
Ella akhirnya mengambil libur selama dua hari setelah kejadian pingsannya waktu itu. Dan Mahes tentu saja sama sekali tidak keberatan akan hal itu. Mahes dapat dengan mudahnya mencari dokter pengganti Ella untuk menjaga UGD. Bahkan Mahes menawari Ella untuk beristirahat lebih lama lagi. Tapi Ella menolak, sudah bosan tiduran melulu di rumah.
Selain itu Ella juga merasa sakitnya sudah sembuh. Memang sakit begituan biasanya cuma berlangsung sehari, atau dua hari pertama siklus menstruasi saja. Saat dimana terjadi lonjakan hormon tiba-tiba di dalam tubuh, yang berpengaruh pada proses peluruhan dinding rahim.
Nah karena pengaruh stress dan kelelahan, kontraksi yang terjadi selama proses peluruhan dinding rahim menjadi berlebihan. Sehingga hal ini dapat menyebabkan perdarahan dan rasa nyeri serta kram perut yang hebat.
Dan malam ini Ella dapat melihat Roni menjemput dirinya di UGD tepat sebelum sesi jaga sorenya berakhir. Roni dengan setia menunggui dirinya yang sedang menangani pasien kecelakaan lalu lintas yang perlu beberapa penjahitan. Penjahitan pada pembuluh darah untuk menghentikan perdarahan yang terjadi sebelum akhirnya menutup lukanya.
Roni mengamati Ella bekerja menangani pasiennya dari kursi didepan meja jaga. Bukannya membantu Ella, pria itu malah hanya mengamati dari jauh sambil tersenyum-senyum sendirian. Menikmati suguhan pemandangan indah di hadapannya. Perpaduan antara kecantikan, keluwesan, ketelatenan dan kecakapan Ella dalam menangani pasiennya.
"Duh dok Roni gak usah segitunya juga ngeliatin dokter Ella. Cantik banget ya dok, pasti seneng bisa jadi pacarnya." Salah seorang perawat pria yang sedang berkutat dengan tumpukan rekam medis di hadapan Roni menggodanya.
"Iya...cantik banget," jawab Roni menyetujui. "Jadi pacarnya? Jelas seneng banget. Tapi sayangnya hal itu tak akan lama lagi..." Roni menghentikan ucapannya.
Roni menerawang, membayangkan bagaimana jadinya hidupnya tanpa Ella. Bagaimana hari-hari yang harus dijalaninya tanpa ada Ella disisinya.
Tiga tahun kebersamaan mereka, meski lebih lama dalam hubungan tanpa status, daripada hubungan pacaran resmi. Tapi Roni sudah terlalu terbiasa dengan adanya Ella didekatnya. Hidupnya selama ini seolah hanya soal Ella, Ella dan Ella saja. Selain kegiatan dan kewajiban sehari-hari dan perkuliahan di kampus serta pekerjaannya tentunya.
"Tak akan lama gimana dok? Kalian mau putus? Wah sayang banget. Tapi jadi ada kesempatan ni buat deketin dok Ella hehehe." Si perawat makin kepo.
"Rahasia..." Roni menjawab sambil menyunggingkan senyuman misteriusnya.
Jawaban yang membuat si perawat mengumpat kecewa terang-terangan. Paling tidak kalau dokter Ella gak punya pacar kan bisa dinikmati sebagai pacar bersama, pacar halu maksudnya hehe.
Tak lama kemudian Ella menghampiri meja jaga setelah menyelesaikan prosedur tindakan dan perawatan pada pasiennya. Menghampiri Roni yang sudah menunggunya dengan sabar.
"Yuk, Ron. Sorry ya nungguin lama." Ella mengemasi barang-barang bawaannya ke dalam tas dan melipat jas dokternya, memasukkan pula ke dalam tasnya.
"Ada yang perlu ditanda tangani, mas Bayu?" Ella melanjutkan pertanyaan pada si perawat yang sibuk dengan urusan rekam medis dan berkas lainnya.
"Ini dok, inform consent, persetujuan tindakan medis, sama permintaan foto ronsent saja." Perawat yang ternyata bernama Bayu menyodorkan beberapa lembar dokumen yang harus ditanda tangani oleh Ella.
"Yuk, aku duluan ya." Pamit Ella setelah semua tugas sift UGD-nya berakhir. Berlalu dan berjalan beriringan dengan Roni ke arah parkiran. Mereka pun kemudian melaju ke sebuah cafe langganan mereka makan malam kalau pulang jaga sore begini. Keduanya mengambil tempat duduk yang agak mojok untuk mendapatkan ketenangan dan privasi.
"Gimana keadaan kamu? udah sembuh?" Roni bertanya memulai pembicaraan sambil mulai menyantap menu makan malamnya.
"Iya sudah sehat kok. Sehari doank sakitnya. Hari kedua kemarin sengaja libur dulu buat jaga-jaga aja." Ella menjawab, entah mengapa atmosfir disekitar mereka sedikit canggung rasanya.
"Syukur deh kalau begitu."
"Kamu kok gak nengokin aku waktu di RS. Hartanto Medika?" Ella penasaran karena tidak melihat Roni menjenguk sama sekali waktu dirinya di rumah sakit.
"Aku datang kok. Yang bawain tas kamu dari UGD ke kamar VVIP kan aku..." Roni menjawab santai.
"Lho kok aku gak tahu kamu datang?"
"Kamu lagi bobo syantik waktu itu. Aku gak tega buat bangunin kamu."
__ADS_1
"Oh gitu, makasih ya..."
"Sorry aku gak bisa nemenin waktu kamu sakit. Aku harus jaga sore itu. Tapi syukurlah sudah ada yang jagain kamu dengan baik..." ujar Roni.
"Kamu, kamu ketemu mas Ardi?" Ella memotong pembicaraan Roni. Kaget juga mengetahui Roni sempat ketemu mas Ardi. Tapi kok mas Ardi gak pernah cerita apa-apa padanya?
"Ketemu sih. Tapi sama aja kayak kamu, dia gak sadar kalau aku datang."
"Haaah? Gak sadar gimana?"
"Wong dia juga molor di sebelah kamu. Kalian berdua tidur bersama satu ranjang siang itu."
"Ti, tidur bersama?" Ella kaget dan langsung memerah wajahnya mendengar cerita Roni. Apa yang sebenarnya terjadi? Masa iya Ardi berani berbuat macam-macam padanya?
"Si brengsek itu bukannya jagain kamu, malah ikut tidur sambil menggenggam tangan kamu dan rambut kamu. Bisa-bisanya dia tertidur dengan posisi duduk dengan kepala tersandar di bed begitu." Roni menggerutu kesal menceritakan dan mengingat kejadian itu.
"Hehehe...dia memang bisa tidur dimana saja." Ella tertawa ringan membayangkan pose tidur Ardi.
Roni sengaja tidak melanjutkan pembicaraan mereka tentang Ardi serta tentang hubungannya dengan Ella. Sengaja menunda sampai Ella menyelesaikan makan malamnya dulu. Biar saja gadis itu mengisi perutnya sampai kenyang.
Jaga-jaga kalau dia akan kehilangan selera makannya setelah pembicaraan mereka. Hal yang sangat mungkin terjadi bagi Ella yang terlalu halus dan perasa. Dan Roni tentu saja tak ingin Ella jatuh sakit lagi karena dirinya.
Roni meletakkan sendok dan garpunya, meneguk minuman di gelasnya pula. Kemudian kembali terdiam menunggu Ella menyelesaikan prosesi makan malamnya juga. Roni hanya memandangi wajah cantik gadis itu.
Kurasa sekarang adalah saat yang tepat untuk melepaskanmu pergi.
Karena satu bagian dari diriku akan selalu menyimpan cinta untukmu seumur hidupku.
Tetapi untuk tetap menahanmu disisiku juga merupakan suatu kesalahan.
Kau dan aku akan semakin terluka jika kita memaksakan untuk bertahan.
Maka dari itu, disinilah aku sekarang.
Untuk mengatakan sesuatu yang seharusnya
dapat kukatakan sejak dahulu. It's over.
"Aku pengen ngomong sesuatu sama kamu..." ujar Roni saat Ella meletakkan sendoknya.
Ella buru-buru menyelesaikan makan malamnya. Diambil dan diteguknya segelas minuman dingin untuk sekedar membasahi tenggorokannya. Waktunya telah tiba, sudah saatnya untuk membicarakan tentang hubungan mereka berdua. Ella meyakinkan dirinya sendiri.
Tapi aslinya Ella belum siap juga untuk memulai pembicaraan ini, terlalu bingung bagaimana harus mengutarakan maksud dan tujuannya. Bagaimana dirinya harus mengungkit permasalahan yang dapat dijadikan alasan untuk mengakhiri hubungannya dengan Roni. Apa langsung ngomongin soal hati? Soal rasa seperti saat curhat dengan mbak Reni?
Apa Roni bisa menerimanya? Karena bahkan selama tiga tahun ini Roni sudah tahu benar bagaimana perasaan Ella padanya. Bagaimana Ella masih belum bisa mencintainya. Bagaimana Ella masih saja menyimpan nama Ardi di dalam hatinya. Dan akhirnya apa yang terjadi? Roni sama sekali tidak perduli kan? Roni bahkan masih saja memaksakan hubungan mereka meski harus dilandasi oleh cinta secara sepihak.
Keadaan saat ini sangat berbeda dengan keadaan tiga tahun yang lalu. Saat Ella memutuskan hubungannya dengan Ardi. Alasan yang harus diutarakannya sudah jelas dan tak terbantahkan lagi waktu itu. Karena memang mereka tidak bisa mendapatkan restu dari mama Ardi, Nyonya Kartika Pradana. Sehingga Ella dapat memakai hal itu sebagai alasan perpisahan mereka. Dan Ardi tentu tidak dapat untuk menolaknya juga.
__ADS_1
"Iya, Ron...Silahkan," Ella memberi kesempatan pada Roni untuk berbicara terlebih dahulu.
"Aku sayang sama kamu, El. Aku cinta sama kamu. Bahkan setelah beberapa tahun berlalu, tak perduli bagaimana kau bersikap padaku. Perasaanku padamu tetap tidak berubah sampai sekarang." Roni berhenti sejenak, mengambil napas.
"Kamu ingat dua tahun yang lalu El? Under the Suramadu Bridge saat aku mengutarakan perasaanku padamu...Waktu itu kamu bilang kalau aku boleh pergi jika sudah merasa lelah dengan sikapmu yang terlalu egois. Kamu memintaku untuk memukan gadis yang lebih baik darimu..."
"Iya, aku ingat..." Ella menjawab.
"Tapi kamu melupakan jawabanku padamu waktu itu, El." Roni memperotes jawaban Ella.
"Waktu itu aku bilang kamu hanya perlu membuka hati untukku. Dan satu hal lagi...Aku juga pernah berjanji padamu, misalnya nanti kamu juga lelah dengan sikapku. Kamu boleh memintaku untuk berhenti berharap padamu, berhenti mencintaimu. Kamu juga bisa memintaku untuk pergi menjauh darimu"
Roni mengingatkan Ella kembali dengan janji mereka di bawah jembatan Suramadu dua tahun yang lalu. Dan sekali lagi Ella hanya sanggup terdiam tanpa bisa bereaksi. Jadi sejak awal sebenarnya dirinya bisa menagih janji itu pada Roni? Tapi mengapa Ella malah melupakannya? Mungkin karena waktu itu Ella tidak berpikir bahwa hubungannya dengan Roni akan menjadi serumit ini.
"Sekarang aku mau kamu jujur padaku. Kamu maunya gimana? Dan aku pasti akan menuruti semua kemauanmu." Roni ingin mendengar apa keinginan Ella sebenarnya.
"Aku...maafkan aku, Ron. Maafkan aku yang selalu egois. Maafkan aku yang selalu saja merepotkanmu. Aku yang tak pernah membalas cintamu yang begitu besar padaku. Maafkan pula aku yang selalu menduakanmu selama ini, menduakanmu bahkan hanya dengan bayangan masa lalu mas Ardi."
Ella menunduk dalam-dalam saat mengatakan kata-kata itu. Tak berani menatap mata Roni, tak berani melihat bagaimana ekspresi wajah Roni yang pastinya sangat sedih. Ella menyuarakan kata-kata yang murni berasal dari lubuk hatinya yang paling dalam. Perasaan bersalah akan dosa-dosanya pada Roni yang selalu membuat dadanya merasa sesak.
"Aku tidak buta, El...Aku dapat melihat dan merasakan dengan jelas bagaimana perasaanmu pada Ardi. Jadi sebenarnya akulah yang egois, aku yang terus saja memaksakan perasaanku padamu. Akulah yang sebenarnya jahat sama kamu selama ini, El. Maafkan aku..."
Ella menggigit bibir bawahnya untuk menahan gejolak perasaannya yang semakin menyesakkan. Kenapa jadi saling menyalahkan diri sendiri begini? Sebenarnya siapa yang salah dalam hubungan ini? Tidak ada...Tidak ada siapapun yang bersalah. Karena rasa tak pernah salah. Baik itu perasaan Roni pada Ella ataupun perasaan Ella terhadap Ardi.
Satu-satunya yang patut dipersalahkan adalah takdir. Takdir kejam yang mempertemukan mereka bertiga dalam prahara cinta segitiga yang begitu pelik. Cinta segitiga dengan berbagai drama yang menyiksa mereka bertiga baik jiwa maupun raga.
"Aku ingin kamu katakan dengan jujur kepadaku, El. Walaupun aku sudah tahu apa jawabanmu nantinya. Tapi aku ingin mendengar langsung dari mulutmu..."
"Siapa yang kamu cintai, El? Kamu ingin melanjutkan hubungan yang lebih serius dengan siapa?" Pertanyaan Roni kali ini terasa menggelegar di telinga Ella. Membuat Ella hanya sanggup diam membisu untuk beberapa saat lamanya.
"Maaf ya, Ron...Aku benar-benar minta maaf sama kamu. Aku sejak dahulu dan bahkan sampai sekarang masih sangat mencintai mas Ardi." Ella akhirnya dapat mengutarakan perasaannya kepada Roni dengan jujur.
Roni terdiam untuk beberapa saat. Dia sudah dapat menduga jawaban ini sebenarnya. Tapi tetap saja rasanya sangat sakit, sakit tapi tidak berdarah. Tepat menghujam ke dalam dadanya.
"Terima kasih kamu sudah mau jujur padaku akan perasaanmu. Berarti semua yang ada diantara kita sebaiknya kita akhiri saja sampai disini. It's Over."
Roni mengalah untuk mengucapkan kata-kata yang tak akan sanggup untuk diucapkan oleh Ella. Biarlah dirinya saja yang mengakhiri semuanya. Biarlah dirinya yang menjadi penyebab kandasnya hubungan asmara mereka berdua.
Tanpa disadari oleh Ella sesuatu yang terasa hangat mengalir deras membasahi kedua pipinya. Kedua mata Ella sudah terasa panas dan tak dapat menahan gelombang air mata yang menyerbu untuk mengalir deras bagaikan air bah.
Bukannya berakhirnya hubungan dengan Roni adalah hal yang diharapkannya selama ini? Tapi mengapa rasanya tetap saja perih dan menyakitkan begini?
Bukan, ini bukanlah patah hati. Tetapi lebih pada sebuah simpati. Perasaan tidak tega untuk menyakiti dan mematahkan hati Roni sekali lagi. Roni yang terlalu baik, Roni yang sudah melakukan terlalu banyak hal untuknya.
Mengorbankan waktu, materi dan banyak hal lainnya untuk Ella, menemaninya, membahagiakannya. Namun apa yang bisa dilakukan Ella untuknya? Lagi-lagi dirinya mematahkan dan menghancurkan hari pria itu menjadi berkeping-keping.
~∆∆∆~
__ADS_1
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼