Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
158. S2 - Cheating?


__ADS_3

"Kata siapa?..." Tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara lain yang menimpali pembicaraan mereka.


Baik Ella maupun Linggar langsung terlonjak kaget mendengar suara itu. Kontan mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu masuk ruangan. Dan pria itu berdiri disana dengan santainya. Entah sejak kapan dia telah berada disana, mas Ardi?


"Mas Ardi? Sejak kapan disana?" Ella bertanya keheranan. Kapan masuknya coba? Kayak hantu aja ini orang gak ketahuan kapan datangnya.


"Sejak kamu bilang kita gak bisa dapetin restu..." Ardi berjalan mendekati keduanya.


"Ya memang kenyataannya begitu kan? Kita gak bakalan dapar restu dari mama kalian." Ella masih bingung dengan maksud ucapan Ardi tadi.


"Kita bisa, El. Mama sudah sadar sekarang akan cinta sejati kita. Mama juga sudah berjanji tak akan menghalangi hubungan kita lagi." Ardi mencoba meyakinkan Ella.


"Nyonya Kartika Pradana?" Ella kaget dan tidak percaya pada pendengarannya. Masa mama mas Ardi yang keras kepala bisa berubah pendirian?


"Mama itu bahkan mau nemuin mbak Ella lho buat minta maaf sebenarnya." Linggar menambahkan sambil tersenyum lebar. "Tapi mas Ardinya malah gak bolehin. Sayang banget kan?


"Pelan-pelan saja. Ella juga sepertinya masih trauma untuk ketemu mama." Ardi menjelaskan alasannya tak ingin buru-buru mempertemukan Ella dengan mamanya. Karena pasti luka yang ditorehkan mamanya di hati Ella sangat dalam. Dan pastinya tak semudah itu juga untuk memaafkan dan melupakan semua perbuatan mamanya itu.


Ella terdiam kali ini. Jadi akhirnya setelah tiga tahun ini mama mas Ardi telah luluh hatinya? Beliau mau dan bersedia menerima Ella sebagai pendamping putranya? Jadi akhirnya tak ada lagi halangan berupa restu orang tua bagi hubungan mereka?


"Tapi bagaimana? Bagaimana beliau bisa berubah?" Ella masih setengah tidak percaya mendengarnya.


"Muka mas Ardi melas dan ngenes banget si. Muka teraniaya hahaha. Mana tega coba mama ngelihatnya." Linggar menjawab dengan sedikit bercanda. Tapi bener kan? Intinya mamanya tidak tega melihat Ardi yang terus menderita dalam kehampaan hidupnya.


"Asyeem!" Ardi mengumpat terang-terangan. Dan Linggar langsung nyengir lebar penuh kemenangan.


"Jadi intinya sudah gak ada lagi yang menghalangi hubungan kita, El. Sekarang murni urusannya tinggal diantara kita berdua saja." Lanjut Ardi menegaskan.


"Bener mbak Ella. Udah lampu ijo nih, tinggal tancap gas aja caaas cuuuus dah! Jadi deh!" Linggar bersemangat nambahin.


"Caas cuus cas cus gundulmu itu!" Ardi membalas omongan Linggar sewot. Enak bener dia bilang tinggal cas cus sementara disini masih harus sabar nungguin Ella yang masih galau.


"Hahaha selow mas, selow... Oiya kok udah dateng mas? Bukannya tadi katanya sorean ke sininya?" Linggar jadi penasaran juga kenapa mas Ardi sudah ada di rumah sakit di siang bolong begini.


"Takut kamunya nangis pengen pulang tapi gak ada yang jemput." Ardi balas mengejek adiknya.


"Enak aja!" Linggar bersungut marah. Membuat Ella dan Ardi kompak tertawa melihat reaksi bocah itu.


"Urusan di kantor udah kelar kok. Lebih cepat dari yang kuperkirakan." Ujar Ardi. Kelar gak kelar ya Suruh Bambang aja beresin. Gampang kan? Dan Ardi bisa kabur seenaknya kesini.


"Terus bagaimana urusan administrasinya?" Ella ingat sudah kelamaan main ke kamar pasien VVIP ini. Udah waktunya jaga UGD ni.


"Aku yang urusin semuanya." Ardi bersemangat menjawab lumayan kan bisa deket-deket Ella.


"Yaudah langsung aja ke bagian administrasi di pojokan lorong lantai tiga ini." Ella memberitahukan kemana harus berurusan.


"Lho gak ngurusin sama kamu?" Ardi kecewa.


"Ngapain coba? Aku kan dokter. Gak ngurusin perduitan." Ella menahan ketawanya melihat wajah Ardi yang terang-terangan kecewa.


"Rasain kamu mas hahaha" Linggar sudah ngakak.


"Yah paling nggak kan kamu bisa nganterin aku ke bagian administrasinya." Ardi menawar penuh harap.


"Ok deh sekalian aku jalan ke lift." Ella tak keberatan akhirnya. Tak tega juga untuk menolak.


"Udah dulu ya, Nggar. Nanti kalau mau pulang kabarin mbak perawat yang jaga aja. Terus obat yang dibawa pulang dihabisin. Seminggu lagi kontrol buat ronsen ulang tulangmu. Jangan banyak gerak dan aktivitas yang berat. Jangan banyak tingkah juga biar cepet sembuh." Ella memberikan advise-nya panjang lebar.


"Iya, iya I got it." Linggar menjawab pasrah. "Ini infuse-gimana? Lepasin donk mbak." Lanjutnya setengah merengek manja.


"Nanti aku suruh perawat paling cantik buat ngelepasin ya," Ella menjanjikan dan Linggar langsung sumringah bersemangat.

__ADS_1


Akhirnya Ella dan Ardi keluar dari kamar Linggar dan berjalan beriringan menyusuri koridor rumah sakit.


"Nanti malam aku jemput ya di UGD." Ardi tiba-tiba berkata sambil terus berjalan.


"Haaaah? Buat apa?" Ella kebingungan juga bagaimana harus bereaksi.


"Sebagai ucapan terima kasih aja udah ngerawat Linggar dengan sangat baik." Ardi mencoba mencari-cari alasan. Linggar lagi yang dijadikan alibi hehe.


"Mas, kayaknya nggak pantes deh kita keluar berduaan." Ella mencoba menolak.


"Emang kenapa? Paling cuma makan malam bareng. Sebagai ucapan terima kasih doank."


"Ini bisa saja disebut perselingkuhan. Cheating." Ella menjelaskan. "Dan aku gak mau disebut sebagai cewek yang berselingkuh."


"Sebenarnya apa definisi selingkuh itu?"


"Hemmm ya main dibelakang gitu...coba nanya mbah go*gle deh." Ella kesal juga menghadapi Ardi yang mulai keras kepala. Mengeluarkan ponselnya dan bertanya pada search engine tentang arti dari kata selingkuh.


"Selingkuh adalah istilah yang umum digunakan terkait perbuatan atau aktivitas yang tidak jujur terhadap pasangannya, baik pacar, suami, atau istri. Istilah ini umumnya digunakan sebagai sesuatu yang melanggar kesepakatan atas kesetiaan hubungan seseorang." Ella membacakan untuk Ardi.


"Tidak jujur terhadap pasangan. Yaudah berarti nanti kamu tinggal bilang dengan jujur sama Roni. Kalau kamu keluar makan sama aku. Berarti itu bukan selingkuh namanya."


"What?!" Ella benar-benar gak bisa menjawab omongan Ardi. Bener juga si tapi kan gak mungkin untuk dilakukan. Gila aja!


"Ya kamu punya waktu sampai nanti malam. Bilang sama Roni biar gak jadi perselingkuhan hehe."


"Gila! Dasar gila kamu mas!" Ella mengumpat tapi Ardi tidak perduli dan terus saja berjalan ke arah bagian admin.


"Pokoknya nanti malam aku jemput. Kalau gak mau ikut aku seret paksa..." Lanjut Ardi dengan santainya.


"Tapi... tapi..." Ella tak bisa melanjutkan protesnya karena mereka sudah sampai di bagian admin. Gak lucu kan kalau berdebat hal begituan di depan banyak orang.


"Mbak, pasien VVIP di ruangan 07 bisa pulang hari ini. Tolong dibikinkan rincian tagihannya agar bisa keluar rumah sakit secepatnya. Bapak ini yang akan mengurusi tagihannya." Ella memberi tahukan pada sang petugas.


"Oiya kirimkan satu perawat laki-laki untuk melepas infuse pasiennya juga ya. Ingat ya harus laki-laki." Ella kumat jahilnya. Rasain kamu nggar, biarin ni dilepas infuse sama perawat paling cantik hahaha.


"Baik dok." petugas itu langsung menekan tombol panggilan untuk salah seorang perawat tertentu.


"Laki-laki, El? Hahahaha." Ardi ikutan ngakak mendengar ulah jahil Ella. Padahal tadi dia sudah menjanjikan perawat paling cantik untuk Linggar.


Tak lama kemudian seorang perawat laki-laki bertubuh besar dan kekar dengan muka berewokan datang menghampiri mereka.


"Tolong lepaskan infuse set untuk pasien VVIP 07, mas." Ella memerintahkan sambil menahan ketawanya.


"Baik dok." Perawat itu menurut saja dan meminta diri berlalu ke kamar Linggar.


"Wah parah kamu, El. Hahahaha malang bener nasibmu, Nggar." Ardi ngakak sekaligus prihatin akan nasib adiknya. Poor you, Nggar!


"Hahahaha sekali-kali aku pengen ngerjain dia. Balasan karena dia ngerjain aku kapan hari." Ella ikutan ngakak tak tertahankan.


"Ternyata kamu pendendam juga ya..."


"Iya memang. Makanya jangan coba-coba..."


"Ampun deh. Mana berani aku," Ardi mengalah saja.


"Yaudah aku ke UGD dulu ya. Bye.." Ella beranjak berlalu meninggalkan Ardi begitu saja.


"Sampai jumpa nanti malam!" Ardi tak mau kalah.


"Ya kita lihat saja nanti." Ella cekikikan dalam hati. Kumat deh si sultan kalau sudah berkehendak bakal susah untuk ditolak. Dipikir nanti aja gimana kabur atau menghindarnya dari si sultan ini.

__ADS_1


Ella melanjutkan perjalanannya ke arah lift. Menaikinya, menekan tombol ke lantai satu. Tepat saat pintu terbuka, Ella keluar dari lift.


Tanpa sengaja pandangan Ella menangkap suatu pemandangan yang membuatnya keheranan. Tepat dari arah poli spesialis, dari ruangan yang sudah dihafalnya sebagai ruangan poli jantung dan pembuluh darah. Dari ruangan Roni.


Dua sosok pria dan wanita sedang berjalan beriringan. Keduanya mengenakan pakaian seperti hendak bepergian jauh, lengkap dengan travel bag juga yang mereka seret di tangan. Kedua sosok itu berjalan terburu-buru ke arah parkiran mobil.


Karena saking penasarannya Ella mengikuti dua sosok itu. Tak salah lagi, mereka adalah Roni dan Sari. Sedang apa mereka berdua? Mau kemana berduaan begitu? Traveling ke tempat yang jauh? Kenapa Roni bahkan tidak memberi tahunya apapun. Bukannya Ella masih pacarnya?


Ella terus mengikuti keduanya sampai ke parkiran mobil. Sampai kedua sosok itu menaiki mobil CRV abu-abu Roni yang Ella bahkan sudah hapal plat nomernya. Tak salah lagi. Itu pasti mereka...


Ella berjalan ke UGD dari parkiran dengan langkah gontai. Bingung dengan apa yang baru saja dilihatnya. Berbagai macam spekulasi langsung berkelebat juga di dalam otaknya. Mengapa mereka berdua bermain di belakangnya?


Ella mengeluarkan ponsel dari saku jas putihnya. Ingin mencari kepastian tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tak mau percaya begitu saja dengan pandangannya bahwa Roni dan Sari sedang berselingkuh. Bahwa mereka sedang menjalin hubungan terlarang dibelakang Ella.


Ella menekan tombol call pada nama Roni di kontak ponselnya.


"Hallo, ya ada apa El?" Roni menerima panggilan Ella dengan nada sedikit heran.


"Kamu dimana sekarang, Ron?" Ella langsung bertanya to the point.


"Aku...Hmmm, aku baru pulang dari kampus. Kenapa, El?" Roni menjawab ragu-ragu.


Satu kebohongan terdeteksi. "Kamu hari ini ada jadwal ke RS.Hartanto Medika?" Ella lanjut bertanya.


"Nggak ada. Emang kenapa, El?"


Dua kebohongan. "Kamu lagi nyetir ya? Sama siapa? Mau kemana?" Lanjut menginterogasi.


"Iya ini masih perjalanan. Mau pulang kampung ke Malang mumpung ada libur jaga di kampus dan rumah sakit. Sendirian aja kok." Roni terdengar sedikit gelisah juga menjawabnya.


Pulang kampung, tiga kebohongan. Sendirian, empat kebohongan sekaligus. Yah terus saja berbohong untuk menutupi kebohongan lainnya, Ron.


"Kamu masih ingat kan besok lusa aku sumpah?" Ella mengingatkan Roni tentang acara penyumpahannya. Bagaimana pun Roni masih pacarnya. Pasti orang tua Ella bakal bertanya-tanya kalau Roni sampai tidak hadir di acara itu.


Karena tadi Ella melihat baik Roni atau Sari sama-sama membawa travel bag yang lumayan besar. Mungkin mereka berencana untuk bepergian agak jauh dan agak lama.


"Iya aku usahakan sudah pulang hari sabtu. Udah dulu ya El. Gak enak ni telponan sambil nyetir. Nanti aku telpon lagi kalau sudah sampai."


"Yaudah ati-ati dijalan."


"Ok, thank bye..." Roni menutup panggilannya.


Tubuh Ella rasanya lemas seketika. Dikembalikannya ponselnya di saku. Melanjutkan langkahnya ke UGD dengan sedikit gontai.


'Selingkuh adalah istilah yang umum digunakan terkait perbuatan atau aktivitas yang tidak jujur terhadap pasangannya, baik pacar, suami, atau istri.'


Tidak jujur. Empat kebohongan sekaligus. Kenapa Ron? Dan kenapa juga harus dengan Sari? Apa tak ada gadis lainnya? Kenapa harus dengan teman sendiri? Dan parahnya Sari juga sudah punya Jun. Bahkan Jun juga berteman dengan Ella dan Roni, teman setim interenship di Genting. Benar-benar hubungan yang tidak pantas kan? Tak terbayangkan saja rasanya.


Astaga, apa yang sebenarnya sudah terjadi?


Apa kamu lakukan bersama Sari, Ron?


Apakah yang seperti ini bisa dikategorikan sebagai perselingkuhan?


Mungkin ini karma karena aku juga sempat bermain di belakang Roni dengan mas Ardi.


Mungkin ini balasan dari Tuhan agar aku juga tahu bagaimana rasanya dikhianati.


Bagaimana pedihnya kepercayaan dikhianati.


~∆∆∆~

__ADS_1


🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼


__ADS_2