngurusin tuxedo dan suits pesananku di butik. Kita ke Tunjungin Plasa aja ya biar sekalian jalan."
"Wah tega beneran kamu mas, Gak kasian apa sama si Ditha kalau diganbang tiga cowok gini hehehe." Linggar cekikikan membayangkan bagaimana reaksi Ditha nantinya. Pasti lucu banget deh manyunnya.
Kedua bersaudara itu pun keluar kantor dan turun ke garasi mobil dimana Bambang dan Ditha sudah menunggu mereka. Dan seperti dugaan Linggar Ditha sudah memasang muka jutek ditekuk-tekuk. Manyun semanyun-manyunnya. Duh asli lucu banget tampangnya, Linggar makin gemes melihatnya.
"Gratz ya Dith, hari ini kamu dikawal tiga cowok ganteng hehe," Linggar mencoba menggoda Ditha untuk mencairkan suasana. Linggar mendahului naik mobil di sebelah driver seat. Disebelah Bambang yang akan mengemudi kali ini. Yah paling nggak biarin Ditha duduk sebelahan sama mas Ardi lah biar seneng dikit dia.
"Kalian semua beneran kurang kerjaan ya," Ditha terang-terangan memprotes saat sudah duduk di mobil. Tepat bersebelahan dengan mas Ardi.
"Ya gak pa-pa lah kan lebih asik jalan rame-rame begini. Ayo jalan, Mbang!" Ardi berusaha menghibur Ditha juga. Bambang pun segera melajukan mobil BMW hitam itu. Meninggalkan pusat perkantoran mereka menuju ke Mall terbesar di Surabaya.
Selanjutnya selama perjalanan mereka mengobrol tentang berbagai hal yang lumayan menyenangkan. Terutama Ditha yang jelas terlihat sedang berusaha pendekatan pada Ardi.
Membuat Linggar dan Bambang hanya bisa menghela napas miris. Kasian juga sebenarnya pada gadis itu, mengingat ketidak peka-an Ardi ditambah lagi kebucinan pria itu pada Ella. Gak bakal ada tempat untuk gadis selain Ella dihatinya.
"Kita makan dulu atau ke butik dulu?" Bambang bertanya pada ketiga atasannya itu sambil berjalan beriringan dari tempat parkir ke arah mall. Sepertinya bakalan merepotkan ini melayani tiga bos besar sekaligus.
"Terserah saja," Ardi menjawab santai.
__ADS_1
"Ditha gak pengen beli-beli?" Linggar menanyai Ditha. Kali aja ini cewek pengen shoping juga.
"Iya. Nanti liat-liat dulu." Ditha menjawab. Ketus seperti biasanya kalau terhadap Linggar, tapi nada bicaranya langsung berubah kalau terhadap Ardi.
"Yaudah ke butik dulu saja kan ada di lantai 2. Kalau Food cort kan di lantai 5." Bambang memberikan usulannya dan tidak ada yang memprotesnya.
"Mas Ardi itu keren banget kata mas Tyo. Masih muda tapi udah bisa bikin perusahaan sendiri bahkan sekarang bikin business park kayak gitu."
Ditha memulai aksinya nempel-nempel sambil berjalan beriringan dengan Ardi. Membuat Linggar otomatis jalan balan bareng Bambang mendahului kedua pasangan itu. Sekalian sebagai penunjuk jalan kemana mereka harus melangkahkan kaki.
"Biasa aja, kakakmu juga keren. Sampoerna maju pesat sejak dipegang Tyo." Ardi balik memuji kakak Ditha dengan santai. Sama sekali tidak merasa kalau Ditha sedang pdkt padanya. Benar-benar tidak peka memang ini orang.
"Tapi beda mas, kalau sultan muda yang lain itu cuma bisa nerusin usaha dari generasi sebelumnya. Jarang banget yang sampai bikin perusahaan baru kayak mas Ardi." Ditha terus mengutarakan kekagumannya pada Ardi.
"Kamu juga keren. Jarang-jarang cewek mau ikut ngurusin perusahaan." Ardi kali ini memuji Ditha.
"Aku dari dulu pengen banget bisa jadi seperti para wanita hebat yang gak kalah dengan para pria. Mereka juga bisa memimpin perusahaan dengan sama hebatnya. Sebut saja Luna Whei, Ceicillia Tang, dan Jillia Longbottom." Ditha mengutarakan cita-citanya.
"Wiiih yang disebutin cewek cakep semua itu," Linggar ikutan nimbrung menyeletuk.
"Bener banget kualitas impor semua itu," Bambang pun tak mau kalah menimpali. Rupanya tertarik juga sama cewek ini orang.
"Oh gitu... Jadi aku gak cantik ya?" Ditha tiba-tiba terlihat sangat kesal. Jelas merasa kalah jauh di dibandingkan dengan ketiga cewek tadi. Baik dari segi penampilan maupun prestasi mereka.
"Bu Ditha juga cantik kok. Kan standart cantik beda-beda," Bambang mencoba memperbaiki suasana. Nah ini gak enaknya nemenin bos cewek, baperan dan moodnya naik turun gak jelas.
"Lho kan emang aturannya begitu, panggil pak dan bu buat atasan. Kalau gak mau dipanggil bu masa mau dipanggil pak?" Linggar yang membantu Bambang menjawab.
"Ih kamu juga tu nyebelin banget, Nggar!"
"Udah-udah. Kamu juga manis kok, Dith. Gak kalah sama mereka bertiga pesonanya." Ardi membantu untuk meredakan kemarahan Ditha.
"Iya bener, kamu juga cantiknya unik," Linggar ikut menambahkan. Tapi si Ditha sudah keburu manyun dibuatnya.
Untung saja tak lama kemudian mereka tiba di butik yang mereka tuju. Para pria itu mendengus lega dan segera memasuki butik.
Ardi dan Bambang segera menghampiri petugas butik untuk menanyakan barang pesanan mereka. Sang petugas pun segera mempersilahkan dan mengambilkan barang pesanan mereka. Sementara Linggar sibuk muter-muter di bagian jas juga memilih-milih model yang cocok dengan seleranya.
"Kamu butuh beberapa setel juga lho, Nggar. Abis ini kamu bakalan sering menghadiri pesta." Ardi mengingatkan Linggar akan pentingnya baju resmi bagi CEO perusahaan seperti mereka untuk menghadiri pesta atau sekedar urusan kantor.
"Ok, aku sekalian fitting aja deh. Ambil dua tuxedo dan tiga jas formal biasa cukup kayaknya." Linggar akhirnya memutuskan.
"Kamu gak sekalian ambil juga, Mbang? Kalau nemenin ke pesta biar gak malu-maluin." Ardi sekalian menawari Bambang.
__ADS_1
"Yang lama juga masih bagus, Pak." Bambang menolak tawaran Ardi. Sungkan sama bosnya ini yang kadang terlalu baik dan loyal.
"Ambil satu aja jas resmi kalo gitu," Ardi memutuskan. Dan Bambang pun hanya bisa pasrah tak dapat menolak kehendak sultan.
Selanjutnya Linggar dan Bambang langsung diserbu oleh dua orang yang bertugas untuk melakukan pengukuran. Sementara Ardi mencoba jas dan tuxedo pesanannya yang telah selesai dibuat.
Ardi memakai jas hitam pesanannya, mencoba berbagai macam pose dan muter-muter di depan kaca mengamati penampilannya. Bingung juga memutuskan udah keren apa belum ini jasnya. Mau nanya ke siapa ya? Linggar dan Bambang juga sepertinya masih ribet dengan pengukuran badan mereka masing-masing.
"Dith, gimana udah Ok belum?" Ardi akhirnya memutuskan untuk bertanya pada Praditha.
Ditha yang sejak tadi muter-muter mengamati bagian pakaian wanita langsung mendekat ke arah Ardi. Mengamati penampilan pria itu lekat-lekat dari atas sampai kebawah.
Aduh ganteng banget si kamu mas Ardi!! Keren banget, sumpah! Ditha menjerit dalam hatinya. Masa iya mau ngomong kayak gitu? Jaim dikit donk.
"Ehem...Bagus. Cocok banget sama mas Ardi." Akhirnya Ditha menjawab setelah menguasai dirinya.
"Ini bagian kerahnya gak aneh? Kok kayaknya agak beda dari jas yang biasanya aku pakai?" Ardi menyatakan ketidak nyamanannya.
"Mana coba aku liat..." Ditha mendekat ke arah Ardi, dekat dan semakin dekat sampai telapak tangannya dapat menyentuh dan mengamati bagian krah jas yang sedang dikenakan Ardi. Posisi mereka sangat dekat sekarang sampai sampai mereka dapat saling merasakan hembusan napas masing-masing.
Ditha seakan terpaku dan membatu disana saat matanya bertatapan dengan mata Ardi. Dag dig dug sangat kencang terdengar di dadanya.
"KLONTAAANG..."
Tiba-tiba ada suara keras yang memecahkan keheningan suasana. Sebuah manekin tiba-tiba roboh ke lantai karena ditabrak oleh seseorang. Siapa coba yang bisa seceroboh itu?
"Maaf maaf..."
Si penabrak yang ternyata seorang gadis buru-buru berdiri, membungkukkan badannya sebagai permintaan maafnya kepada siapa saja yang hadir disana.
Mungkin karena saking malunya gadis itu buru-buru berpaling dan pergi dari kerumunan ramai yang sudah berkumpul untuk melihat kehebohan yang dibuatnya. Pergi dan berlalu cepat-cepat dari butik itu.
"Mbak Ella! Mas Ardi, itu tadi mbak Ella!" Linggar memberitahukan Ardi. Setelah cukup yakin dengan penglihatan dan pendengarannya.
"Kejar mas! Kejar dia cepetan!!" Linggar memerintahkan Ardi karena dirinya sendiri masih sibuk dengan pengukuran bajunya. Ardi yang tadi disibukkan dengan jasnya dan Ditha tentu tidak memperhatikan kejadian yang baru saja terjadi.
"Ella?" Ardi yang seolah tersadar dari hipnotis langsung saja mencari-cari sosok Ella, gadis yang barusan kabur dari butik itu. Benar saja sekilas Ardi dapat melihat sosok belakang tubuh Ella yang sudah sangat dihafalnya.
Bahkan tanpa repot-repot melepas jas yang dicobanya terlebih dahulu Ardi langsung saja beranjak dari posisinya, berlari mengejar sosok gadis itu...
'Ella akhirnya aku menemukanmu.'
Mungkin ini takdir, aku bahkan tidak mencarimu tapi seolah kamu datang sendiri kepadaku....
__ADS_1
~∆∆∆~
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. ðŸ¤ðŸŒ¼