
"Sudah beres semuanya, pak. Semua dana yang digelapkan berhasil dikembalikan. Dan semua pelaku penggelapan sudah mendapatkan SP-1 (Surat peringatan 1)." Cindy memberikan laporannya pada Ardi sore itu di internal meeting mereka.
"Lho kok cuma dikasih SP?" Linggar ikut bertanya keheranan. Tumben ini mas Ardi baik hati gak main pecat buat pelaku penggelapan dana perusahaan. Padahal biasanya kakaknya ini terkenal tegas dan tidak pandang bulu untuk memberatas segala bentuk kecurangan di perusahaan mereka.
"Biar mereka tahu kalau aku baik." Jawab Ardi sekenanya. Malas menjelaskan terlalu detail.
"Bukan hanya SP-1, pak Linggar. Para pelaku penggelapan dana juga disuruh mengembalikan dana yang mereka ambil kok." Bambang membantu bosnya untuk menjawab.
"Terus nama-nama mereka sengaja masih kami rahasiakan dan mereka diberi SP-1 secara rahasia. Saya rasa ini bisa menjadi efek jera bagi mereka sehingga tak akan mengulangi perbuatanya. Di satu sisi mereka akan takut nama mereka dibuka untuk umum. Di lain sisi juga mereka akan semakin loyal karena kebaikan pak Ardi yang masih memberi kesempatan kedua," lanjut Bambang menjelaskan.
"Mereka mainnya duit kecil si. Rugi kalau main pecat." Ardi mengangguk puas dengan Bambang yang mulai pintar dan dapat menjelaskan maksud ucapan serta apa yang ada di kepalanya. Lama bener si kamu pinternya Mbang...
Linggar diam saja tak membantah lagi, duit kecil? Ratusan juta rupiah itu yang lagi kita bicarakan. Tapi memang nominal segitu masih termasuk kecil untuk sekelas perusahaan mereka. Dan lagi-lagi Linggar harus mengakui kecakapan kakaknya dalam mengambil keputusan yang fleksibel. Ardi ini beneran berbakat dan cocok banget untuk menjadi pemimpin besar.
"Berarti saya tinggal membuat laporannya dan beres ya pak?" Cindy memastikan pekerjaannya selesai.
"Iya bener. Tapi aku gak nyangka bisa secepat ini clear-nya. Wah kalian bisa jadi pasangan hebat ini." Ardi memuji kinerja Cindy dan Kresna. Kerjasama mereka ternyata sangat efektif dan memuaskan.
"Jelas aja, aku males dituduh maling terus sama dia." Cindy menjawab sewot sambil mecucu pada Kresna. Masih sangat kesal karena tuduhan penggelapan dana oleh Kresna padanya.
"Udah, gak usah dibahas." Kresna menanggapi.
"Enak bener gak usah dibahas. Kamu bahkan belum minta maaf sama aku." Cindy memprotes.
"Iya, Maaf..." Kresna langsung meminta maaf.
"Kamu...Kamu ngeselin banget!" Cindy benar-benar kesal menghadapi Kresna yang terlalu cool bahkan tanpa ekspresi. Asli ngeselin banget ini orang.
"Bertengkar mulu, nanti naksir beneran lho kalian hahaha." Linggar tertawa melihat keduanya. Menyumpahi pula keduanya yang terlihat seperti anjing dan kucing.
"Haahahahha cocok." Bambang ikutan mendukung.
"Enak aja!" Cindy dan Kresna memprotes bersamaan.
"Tu kan, kompak banget hahahha." Linggar lanjut tertawa ngakak diikuti Bambang dan Ardi yang juga keasikan menertawakan Cindy dan Kresna. Gak bisa bayangkan juga si kalau mereka beneran jadian. Pasti jadi pasangan fenomenal yang seru abis. Cindy seorang sekretaris cantik yang perfeksionis dan serba bisa dengan Kresna seorang Hacker jenius yang misterius, cuek dan cool.
"Berarti aku sudah bisa pindah ke Banyu Harum donk? Kan sudah dua bulan lebih aku magang disini." Linggar bertanya penuh harap. Bosen juga jadi bawahan Ardi terus, pengen ngerasain jadi bos besar perusahaan juga sekali-kali.
"Kres, gimana Linggar udah pinter belum?" Ardi memastikan pada Kresna, salah satu orang yang ditugasinya menjadi mentor Linggar.
"Kalau untuk bidang IT dari saya sudah cukup pak. Untuk bidang hukum tanya Gery saja." Kresna menjawab untuk bagiannya saja.
"Kalau Gery sudah bilang OK, berarti kamu lulus..."
"Hore!! Kapan aku bisa pulang?" Linggar memotong ucapan Ardi saking semangatnya.
"Lulus bidang IT dan Hukum doank. Selanjutnya magang ke Cindy dan Bambang untuk bidang managemen, akunting dan auditing." Ardi lanjut menjawab, memupuskan harapan Linggar.
"Lho? Masih ada magang tahap dua?" Linggar kecewa mendengar jawaban Ardi.
__ADS_1
"Yaiyalah biar pinter kamu!" Ardi menjawab. Linggar tak bisa berkomentar lagi, hanya bisa pasrah saja. Memang ternyata kerja beneran tidak segampang teori yang diajarkan di kampusnya. Butuh banyak latihan, dan langsung terjun praktek lapangan.
"Udah semua laporannya? Bubar deh kalau udahan." Ardi memastikan laporan anak buahnya. Capek juga udah sore begini kok masih saja mereka mau ngasih laporan. Bikin jam pulang kerja molor saja.
"Beres semua pak," Bambang memastikan semua agenda rapat internal mereka sudah selesai semua. "Kalau begitu kami pamit dulu pak." Bambang memberi kode pada rekan-rekannya untuk segera meninggalkan ruangan kerja Ardi.
"Bapak mau langsung pulang atau gimana?" Bambang masih tinggal di ruangan dan menanyai keinginan Ardi.
"Aku pulang sendiri saja," Ardi menjawab.
"Baik pak." Bambang mohon diri. Seneng juga karena gak perlu nyupirin bosnya kemana-mana lagi. Bisa bebas ni sampai besok pagi.
Setelah Bambang pergi ponsel Ardi berdering, dapat dilihatnya Mahes yang menelpon. Segera saja Ardi mengangkat dan menyapa adik iparnya itu.
"Ya hallo? Ada apa, Hes?"
"Eh bro, kamu ada acara gak ntar malam?"
"Malem jam brapa?"
"Jam sembilanan lah."
"Emang mau ngapain jam segitu?" Ardi penasaran.
"Ada yang pengen ketemu kamu." Mahes menjelaskan maksud dan tujuannya menelpon.
"Roni sama Ella..."
Ardi terdiam tak menjawab. Mikir sejenak, mau ngapain mereka mau ketemu dirinya? Apa mereka sudah menyelesaikan masalah mereka?
"Gimana? Bisa gak?" Mahes memastikan.
"Bisa. Dimana ketemuannya?" Tentu saja bisa. Sesibuk apapun pasti Ardi tak perduli, dia rela untuk meninggalkannya kalau demi ketemu Ella.
"Di rumah Ella. Tungguin di depan aja gak usah masuk rumah biar gak repot."
"Ok, i get it."
"Yowes, nanti aku kabari lagi kalau mereka sudah mau pulang. Perkiraan si jam sembilanan." Mahes menutup panggilannya. Dia memperkirakan waktu mereka akan bertemu. Ella dan Roni selesai jaga jam 8, selanjutnya mereka makan malam bersama dan ngobrol. Ditambah perjalanan ke rumah Ella, bener lah palingan jam 9 lebih baru sampai sana.
~∆∆∆~
Jam sembilan lebih Mahes mengabari Ardi lagi kalau Roni dan Ella sudah mau pulang. Ardi bahkan sudah stand by di cafe yang dekat dari rumah Ella dari tadi. Ardi membereskan pekerjaannya di kantor sampai jam 8 malam. Lalu sengaja pulang dari kantornya tadi tidak ke pradana mansion. Melainkan langsung ke cafe itu untuk sekedar makan malam dan nongkrong menghabiskan waktu.
Lima belas menit kemudian Ardi sudah stand by memarkirkan mobilnya di depan rumah Ella. Menanti dengan harap-harap cemas kedatangan Roni dan Ella. Sangat penasaran dengan apa yang diinginkan Roni dengan memanggilnya untuk ketemu.
Tak lama kemudian sebuah mobil honda CRV abu-abu yang dikenali Ardi sebagai mobil Roni berhenti tepat dibelakang mobilnya. Ardi segera mematikan mesin mobil yang dari tadi ON untuk menghidupkan AC-nya. Turun dari mobilnya untuk menyambut kedua orang yang ingin menemuinya.
Setelah mobil berhenti keduanya tidak langsung turun, sepertinya sedang bercakap-cakap. Ardi tetap menunggu dengan sabar sampai Roni dan Ella akhirnya keluar dari mobil itu dan berjalan mendekat ke arahnya berdiri. Ardi dapat melihat wajah dan mata Ella yang sedikit sembab. Habis menangis kah gadis itu? Kenapa? Apa yang sudah dilakukan Roni pada Ella? Awas saja kalau dia menyakiti Ella.
__ADS_1
"Selamat malam mas Ardi," Ella menyapa Ardi dengan sedikit ragu karena kedua pria itu hanya terdiam dan saling mengamati satu sama lainnya.
"Selamat malam, El." Ardi membalas sapaan Ella. "Malam, Ron." Tambahnya menyapa Roni.
"Malam," balas Roni singkat.
"Kamu manggil aku buat apa?" Ardi bertanya to the point. Sementara Ella juga terlihat sama bingungnya dengan dirinya. Tak tahu apa maksud dari Roni untuk mempertemukan mereka bertiga begini.
"Aku mau melakukan operan sama kamu," Roni menjawab, jawaban yang membuat Ardi bingung tapi Ella sepertinya dapat mengerti maksud Roni.
"Anggap saja serah terima tanggung jawab. Seperti operan jaga dokter setiap pergantian sift." Ella membantu Roni menjelaskan pada Ardi. Sebagai orang non medis mana mungkin Ardi tahu maksud dari operan yang dimaksud Roni coba.
"Oh, I see..." Ardi menjawab. Jadi benar Ella dan Roni sudah menyelesaikan urusan mereka berdua? Apakah akhirnya mereka berdua mengakhiri status hubungan asmara mereka sebagai kekasih?
"Apa benar kamu mencintai Ella? Sebesar apa cintamu padanya?" Roni menanyai Ardi, ingin memastikan hal-hal yang ingin ditanyakannya kepada pria pilihan Ella. Ingin memastikan pria itu layak untuk mendapatkan cinta Ella. Layak untuk bersanding dan hidup bahagia bersama gadis itu.
"Iya, aku mencintai Ella. Sangat mencintai Ella. Sebesar apa cintaku padanya? Jangan tanyakan lagi, aku bahkan rela meninggalkan seluruh perusahaanku di Banyu Harum untuk membuat bisnis park baru di Surabaya. Demi apa coba? Hanya demi bisa mendekat kembali pada Ella." Ardi menjelaskan usahanya selama tiga tahun ini untuk kembali pada Ella.
"Lalu bagaimana dengan keluargamu? Bukannya mereka menolak hubungan kalian hanya karena perbedaan status?" Roni kembali menginterogasi. Roni ingin memastikan kebahagiaan Ella bersama Ardi, tak ingin ada halangan apapun dalam hubungan mereka berdua.
Sementara Ella hanya bisa terdiam mengamati pembicaraan kedua pria itu. Pembicaraan yang terdengar sangat serius.
"Keluargaku? Tidak ada masalah. Mamaku sudah tidak mempermasalahkan lagi aku akan menikah dengan siapa. Beliau hanya ingin aku bahagia dengan wanita pilihanku." Ardi menjawab.
"Lalu apa kamu bisa meluangkan waktumu untuk Ella, menjaganya dan melindunginya disaat dia membutuhkanmu? Tak bisa dipungkiri Ella pasti akan sangat kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan kalian para sultan." Sekali lagi Roni bertanya pada Ardi.
"Ella adalah yang terpenting bagiku. Segala urusan yang lain bisa kutinggalkan demi dia. Aku pasti akan melindungi dan menjaganya dalam keadaan apapun." Ardi sekali lagi memastikan kesanggupan pada Roni.
Roni mengangguk puas dengan jawaban Ardi. Yah memang pria di hadapannya ini tak dapat dipungkiri adalah sosok yang sangat hebat. Ardi ini terlalu sederhana dan tidak neko-neko dengan segala harta dan kekayaan yang dimilikinya. Ardi juga tahu bagaimana menghargai dan menghormati orang lain yang bahkan posisinya lebih rendah darinya.
Dan yang membuat Roni kagum adalah kesabaran dan kedewasaan pria ini dalam menghadapi masalah. Sebut saja dalam masalah percintaan, mana ada coba seorang sultan yang rela menunggu gadis biasa selama tiga tahun lamanya? Disaat ribuan wanita cantik diluar sana berebut ingin bersanding menjadi pasangannya.
Tapi Ardi malah memilih menunggu Ella dalam kesendiriannya. Bahkan setelah akhirnya dirinya menemukan Ella kembali, Ardi juga tidak pernah terang-terangan ingin merebut gadis itu dari sisi Roni. Padahal jika dia ingin melakukannya, pasti sangat mudah dengan segala yang dimilikinya. Tapi Ardi malah memilih untuk menunggu. Menunggu Ella menyelesaikan urusannya dahulu dengan sabar.
Roni meraih tangan kanan Ella dengan satu tangannya. Kemudian meraih tangan kanan Ardi juga dengan sebelah tangannya yang lainnya. Kemudian Roni mempertemukan kedua tangan mereka. Menautkannya dengan erat dengan kedua tangannya sebagai penghubung.
Yah hanya inilah hal terakhir yang dapat dilalukan Roni untuk Ella. Melalukan operan dengan Ardi, memastikan bahwa akan ada yang meneruskan untuk menjaga Ella.
"Kutitipkan dan kupercayakan Ella, sahabatku sama kamu. Jagalah dia, lindungi dia, dan bahagiakan dia untukku juga. Jangan lagi kau buat dia bersedih dan menangis." Ujar Roni mantap sambil sedikit meremas kedua jemari mereka berdua yang terhubung.
Untuk beberapa saat Roni melakukannya sebelum akhirnya melepaskan kedua tangannya dari jemari Ella dan Ardi yang masih bertautan.
Roni tersenyum puas melihat keduanya masih saling menggengam erat bahkan setelah dirinya melepaskan tangannya yang menghubungkan mereka. Seakan menunjukkan bahwa kedua insan itu memang tak ingin berpisah lagi. Hancur, sekali lagi hati Roni hancur melihatnya. Tetapi di satu sisi dirinya puas dengan apa yang sudah dilakukannya.
"Kalian berdua harus hidup bersama dan berbahagia..." Roni mengakhiri ucapan sekaligus doanya untuk kebahagiaan Ella dan Ardi.
~∆∆∆~
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼
__ADS_1